
Yang diketahui kampung tentang Inang Monica, ternyata, muat dalam satu teko kopi. Mereka duduk di dapur Ferdi sampai malam, dan Ferdi bercerita dengan hati-hati, seperti orang meminjam barang yang bukan miliknya. Inang Monica anak bungsu dari empat bersaudara: Bapak Tua Nico, Bapak Tua Arnold, Bapa Louis, lalu dia. Tidak pernah menikah. Ketika semua orang seusianya berumah tangga, Inang menunggui orang tua mereka, bertahun-tahun, sampai keduanya berpulang, hanya berselisih dua musim. Sesudah itu ia pindah ke rumah kecil di tepi kampung, yang menghadap jalan setapak, dan tinggal di sana sampai sekarang.
“Soal kebun itu,” kata Ferdi, “kampung tahu tanpa pernah diberi tahu. Waktu saya kecil, saya pikir kebun itu memang kebunnya. Sesudah besar baru saya mengerti kebun itu kebun siapa, dan kenapa tidak ada yang menyebut-nyebut. Bapa saya bilang: kalau ada urusan yang dijaga orang dengan diam, kau jaga dengan diam juga. Itu saja aturannya.”
“Dan kenapa Papa pergi?” tanya Maria. “Kenapa tidak pernah kembali? Inang pasti tahu.”
Ferdi dan Yustina bertukar pandang, cepat saja.
“Weta,” kata Ferdi. “Itu pertanyaan yang umurnya lebih tua dari saya. Orang tua-tua pun kalau sampai di situ berhenti bicara. Yang tahu cuma Inang, mungkin almarhum Bapa Tua Arnold, Bapa Nico sedikit, dan Tuhan.” Ia menuang kopi lagi, untuk semua orang, seperti menutup satu pintu dengan sopan. “Dan mereka tidak bicara.”
Maria memandang uap yang naik dari gelasnya. Tiga minggu ia mengira misteri terbesarnya adalah sebidang tanah. Ternyata tanah itu hanya halaman depan.
“Nara. Mama saya belum tahu.”
Ferdi meletakkan teko pelan-pelan. “Iyo,” katanya. “Itu bukan tugas saya, Weta. Itu tugas Weta.”
***
Maria menyampaikannya malam itu juga, di kamar mereka, karena kabar seperti ini tidak boleh menginap di dada orang. Ibu sedang melipat kain ketika Maria mulai bicara, dan ia terus melipat sepanjang cerita itu: kebun, pagi-pagi berkabut, perempuan tua bertongkat, kopi di gelas seng, dan akhirnya nama itu, dan artinya. Adik kandung. Perempuan. Bungsu. Tangan Ibu tidak berhenti, tetapi lipatannya semakin lambat, dan pada kalimat terakhir tangan itu diam di atas kain.
Lama sekali tidak ada suara. Di luar, anjing-anjing bersahutan dari lereng ke lereng.
“Lima puluh tahun,” kata Ibu akhirnya. Ia tidak melanjutkan kalimat itu, dan Maria mengerti bahwa kalimat itu memang tidak punya lanjutan. Lima puluh tahun adalah kalimat yang lengkap.
Ibu meletakkan kain itu ke pangkuan. Ia memandang dinding, dan Maria tahu ia sedang tidak memandang dinding. Ia sedang menyusun ulang lima puluh tahun makan malam, lima puluh tahun cerita meja makan yang selalu berhenti di batas yang sama, lima puluh tahun tidur di sebelah laki-laki yang menyimpan seorang adik seperti orang menyimpan luka.
“Dia yang merawat kebun itu,” kata Ibu. Bukan bertanya.
“Iya, Ma…. Setiap pagi. Mungkin sejak Papa pergi.”
Ibu mengangguk pelan, kepada dirinya sendiri. Kemudian ia bangkit, mengembalikan kain-kain ke tas, dan berkata dengan suara yang dipakainya untuk kue dan lampu teras, suara yang kini Maria tahu adalah suara untuk hal-hal yang terlalu besar:
“Besok pagi antar Mama ke sana. Jangan siang-siang. Mama mau bawa sesuatu.”
***
Mereka turun sebelum terang, tiga perempuan beriringan di jalan setapak: Maria di depan membawa senter, Ibu di tengah memegang bungkusan kecil, dan di belakang, atas permintaannya sendiri, anak sulung Ferdi yang bernama Rian, sebelas tahun, murid terbaik bahasa Indonesia di kelasnya, yang diangkat malam sebelumnya menjadi penerjemah resmi dengan honor dua potong bolu.
Api di depan pondok sudah menyala.
Inang Monica berdiri ketika melihat mereka. Bukan berdiri terkejut; berdiri seperti orang yang menyambut sesuatu yang sudah lama dijadwalkan dan akhirnya tiba. Matanya menemukan Ibu di antara mereka bertiga tanpa perlu mencari, dan kedua perempuan tua itu saling memandang di dalam cahaya api, lama, tanpa seorang pun bergerak.
Yang bergerak duluan Ibu. Ia maju, dan alih-alih menyalami, ia meraih tangan kanan Inang Monica dengan dua tangannya dan menempelkannya ke keningnya sendiri, dalam-dalam, cara Jawa menghormati yang lebih tua, dan Maria melihat perempuan Manggarai itu tersentak kecil, lalu diam, lalu meletakkan tangan kirinya yang bebas ke atas kepala Ibu, pelan, seperti memberkati.
Tidak ada yang menerjemahkan apa-apa, karena tidak ada yang diucapkan.
Sesudah itu mereka duduk mengelilingi tungku, dan Inang menyeduh kopi untuk empat orang, dan Ibu membuka bungkusannya: kaleng permen kusam itu, yang rupanya ikut menyeberangi laut di dasar kopernya, entah sejak kapan direncanakan. Ia membuka tutupnya dan menyodorkannya ke dekat api supaya kelihatan: cengkeh, ratusan butir, kering dan gelap oleh waktu.
“Rian,” kata Ibu. “Tolong bilang ke Inang. Ini dari saku baju kakaknya. Saya kumpulkan setiap kali mencuci. Lima puluh tahun.” Ia menunggu Rian selesai, terbata tapi selamat, lalu melanjutkan. “Bilang: dia berhenti merokok waktu anak pertama kami lahir. Gantinya mengunyah ini. Sampai akhir.”
Rian menerjemahkan. Inang Monica memandang kaleng itu tanpa menyentuhnya untuk waktu yang lama. Kemudian ia berkata sesuatu, pendek, dan mengambil sebutir, dan memasukkannya ke mulut, ke sisi tempat sirihnya biasa tinggal, dan mengunyahnya pelan-pelan dengan mata yang menatap api.
“Inang bilang,” lapor Rian, berbisik keras seperti anak sebelas tahun, “waktu kecil, kakaknya yang ajari dia panjat pohon cengkeh. Yang punya Bapa Hendrik. Bukan pohon sendiri.” Rian ragu sebentar, memastikan kata-katanya. “Terus dua-dua dihukum. Tidak ada yang mengaku duluan.”
Ibu tertawa. Tawa itu keluar bersama air mata dan tidak memilih salah satu, dan Inang Monica memandangnya dan sesuatu di wajah tuanya melunak seperti tanah kena hujan pertama, dan kedua perempuan itu duduk berdampingan menghadap api, satu mengunyah cengkeh, satu memegang kaleng, dua penjaga dari satu laki-laki yang sama, yang satu menjaga masa sebelum, yang satu menjaga masa sesudah, dan yang baru pagi ini bisa saling menyerahkan hasil jaganya.
Maria duduk di seberang api dan tidak mengatakan apa-apa sepanjang pagi itu. Ada pekerjaan yang sedang berlangsung di depannya, pekerjaan yang tidak membutuhkannya, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, tidak dibutuhkan terasa seperti kehormatan.
***
Kabar itu, seperti semua kabar, berjalan malam: Inang Monica menerima anak dan istri Louis di kebunnya. Dan kampung, yang membaca tanda-tanda jauh lebih cermat daripada membaca kertas, menarik kesimpulannya sendiri.
Pintu-pintu mulai berbalik arah, bukan serentak, dan bukan dengan pengumuman. Seorang ibu menitipkan pisang ke Yustina, untuk Weta yang dari Jawa. Ibu yang dulu menerima di teras kini memanggil dari pintu: mampir, Weta, kopi dulu. Ibu yang membatalkan Sabtu itu muncul di dapur Yustina membawa kantong plastik berisi kartu keluarga yang sama, meletakkannya di dekat Maria tanpa banyak kata, seperti orang mengembalikan pinjaman.
Dan Maria mulai diundang duduk di dapur-dapur.
Pada undangan-undangan pertama ia datang membawa kebiasaannya: buku catatan kecil dan pulpen, karena begitulah ia dilatih menghormati cerita orang, dengan mencatatnya. Ia baru mengerti kekeliruannya di dapur ketiga. Seorang mama sedang bercerita tentang sawah warisan yang dikerjakannya seumur hidup, dan cerita itu mengalir bagus, sampai Maria membuka buku dan mulai menulis, dan kalimat mama itu melambat, lalu memendek, lalu berpindah ke soal cuaca.
Maria memandang bukunya. Di dapur ini, ia mengerti tiba-tiba, benda kecil ini bukan bentuk hormat. Benda ini bentuk kota: sesuatu yang mengubah cerita menjadi keterangan, penutur menjadi saksi, dapur menjadi ruang periksa. Kertas, di kampung ini, belum pernah sekali pun datang membawa kabar baik. Ia menutup bukunya, memasukkannya ke tas, dan tidak pernah mengeluarkannya lagi.
Sebagai gantinya ia belajar mencatat dengan cara dapur: mengingat. Mengingat sambil mengupas, mengaduk, menampi. Dan ia menemukan bahwa ingatan yang dipakai sambil bekerja menyimpan hal-hal yang berbeda dari catatan: bukan angka-angkanya, melainkan cara sebuah suara turun ketika sampai pada bagian tertentu, jeda sebelum nama tertentu, tangan yang berhenti menampi pada kalimat tertentu.
Bertahun-tahun kemudian, jika ada yang bertanya di mana ia belajar keterampilan yang paling berguna dalam hidupnya, Maria akan menjawab dengan jujur dan tidak akan dipercaya: di dapur-dapur berasap, sambil mengupas bawang, dari perempuan-perempuan yang baru mau bercerita sesudah pulpennya disimpan.
***
Cerita-cerita itu tidak pernah datang sebagai keluhan. Itu yang mula-mula mengecoh Maria, yang telinganya dilatih menangkap keluhan. Cerita-cerita itu datang sebagai keterangan cuaca: begini memang jalannya, Weta, dari dulu.
Mama Regina, yang sawah bagiannya di lingko sebelah barat dikerjakannya sejak sebelum menikah, bercerita sambil menampi beras bahwa sawah itu, di lidah kampung, disebut sawah anaknya, laki-laki, dua puluh tahun, yang seumur hidupnya turun ke sawah bisa dihitung dua tangan. “Bukan salah anak saya,” katanya, tanpa getir, seperti menerangkan hujan. “Memang begitu sebutnya. Sawah jalan di nama laki-laki. Kerjanya saja yang jalan di tangan saya.”
Seorang janda bernama Mama Ndelu bercerita, sambil memilin daun pandan, tentang tahun ketika suaminya meninggal dan saudara-saudara suaminya datang, baik-baik, membawa beras dan tuak, untuk membicarakan tanah yang kini kembali ke marga. Ia diberi tetap tinggal, diberi tetap makan dari kebun itu. “Mereka baik sama saya, Weta. Sungguh. Cuma satu yang berubah.” Ia mengikat pandan itu jadi simpul kecil. “Dulu saya kerja di kebun itu sebagai yang punya. Sekarang saya kerja di kebun yang sama sebagai yang ditolong. Kerjanya sama persis. Capeknya sama persis.”
Dan seorang ibu muda, yang paling lama diamnya sebelum bicara, bercerita tentang anak perempuannya yang selalu ranking satu, yang gurunya bilang harus lanjut, dan tentang hitungan di rumah yang selalu berakhir sama: kalau ada biaya, untuk adiknya dulu, laki-laki. “Saya tidak melawan, Weta. Untuk apa melawan, saya juga dulu begitu.” Ia memandang asap yang naik dari tungku. “Saya cuma kadang berpikir. Anak saya itu kalau malam belajar pakai senter, di bawah selimut, sembunyi-sembunyi. Sembunyinya itu, Weta, yang saya tidak tahu taruh di mana.”
Maria mendengarkan semuanya, hari demi hari, dapur demi dapur, dan pelan-pelan sebuah kesimpulan menyusun dirinya sendiri, bukan sebagai gagasan melainkan sebagai sesuatu yang terlihat: perempuan-perempuan ini bukan perempuan yang kalah. Mereka mengelola uang rumah, menghidupkan api pertama, mengerjakan tanah, menghafal silsilah lebih baik dari suami-suami mereka, dan menanggung apa saja tanpa menjatuhkan satu pun piring. Yang tidak pernah mereka miliki cuma satu, dan bukan kekuatan.
Ruang, mereka tidak pernah punya ruang. Suara-suara ini, pikir Maria, memandang asap dapur yang keluar lewat celah atap dan hilang ke langit, tidak pernah sekali pun sampai ke lingkaran batu di tengah kampung. Suara-suara ini naik lewat cerobong, setiap hari, selama ratusan tahun, dan langit saja yang mendengarnya.
Dan pada suatu sore yang tidak istimewa, di dapur Mama Regina, giliran itu berbalik. “Weta ini pintar dengar,” kata Mama Regina tiba-tiba, “tapi belum pernah cerita.” Dan dapur itu, tiga perempuan dan asap, menoleh kepadanya, dan menunggu.
Maka Maria bercerita. Bukan tentang Jakarta yang mereka bayangkan, tapi Ia bercerita tentang seorang perempuan di Bekasi yang menyusun kertas-kertas diam-diam selama tiga tahun di dalam map, dan tentang malam ketika perempuan itu menjaga pintu kamarnya sendirian. Ia bercerita tentang ayahnya yang menyuruhnya menegakkan motor sendiri dengan lutut berdarah, dan dapur itu berseru prihatin, lalu salah seorang berkata pelan, iyo, bapa yang begitu biasanya bapa yang paling takut, dan Maria berhenti mengupas bawang selama beberapa detik.
Empati, ia belajar sore itu, bukan tangga satu arah. Ia jalan setapak yang dipakai bergantian.
***
“Kaka,” kata Maria kepada Yustina suatu malam, ketika mereka mencuci gelas berdua sesudah dapur bubar. “Aku mau tanya satu hal. Jangan dijawab sebagai istri Nara Ferdi. Jawab sebagai Kaka saja.”
“Wih.” Yustina tertawa. “Berat ini.”
“Cerita-cerita itu. Mama Ndelu. Mama Regina. Semua yang kudengar berminggu-minggu ini.” Maria menyusun gelas di rak, pelan, tanpa bunyi. “Kalau suara-suara itu mau sampai ke lonto léok, ke lingkaran batu itu, jalannya lewat mana?”
Yustina tidak segera menjawab. Ia memeras kain, memerasnya lebih lama dari yang diperlukan kain itu.
“Tidak ada jalannya, Weta,” katanya akhirnya. “Belum ada. Suara perempuan sampai ke lingkaran itu lewat kuping suaminya, kalau suaminya mau dengar, dan bawanya sepotong-sepotong, dan sampainya sudah jadi suara laki-laki.” Ia menjemur kain itu ke tali. “Weta sudah rasa sendiri, toh. Di balik dinding itu.”
“Dan kalau ada yang coba bikin jalannya?”
Yustina menoleh. Di cahaya lampu minyak dapur, ia memandang Maria lama, dan di wajahnya bertukar-tukar beberapa hal yang tidak sempat menjadi kata.
“Satu kali,” katanya, dengan suara yang turun sendiri. “Seumur hidup saya, satu kali saya lihat perempuan bikin lingkaran itu diam. Bukan bicara. Cuma berdiri.” Ia mengikat ujung tali jemuran. “Sudah lama sekali. Dan perempuan itu sesudahnya memilih diam sampai sekarang, jadi jangan tanya saya cerita lengkapnya, karena cerita itu bukan saya yang punya.”
Maria berdiri sangat diam di antara gelas-gelas.
Di kampung ini, ia sudah belajar, kalimat bukan saya yang punya bukan penolakan. Kalimat itu alamat. Dan semua alamat yang ia kumpulkan berminggu-minggu ini, dari Ferdi, dari Yustina, dari diamnya para tetua, menunjuk ke rumah yang sama di tepi kampung, di ujung jalan setapak, tempat api dinyalakan setiap pagi sebelum semua orang bangun.
***
Pagi-pagi berikutnya, Maria yang tiba lebih dulu di kebun.
Ia belajar membangunkan api dari timbunan abu, gagal dua pagi, dan berhasil pada pagi ketiga, sehingga ketika Inang Monica muncul dari kabut dengan tongkatnya, air sudah hampir mendidih dan Maria sedang menumbuk kopi dengan irama yang masih salah. Perempuan tua itu berhenti di tepi kebun, memandang asap yang sudah naik dari tungkunya, memandang keponakannya yang menumbuk terlalu cepat, dan mengatakan sesuatu yang pendek.
Maria tidak mengerti kata-katanya. Tetapi ia sudah sebulan di negeri ini, dan sudah tahu bahwa bahasa yang paling penting di sini tidak lewat kata: Inang menyandarkan tongkatnya, duduk di balok kayu, dan untuk pertama kalinya sejak Maria mengenalnya, membiarkan orang lain membuatkan kopinya.
Mereka minum menghadap lembah. Kabut sedang membongkar dirinya sendiri dari lereng-lereng, dan jauh di bawah, dari kampung, asap-asap dapur mulai naik satu per satu, lurus dan tenang, dari atap ke langit, seperti tiang-tiang yang setiap pagi didirikan ulang untuk menyangga hari.
Tulisan tangan perempuan, pikir Maria, memandang asap-asap itu. Beratus tahun, dibaca hanya oleh langit.
Ia tidak mendengar Ferdi datang; ia mendengar napasnya dulu, napas orang yang menuruni jalan setapak dengan berlari. Laki-laki itu muncul di tepi kebun, berpegangan pada pohon kopi, dan bahkan sebelum bicara, wajahnya sudah menyampaikan setengahnya.
“Weta.” Ia menegakkan badan. “Para tu’a sudah putuskan tadi malam. Lonto léok. Dua minggu lagi, di lingkaran batu.” Ia menelan napas. “Dan Weta, ada satu lagi. Om Kornelis semalam bawa orang dari kampung sebelah. Tua-tua garis mereka. Mereka bilang mau ikut duduk, karena tanah itu, kata mereka, menyentuh batas lingko lama.”
Di sebelah Maria, Inang Monica menurunkan gelasnya. Perempuan tua itu memandang Ferdi, lalu memandang lembah, lalu mengatakan sesuatu dalam bahasanya, empat-lima kata, dengan suara yang belum pernah Maria dengar darinya: datar, dingin, seperti batu kali.
Ferdi menoleh kepada Maria, dan wajahnya sudah berubah sebelum menerjemahkan.
“Inang bilang,” katanya pelan, “lima puluh tahun lalu juga, mulainya begini.”
Kreator : Paula Stela Nova Landowero (Stelanova)
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Bab 5 – Perempuan-perempuan yang Diam
Sorry, comment are closed for this post.