Suasana kelas VII F masih riuh meski jam pelajaran hampir berakhir. Kaisya berjalan mengelilingi kelas, memperhatikan hasil diskusi setiap kelompok yang sejak tadi mengerjakan tugas IPA.
“Kelompok tiga, coba jelaskan lagi kenapa jamur tidak termasuk tumbuhan?” tanyanya sambil tersenyum.
Beberapa siswa saling berpandangan sebelum akhirnya salah seorang dari mereka mengangkat tangan dan mencoba menjawab. Kaisya mengangguk pelan, lalu memberikan sedikit tambahan penjelasan hingga seluruh siswa memahaminya.
“Bagus. Jangan lupa tugasnya dikumpulkan sebelum pulang, ya,” ucapnya.
Tak lama kemudian, bel tanda pergantian jam berbunyi. Kaisya menutup pembelajaran dengan doa, lalu para siswa mulai merapikan buku dan bersiap meninggalkan kelas.
Setelah memastikan seluruh siswa keluar dengan tertib, Kaisya kembali ke meja guru untuk membereskan administrasi pembelajaran. Saat itulah ponselnya yang tergeletak di atas meja bergetar pelan.
Sebuah pesan WhatsApp masuk dari Gian.
“Kay, maaf mengganggu. Kalau kamu masih di sekolah, boleh minta waktunya sebentar? Tolong datang ke Rumah Sakit Harapan Bunda. Kayla dirawat. Aku benar-benar butuh bantuanmu.”
Kening Kaisya langsung berkerut. Tanpa berpikir panjang, ia segera membalas.
“Kayla, kenapa?”
Beberapa detik kemudian balasan itu datang.
“Aku jelaskan nanti. Tolong datang, ya.”
Kaisya memejamkan mata sesaat. Berbagai kemungkinan buruk memenuhi pikirannya. Ia segera berpamitan kepada beberapa rekan guru, lalu bergegas pergi.
Setelah sampai di rumah sakit. Ia sudah sampai di depan ruang perawatan. Gian sudah berdiri menunggunya. Wajah lelaki itu tampak begitu lelah dan dipenuhi kecemasan.
“Kay, maaf sebelumnya menyuruhmu datang tiba-tiba kesini. Aku gak ada niat jahat sama sekali sama kamu.”
Kaisya memandang lelaki dihadapannya. Ia sebenarnya tidak mengerti mengapa Gian menyuruh segera menemuinya. Dengan tergesa-gesa barulah ia mengerti maksudnya. Saat dirinya mengikuti dari belakang barulah menyadari dibawa ke sebuah tempat untuk orang dirawat. Tubuh kecil dan mungil tergeletak di atas tempat tidur. Dengan mata bengkak sepertinya habis menangis terlalu lama. Mikayla, anak dari Gian tengah dirawat dirumah sakit. Hati Kaisya terenyuh melihatnya.
Teringat pesan terakhir sebelum gadis itu dirawat menginginkan dirinya menjadi ibu sambung. Apa karena tolakan tersebut sehingga Mikayla seperti ini. Atau karena hal lain yang mungkin menyebabkannya tak sadarkan diri. Membuatnya pusing dan bingung harus bagaimana.
“Kay, kamu kenapa?” tanya Gian mungkin melihat perubahannya saat masuk ke ruang rawat.
“Kenapa Mikayla seperti ini?” Kaisya balik bertanya.
“Dokter bilang Kayla mengalami stres berat,” kata Gian.
Stres berat? Kaisya jadi berpikir mungkin salahnya hingga menjadi seperti ini. Tapi mana bisa?
“Kamu tahu penyebabnya?” Lagi-lagi Kaisya menanyakan perihalnya.
“Aku gak tahu pasti penyebabnya apa. Tapi sepertinya ada hal yang diinginkannya. Sebelum dia dilarikan ke rumah sakit, aku sempat lihat buku hariannya didalamnya tertulis nama kamu. Makanya, aku langsung menghubungimu,” ucap Gian.
“Maksudnya? Ini ada hubungannya denganku?” tanya Kaisya tak mengerti.
“Aku gak tahu, Kay,” jawab Gian. “Hanya sekilas saja aku baca bukunya. Aku gak mau merusak privasi Kayla.”
Sejujurnya Kaisya tidak mempercayai ketidaktahuan Gian isi dari buku harian anaknya. Perempuan itu meyakini ada sesuatu yang disembunyikan lelaki dihadapannya. Hembusan nafasnya menyadarkan bahwa untuk apa ia mengorek informasi isi dari diary tersebut. Itu privasi bukan? Tapi mengapa pikirannya selalu tertuju pada itu. Apalagi berkaitan dengan dirinya.
Mikayla mulai membuka mata secara perlahan. Kaisya memberitahukan Gian bahwa anaknya sudah sadar. Dengan penuh tatapan kekhawatiran sang ayah menyambut kesadaran gadis itu.
“Sayang, kamu sadar nak. Syukurlah,” ucap Gian mengelus kepala sang anak.
“Ayah, mana ibu?” tanya Mikayla dengan lemah.
“Ibu?” Gian mengerutkan keningnya.
“Iya, Yah. Ibu Kayla dimana?” tanya Mikayla lagi masih dengan kondisi lemah.
Gian terdiam sepertinya bingung menjawab pertanyaan Mikayla. Sudah jelas bahwa ibu dari anaknya telah menikah lagi dan tak ingin melihat bahkan mengetahui keadaan dan kondisi anak kandungnya sendiri.
“Kayla…”
“Ibu Kaisya disini kan, Yah?”
Gian kembali terlihat terkejut termasuk Kaisya yang masih berada di dalam ruangan.
“Kenapa, sayang?” tanya Gian.
“Jangan biarkan Ibu Kaisya pergi. Kay gak mau,” ucap Mikayla.
“Ibu Kaisya ada disini, sayang,” ucap Gian.
“Benarkah?” tanya Mikayla terdengar begitu semangat meskipun masih dalam keadaan lemah. Gian mempersilahkan Kaisya untuk mendekati Mikayla.
“Mikayla,” seru Kaisya.
“Ibu…” sambut Mikayla seraya tersenyum.
“Iya, Kayla. Gimana sekarang kondisinya sudah baikan?” tanya Kaisya.
“Sedikit, Bu. Sudah ada Ibu disini kondisi Kayla pasti akan cepat pulih. Jangan pergi ya, Bu. Kayla mohon,” ucap Mikayla membuat Kaisya serba salah. Dia punya keluarga yang memang saat ini tengah dalam keadaan kacau. Meskipun begitu dirinya memiliki anak juga yang membutuhkannya. Tidak mungkin mengurus anak orang dengan mengorbankan putranya.
“Kayla, Ibu sebentar lagi mau pulang. Tapi jangan khawatir, Ibu akan setiap hari datang kesini menengok. Cepat sembuh ya,” kata Kaisya mau tidak mau harus lebih tegas pada Mikayla.
“Ibu jahat sekali. Kalau memang gak niat lebih baik jangan kesini saja,” ucap Mikayla membuat Kaisya membulatkan mata.
“Kayla, kenapa kamu berbicara seperti itu sama Bu Kaisya?” Gian yang memang tidak keluar ruangan menanggapi ucapan anaknya.
“Ayah marah?” tanya Mikayla. Sontak saja Gian yang tahu anaknya bersifat seperti itu langsung memijit pelipisnya.
“Ayah gak marah. Kamu coba pahami kondisi Bu Kaisya. Kenapa Kayla memaksakan kehendak padanya?” Gian sepertinya sudah tidak sabar.
“Kenapa Ayah membentak ku?”
“Gian, sudah. Kasihan Mikayla masih seperti ini kondisinya,” ucap Kaisya ketika lelaki itu ingin mengatakan sesuatu pada anaknya.
“Kay, dia sudah begitu egois,” ucap Gian pada Kaisya.
“Iya, aku tahu. Menghadapi Mikayla gak harus dengan membentaknya. Apalagi dalam kondisi seperti ini,” kata Kaisya.
“Bu Kaisya jangan menceramahi Ayahku seperti itu. Biarkan saja. Gak usah so baik,” ucap Mikayla.
Hembusan nafas Kaisya membuatnya harus benar-benar bersabar. “Baiklah, Kayla sepertinya mau istirahat ya. Ini sudah jadwalnya selesai jenguk. Cepat sembuh ya biar cepat sekolah lagi,” ucap Kaisya pada akhirnya sebelum ia keluar dari ruang rawat.
Tak ada balasan dari Mikayla. Gian mengikuti Kaisya keluar ruangan.
“Kay, aku minta maaf atas sikap anakku yang sudah kelewatan,” lirih Gian.
“Gak apa-apa. Aku ngerti bagaimana perasaannya. Tapi jujur saja, aku penasaran dengan isi dari buku harian Mikayla yang berkaitan denganku. Apa boleh tahu apa itu?” tanya Kaisya yang memang penasaran.
Gian sepertinya terlihat bingung untuk mengatakan isinya.
“Kenapa?” tanya Kaisya.
“Sepertinya itu gak usah disampaikan. Mikayla hanya suka sama kamu jadi bersikap demikian,” kata Gian.
“Baiklah. Ini sudah sangat sore, aku pulang dulu,” kata Kaisya.
“Aku antar, Kay,” kata Gian.
“Gak usah. Aku sendiri saja. Masih banyak angkutan umum jam segini. Kamu tungguin Mikayla saja, kasihan sendirian,” ucap Kaisya.
“Baiklah. Kamu hati-hati dijalan ya. Salam untuk Ridho dan Putra,” ucapnya.
Kaisya hanya tersenyum sebagai jawaban. Tidak mungkin menyampaikan salam darinya pada Ridho. Hembusan nafas kembali terdengar jelas setelah berpamitan pada Gian. Dalam perjalanan pikirannya terganggu oleh sikap Mikayla. Gadis itu benar-benar sangat egois tapi memang di usianya yang masih remaja dalam keadaan labil.
Tiba dirumah, Putra sudah menyambutnya dengan uluran tangan terbuka dimana anak itu ingin dipeluk sang ibu. Ridho terlihat duduk santai bersama ponselnya. Kini tanpa sambutan hangat dari suami terasa hampa dirasakan. Setelah kejadian saat itu memang belum ada lagi percakapan diantara keduanya. Lelaki itu pasti tahu bersama siapa dirinya pergi hari ini tapi tidak tahu kemana tempat dituju.
“Putra sayang, ini ibu bawa makanan banyak loh. Putra mau?” Kaisya membawa kantong keresek hitam berisi makanan ringan kesukaan Putra.
“Mau,” balas Putra sumringah.
“Wah, banyak makanannya. Sepertinya Om itu baik sekali hingga membelikan satu keresek penuh,” ucap Ridho menyindir Kaisya. Padahal itu bukan pemberian Gian.
“Om?” tanya Putra menyelidiki maksud ucapan ayahnya.
“Apa maksudmu?” tanya Kaisya geram.
“Kenapa marah? Aku aja gak marah,” ucap Ridho.
“Kamu bicara gitu dihadapan anak kecil? Apa kamu gak punya hati?” bentak Kaisya.
“Yang gak punya hati itu siapa? Mengajak anak untuk ketemuan dengan lelaki lain apa itu punya hati?” ungkap Ridho tak ingin kalah.
“Putra, ini makanan bukan dari Om manapun. Ini uang Ibu. Putra ambil semuanya ya masuk ke kamar,” kata Kaisya.
Setelah menyuruh sang anak masuk kamar, ia kembali menatap suaminya dengan rasa kesal. Dengan teganya mengucapkan kata-kata yang harusnya tidak diucapkan dihadapan anak kecil.
“Iya. Aku menemuinya karena anaknya sedang dirawat di rumah sakit. Wajar sebagai Wali Kelas menjenguknya. Dan makanan itu gak ada sangkut pautnya dengan Gian,” kata Kaisya duduk di kursinya setelah mengambil air minum.
“Aku kira dia sedikit baik gak memberikan sesuatu pada Putra sebagai suap,” ucap Ridho.
“Apa maksudmu suap? Aku baru pulang dari rumah sakit. Kamu ngajak ribut untuk soal seperti ini? Dasar kekanakan,” seru Kaisya.
“Kay, aku tahu kamu gak akan bisa melupakan Gian. Dia cinta pertamamu. Aku pun sama seperti itu pada mantanku. Tapi, ingat kita udah punya hubungan yang jelas gak usah lagi berpikiran tentang masa lalu. Ingat anak dan suami. Kalau gak ingat sama aku, paling gak Putra. Gak ada mantan anak,” ucap Ridho. “Andaikan takdir kita singkat, aku titip Putra. Mengapa di titipkan padamu. Karena aku tahu, keluargaku bagaimana,” lanjutnya.
Kaisya terdiam. Ia tak mampu membalas ucapan Ridho. Hatinya seakan teriris sembilu. Begitu sakit.
***
Kreator : Fauzi Nurruhaeni Syantika (FN Syantika)
Comment Closed: Bab 17. Permintaan yang Mustahil
Sorry, comment are closed for this post.