KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab 4 – Rumah yang Tidak Menganggapnya Pulang

    Bab 4 – Rumah yang Tidak Menganggapnya Pulang

    BY 03 Sep 2026 Dilihat: 9 kali
    Aroma-yang-Tak-Pernah-Pergi_alineaku

    MARIA DAN TANAH LELAKI

     

    Gagasan itu lahir di dapur Yustina, di antara adonan dan asap, dan pada mulanya semua orang menyambutnya. Selama dua minggu mengaduk, memarut, dan belajar diam, Maria juga melihat. Melihat adalah kebiasaan yang tidak bisa dimatikan begitu saja. Ia melihat anak-anak yang lahir di rumah dan tidak pernah punya akta. Perkawinan-perkawinan yang sah di gereja dan di adat, tetapi tidak pernah tercatat di kantor catatan sipil, sehingga di mata negara perempuan-perempuan itu bukan istri siapa-siapa. Ia melihat seorang nenek yang tidak bisa mengambil bantuan karena namanya di KTP berbeda satu huruf dengan namanya di kartu keluarga, dan tidak ada yang tahu harus mengadu ke mana.

    Ini, pikir Maria, ini yang bisa kukerjakan. Bukan mengajari. Membereskan kertas. Kertas adalah bahasanya. Maka ia mengusulkannya kepada Yustina dengan hati-hati, dengan kata-kata yang sudah ditimbang: bukan penyuluhan, bukan program, hanya meja kecil. Seperti posko Sabtu di parokinya di Jakarta. Siapa yang mau, datang. Ia bantu urus akta anak, perbaiki nama, catat perkawinan. Gratis, tentu. Selagi ia di sini, selagi menunggu musyawarah yang entah kapan.

    “Bagus itu, Weta.” Yustina mengangguk sungguh-sungguh. “Banyak yang perlu. Nanti saya bantu bilang-bilang.”

    Ferdi lebih bersemangat lagi. Ia menawarkan ruang kelas sekolahnya untuk hari Sabtu, dan malam itu juga menyusun daftar nama di buku tulis: keluarga ini anaknya tiga belum ada akta, keluarga itu perlu surat ini, janda di rumah ujung itu perlu itu. Sebelas nama pada malam pertama.

    Maria menelepon Lydia untuk mendiskusikan format surat kuasa yang paling sederhana, yang ribet dan tidak terlalu bau hukum. Lydia, yang tidak pernah bertanya basa-basi, hanya bertanya satu kali: “Kamu yakin mereka mau?”

    “Mereka perlu, Mbak.”

    “Bukan itu yang kutanya,” kata Lydia, dan menutup telepon dengan caranya.

     

    ***

    Sabtu pertama, ruang kelas itu disiapkan sejak pagi. Ferdi menyusun tiga meja, Maria menata map-map, pulpen, dan materai yang dibelinya sampai ke Ruteng. Yustina membawa termos dan pisang goreng, karena menurutnya tidak ada urusan yang bisa jalan tanpa itu.

    Yang datang: dua orang.

    Seorang bapak tua yang ternyata hanya ingin bertanya apakah Maria bisa membacakan surat dari anaknya di Malaysia, dan seorang ibu muda yang duduk paling ujung, menunduk, dan ketika tiba gilirannya berbisik bahwa ia hanya menemani, tidak ada perlu apa-apa, lalu pamit sebelum pisang goreng habis.

    “Mungkin karena musim kerja kebun,” kata Ferdi, dan tidak memandang Maria ketika mengatakannya.

    Sabtu kedua, Maria mengubah cara. Ia tidak menunggu; ia berkunjung. Ditemani Yustina, dari rumah ke rumah, membawa daftar sebelas nama itu. Dan di situlah ia mulai mengenal sebuah bentuk penolakan yang belum pernah dipelajarinya di mana pun: penolakan yang tidak pernah berkata tidak.

    Semua pintu terbuka. Semua tuan rumah tersenyum. Kopi keluar, pisang keluar, kabar-kabar ditukar. Yustina membuka jalan, Maria menjelaskan pelan-pelan, dan semua kepala mengangguk. Iyo, Weta. Betul itu, Weta. Nanti, Weta. Nanti kami datang.

    Tidak ada yang datang.

    Seorang ibu yang anaknya tiga tanpa akta, yang di dapur Yustina minggu lalu tertawa lebar bersama Maria, menerima mereka di teras saja dan tidak mempersilahkan masuk, dan sepanjang kunjungan matanya terus melirik ke jalan, seperti memastikan siapa yang melihat. Ibu yang lain sudah setuju, sudah mengumpulkan kartu keluarganya dalam kantong plastik, lalu sehari sebelum Sabtu menitip pesan lewat anaknya: suaminya belum kasih izin, mungkin bulan depan, mungkin nanti.

    Dan pada kunjungan terakhir hari itu, di rumah paling ujung kampung, Maria melihatnya dengan matanya sendiri: mereka masih di jalan, masih beberapa rumah jauhnya, ketika pintu rumah itu ditutup. Tidak dibanting. Ditutup pelan, dari dalam, sampai berbunyi klik kecil, seperti orang menutup pintu kamar anak yang sudah tidur.

    Yustina berhenti melangkah. “Weta,” katanya. “Cukup dulu hari ini, e.”

    Malam itu Maria duduk di teras menghitung ulang. Sebelas nama. Dua kedatangan. Sembilan senyum. Satu pintu.

    Dari dalam rumah terdengar Ibu dan Yustina tertawa tentang sesuatu, dan Maria mendengarkan tawa itu seperti mendengarkan bahasa asing yang dulu, di dapur yang lain, di pulau yang lain, adalah bahasa ibunya sendiri.

    ***

    Kabar buruk di kampung, Maria belajar kemudian, tidak berjalan di siang hari. Ia berjalan malam, dari dapur ke dapur, dan pada pagi hari semua orang sudah mengetahuinya tanpa ada yang pernah mengucapkannya.

    Ferdi yang membawanya ke teras itu, pada malam hari ketujuh belas, dengan wajah orang yang lebih suka disuruh mencangkul. Ia duduk, menolak kopi, dan itu tanda pertama.

    “Weta.” Ia memandang lapangan yang gelap. “Ada omongan. Saya pikir Weta lebih baik dengar dari saya.”

    “Katakan, Nara.”

    “Orang bilang…” Ferdi menarik napas. “Orang bilang, anak Louis itu datang bukan untuk kenal kampung. Dia datang mau bikin sertifikat. Kalau tanah sudah jadi kertas, kertas bisa dijual, dan orang Jakarta punya banyak kenalan pembeli.” Ia berhenti sebentar. “Ada juga yang bilang: lihat saja, dia sudah mulai kumpul-kumpul kartu keluarga orang. Dia mau data. Orang kota kalau sudah pegang data, kampung tinggal menunggu giliran.”

    Maria duduk sangat diam. Di kepalanya, potongan-potongan menyusun diri dengan kecepatan profesinya: pertanyaan Lydia tentang BPN yang ia ketik di grup, yang mungkin ia sebut sepintas entah kepada siapa. Map-map dan materai di meja sekolah. Kantong-kantong plastik berisi kartu keluarga. Semua benar. Semua faktanya benar, dan kesimpulannya keliru total, dan ia tahu persis betapa tidak berdayanya kebenaran melawan cerita yang lebih masuk akal bagi pendengarnya.

    “Siapa yang mulai, Nara?”

    “Tidak ada yang mulai, Weta. Omongan begini tidak ada kepalanya.” Ferdi memandangnya sebentar, lalu menambahkan, pelan: “Tapi ada yang rajin menyiramnya. Itu saja yang bisa saya bilang.”

    “Bapa Marsel? Bapa Tua Nico? Mereka dengar juga?”

    “Semua dengar, Weta. Justru itu saya datang.” Ferdi akhirnya menatapnya. “Bapa Marsel titip salam. Dia bilang: bilang ke anak Louis, meja yang di sekolah itu ditutup dulu. Bukan karena salah.” Ia mengangkat tangan sebelum Maria sempat membuka mulut. 

    “Bukan karena salah, Weta. Karena kampung sedang panas soal tanah, dan semua yang Weta kerjakan sekarang dibaca lewat kacamata itu. Tunggu musyawarah selesai. Sesudah itu baru.”

    Sesudah Ferdi pulang, Maria masih duduk lama di teras. Sembilan senyum, satu pintu, dan sekarang meja kecilnya, satu-satunya hal yang ia tahu cara mengerjakannya di kampung ini, ditutup oleh orang yang paling ia hormati di sini, demi kebaikannya sendiri, dengan cara yang paling halus yang bisa dibayangkan.

    Entah kenapa, justru kehalusan itu yang paling menyakitkan.

    Amarah itu akhirnya keluar, dan sebagaimana di dapur Yustina dulu, ia memilih medan yang salah: Ferdi, keesokan sorenya, di halaman sekolah yang sudah sepi.

    Mulanya urusan kecil. Ferdi menyampaikan bahwa map-map dan materai sebaiknya disimpan di rumah saja dulu, jangan di sekolah, supaya tidak jadi omongan baru. Dan sesuatu di dalam Maria, yang sudah dua hari berdiri miring, roboh.

    “Jadi sekarang map pun berbahaya.” Suaranya masih rendah, tapi ia mendengar sendiri tepi-tepinya. 

    “Nara, tolong jelaskan, karena saya sungguh-sungguh tidak mengerti. Saya diundang ke sini. Saya tidak minta apa-apa. Saya tidak minta tanah itu, saya bahkan belum tentu mau tanah itu. Saya datang karena dipanggil, saya diam karena disuruh diam, saya bicara lewat orang lain karena begitu aturannya, dan satu-satunya hal yang saya kerjakan adalah membantu mengurus akta anak orang. Akta anak, Nara. Dan sekarang saya jadi orang yang mau menjual kampung.”

    “Weta…”

    “Di Jakarta saya membela perempuan yang dipukuli suaminya dan tidak ada yang curiga saya cari untung. Di sini saya mengurus kertas gratis dan jadi pencuri.” Ia tertawa, pendek, tanpa bunyi senang di dalamnya. “Kalian yang memanggil saya pulang. Ini yang kalian sebut pulang?”

    Kata itu tergantung di udara halaman sekolah, dan Maria sendiri yang paling terkejut mendengarnya keluar.

    Ferdi tidak menjawab dengan cepat. Ia memandang Maria dengan cara yang sudah dua kali dilihat Maria di kampung ini: cara Yustina di dapur, cara Bapa Marsel dengan nyirunya. Orang-orang di sini rupanya menerima amarah seperti menerima hujan, tanpa membalasnya dan tanpa lari.

    “Weta Maria,” katanya akhirnya. “Boleh saya jujur? Bukan sebagai orang kampung. Sebagai guru.” Ia menunggu, dan Maria tidak melarang. “Waktu murid saya paling pintar marah karena nilainya tidak sesuai, biasanya dia bukan marah soal nilai. Dia marah karena baru pertama kali ketemu soal yang tidak bisa dia kerjakan.” Ferdi memungut sebutir kerikil dari tanah, memain-mainkannya. “Weta pintar. Semua orang di sini tahu itu, itu bukan soal. Tapi kampung ini bukan soal ujian, Weta. Kampung ini tidak bisa dikerjakan. Kampung ini cuma bisa ditinggali.”

    Maria membuka mulut, dan tidak menemukan apa-apa di dalamnya.

    Malam itu ia menelepon Martha, karena kadang-kadang orang butuh mendengar suara yang memihak tanpa syarat, dan Martha memenuhi tugas itu dengan gemilang selama dua puluh menit penuh, lalu menutupnya dengan: “Sudah, pulang saja. Untuk apa dipertahankan. Biar diurus pengacara dari Jakarta, nanti aku bilang Mas Bimo untuk diurus kantornya, kau tinggal terima beres. Tanah itu tidak sepadan dengan kamu diperlakukan begitu.”

    Dan Maria, yang sepanjang hari menimbang kalimat yang persis sama, mendengar kalimat itu diucapkan orang lain, dan mendadak mengerti kenapa ia tidak bisa menerimanya: pengacara dari Jakarta, kakak iparnya yang pengacara dan sekarang tim ahli di kementrian itu akan memperkarakan tanah, dan mungkin – bisa dipastikan – menang, dan yang akan kalah bukan Kornelis. Yang kalah adalah pesan yang dihafal sembilan puluh tahun, sebuah kaleng cengkeh, sebuah kalimat tentang alasan pulang.

    “Belum, Kak,” katanya. “Belum sekarang.”

    Sesudah telepon ditutup, Ibu muncul di pintu kamar membawa dua gelas kopi panas – tanpa gula, meletakkan satu di dekat Maria, dan duduk di tepi tempat tidur. Lama sekali ia tidak berkata apa-apa. Kemudian, sambil meniup kopinya sendiri:

    “Papamu dulu, kalau sudah mentok, pergi berdoa di depan gua Maria.” Ia menyeruput. “Kamu besok mau ke mana?”

     

    ****

    Maria terbangun pukul empat, dan kali ini bukan karena tidurnya terganggu. Ia bangun karena sudah memutuskan sesuatu, dan keputusan itu rupanya menunggu di sisi tempat tidur sepanjang malam.

    Ia berpakaian dalam gelap, meminjam sandal jepit Yustina yang tertinggal di teras, dan menunggu di kursi yang sama dengan pagi-pagi sebelumnya, dengan kabut yang sama tidur di lapangan yang sama.

    Rumah gendang berdiri hitam di ujungnya, memegang gendangnya.

    Pukul lima kurang, pintu rumah paling tepi itu terbuka.

    Sosok kecil itu keluar, membawa tongkatnya, dan berjalan tanpa tergesa dan tanpa ragu ke arah jalan setapak. Maria memberinya jarak dua puluh langkah, lalu berdiri, dan mengikutinya masuk ke dalam kabut.

    Jalan setapak itu licin oleh embun, dan Maria segera mengerti bahwa dua puluh langkah adalah jarak yang sombong: perempuan tua di depannya turun melewati akar-akar dan batu seperti air menuruni jalannya sendiri, sementara Maria terpeleset dua kali sebelum kali, dan sekali lagi sesudahnya.

    Ia tidak pernah kehilangan sosok itu, tetapi ia tahu, dengan kepastian yang memalukan, bahwa itu bukan karena kemampuannya mengikuti. Itu karena sosok itu tidak sekalipun mencoba menghilang.

    Kebun itu muncul dari kabut sebagaimana kampung dulu muncul: tiba-tiba sudah di dalamnya. Barisan kopi berdiri basah dan gelap, daun-daunnya meneteskan sisa malam, dan di tengahnya berdiri sebuah pondok kayu kecil beratap seng, dengan tungku batu di depannya yang, Maria lihat sekarang, sudah menyala. Sudah menyala sebelum mereka tiba. Api itu dinyalakan kemarin sore dan ditimbun abu, dan sekarang tinggal dibangunkan.

    Perempuan tua itu menyandarkan tongkatnya ke dinding pondok, membangunkan apinya dengan dua-tiga gerakan, meletakkan panci hitam berisi air, dan baru sesudah itu menoleh kepada Maria yang berdiri di tepi kebun seperti anak yang tertangkap. Ia memandang Maria dari atas ke bawah. Sandal jepit pinjaman, celana yang salah, jaket kota. Lalu ia mengatakan sesuatu dalam bahasa Manggarai, tiga-empat kata saja, dengan nada yang tidak memerlukan penerjemah karena artinya bisa dibaca di wajahnya: lama sekali kau.

    Ia menunjuk balok kayu di dekat tungku, dan Maria duduk. Yang terjadi sesudahnya, Maria tidak akan pernah bisa menceritakannya dengan cara yang masuk akal kepada saudari-saudarinya, karena tidak ada yang terjadi. Air mendidih. Perempuan tua itu menumbuk kopi di lesung kecil, kayunya berbunyi tok-tok-tok yang tenang, menyeduhnya di dua gelas seng, dan menyodorkan satu tanpa upacara. Kopi itu panas, pahit, dan hidup, dan di suatu tempat di dalam rasa itu ada pagi-pagi di Malang, ada lemari, ada meja makan, dan Maria memegang gelas seng itu dengan dua tangan dan memandang uapnya naik dan untuk beberapa saat tidak sanggup melakukan apa-apa yang lain.

    Sesudah kopi, perempuan itu bekerja, dan Maria mengikutinya tanpa diundang dan tanpa dilarang. Dari dalam pondok, Inang mengeluarkan dua keranjang bambu beranyaman halus dan menyerahkan satu. Ia memutar badan Maria dengan dua tangan, tanpa permisi, seperti memutar anak kecil, dan memasangkan keranjang itu di punggungnya, talinya menyilang di dada. Digendong, rupanya, bukan dijinjing: supaya dua tangan tetap merdeka untuk pohon.

    Pelajaran pertama pagi itu bukan memetik. Pelajaran pertama adalah makan. Inang memilih satu buah dari dahan terdekat, buah yang merahnya sudah merah hati, gelap dan penuh, lalu memijatnya sampai terbuka dan menyodorkan ke mulut Maria. Maria ragu sedetik, lalu menurut, dan matanya melebar sendiri: daging buah itu manis. Manis sungguhan, berlendir, seperti sari buah yang dipekatkan. Inang memandangnya, puas, lalu memetik buah kedua dari dahan yang sama, yang merahnya masih merah muda, belum selesai, dan menyodorkannya juga. Yang ini sepat, hambar, meninggalkan rasa hijau di pangkal lidah. Inang mengangkat buah merah hati di tangan kirinya, lalu buah setengah jadi di tangan kanannya, dan tidak mengatakan apa-apa, karena tidak ada yang perlu dikatakan: yang manis di pohon, itulah yang kelak harum di gelas. Kopi yang dipetik sebelum manisnya penuh akan jadi kopi yang pahitnya kosong.

    Baru sesudah itu tangan-tangan bekerja. Yang dipetik hanya yang merah penuh; yang masih ranum ditinggal di dahan, dan mula-mula Maria gatal melihatnya, buah sebanyak itu dibiarkan, sebelum ia mengerti iramanya: kebun ini tidak dipanen, kebun ini disisir, berulang-ulang, berminggu-minggu, dan setiap buah ditunggu sampai tiba gilirannya sendiri. Caranya memetik pun bukan menarik. Buah diputar dari tangkainya, dipuntir pelan sampai lepas sendiri, dan tangkainya tinggal di dahan, utuh, karena dahan yang terluka hari ini adalah dahan yang tidak berbuah tahun depan. Sekali, dua kali, Maria menarik terlalu bersemangat dan tangkai ikut tercabut, dan Inang mengambil ranting kecil yang terluka itu dari tangannya, memperlihatkannya sebentar di depan mata Maria, lalu menyimpannya di saku, seperti barang bukti.

    Ada juga buah-buah yang sudah jatuh, gelap di tanah di antara akar. Maria memungutnya hendak memasukkan ke keranjang, dan tangan tua itu menahannya, menunjuk kantong kain terpisah yang tergantung di pinggirnya sendiri: yang dari tanah punya tempatnya sendiri, tidak dicampur dengan yang dari pohon. Bahkan buah kopi, rupanya, di kebun ini punya silsilah.

    Rumput pun ternyata bukan satu bangsa. Ada yang dicabut, ada yang dibiarkan, karena rupanya tidak semua yang liar adalah musuh. Sekali, Maria mencabut yang salah, dan perempuan tua itu mengambil cabutan itu dari tangannya, menanamnya kembali, memadatkan tanahnya dengan dua tepukan, lalu memandang Maria dengan sebelah alis naik, dan Maria mendengar dirinya tertawa, sungguh-sungguh tertawa, untuk pertama kalinya dalam berhari-hari.

    Menjelang matahari tinggi, tangan Maria kotor sampai pergelangan oleh tanah merah, bahunya nyeri oleh tali keranjang dengan cara yang aneh menyenangkan, dan keranjang di punggungnya sudah terasa beratnya. Inang menurunkan keranjang itu, menuang isinya ke tampah, dan memeriksanya dengan jari, menyisihkan dua-tiga buah yang belum pantas, meloloskan sisanya. Lalu ia mengangguk sekali, kepada tampah, bukan kepada Maria, dan itu, entah bagaimana, terasa lebih besar daripada semua anggukan yang diterima Maria selama tiga minggu di kampung ini.

    Ketika Maria pamit, dengan bahasa isyarat dan satu kata Manggarai yang ia punya untuk terima kasih, perempuan tua itu menjawab dengan kalimat pendek dan satu gerakan dagu ke arah tungku.

    Artinya jelas: besok, apinya sudah menyala.

    Ketika Maria pamit, dengan bahasa isyarat dan satu kata Manggarai yang ia punya untuk terima kasih, perempuan tua itu menjawab dengan kalimat pendek dan satu gerakan dagu ke arah tungku.

    Artinya jelas: besok, apinya sudah menyala.

     

    ***

     

    Yustina sedang menjemur kain ketika Maria tiba kembali di kampung, kotor sampai siku dan tidak mampu menyembunyikan sesuatu yang menyala di wajahnya. Yustina memandangnya. Sandal jepitnya sendiri di kaki Maria, tanah merah sampai pergelangan, dan jam segini, dan dari arah itu. Kain di tangannya turun pelan-pelan.

    “Weta,” katanya. “Weta dari lereng timur?” “Aku bertemu perempuan yang merawat kebun itu, Kaka.” Kata-kata Maria berdesakan keluar. “Perempuan tua, tinggal di rumah paling tepi. Dia yang selama ini… Kaka, dia mengajariku memetik, dia memberiku kopi, dia… siapa dia, Kaka? Kenapa tidak ada yang pernah…”

    Ia berhenti, karena Yustina sudah menutup mulutnya dengan sebelah tangan, dan matanya di atas tangan itu berkaca-kaca, dan itu jawaban yang lebih dulu tiba daripada kata-katanya.

    “Ya Tuhan,” kata Yustina pelan. “Akhirnya.”

    “Kaka?”

    “Weta Maria.” Yustina menurunkan tangannya. Ia mengatakannya pelan-pelan, seperti meletakkan barang pecah belah. “Perempuan itu Inang Monica. Adik bungsu dari bapa kecil Louis.” Ia menunggu sampai kalimat itu selesai mendarat, dan menyaksikan wajah Maria selama kalimat itu mendarat. “Adik kandung Papamu, Weta. Dia… bibimu.”

    Lapangan, jemuran, bukit-bukit di belakangnya, semuanya berhenti sebentar.

    “Aku punya bibi,” kata Maria. Suaranya datar oleh terlalu banyak hal sekaligus. “Papa punya adik. Perempuan. Di sini. Selama ini.” Ia mendengar kalimat-kalimatnya sendiri memendek seperti kalimat orang yang sedang menghitung ulang seluruh hidupnya. “Tiga minggu aku di sini, Kaka. Dia memegang lenganku di hari pertama. Kenapa tidak ada satu orang pun yang memberitahuku?”

    “Karena Inang yang minta.” Suara itu suara Ferdi. Ia sudah berdiri di pintu pagar entah sejak kapan, dan wajahnya adalah wajah orang yang sudah lama menunggu percakapan ini tiba dan tetap tidak siap. “Dari sebelum Weta datang. Waktu kami kabari bahwa anak-anak Bapak Louis akan ke sini, Inang cuma bilang satu hal. Dia bilang: jangan antar mereka ke saya, jangan sebut nama saya.” Ferdi menelan sesuatu. “Dia bilang: kalau anak Louis memang darah tanah ini, dia akan sampai sendiri ke pintu saya. Kalau tidak sampai, berarti belum waktunya, dan kalian jangan bantu-bantu waktu.”

    Maria berdiri di tengah halaman dengan tanah merah di kedua tangannya.

    Tiga minggu pintu-pintu kampung ini tertutup untuknya, satu demi satu, pelan-pelan, dengan klik kecil, dan ia mengira sudah memahami bentuk penolakan dalam segala rupanya. Ia keliru. Selama tiga minggu yang sama, di tepi kampung, di ujung jalan setapak yang setiap pagi ditelan kabut, ada satu pintu yang tidak pernah tertutup. Pintu itu hanya menolak untuk dibukakan. Ia menunggu didatangi.

    Dan pagi ini, tanpa tahu apa yang dilakukannya, Maria telah berjalan menembus kabut, menuruni lereng, terpeleset tiga kali, dan mengetuk.

    “Nara,” katanya kepada Ferdi, dan suaranya sudah bukan suara ruang sidang, bukan suara meja kecil dengan map-map, bukan suara mana pun yang dibawanya dari Jakarta. “Ceritakan tentang bibiku.”

    Ferdi memandang Yustina, dan Yustina memandang suaminya, dan di antara tatapan itu lewat sesuatu yang panjang.

    “Itu cerita panjang, Weta,” kata Ferdi akhirnya. “Dan sebagian besar bukan saya yang punya.” Ia membuka pintu pagar. “Tapi yang saya punya, mari. Kopi dulu.”

     

     

    Kreator : Paula Stela Nova Landowero (Stelanova)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab 4 – Rumah yang Tidak Menganggapnya Pulang

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021