KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab 6 – Tanah yang Diperebutkan

    Bab 6 – Tanah yang Diperebutkan

    BY 03 Sep 2026 Dilihat: 15 kali
    Aroma-yang-Tak-Pernah-Pergi_alineaku

    MARIA DAN TANAH LELAKI

     

    Klaim itu datang dengan sopan, sebagaimana semua hal berbahaya di negeri ini. Tiga hari sesudah kabar di kebun, serombongan tamu tiba dari kampung sebelah: lima laki-laki berjalan kaki melintasi punggung bukit, dipimpin seorang tua bertongkat yang usianya mungkin hanya terpaut sedikit dari Bapak Tua Nico. Mereka diterima di rumah gendang dengan segala kehormatan, tuak dan ayam dan kata-kata berlagu, dan baru pada hari kedua, sesudah semua kesopanan ditunaikan, maksud itu diletakkan di tengah tikar.

    Ferdi menerangkannya kepada Maria malam harinya, dengan ranting menggambar peta di tanah halaman.

    “Lingko lama, Weta. Namanya Lingko Wela Woé, dibagi zaman kakek dari kakek kita. Pusatnya di sini.” Ranting menusuk tanah. “Irisan-irisannya memancar, dan salah satu garisnya, kata mereka, turun ke lereng timur, memotong lewat sini.” Ranting menarik garis, dan Maria merasakan perutnya turun, karena garis itu membelah persis sesuatu yang ia kenal. “Kalau garis versi mereka yang benar, sepertiga kebun itu, yang bagian bawah, dari kali sampai batu tengah, bukan bagian marga kita. Bukan bagian Louis. Jadi bukan bagian siapa-siapa yang bisa diwariskan.”

    “Dan versi kita?”

    “Versi kita, garisnya lewat atas kali. Kali itu sendiri batasnya. Semua yang di lereng ini punya kita.” Ferdi memandang gambarnya sendiri. “Dua-dua kampung yakin. Dua-dua kampung punya cerita turun-temurun. Yang tidak dua-dua kampung punya: orang yang masih hidup yang melihat waktu batas itu ditetapkan.”

    “Lalu Om Kornelis di mana dalam gambar ini?”

    Ferdi diam sebentar. “Om Kornelis tidak menuntut apa-apa, Weta. Itu yang bikin susah. Dia cuma bilang di mana-mana: sebelum bicara pesan Louis, kampung harus jujur dulu soal batas. Jangan-jangan yang mau diwariskan itu setengahnya bukan milik yang mewariskan.” Ia melempar ranting itu ke gelap. “Kedengarannya adil, toh. Semua yang dia bilang selalu kedengarannya adil.”

    Maria memandang garis-garis di tanah, yang sebentar lagi dihapus kaki orang lewat atau hujan pertama. Di Jakarta, sengketa dimulai dengan somasi, dengan kop surat. Di sini sengketa datang berjalan kaki melintasi bukit, membawa tuak, dan menyerang bukan kepemilikanmu melainkan sesuatu yang lebih dalam: ingatan kampungmu tentang dirinya sendiri.

     

    Para tu’a dua kampung turun ke lereng timur pada hari yang disepakati, dan Maria diizinkan ikut dengan satu syarat yang tidak perlu diucapkan lagi.

    Rombongan itu bergerak lambat, mengikuti kecepatan yang paling tua, dan Maria berjalan di belakang bersama Ferdi, mengenali apa yang sedang ia saksikan: pemeriksaan setempat. Sidang lapangan. Hanya saja di sini beritanya tidak dibuat panitera, melainkan disimpan di kepala orang-orang tua yang berjalan sambil sesekali berhenti, menunjuk, berdebat pelan dalam bahasa yang naik-turun seperti jalan itu sendiri.

    Mereka mencari batu. Batas lingko lama, kata Ferdi, ditandai batu-batu yang ditanam berdiri, sepinggang orang dewasa, di titik-titik yang dihafal lewat nyanyian silsilah. Batu di puncak masih ada, hitam dan miring, disepakati dua kampung. Batu di ujung kemiri masih ada. Yang jadi perkara adalah garis di antara keduanya: versi kampung sebelah, ada batu ketiga di tengah lereng, di atas kali, yang menarik garis memotong kebun. Versi kampung ini, batu ketiga itu tidak pernah ada; batasnya kali itu sendiri, sebagaimana air selalu jadi batas yang paling jujur.

    Setengah hari mereka menyisir lereng. Tetua kampung sebelah, yang bertongkat, menunjuk satu titik di antara pohon-pohon kopi tua: seingatnya di sini, waktu ia muda, ada batu. Tu’a-tu’a kampung ini menggeleng: yang diingatnya itu batu lain, batu penanda kubur lama, bukan batas. Rumput dan lima puluh tahun sudah menelan apa pun yang bisa memutus perkara, dan kedua orang tua itu akhirnya berdiri berhadapan di tengah lereng, dua ingatan yang sama-sama jujur dan tidak mungkin dua-duanya benar.

    “Yang menetapkan batas ini dulu,” kata tetua kampung sebelah akhirnya, dalam bahasa Indonesia, mungkin supaya semua pihak mendengar, “bapak-bapak kita. Semua sudah pergi. Yang menyaksikan terakhir kali batas ini dibicarakan, lima puluh tahun lalu, waktu perkara itu…” 

    Ia berhenti. Sesuatu melintas di antara orang-orang tua itu, cepat, seperti burung lewat.

     “…juga sudah pergi, atau sudah tua sekali.”

    Tidak ada yang menanggapi. Rombongan bergerak lagi. Tetapi Maria sudah melihatnya: pada kata perkara itu, dua-tiga kepala tua menoleh, sekilas saja, bukan ke arah lawan bicara. Menoleh ke atas lereng, ke barisan kopi paling tua, tempat kabut pagi sudah lama terangkat, dan di antara batang-batangnya berdiri satu sosok kecil yang tidak ikut rombongan, yang tidak diundang, yang memandang semuanya dari kebunnya dengan kedua tangan di atas tongkat. Tidak ada yang menyebut namanya. Justru dari situ Maria tahu bahwa semua orang di lereng itu sedang memikirkan orang yang sama.

    Bapak Tua Nico jatuh sakit dua hari kemudian, dan kampung merendahkan suaranya.

    Bukan sakit yang datang tiba-tiba, kata Yustina; sakit yang selama ini menunggu dengan sopan dan sekarang mulai tidak sabar. Orang tua itu tidak lagi turun dari rumahnya. Maria datang bersama Ibu membawa bubur, dan menemukannya di kursi rotannya menghadap pintu, lebih kecil dari terakhir kali, seperti rumah yang perabotnya mulai diangkut keluar.

    Ia masih mengenali mereka. Matanya yang keruh menemukan wajah Maria dan tinggal di sana.

    “Muka Alo,” katanya, seperti pertama kali, dan tersenyum dengan apa yang tersisa.

    Mereka duduk lama tanpa banyak bicara. Ibu menyuapinya bubur, dan orang tua itu menerima disuapi ipar yang baru dua bulan dikenalnya dengan kepasrahan orang yang sudah selesai berhitung dengan harga diri. Baru ketika hendak pulang, ketika Maria berpamitan dengan menempelkan tangan tuanya ke kening, Nico menahan tangan itu, dan berbicara, pelan, berhenti-berhenti, dalam bahasa Indonesia yang dipilihnya dengan susah payah.

    “Batas itu.” Napasnya berbunyi seperti jalan batu. “Mereka ungkit lagi, eee. Lima puluh tahun lalu juga begitu. Waktu itu hampir… hampir jadi darah, dua kampung ini.” Tangannya menggenggam lebih erat, dengan tenaga yang mengejutkan. “Waktu itu yang berdiri di tengah, yang tahan dua-dua kampung, bapamu, Maria. Louis. Dia yang…”

    Batuk memotongnya, panjang, dan Ibu bergegas dengan air, dan sesudah reda orang tua itu memejamkan mata lama sekali, mengumpulkan sisa-sisa.

    “Sudah,” katanya akhirnya, nyaris bisik. “Cerita itu bukan punya saya sendiri. Setengahnya punya adikku.” Matanya terbuka, mencari Maria. “Tanya Monica. Bilang: kakakmu yang suruh. Bilang: Nico bilang, sudah waktunya.” Ia melepaskan tangan Maria, dan menambahkan satu kalimat lagi, yang mengikuti Maria pulang sepanjang jalan dan berhari-hari sesudahnya:

    “Dan cepat, e. Lonto léok itu jangan sampai menunggu saya di tanah.”

     

    ***

    Tawaran damai itu tiba lewat jalur yang paling halus: Bapa Marsel sendiri yang menyampaikannya, di terasnya, sambil menganyam, sebagai kabar dan bukan sebagai anjuran, dan justru itu yang membuatnya berbahaya.

    Bentuknya sederhana. Keluarga Louis melepaskan haknya atas tanah itu. Perkara batas dengan kampung sebelah kemudian diselesaikan antar-marga, tanpa menyeret nama almarhum. Sebagai imbalannya: nama Louis dijaga, pesannya dihormati sebagai pesan, kebun tidak diganggu, dan Inang Monica, ini disebut secara khusus, tetap boleh merawat kebun itu sampai akhir hayatnya, sebagai penghormatan.

    “Siapa yang menyusun tawaran ini, Bapa?”

    “Banyak mulut, satu tangan.” Bapa Marsel tidak mengangkat wajah dari anyamannya. “Weta sudah kenal tangannya.”

    Malam itu Maria menimbangnya sungguh-sungguh, karena begitulah ia dilatih: tawaran terburuk pun berhak dihitung. Dan hitungannya tidak buruk. Ia tidak butuh tanah itu. Kakak-kakaknya tidak butuh. Sengketa selesai tanpa musyawarah yang bisa memecah dua kampung, tanpa mempermalukan siapa pun, dan Inang tetap di kebunnya sampai akhir hayat. Di atas kertas, tidak ada yang kalah.

    Ia menelepon Lydia, karena untuk hitungan seperti ini hanya ada satu orang.

    Lydia mendengarkan sampai selesai, tidak memotong sekali pun, lalu diam beberapa detik, dan Maria bisa mendengar kakaknya berpikir seperti orang lain terdengar bernapas.

    “Satu pertanyaan,” kata Lydia. “Tawaran itu memberi Inang hak merawat sampai akhir hayatnya. Bagus. Sesudah akhir hayatnya?”

    Maria terdiam.

    “Itu yang mereka beli, Mar. Bukan tanah. Mereka beli sesudahnya.” Suara Lydia datar seperti selalu, dan seperti selalu, benar. “Selama perempuan tua itu hidup, tidak ada yang berubah, semua orang kelihatan mulia. Begitu dia meninggal, kebun itu tidak punya siapa-siapa, pesan itu tidak punya penjaga, dan tanah itu bersih. Mereka tidak sedang berdamai denganmu. Mereka sedang menunggu dengan sopan.” Terdengar kertas dibalik di ujung sana; Lydia rupanya mencatat. “Dan pesan Papa bilang apa? Supaya anak-anaknya punya alasan pulang. Alasan itu masa berlakunya sampai kapan? Sampai Inang meninggal? Coba jawab.”

    Maria memandang langit-langit kamar masa kecil ayahnya.

    “Tidak,” katanya. “Alasan itu tidak boleh punya tanggal kedaluwarsa.”

    “Ya sudah.” Di latar belakang terdengar Lydia menutup buku. “Berarti kamu sudah tahu jawabanmu dari tadi. Kamu telepon aku cuma mau dengar orang lain yang bilang.”

    ***

    Maria membawa jawabannya ke kebun keesokan paginya, bersama pesan Bapa Tua Nico, dan Rian ikut serta membawa tugas penerjemah dan dua potong bolu.

    Inang Monica mendengarkan semuanya sambil menampi biji kopi: tawaran damai itu, hitungan Lydia, dan keputusan Maria, yang diucapkannya dalam kalimat yang sudah disusunnya semalaman dan tetap terdengar terlalu besar di udara pagi: kami tidak melepas. Lalu pesan dari Nico, kata demi kata, dan pada kalimat sudah waktunya, tampi di tangan perempuan tua itu berhenti.

    Ia meletakkan tampi itu. Memandang keponakannya lama sekali, dengan pandangan yang menimbang bukan kata-katanya melainkan orangnya, seperti dulu menimbang isi keranjang. Kemudian ia bangkit, mengambil tongkatnya, dan mengatakan sesuatu kepada Rian.

    “Inang bilang ikut,” lapor Rian. “Bawa parang yang di pondok.”

    Mereka berjalan menuruni kebun, melewati barisan-barisan kopi, ke bagian bawah yang paling tua, tempat pohon-pohon sudah setinggi dua orang dan batangnya berlumut. Di dekat kali, di tanah miring yang dirimbuni pakis dan semak, Inang berhenti. Ia memandang sekeliling sebentar, mencari sesuatu dengan matanya, dan menemukan yang dicarinya pada sebuah pohon kemiri tua yang tumbuh condong.

    Dari kemiri itu ia mengukur dengan langkah. Sebelas langkah kecil, arah menyilang lereng. Lalu ia menunjuk dengan tongkatnya ke tanah, ke gundukan semak dan pakis yang tidak berbeda dari sekelilingnya, dan menyuruh dengan dagunya.

    Maria membabat semak itu dengan parang, canggung, dan Rian mencabuti sisanya, dan pelan-pelan sesuatu muncul dari dalam tanah dan lumut: batu. Batu yang ditanam berdiri, sepinggang, sudah miring dimakan akar dan waktu, tetapi tidak salah lagi bentuknya, karena batu seperti ini tidak tumbuh sendiri; batu seperti ini ditanam orang, dengan maksud.

    Batu batas.

    Dan letaknya di bawah kali. Di sisi sini. Garis yang ditariknya membenarkan versi kampung ini, sepenuh-penuhnya.

    Maria berjongkok di depannya, menyingkirkan lumut dengan jari, dan menemukan pada permukaannya guratan-guratan pahat yang sudah hampir rata, tanda-tanda yang tidak bisa dibacanya. Jantungnya berdegup dengan degup ruang sidang: ini dia. Bukti. Saksi bisu yang mengakhiri semua ingatan yang bertabrakan.

    Ia menoleh, dan kegembiraannya berhenti di wajah bibinya. Inang Monica memandang batu itu tanpa kemenangan sama sekali. Ia memandangnya seperti orang memandang kubur lama, dan ketika bicara, suaranya suara batu kali yang itu, dan Rian menerjemahkannya dengan suara yang mengecil sendiri:

    “Inang bilang… batu ini yang bikin Opa Louis pergi.”

    Angin lewat di daun-daun kopi. Kali di bawah berbunyi seperti selalu.

    “Inang bilang, Lima puluh tahun dia jaga supaya batu ini jangan ketemu orang.” Rian menelan ludah, memandang neneknya, memandang Maria. “Dan sekarang dia yang kasih tunjuk. Karena kata Bapa Tua… sudah waktunya.”

     

    ***

     

    “Satu hal saya tidak mengerti, Nara.” Malam itu Maria duduk di teras rumah Ferdi dengan kepala yang masih penuh batu. “Katakanlah garis mereka yang menang. Sepertiga kebun jadi milik lingko mereka. Lalu apa? Pohon-pohon itu umurnya lebih tua dari kita semua. Memangnya mereka mau apa dengan kebun tua?”

    “Weta belum dengar harga kopi tahun ini.” Ferdi tersenyum tanpa senang. “Kopi tua dari lereng tinggi, petik merah, sekarang dicari orang sampai ke sini. Ada pembeli dari kota yang keliling kampung-kampung. Tanah kebun tua itu, Weta, sekarang bukan tanah. Sekarang itu warisan yang ada harganya.”

    “Tapi pohon-pohonnya. Yustina pernah bilang, pohon kopi warisan leluhur ada pantangannya. Tidak boleh ditebang.”

    “Iyo. Pantangan itu kuat, masih dipegang semua orang.” Ferdi mengangguk pelan. “Makanya tidak ada yang bicara soal menebang, Weta. Yang mereka incar bukan menebang.” Ia memandang Maria, menunggu, seperti guru menunggu murid sampai sendiri.

    Dan Maria sampai. “Hasilnya,” katanya pelan. “Pohonnya tidak boleh disentuh siapa pun, tapi buahnya, panennya, ikut ke pemilik tanah. Pantangan menjaga pohonnya. Pantangan tidak menjaga orang yang memetiknya.”

    “Iyo.” Ferdi memandang ke arah gelap, ke arah lereng timur yang tidak kelihatan. “Pohon-pohon itu aman sampai kiamat, Weta. Yang tidak aman itu tangan yang puluhan tahun merawatnya.”

    Maria datang ke rumah di tepi kampung itu malam harinya, sendirian, tanpa Rian, tanpa rencana, dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah tidak muat di dadanya. Ia belum pernah masuk rumah itu. Sepanjang ini, kebun adalah wilayah mereka; rumah adalah wilayah lain, pintu lain, dan Maria sudah belajar soal pintu. Tetapi malam ini kakinya membawanya menyeberangi lapangan yang gelap, melewati rumah gendang yang memegang gendangnya, menyusuri jalan tepi sampai ke rumah kecil yang jendelanya menyala kuning oleh lampu bohlam.

    Ia tidak sempat mengetuk. Pintu itu terbuka dari dalam ketika ia masih tiga langkah jauhnya, dan bibinya berdiri di sana, sudah tahu, entah sejak kapan sudah tahu, dan menepi memberi jalan.

    Rumah itu satu ruang saja. Tungku kecil, tikar, dipan kayu, dan dinding yang hampir kosong kecuali salib, rosario di paku, dan satu foto hitam-putih yang sudah kecokelatan: dua anak laki-laki dan satu anak perempuan kecil berdiri kaku di depan tukang foto keliling zaman entah kapan, yang tengah memeluk bahu yang bungsu. Di rak dekat tungku berdiri wadah-wadah kayu, dan aroma di ruangan itu adalah aroma yang Maria kenal seumur hidupnya, aroma lemari ayahnya, hanya lebih tua dan lebih pekat, seperti sumbernya.

    Inang Monica tidak menawarinya duduk. Perempuan tua itu berjalan ke dipan, berlutut dengan susah payah yang tidak mau dibantu, dan menarik dari kolongnya sebuah peti kayu sebesar bantal, hitam oleh tangan dan tahun, dengan engsel yang menjerit pelan ketika dibuka.

    Di dalamnya, tersusun rapat dan rapi seperti biji kopi terbaik dalam tampi: surat.

    Berikat-ikat, diikat tali rami, ratusan mungkin, dan bahkan dari tempat berdirinya Maria mengenali tulisan di amplop yang paling atas, tulisan tangan guru yang ditulis dengan huruf halus, yang menulis surat izin untuk anak yang terlambat karena mengganti ban, yang menulis di kertas buku tulis di dalam tabung bambu, yang berhenti menulis dua bulan yang lalu untuk selama-lamanya.

    Inang Monica mengangkat peti itu dengan dua tangan, meletakkannya di atas dipan, di dalam cahaya lampu minyak. Lalu ia memandang anak dari kakaknya, dan mengucapkan, dalam bahasa Indonesia, dengan aksen yang berat dan suara yang sudah puluhan tahun menyimpan kata-kata itu, satu-satunya kalimat yang pernah Maria dengar darinya dalam bahasa itu:

    “Baca.”

     

     

    Kreator : Paula Stela Nova Landowero (Stelanova)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab 6 – Tanah yang Diperebutkan

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021