Di sekolah. Kaisya tengah termenung seperti biasa seorang diri. Seharusnya Putra ikut bersamanya karena hari itu memang jadwalnya. Namun sejak Ridho mengetahui hubungannya dengan Gian, Kaisya memilih tidak membawa anaknya. Ia takut Putra ikut terseret dalam keadaan yang bahkan belum ia pahami sendiri.
“Bu Kay melamun?” Rekan kerja Kaisya membuyarkan lamunannya yang hampir saja ponselnya terlempar.
“Duh, Bu Kay jangan melamun. Itu hp nya hampir saja melayang,” ujar yang lain.
“Ah, iya bu,” ujar Kaisya tersenyum kikuk.
“Ada masalah apa, bu?” tanya rekan sebangkunya, Bu Kinanti.
“Biasalah masalah rumah tangga. Kadang bikin stress,” kata Kaisya.
“Happy aja. Jangan sampai masalah di rumah kita bawa ke kelas. Bahaya,” ujarnya.
“Iya sih. Tapi gak munafik juga kan pasti kepikiran,” kata Kaisya.
“Pasti. Setiap manusia pasti punya masalah tapi ingat pasti akan ada jalan keluarnya. Seberat apapun masalah tersebut yakin saja akan terlewati,” ucap teman sebangkunya.
“Iya, Bu,” ucap Kaisya kemudian menghembuskan nafas beratnya.
“Oh, iya. Di kelas VII-F, Mikayla tanpa keterangan. Apa ada izin gitu ke ibu?” tanyanya. Sontak saja membuat Kaisya terkejut kembali.
“Gak ada, Bu. Biasanya ada kabar sih,” ucap Kaisya.
“Begitu ya. Sepertinya anak itu agak sedikit aneh,” kata Bu Kinanti.
“Aneh gimana, Bu?” tanya Kaisya.
“Sepertinya kurang berbaur dengan yang lainnya. Sampai ada yang nyeletuk katanya Mikayla itu anak yang tak diharapkan. Kira-kira Bu Kaisya tahu latar belakang anak itu?” tanya Bu Kinanti.
“Mikayla anak broken home, Bu. Ibunya meninggalkan dia saat masih bayi. Dan anak yang nyeletuk itu dulu bertetangga dengannya,” ucap Kaisya.
“Pantas saja kalau begitu. Biasanya memang anak dengan latar belakang perceraian itu suka ada saja tingkahnya. Kita harus lebih hati-hati dan sabar menghadapinya,” kata Bu Kinanti.
Kaisya terdiam. Memang benar, menghadapi Mikayla sungguh harus penuh kesabaran tingkat tinggi. Akibat kurang kasih sayang seorang ibu, ia akan menarik perhatian terutama guru perempuan. Tapi yang sering didengar justru pada guru lain tidak sama sekali ada kedekatan atau percakapan. Hanya pada dirinya saja.
Kaisya menekan kontak lelaki itu dan memberi pesan tentang keadaan Mikayla. Beberapa menit kemudian muncul balasan yang menyatakan bahwa anak tersebut tidak ingin sekolah dikarenakan benci pada Kaisya. Guru muda itu terkejut dan bertanya-tanya mengapa demikian. Namun tak ada jawaban. Hingga bel masuk setelah istirahat berbunyi.
Proses pembelajaran berlangsung seperti biasa tanpa ada masalah yang signifikan. Kaisya kembali ke ruangan guru, karena sedang berhalangan, ia pergi keluar sekolah untuk membeli makanan sebagai pengganjal perut. Ponselnya berdering, Gian menelepon.
“Aku ada di sekitaran sekolah. Kita bisa ketemu sebentar?”
Pada tempat yang telah disepakati, mereka bertemu. Tidak butuh waktu yang lama karena keduanya tengah berada pada posisi di sekitaran tempat tersebut.
“Ada apa Gian?” Kaisya sebetulnya serba bingung. Namun dilihat dari tingkah lelaki di hadapannya sepertinya ada yang serius.
“Kay, maaf aku mengganggu waktumu. Ini berkaitan dengan anakku,” ucap Gian.
“Ada apa dengan Mikayla?” tanya Kaisya.
“Setelah kejadian kemarin, dia gak mau keluar kamar sama sekali,” kata Gian.
“Memangnya ada apa sampai seperti itu?” tanya Kaisya tak mengerti.
“Kamu tadi bertanya soal Kay kenapa gak sekolah. Dan aku jawab karena membencimu. Iya, waktu itu Kay memintaku untuk mengajakmu main. Masih ingat kan? Karena kamu tidak bisa membuatnya marah dan mengurung diri dikamar,” terang Gian.
Kaisya terdiam tak mampu berkata apa-apa. Apa mungkin kemarin setelah ia memenuhi keinginan Mikayla untuk diantar pulang dan besoknya gadis manis itu memintanya menemani bermain di hari libur.
“Kay, kamu gak apa-apa kan?” tanya Gian melihat Kaisya kebingungan.
“Maaf Gian. Jujur saja aku gak mengerti dengan Mikayla. Mengapa dia bersikap begitu,” ucap Kaisya. Kini giliran Gian yang terdiam. Mungkin dia pun bingung untuk mengatakan sesuatu tentang putrinya.
“Kay,” seru Gian. “Sebenarnya Mikayla suka sama kamu. Dia ingin yang jadi ibunya itu kamu,” lanjutnya. Sontak membuat Kaisya membulatkan matanya. Mana mungkin dia harus menjadi ibu dari gadis tersebut. Mengingat dirinya bersuami juga telah mempunya seorang putra.
“Aku tahu kamu pasti terkejut. Kayla pernah mengatakan bahwa dia sangat menyukai dan menginginkanmu jadi ibu sambungnya. Bukan hanya sekedar Wali Kelas saja. Katanya Kay sangat nyaman bersamamu. Makanya saat kamu menolak, dia begitu marah dan benci. Aku pun bingung harus bagaimana menghadapi sikap putriku itu. Aku takut Kayla semakin berharap sesuatu yang jelas-jelas tidak mungkin,” ungkap Gian.
“Gian, sejujurnya keinginan Mikayla itu memang membuatku terkejut. Aku sempat berpikir mungkin karena dia kekurangan kasih sayang ibu maka bersikap seperti itu. Tapi, untuk membuatku menjadi ibu sambungnya sangat mustahil. Atau begini saja, kamu coba cari perempuan yang bisa membuatnya nyaman. Karena aku gak bisa,” ucap Kaisya seraya memberi saran.
Gian tampak berpikir. Sepertinya mungkin ucapan Kaisya ada benarnya. Solusi yang tepat memang mencari perempuan sesuai kebutuhan Mikayla saat ini.
“Sepertinya begitu, Kay. Aku mungkin akan mencoba membuka hati untuk perempuan lain,” kata Gian sedikit ambigu.
“Maksudnya membuka hati untuk perempuan lain?” tanya Kaisya.
Gian hanya tersenyum sebagai jawaban menanggapi pertanyaan Kaisya. Membuat guru muda itu mengerutkan keningnya.
“Ish, ucapanmu membuatku bertanya-tanya. Apa mungkin ada seseorang di hatimu?” tanya Kaisya.
“Begitulah, Kay. Tapi sudah terlambat sepertinya,” kata Gian.
“Sudahlah lebih baik kamu sekarang fokus membuat Mikayla bahagia,” kata Kaisya. “Siapapun masa lalumu itu lebih baik untuk sekarang bukalah hatimu untuk yang lain. Cari yang benar-benar cocok dan nyaman denganmu terutama Mikayla,” lanjutnya.
“Bagaimana jika gak ada?”
Pertanyaan Gian sedikit lucu menurut Kaisya. Mana mungkin lelaki setampan dan semapan dia. Memangnya perempuan yang seperti apa masa lalunya itu hingga membuat Gian tidak bisa move on. Tanpa disadarinya ada sesuatu yang berdenyut di dada guru muda tersebut. Hembusan nafas berat keluar dari mulutnya. Lantas ia tersenyum kecut.
“Percaya deh sama sosok Gian yang selalu jadi incaran setiap wanita. Mana mungkin gak ada yang cocok,” kata Kaisya.
“Waduh, berasa jadi artis saja aku ini, Kay. Tapi ya, sepertinya aku coba deh cari yang memang cocok,” ucap Gian. “Cariin dong,” lanjutnya membuat Kaisya mengerutkan keningnya.
“Emangnya aku biro jodoh,” seru Kaisya. Keduanya tertawa. “Oh, iya. Tentang Mikayla yang masih gak mau keluar kamar. Mungkin nanti aku coba chat Mikayla. Mudah-mudahan berhasil,” lanjut Kaisya.
“Iya, Kay. Mudah-mudahan. Terima kasih ya,” ujar Gian.
“Santai saja. Sudah jadi kewajibanku sebagai Wali Kelas pada anak didiknya. Oh, iya sepertinya ini sudah waktunya aku masuk kelas. Aku duluan ya,” ucap Kaisya berpamitan pada lelaki tersebut dan diberi anggukkan sebagai jawaban.
Kaisya tampak meninggalkan tempat dimana Gian masih menatap kepergiannya. Tanpa disadarinya, beberapa pasang mata guru lain melihat mereka berbincang dari kejauhan.
***
Kreator : Fauzi Nurruhaeni Syantika (FN Syantika)
Comment Closed: Bab 15. Keinginan Mikayla
Sorry, comment are closed for this post.