Hari kedua di Simpang Rusa, pagi datang seperti pegawai teladan yang muncul di kantor jauh sebelum waktu presensi berakhir. Ayam masih riuh berkokok tapi langit sudah terang. Cahaya matahari menelusup tajam di celah-celah kanopi pepohonan. Menyilaukan dan menggugah isi semesta untuk memulai hari baru.
Di belakang kebun ada sebuah lokasi pemandian kampung dengan air yang mengalir. Orang Belitong menyebutnya Aik Arongan (Aik= Air, Arongan=mengalir, seperti sungai kecil yang mengalir). Pada jam-jam tertentu di pagi dan sore hari, lokasi itu akan ramai dengan aktivitas mandi dan mencuci penduduk kampung. Seperti sudah ada kesepakatan tidak tertulis, penduduk sudah tahu kapan shift mandi wanita dan kapan shift untuk laki-laki.
Lokasi tersebut terbuka. Para wanita membersihkan diri dengan memakai kain basahan menutupi badan saat mandi. Para Ibu membawa balita mereka juga untuk dimandikan, lengkap beserta sekeranjang pakaian kotor yang akan dicuci. Mereka bercengkrama dengan berbagai topik cerita berbeda setiap hari sambil mandi dan mencuci pakaian. Ini seperti ajang pertukaran informasi tak resmi seputar kampung. Nyaris tak ada yang lolos dari pantauan “CCTV Kampung” ini. Mulai dari aktivitas umum, perselisihan rumah tangga, Isi dapur, bahkan menu makanan yang akan dimasak hari itu, presensi kedatangan Tukang Sayur Keliling, dan pendatang, seperti kami, langsung terpantau.
Ketika melewati tenda kami, semua menyapa dengan ramah bahkan ada yang mengajak ikut serta. Tentu saja aku ikut. Bersama Audrey kami ikut ke lokasi pemandian. Aku berbekal sebuah sarung sebagai kain basahan, handuk dan peralatan mandi dengan percaya diri ikut turun ke air yang mengalir itu. Tinggi permukaan air hanya selututku.
Namun setelah berada di air aku tiba-tiba merasa insecure. Aku tidak punya pengalaman mandi dengan memakai kain basahan melekat di badan. Saat harus membalurkan sabun aku kesulitan dan kagok. Melihat para ibu dan gadis desa begitu luwes meraba semua area tubuhnya yang tertutup kain tanpa kesulitan, aku hanya bisa memperhatikan. Dan tentu saja hal itu menjadi tertawaan mereka.
Kesimpulannya, hari itu aku merasa mandi tidak bersih karena aku hanya berani menyabuni area terbuka badanku seperti kepala, wajah, lengan dan kaki. Area tertutup sama sekali tidak kusentuh. Jujur aku tidak puas. Aku terlalu dikuasai rasa jengah mandi di area terbuka seperti itu. Belum terbiasa dengan suasana ramainya juga. Jadi aku lebih fokus memandikan Audrey dan mencuci pakaian kotor.
Para wanita satu per satu beranjak dari air setelah menyelesaikan semua cucian dan mandi. Mereka menyalin kain basah di badan dengan kain kering dengan cepat. Pengalaman menempa keahlian tersebut. Sementara aku tetap berkain basah dan menutupi badan dengan sehelai handuk lebar kembali ke tenda.
Setelah wanita terakhir beranjak dari pemandian, beberapa bapak dan remaja pria satu per satu muncul. Sama seperti rombongan para wanita, mereka menyapa kami. Kali ini suami dan Gabriel yang bergabung. Urusan mandi mereka tidak serumit urusan mandi wanita. Beberapa dari mereka datang dengan kendaraan motor. Ternyata mereka selain mandi juga hendak mencuci motornya. Obrolan mereka tentu saja seputar hobi para pria; memancing, berburu tupai, kebun, harga timah dan olahraga. Hampir tidak ada gosip di situ.
Siang hari setelah makan siang menikmati menu ikan gabus bakar hasil memancing di kolam belakang rumah Bibi Kus, aku berencana hendak membawa peralatan masak dan piring kotor ke lokasi pemandian tadi. Daripada aku mengangkut air, lebih baik aku mencuci di sana, pikirku. Kami bertiga, aku dan anak-anak berjalan ke belakang kebun lagi. Namun mendekati lokasi pemandian, aku mendengar suara kecipak aik dari kejauhan. Cukup ramai tetapi tidak terdengar suara manusia. Hanya ada suara aneh yang beberapa kali terdengar seperti menguik. Siang di kebun cukup sunyi sehingga suara-suara terdengar cukup jelas. Suara kumbang pohon berdenging bersahutan, suara burung Merbak dan Tekukur juga ramai. Tapi suara menguik itu terdengar berbeda.
Jantungku berdetak kencang ketika dari jarak 50 meteran, kami bertiga melihat segerombolan Babi Hutan sedang berendam dan bermain di air pemandian. Aku meminta Audrey dan Gabriel untuk tidak bergerak atau bersuara. Karena di tepi pemandian agak ke atas, terlihat seekor Babi Hutan hitam besar dan bertaring sedang memantau area sekitar. Dia sedang menjaga kawanannya.
Aku berbisik pelan. “Kita mundur tapi pelan-pelan, ya. Itu ada Babi Hutan sedang mandi. Jangan kita ganggu, nanti kita bisa dikejarnya,” kataku kepada anak-anak.
Tentu saja itu pengalaman pertama mereka melihat secara langsung hewan Babi Hutan. Jumlah yang sedang berendam di air itu lumayan banyak. Ada sekitar sepuluh yang besar bersama puluhan anak-anak babi berbagai ukuran. Dan tentu saja ada satu yang paling menyeramkan sedang bersiaga di tepi atas pemandian. Taring dan bahasa tubuhnya terlihat jelas bahwa dia adalah pemimpin kawanan itu. Kami bertiga perlahan undur diri berusaha tanpa suara. Setelah merasa cukup jauh baru anak-anak berlarian ke tenda. Segera bercerita kepada papanya tentang apa yang baru mereka lihat.
Aku jadi tahu mengapa kebun sayur Bibi Kus sering didapati porak poranda bila tidak dijaga. Ternyata ada peleton hama di area itu. Peleton Gadok yang ternyata mengambil shift siang tengah hari untuk mandi berendam di pemandian kampung. Karena daerah itu masih alami, masih menjadi habitat bagi hewan-hewan liar.
Selain babi hutan, tupai juga menjadi hama di kebun penduduk, begitupun monyet yang sekali muncul akan seperti suasana tawuran. Bergerombol bergerak cepat, ada yang di tanah, ada yang di pepohonan. Berteriak-teriak riuh. Pada musim buah durian, cempedak, rambutan atau petai, seringkali buah-buahan itu sudah dimakan atau dipetik hama ini sebelum matang.
Penampakan Komandan Peleton Gadok yang seram di pemandian itu masih lekat dalam pikiranku. Badannya yang besar dengan taring putih runcing mencuat di kedua sisi mulutnya, tatapan waspadanya, dengusannya yang mengintimidasi, masih membuat aku merinding.
Mahkluk-mahkluk liar yang disebut hama oleh manusia itu sejatinya tidak pernah menjadi hama bagi habitatnya. Mereka hidup dari alam sekitarnya, makan, berburu mangsa, diburu predator, menjalani siklus hidup dalam sebuah ekosistem yang sudah ada sejak semula. Manusia merambah hutan untuk tempat tinggal dan berkebun. Semakin hari semakin ramai dan luas area yang dirambah. Dan mahkluk-mahkluk liar yang sejatinya pemilik area justru harus menyingkir. Ketika habitatnya diganggu, “dirusak” oleh aktivitas manusia, bukankah sejatinya kita adalah “hamanya”?
Kreator : drg. Maria Cornellia Nira Widyastuti (Nira.W)
Comment Closed: BAB 13_Peleton Gadok
Sorry, comment are closed for this post.