Tugas menjadi wanita karir memang sangat luar biasa. Selain harus jadi ibu rumah tangga juga pekerja. Sebenarnya bekerja bukanlah sebuah kewajiban baginya. Namun, ada alasan yang membuat Kaisya tetap bertahan menjalani semuanya. Ia tidak ingin dipandang rendah oleh keluarga suaminya yang hampir setiap hari hanya bisa mengejek dan merendahkan. Padahal, selama ini Kaisya dan keluarganya tak pernah sekalipun merasa benar-benar diterima. Mereka seolah hanya menjadi beban yang keberadaannya tidak pernah dianggap. Begitulah kenyataan pahit kehidupan rumah tangganya.
Kini, persoalan baru kembali datang menghampiri. Benarkah Kaisya telah berselingkuh?
“Ibu, Putra mau mimi,” pinta Putra sambil berteriak karena Kaisya tengah mengepel lantai.
“Iya sayang sebentar. Ibu masih bersih-bersih rumah dulu. Nanti kalau sudah beres dibikinkan,” ucap Kaisya.
Putra mengangguk lalu kembali menonton televisi. Kaisya pun mempercepat pekerjaannya. Ia tak tega membiarkan putranya menunggu terlalu lama. Jika keinginannya tak segera dipenuhi, biasanya Putra akan menangis sambil mengacak-acak semua mainannya. Syukurlah, hari ini Putra sedang dalam suasana hati yang baik.
Lima menit kemudian, pekerjaan rumah selesai. Susu yang diminta Putra pun telah siap. Setelah menyerahkannya kepada sang putra, Kaisya duduk di kursi untuk mengistirahatkan tubuhnya yang mulai terasa pegal. Tiba-tiba ia teringat janjinya kepada Gian. Ia harus mencoba menghubungi Mikayla agar gadis itu tidak terus mengurung diri di kamar. Dengan sedikit keraguan, Kaisya meraih ponselnya lalu mengetik sebuah pesan.
“Assalamu’alaikum. Kayla, bagaimana kabarnya? Hari ini katanya gak sekolah ya. Baik-baik saja kan?”
Kaisya mengirim pesan pada gadis itu. Namun belum ada balasan hingga selama setengah jam lebih. Meskipun sudah terlihat centang dua biru. Tapi hanya sekedar dibaca saja. Guru beranak satu itu memijit pelipisnya, pening. Dengan tingkah anak didiknya yang luar biasa.
“Kayla, ibu tahu pasti sekarang lagi marah kan. Tadi ibu ketemu sama ayah Kayla katanya lagi mengurung diri dikamar. Gak mau sekolah juga. Kalau memang marah sama ibu kenapa ayahnya yang jadi pelampiasan? Kita bisa bicara baik-baik kan?”
Kaisya menghela napas panjang. Harus bagaimana lagi menghadapi anak seusia Mikayla yang begitu keras kepala? Wajar jika remaja seusianya masih labil, tetapi mengapa justru dirinya yang harus menghadapi semua ini?
Beberapa menit kemudian, ponselnya berbunyi. Sebuah notifikasi pesan masuk membuat Kaisya tersenyum lega.
“Wa’alaikumsalam. Kabar saya seperti yang ibu tahu. Dan memang benar, saya sangat marah dengan ibu karena menolak ajakan hari Sabtu kemarin. Kenapa ibu lakukan itu? Apa karena dilarang sama suami ibu?”
Kaisya terkejut, anak yang baru ia kenal beberapa minggu kemarin bersikap seperti sangat mengenalnya.
“Maaf Kayla. Bukan ibu tidak mau tapi memang sedang sibuk kemarin.”
“Sesibuk apa sih, Bu? Bisa kan menyempatkan waktu cuma dua atau tiga jam saja.”
“Bukan begitu. Tapi memang kemarin sangat sibuk hingga tidak bisa kemana-mana. Ibu harap Kayla mengerti ya.”
“Yang harusnya mengerti itu ibu bukan saya. Ibu itu sudah dewasa masa saya yang harus mengerti keadaan ibu.”
Jelas saja Kaisya terdiam. Ada benarnya juga. Sebagai orang dewasa, memang dirinya yang seharusnya lebih mampu memahami keadaan. Namun, bukankah Mikayla juga perlu belajar menghargai kondisi orang lain?
“Baiklah. Sekarang keinginan Kayla apa?”
“Gak yakin ibu akan bisa memenuhi keinginan saya.”
“Memangnya keinginan Kayla apa?”
“Janji dulu ibu akan memenuhinya. Kalau tidak, saya tidak akan pernah keluar dari kamar ini. Biar saja saya mati. Toh tidak ada yang sayang sama saya. Bahkan ibu juga begitu. Ayah cuma sibuk bekerja dan tidak pernah memikirkan perasaan anaknya. Termasuk ibu Kaisya.”
Kaisya mengembuskan napas panjang. Dalam hati ia mulai kesal, tetapi ia sadar dirinya adalah guru sekaligus wali kelas Mikayla. Apalagi ia sudah berjanji kepada Gian akan berusaha membujuk putrinya.
“Ibu tidak bisa asal berjanji tanpa tahu keinginannya, Kayla.”
“Ibu gak bisa kan. Sudahlah. Memang gak ada yang sayang sama anak seperti saya ini.”
“Semua sayang sama Kayla. Apalagi ayah Gian begitu menyayangimu. Apa Kayla tidak merasakan itu?”
“Ya sudah, kalau begitu ibu tolong berjanji untuk memenuhi keinginan saya.” Pinta Mikayla yang dengan penuh pemaksaan.
“Baiklah. Apa keinginan Kayla?”
Kaisya memberikan pertanyaan yang justru akan membuatnya kelimpungan. Dia tidak ingat jika gadis yang dihadapi itu begitu berbeda dari kebanyakan anak seusianya. Begitu manja dan mudah marah.
“Saya ingin ibu.”
Perkataan Mikayla membuat salah tangkap pada pemikirannya. ‘Ingin ibu’ itu ada beberapa arti. Ingin ibu kandungnya atau ibu yang menggantikan ibunya sendiri. Atau ingin dirinya.
“Kayla, untuk masalah itu kan bisa dibicarakan dengan ayahnya untuk mencarikan ibu buat Kayla. Tidak harus mengurung diri dikamar dengan alasan karena marah pada ibu kan.”
“Mengapa sih ibu ini gak mengerti sama sekali. Atau hanya pura-pura. Aku hanya ingin ibu Kaisya yang jadi ibuku.”
Benar-benar Kaisya terkejut dengan jawaban Mikayla. Teringat ucapan Gian dan ternyata benar adanya. Semakin pusing ia dibuatnya.
“Ibu sudah berjanji kan akan memenuhi keinginanku. Sekarang Kayla mohon tepati janji itu.”
“Kayla. Ibu kan memang sudah menjadi ibu untukmu di sekolah.”
“Itu berbeda. Aku ingin ibu menikah dengan ayah dan jadi ibuku.”
Bagai disambar petir. Mikayla menyuruhnya menikah dengan Gian? Sungguh tidak mungkin. Bagaimana dengan keluarganya saat ini. Meskipun sering terucap kata cerai pada Ridho karena sudah lelah dengan sikap orang tua lelaki itu yang sering membuatnya tertekan batin.
“Itu tidak mungkin Kayla. Ibu sudah bersuami dan memiliki anak. Mana mungkin bercerai hanya untuk memenuhi keinginanmu.”
“Benar kan. Ibu gak akan pernah bisa menepati janji. Pembohong.”
Tak ada lagi balasan dari Mikayla.
Kaisya terduduk lemas sambil memandangi layar ponselnya yang mulai menggelap. Kepalanya terasa sesak.
“Kenapa semuanya datang bersamaan…” batinnya.
Ia mengakui, perasaannya kepada Gian memang belum benar-benar hilang. Namun itu bukan berarti ia ingin mengkhianati Ridho. Sejak awal ia telah memilih menjalani kehidupan bersama suaminya, dan hingga kini ia masih ingin mempertahankan rumah tangga itu.
Yang membuatnya lelah bukanlah Ridho seorang, melainkan keadaan yang terus menekan mereka. Sikap keluarga suaminya yang tak pernah benar-benar menerima dirinya perlahan mengikis ketenangan hati. Setiap usaha yang ia lakukan seolah selalu salah di mata mereka.
“Aku hanya ingin hidup tenang bersama suami dan anakku. Apa itu terlalu sulit?” lirihnya dalam hati.
Hembusan napas kasar terus keluar dari bibirnya. Ragu, cemas, semua perasaan bercampur menjadi satu. Bercerita kepada orang terdekat pun terasa mustahil. Yang ada, mereka hanya akan menghakiminya sebagai perempuan yang tak tahu diri karena masih menyimpan perasaan pada lelaki lain.
Kaisya mengusap wajahnya yang mulai basah oleh air mata. Ia meraih ponsel yang sejak tadi tergeletak di sampingnya. Jari-jarinya sempat berhenti di atas layar, seolah ragu harus melakukan apa. Ingin rasanya ia menghubungi Gian dan menceritakan semua isi percakapannya dengan Mikayla. Namun, ia mengurungkan niat itu. Ia khawatir lelaki tersebut justru merasa bersalah atau bahkan salah paham terhadap dirinya.
Tanpa disadari Kaisya, sebuah awal dari petaka telah dimulai. Dan ketika semuanya terungkap nanti, tak ada lagi yang akan sama.
***
Kreator : Fauzi Nurruhaeni Syantika (FN Syantika)
Comment Closed: Bab 16. Awal Petaka
Sorry, comment are closed for this post.