
Rencananya lima hari. Kenyataannya, pada hari keempat, Maria menelepon kantornya dan memperpanjang cuti – dan yang mengajarkan bahwa itu perlu bukan siapa-siapa, melainkan cara kampung ini memperlakukan waktu.
“Musyawarahnya kapan, Nara?” tanyanya kepada Ferdi pada hari kedua, dengan nada orang yang terbiasa membuka kalender di ponsel.
“Nanti, Weta.” Ferdi menjawabnya sambil terus membetulkan rantai sepeda anaknya. “Tu’a-tu’a harus bicara dulu satu-satu. Ada yang harus datang dari kampung sebelah. Ada yang tunggu selesai urus kebunnya dulu. Musyawarah itu seperti masak, apinya tidak boleh besar.”
“Kira-kira? Minggu depan? Dua minggu?”
Ferdi mengangkat wajah dari rantai itu, dan di wajahnya Maria melihat sesuatu yang akan sering dilihatnya selama minggu-minggu berikut: kesabaran orang yang harus menerjemahkan bukan bahasa, melainkan waktu. “Weta,” katanya. “Di Jakarta, kalau rapat, yang penting semua datang di jam yang sama, iyo? Di sini terbalik. Yang penting semua datang dengan hati yang sama. Jamnya menyusul.”
Maka Maria belajar menunggu, dan menemukan bahwa ia buruk sekali dalam hal itu. Grup empat bersaudari mulai riuh: Martha mengirim tautan artikel tentang mafia tanah, Lydia bertanya dengan caranya – sudah cek ke BPN belum, tanah itu terdaftar atas nama siapa – dan Maria mengetik balasan panjang tentang tanah adat, hak ulayat, lingko, tentang kenyataan bahwa sebagian besar tanah di sini tidak pernah menyentuh sistem yang mereka bertiga anggap sebagai satu-satunya kenyataan, lalu memandangi ketikannya sendiri dan menghapus separuhnya, karena separuh itu baru ia pahami tiga hari dan belum pantas untuk ia ajarkan.
Ibu, sementara itu, tidak memperpanjang apa-apa, karena Ibu tidak pernah menetapkan batas waktu sejak awal. Ia hanya memberitahu ibu-ibu arisan dan menitipkan uangnya melalui Bu Trisno, tetangga di Malang. Ia sudah punya jadwal sendiri: pagi ke dapur Yustina, siang mengajari mama-mama membuat bolu kukus dengan takaran gelas belimbing, sore duduk di teras menerima tamu-tamu perempuan yang datang bergantian membawa pisang, sayur, kisah-kisah tentang Louis muda yang membuat Ibu tertawa dan sekali-dua terdiam lama. Empat puluh tahun menunggu diajak, pikir Maria memandangi ibunya dari jendela, dan sesudah tiba, perempuan itu tidak menunggu apa-apa lagi dari siapa pun.
Pada hari keempat itu juga, sesudah menutup telepon dari kantor, Maria berdiri di halaman dan memandang bangunan besar berkerucut di ujung lapangan; rumah yang sejak hari pertama berdiri di tepi penglihatannya, yang ke arahnya semua orang menundukkan sedikit kepala bila lewat, dan yang belum pernah ia masuki.
“Nara,” katanya kepada Ferdi. “Kalau saya mau belajar, sungguh-sungguh belajar, dari awal, saya mulainya dari mana?”
Ferdi mengikuti arah pandangnya, dan tersenyum seperti guru yang akhirnya mendapat pertanyaan yang benar. “Dari situ, Weta. Semua di sini mulainya dari situ.”
Mereka masuk keesokan paginya, sesudah Ferdi meminta izin kepada orang yang berhak memberi izin, dan sesudah Maria diberi tahu apa yang boleh dan tidak boleh: melangkah dengan kaki kanan, tidak menunjuk, tidak menyentuh yang tergantung di tiang tengah sebelum dipersilakan.
Dari luar, rumah itu besar. Dari dalam, rumah itu dalam dan panjang, kata itu yang paling mendekat: satu ruang lingkar tanpa sekat, dengan tiang utama berdiri di pusatnya seperti batang pohon yang rumahnya tumbuh mengelilinginya, dan atap kerucut yang menghisap pandangan ke atas, ke gelap yang wangi asap, tempat kayu-kayu melengkung bertemu di satu titik yang tidak kelihatan. Cahaya masuk hanya dari pintu dan celah-celah, jatuh miring, penuh debu yang melayang pelan. Di rumah ini, langkah orang otomatis melambat dan suara orang otomatis turun, Maria mengalaminya pada tubuhnya sendiri sebelum sempat memutuskan apa-apa.
Dan di tiang tengah itu, tergantung dalam lilitan kain, benda yang memberi rumah ini menamai dirinya: gendang.
“Bukan alat musik,” kata Ferdi, dengan suara mengajarnya, suara yang pasti dipakainya di depan kelas. “Maksud saya, dia dibunyikan, waktu ritus, acara adat, waktu ada yang harus dikabarkan ke seluruh kampung. Tapi bukan itu kerjanya yang utama. Gendang ini tanda, Weta. Selama gendang ada di dalam rumah ini, kampung ini ada. Orang-orangnya boleh merantau ke mana-mana, ke Jawa, ke Malaysia, ke mana kampungnya tidak bubar, karena gendangnya masih digantung.”
Ia mengajak Maria mendekat ke tiang, dan menunjuk ke arah pintu, ke luar, ke arah lereng-lereng yang tidak kelihatan dari dalam.
“Orang tua-tua kami punya kalimat pendek untuk seluruh hidup di sini: gendang one, lingko pe’ang. Gendang di dalam, lingko di luar. Rumah ini memegang gendang; tanah-tanah di luar sana, lingko-lingko itu, yang bentuknya seperti jaring, dipegang dari sini. Satu di dalam, satu di luar, dua-duanya satu tubuh. Kalau Weta mau mengerti kenapa urusan tanah di sini tidak bisa diselesaikan dengan kertas saja, mengertinya mulai dari kalimat itu.”
Sore harinya Ferdi membawanya mendaki punggung bukit di belakang kampung, dan dari ketinggian itu Maria akhirnya melihatnya dengan matanya sendiri: di lembah, sawah-sawah yang terbagi dari satu titik pusat, garis-garis pematang memancar keluar seperti jari-jari, seperti jaring, persis seperti yang diceritakan sebuah suara di meja makan tiga puluh tahun yang lalu, hanya saja hidup, hijau bertingkat-tingkat, dengan orang-orang sekecil titik bergerak di irisan-irisannya.
Dari pusat yang satu, semua orang kebagian.
“Papa saya bilang,” kata Maria pelan, tanpa mengalihkan pandang, “supaya adil.”
“Iyo.” Ferdi berdiri di sebelahnya, mengatur napas sehabis mendaki. “Dari titik tengah itu, dulu, tanah dibagi dengan tali dan doa. Yang keluarganya besar dapat irisan lebar, yang kecil dapat irisan kecil, tapi semua irisan ketemu di pusat yang sama. Tidak ada yang punya pusatnya. Pusatnya punya semua.” Ia diam sebentar. “Bapa kecil Louis dulu, kata bapa saya, paling suka duduk di sini. Di batu ini, Weta. Persis.”
Maria memandang batu di bawahnya, batu biasa, datar, hangat oleh matahari sore dan untuk beberapa saat tidak sanggup melihat apa-apa yang lain.
****
Tu’a adat kampung itu bernama Bapa Marsel, dan ia sama sekali bukan yang Maria bayangkan.
Yang Maria bayangkan, ia cukup jujur kepada dirinya untuk mengakui ini, adalah lawan: seorang penjaga aturan tua yang akan diajaknya bertarung halus tentang hak dan zaman. Yang ia temukan adalah laki-laki tujuh puluhan yang menerima mereka sambil menganyam nyiru, yang menyuruh cucunya memetik kelapa muda untuk tamu, dan yang mendengarkan setiap pertanyaan Maria sampai selesai, sungguh-sungguh sampai selesai, dengan mata yang tidak berpindah, sebelum menjawab.
Maria bertanya banyak sore itu, lewat Ferdi dan sesekali langsung, dan Bapa Marsel menjawab semuanya, tetapi jawaban-jawabannya tidak pernah berbentuk pasal. Ditanya soal pembagian tanah, ia bercerita tentang dua saudara di kampung sebelah yang berdamai sesudah dua puluh tahun. Ditanya soal posisi perempuan, ia bercerita tentang ibunya sendiri. Ditanya soal apa yang terjadi kalau adat dilanggar, ia diam lama sekali, lalu berkata. Ferdi menerjemahkannya dengan hati-hati, bahwa adat tidak menghukum; yang runtuh duluan biasanya bukan orangnya, melainkan keseimbangannya, dan orang tinggal tertimpa.
“Weta datang dari dunia hukum,” kata orang tua itu kemudian, dalam bahasa Indonesia yang pelan dan bertekanan aneh, bahasa yang jelas jarang dipakainya. “Bagus. Hukum itu perlu. Tapi hukum kalian mulai dari orang, hak saya, hak kau. Adat kami mulai dari semua: tanah, leluhur, yang belum lahir. Orangnya belakangan.” Ia mengangkat nyiru yang setengah jadi itu, memutar-mutarnya mencari anyaman yang miring. “Makanya lambat. Yang ditimbang banyak.”
Dan kemudian, dengan kelembutan yang justru membuatnya lebih sulit diterima, orang tua itu menyampaikan apa yang Maria sudah duga akan datang:
“Nanti, kalau kampung duduk bicara tanah bapamu, Weta hadir. Harus hadir, malah. Tapi yang bicara di lingkaran itu laki-laki. Bukan karena suara Weta tidak penting.” Ia meletakkan nyiru itu di pangkuannya. “Suara Weta nanti dibawa Nico, atau Ferdi. Begitu jalannya di sini, sudah dari nenek moyang.”
“Bapa,” kata Maria. Ia menjaga suaranya dengan seluruh latihan profesinya. “Kalau suara saya dibawa orang lain, itu masih suara saya, atau sudah suara dia?”
Bapa Marsel memandangnya lama. Sesuatu melintas di matanya yang tua, bukan tersinggung; lebih mirip orang yang mengenali sebuah pertanyaan yang pernah didengarnya di tempat lain, lama sekali.
“Pertanyaan bagus,” katanya akhirnya. “Simpan itu. Jangan hilang.” Lalu ia kembali ke anyamannya, dan pertemuan itu selesai dengan cara pertemuan-pertemuan di sini selesai: tidak dengan kesimpulan, melainkan dengan kelapa muda yang harus dihabiskan.
***
Pembicaraan pertama para tetua berlangsung pada malam kesembilan, di rumah Bapak Tua Nico, dan bukan musyawarah, semua orang berkeras soal itu; ini baru pembicaraan, tetapi Maria belajar malam itu bahwa di negeri ini, apa yang bukan-musyawarah pun sudah punya aturan lengkap tentang siapa duduk di mana.
Yang duduk di lingkaran dalam: para tu’a, Nico, Ferdi, Kornelis dan dua saudaranya, beberapa om dari kampung sebelah. Yang di dapur dan di ruang belakang: perempuan, termasuk dua perempuan yang perkaranya sedang dibicarakan di depan, Maria dan ibunya, memegang gelas kopi masing-masing, dipisahkan dari nasib sendiri oleh satu dinding anyaman bambu.
Dinding itu, setidaknya, jujur: ia meloloskan semua suara.
Maka Maria mendengarkan perkaranya sendiri seperti orang mendengarkan radio. Suara-suara di tinggi rendahkan, bergiliran dengan tertib yang tidak pernah dilihatnya di ruang sidang mana pun, tidak ada yang memotong, tidak satu kali pun sepanjang malam, dan Ferdi sesekali menyelinap ke belakang membawa ringkasan berbisik: sekarang bicara silsilah; sekarang Bapak Marsel mengingatkan pesan almarhum; sekarang Om Kornelis minta bicara.
Suara Kornelis Maria kenali tanpa bantuan: tenang, tertata, tidak sekali pun naik. Ia tidak mendengar semua katanya, tetapi ia mendengar cara ruangan itu mendengarkan, jeda-jeda yang memanjang, gumam setuju di beberapa titik, dan nama-nama yang disebut satu per satu seperti orang menghitung kartu: nama kakek, nama kakek dari kakek, garis-garis lelaki yang tidak putus.
“Nara.”
Maria menahan lengan Ferdi ketika laki-laki itu menyelinap ke belakang lagi.
“Tolong sampaikan satu hal saja. Pesan Bapa itu – supaya anak-anaknya punya alasan pulang – tanyakan ke lingkaran: kalau tanahnya lepas, alasan pulangnya ikut lepas atau tidak. Itu saja. Kalimat itu saja.”
Ferdi mengangguk, hilang ke depan, dan beberapa menit kemudian Maria mendengar suaranya di seberang dinding, dan mendengar kalimatnya sendiri kembali dalam bentuk yang sudah berubah: lebih panjang, lebih sopan, dibungkus permisi dan silsilah, ujungnya dihaluskan sampai pertanyaan itu tidak lagi menuntut jawaban. Ruangan menggumam sebentar dan bergerak ke soal lain.
Maria duduk memandangi gelas kopinya.
Bukan salah Ferdi, ia tahu itu, ia menyuruh dirinya tahu itu; Ferdi menerjemahkan bukan hanya kata melainkan keselamatan, membungkus pertanyaan tajam supaya bisa masuk ruangan tanpa melukai siapa-siapa, dan mungkin persis begitulah caranya bertahan di sini. Tetapi duduk di balik dinding sambil mendengar suaramu sendiri kembali sebagai gema yang sudah dijinakkan, untuk itu belum ada latihan, di profesinya maupun di rumah ayahnya.
Di sebelahnya, Ibu mengambil gelas dari tangannya, menuangkan kopi panas menggantikan yang dingin, dan mengembalikannya tanpa berkata apa-apa.
Jauh lewat tengah malam pembicaraan itu selesai, tanpa keputusan; keputusan memang bukan tugasnya malam itu, dan sambil membereskan gelas-gelas Maria mendengar kesimpulan yang dibawa Ferdi ke belakang: perkara ini besar; kampung sebelah harus didengar karena batas lingko; musyawarah penuh akan diadakan, lonto léok, di waktu yang akan ditentukan para tu’a.
“Berapa lama?” tanya Maria.
“Secepatnya kalau semua lancar.” Ferdi menghindari matanya sedikit. “Sebulan. Mungkin lebih.”
Maria mengangguk, dan meletakkan gelas terakhir ke baki, pelan, tanpa bunyi, dan membenci dirinya sedikit karena bahkan amarahnya pun sudah dilatih untuk tidak bersuara.
Ledakannya terjadi dua hari kemudian, dan meledaknya di tempat yang salah: di dapur Yustina, di depan adonan jagung, karena begitulah sifat ledakan, ia tidak memilih medan yang benar, hanya medan yang aman.
Pemantiknya kecil saja. Yustina bercerita, sambil tertawa, bahwa anak gadis tetangga akhirnya jadi dilamar, dan belisnya sudah disepakati, sekian ekor, sekian juta, dan Maria, yang sudah dua hari tidur buruk, mendengar dirinya bertanya dengan nada yang bahkan di telinganya sendiri terdengar seperti nada ruang sidang: “Kaka tidak merasa itu seperti… harga? Perempuan diberi harga?”
Dapur itu tidak berhenti bekerja, tetapi ada seperempat detik ketika semua tangan melambat. Yustina meletakkan sendok kayunya, menyeka tangan di kainnya, dan memandang Maria dengan pandangan yang bukan marah, yang lebih buruk dari marah: pandangan orang yang sedang memutuskan apakah lawan bicaranya sanggup diajak bicara sungguhan.
“Weta Maria,” katanya. “Boleh saya cerita? Bukan soal tetangga. Soal saya.”
Maria mengangguk.
“Waktu bapa saya meninggal, saya masih gadis. Yang biayai saya sekolah sampai jadi, siapa? Keluarga mama saya, saudara-saudara laki-laki mama. Kenapa mereka merasa wajib? Karena dulu, waktu mama saya kawin dengan bapa saya, ada belis. Belis itu bukan bapa saya membeli mama. Belis itu bapa saya dan seluruh keluarganya bilang ke keluarga mama: anak perempuanmu berharga, dan mulai hari ini dua keluarga ini terikat, susah senang. Ikatan itu yang sekolahkan saya, Weta. Ikatan itu yang datang waktu suami saya sakit dua musim. Ikatan itu yang bikin perempuan di sini tidak pernah jatuh sendirian.” Ia mengangkat sendoknya lagi, mengaduk. “Adakah laki-laki yang pakai adat untuk menindas? Ada. Banyak. Di kampung ini juga ada, Weta nanti kenal sendiri. Tapi itu orangnya yang busuk, bukan adatnya.”
“Kaka.” Maria memilih katanya hati-hati. “Tapi kalau adatnya yang memberi orang busuk itu jalan?”
“Iyo. Betul. Makanya adat harus dijaga orang baik, bukan dibuang.” Yustina mencicipi adonan, mengangguk kepada dirinya sendiri, lalu memandang Maria lagi, dan kali ini ada senyum kecil di ujungnya. “Adat itu seperti rumah, Weta. Rumah tua. Bocor di satu sudut, iyo, saya tahu sudut yang Weta maksud, saya perempuan juga. Tapi orang waras tidak bakar rumah karena bocor. Orang waras naik ke atap, betulkan gentengnya.”
Maria terdiam.
Naik ke atap. Membetulkan genteng. Di dapur berasap di sebuah kampung di Manggarai, kalimat perempuan itu turun ke tempat yang sudah disiapkan tiga puluh tahun sebelumnya oleh seorang laki-laki demam yang memegangi tangga di bawah hujan, dan Maria harus berbalik sebentar, pura-pura mengambil air, karena matanya tiba-tiba tidak bisa diajak kompromi.
“Kaka,” katanya kemudian, ketika suaranya sudah kembali miliknya. “Ajari saya. Bukan bahasa saja. Cara membaca rumah ini, sudut mana yang memang bocor, sudut mana yang saya saja yang belum mengerti.”
Yustina tertawa, tawanya yang datang sebelum kalimat, dan menyodorkan sendok kayu itu, gagangnya duluan. “Mulai dari aduk ini. Tangan dulu, Weta. Mengerti belakangan.”
****
Kornelis datang kepada Maria justru pada saat Maria mulai berhenti menunggunya. Di sore hari kesebelas, di jalan antara sekolah dan rumah, di tempat yang cukup terbuka untuk dilihat semua orang dan cukup sepi untuk tidak didengar siapa pun, dan kelak Maria akan mengerti bahwa pemilihan tempat itu pun sebuah kalimat.
“Weta Maria.” Ia menyapa dengan sopan yang penuh, bahkan menunduk sedikit. “Boleh jalan sama-sama? Searah.”
Mereka berjalan. Kornelis bertanya tentang Malang, tentang pekerjaan Maria. Pertanyaan-pertanyaannya menunjukkan ia sudah mencari tahu, dan tentang kesehatan mama, dan semua itu dilakukannya tanpa tergesa, seperti orang yang yakin waktu ada di pihaknya.
“Weta,” katanya akhirnya, ketika lapangan sudah kelihatan. “Saya mau bilang satu hal, dari saya sendiri, bukan dari lingkaran. Saya tahu di mata Weta saya ini apa. Orang yang mau rampas tanah adik almarhum.” Ia berhenti berjalan, dan memandang bukan kepada Maria melainkan ke arah lereng timur. “Saya mau Weta tahu: saya tidak butuh tanah itu. Kebun saya cukup. Anak-anak saya semua sudah kerja, dua di Batam, satu di Bali. Perempuan semua, Weta. Tiga-tiganya perempuan.”
Maria menunggu. Ini yang tidak ia duga.
“Waktu anak saya yang sulung lahir, saya menangis, bukan karena senang saja. Karena saya sudah tahu hari itu: garis saya berhenti di saya. Tanah yang saya pegang, nanti kembali ke marga, dibagi ke garis-garis yang lain. Anak-anak saya tidak dapat. Saya sudah tahu itu tiga puluh tahun, Weta, dan tiga puluh tahun saya tidak pernah menggugat, karena begitu aturannya, dan aturan itu lebih tua dari saya punya sakit hati.” Ia berpaling, dan untuk pertama kalinya menatap Maria langsung. “Sekarang Weta hitung sendiri. Kalau untuk tanah Louis aturan itu boleh dibengkokkan, karena anaknya sekolah tinggi, karena ada pesan, karena zaman sudah lain, lalu tiga puluh tahun saya ini apa? Anak-anak saya itu apa? Yang saya jaga ini bukan tanah, Weta. Yang saya jaga: jangan sampai aturan cuma keras ke orang yang patuh.”
Ia memberi hormat kecil, sekali lagi sopan yang penuh, dan berjalan mendahului ke arah kampung, meninggalkan Maria berdiri di jalan itu dengan penemuan yang paling tidak diinginkannya sepanjang perjalanan ini:
Lawannya bukan orang jahat.
Lawannya orang yang terluka oleh aturan yang sama, dan memilih setia kepadanya, dan orang seperti itu, Maria tahu dari seratus ruang sidang, jauh lebih sulit dikalahkan daripada seribu orang serakah.
****
Sesudah itu Maria mulai bangun sebelum subuh, mula-mula karena tidurnya terganggu akhir-akhir ini, kemudian karena ia menemukan bahwa jam itu jam terbaik untuk berpikir, dan akhirnya karena sesuatu yang lain sama sekali.
Kampung sebelum terang adalah negeri yang berbeda. Kabut tidur di lapangan seperti air. Rumah gendang berdiri hitam dan sabar di ujungnya, memegang gendangnya di dalam gelap. Dan yang bergerak di negeri jam ini, Maria menghitungnya dari teras, pagi demi pagi, bukan para lelaki yang malam nanti akan bicara di lingkaran. Yang bergerak adalah perempuan: siluet-siluet yang menghidupkan api sehingga asap pertama naik lurus dari atap-atap dapur, yang berjalan ke mata air dengan jeriken, yang membuka kandang, yang memikul.
Negeri para lelaki, pikir Maria, dinyalakan setiap pagi oleh tangan perempuan, dan pada saat para pemiliknya bangun, negeri itu sudah hangat, sudah terang, sudah berjalan, sehingga tidak seorang pun perlu bertanya siapa yang menyalakannya.
Dan pada pagi ketiga, ia melihat sosok itu.
Kecil, membawa tongkat, keluar dari rumah paling tepi, rumah yang menghadap jalan setapak turun ke kali. Sosok itu berjalan tanpa tergesa dan tanpa ragu, melewati batas kampung, dan kabut menerimanya sedikit demi sedikit: mula-mula kakinya, lalu punggungnya, lalu tinggal gerak samar, lalu tidak ada, turun ke arah lereng timur, ke arah yang Maria tahu persis apa yang menunggu di ujungnya, pada jam ketika tidak ada satu pun mata yang dianggap melihat.
Maria berdiri dari kursinya tanpa sadar.
Nenek itu. Yang di hari pertama memegangi lengannya dan berbicara panjang dalam bahasa yang tidak dipahaminya. Yang duduk paling luar di malam wasiat, dekat pintu dapur. Yang – sekarang berbagai pagi tersusun ulang di kepala Maria – selalu sudah tidak ada setiap kali kampung mulai ramai.
Ia tidak mengikutinya. Belum. Sesuatu di cara kabut menutup di belakang sosok itu terasa seperti pintu yang belum dipersilakan, dan kalau ada satu hal yang sudah diajarkan negeri ini kepadanya, itu adalah soal pintu.
Tetapi ia berdiri di teras itu sampai matahari membongkar kabut dari lapangan, dengan jantung yang berdegup seperti menemukan halaman yang hilang dari sebuah berkas, dan ketika Yustina lewat membawa air dan menyapanya, pertanyaan Maria sudah menunggu di ujung lidah, lalu ditelannya kembali.
Tangan dulu. Mengerti belakangan.
Besok pagi, pikirnya, memandang jalan setapak yang kini kosong dan terang. Besok pagi ia akan bangun lebih awal lagi.
Kreator : Paula Stela Nova (Stelanova)
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Bab 3 – Negeri Para Lelaki
Sorry, comment are closed for this post.