KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab 16 – Awal Masuk Kelas Tiga

    Bab 16 – Awal Masuk Kelas Tiga

    BY 15 Jul 2026 Dilihat: 3 kali
    Awal Masuk Kelas_alineaku

    Begitu melewati gerbang sekolah, Raka masih bisa melihat sisa kabut pagi menempel tipis di ujung halaman. Anak-anak mulai berdatangan dari berbagai arah, sebagian masih menggandeng tangan orang tuanya, sebagian lagi sudah berlari lebih dulu sambil memanggil teman yang baru mereka lihat setelah libur panjang. Dari speaker sekolah, lagu pagi terdengar bercampur dengan suara sepatu, tawa, dan sapaan yang saling bersahutan.

    Farah menggenggam tangan Raka sebentar, lalu menunjuk deretan kelas di lantai satu.

    “Mas, Farah ke sana, ya.”

    Raka mengangguk. “Iya. Jilbabnya miring tuh.”

    Farah buru-buru merapikan jilbabnya dengan kedua tangan. Setelah itu ia berlari kecil menuju kelasnya, tetapi baru beberapa langkah, ia menoleh lagi dan melambaikan tangan.

    Raka membalas lambaian itu sampai adiknya hilang di antara anak-anak berseragam putih merah yang memenuhi halaman.

    Setelah Farah masuk ke barisan kelas satu, langkah Raka terasa lebih pelan. Ia menarik napas, membetulkan tali tas di bahunya, lalu berjalan menuju tangga yang mengarah ke lantai tiga. Tahun ini kelasnya pindah ke sayap timur, tempat kelas tiga berada.

    Belum sampai anak tangga kedua, ada suara memanggil dari belakang.

    “Kelas berapa, Rak?”

    Raka menoleh. Tito, teman sekelasnya waktu kelas dua, berjalan menyusul sambil mengaitkan tali tas di bahu.

    “Eh, Tito,” kata Raka sambil tersenyum kecil. “Aku 3B. Kamu?”

    “3F, Rak. Aku bareng lagi sama Joko sama Anwar.”

    Raka mengangguk. “Aku bareng Bimo.”

    Mereka naik tangga bersama. Semakin dekat ke lantai tiga, suara anak-anak semakin ramai. Ada yang tertawa keras karena bertemu teman lama, ada yang sibuk mencari kelas, ada juga yang berdiri di depan papan pengumuman sambil mengecek namanya lagi dan lagi.

    Begitu sampai di lantai tiga, Tito menunjuk ke lorong sebelah kiri.

    “Aku belok kiri dulu, ya, Rak. Kelasmu sebelah kanan, kan?”

    “Iya, aku ke kanan,” jawab Raka sambil melambaikan tangan.

    Tito membalas dengan anggukan, lalu berjalan cepat menyusuri lorong menuju kelasnya. Raka mengikuti arah sebaliknya. Matanya sempat membaca tulisan di pintu kelas dekat tangga.

    3C.

    Berarti kelasnya tinggal satu pintu lagi.

    Ia baru saja melangkah ketika seorang anak berlari dari arah depan dan hampir menabraknya. Raka buru-buru memiringkan badan agar anak itu bisa lewat.

    “Maaf… permisi… numpang lewat,” ucap anak itu berkali-kali sambil menerobos sela-sela anak lain.

    Anak itu bergerak begitu cepat sampai Raka hanya sempat melihat tas yang bergoyang di punggungnya dan napasnya yang terburu-buru. Mungkin ada barang yang tertinggal, atau mungkin dia salah lantai, pikir Raka saat anak itu menuruni tangga dengan tergesa.

    Raka menoleh sebentar mengikuti arah larinya, lalu kembali menghadap lorong. Semakin dekat ke kelas, perutnya mulai terasa tidak enak. Bukan sakit sekali, hanya mulas kecil yang sering muncul setiap kali ia menghadapi hal baru. Tubuhnya memang selalu begitu. Sebelum pikirannya sempat tenang, perutnya sudah lebih dulu memberi tanda.

    Di depan pintu berikutnya, papan kecil bertuliskan KELAS 3B tergantung rapi.

    Raka berhenti sebentar.

    Dari dalam kelas terdengar suara kursi digeser, tas diletakkan di meja, dan obrolan anak-anak yang saling menumpuk. Ia menarik napas pelan, lalu masuk.

    Kelas itu sudah setengah penuh. Beberapa anak menoleh ketika Raka masuk, tetapi kebanyakan segera kembali mengurus tas dan tempat duduk masing-masing. Raka berjalan pelan melewati barisan bangku pertama. Saat ia sampai di barisan kedua, seorang anak yang sedang membuka kotak pensil tiba-tiba berhenti.

    Anak di sebelahnya ikut menoleh.

    Raka pura-pura tidak melihat. Ia memilih bangku pojok kiri di barisan kedua, menaruh tas di atas meja, lalu duduk sambil membuka tasnya pelan-pelan. Namun dari arah samping, ia bisa merasakan beberapa tatapan mulai menempel di wajahnya.

    “Eh… matanya…”

    “Yang satu cokelat, yang satu kok beda?”

    “Iya ya…kok bisa beda ya?”

    Raka menelan ludah. Ia sudah sering mendengar pertanyaan seperti itu sejak kelas satu, tetapi tetap saja rasanya tidak nyaman kalau banyak orang menatapnya terlalu dekat.

    Seorang anak laki-laki berhidung pesek mendekat ke mejanya. Ia menunduk sedikit, menatap wajah Raka tanpa sungkan.

    “Kamu kok matanya beda gitu?”

    Raka memaksakan senyum kecil.

    “Memang dari lahir.”

    “Yang kiri warnanya apa?”

    Raka ragu sebentar sebelum menjawab. “Abu… agak hijau.”

    “Wahhh,” kata anak itu, seperti baru menemukan mainan menarik.

    Beberapa anak lain ikut mendekat. Ada yang berdiri di samping meja Raka, ada yang mencondongkan badan dari depan, ada juga yang berbisik sambil cekikikan. Raka ingin meminta mereka agak mundur, tetapi suaranya seperti tertahan di tenggorokan.

    Di tengah keramaian itu, mata kirinya mendadak berdenyut.

    Raka berkedip sekali.

    Lalu dua kali.

    Untuk sesaat, ruangan seperti bergeser sedikit. Udara di sekitar anak-anak yang mengerumuninya tidak lagi terlihat kosong. Ada lapisan tipis yang berkilau samar, mengikuti tubuh mereka setiap kali bergerak. Di sekitar beberapa anak, kilau itu tampak hangat seperti cahaya matahari yang tersangkut di kulit. Di sekitar anak lain, warnanya lebih redup dan cepat menghilang.

    Raka menggigit bagian dalam pipinya.

    Aku nggak mau lihat yang aneh-aneh sekarang.

    Ia segera mengucek mata kiri, pura-pura seperti kelilipan. Begitu tangannya turun, kilau-kilau itu memudar, seperti lampu yang baru saja dimatikan.

    “Eh, kok kamu ngucek mata terus?” tanya seorang anak perempuan berkuncir satu.

    “Kelilipan,” jawab Raka cepat.

    Anak-anak masih belum benar-benar bubar. Raka baru saja menunduk ke arah bukunya ketika ia merasakan tatapan lain dari arah belakang.

    Tatapan itu berbeda.

    Bukan tatapan penasaran seperti anak-anak yang ingin melihat matanya dari dekat. Tatapan itu diam, tetapi terasa lebih tajam, seperti seseorang yang tiba-tiba melihat sesuatu yang ia kenal, hanya saja belum bisa mengingatnya dengan jelas.

    Pelan-pelan, Raka mengangkat kepala.

    Di barisan belakang, dekat jendela, seorang anak laki-laki duduk diam. Seragamnya rapi, rambutnya disisir ke samping, dan pensil di tangannya berhenti di udara seolah ia lupa sedang menulis apa. Anak itu tidak ikut mendekat. Ia hanya menatap Raka dari jauh. Matanya sempat membesar sedikit, lalu cepat-cepat berkedip seperti baru tersentak oleh sesuatu.

    Raka menatap balik.

    Anehnya, bukan wajah anak itu yang membuat dada Raka mengencang, melainkan rasa yang muncul begitu saja di kepalanya.

    Pasir hangat.

    Angin asin.

    Bayangan panjang layang-layang di langit.

    Raka menahan napas. Gambar itu datang sangat cepat, lalu hilang sebelum ia sempat menangkap lebih banyak.

    Ia berkedip keras. Ketika pandangannya kembali jelas, anak di belakang itu masih menatapnya, tetapi kali ini wajahnya seperti berusaha terlihat biasa. Ia menunduk dan mulai menulis sesuatu, meski gerakan pensilnya tampak ragu-ragu.

    Kerumunan di sekitar meja Raka akhirnya bubar ketika seorang anak dari dekat pintu berteriak, “Bu Guru datang!”

    Anak-anak buru-buru kembali ke tempat duduk masing-masing. Kursi-kursi bergeser hampir bersamaan. Suasana yang tadi ramai berubah menjadi sibuk dan sedikit panik.

    Raka menghela napas kecil.

    Namun sebelum ia benar-benar bisa menunduk ke buku, mata kirinya menangkap sesuatu di sudut kelas, tepat di bawah papan pengumuman dekat pintu.

    Bayangan di sana terlihat lebih gelap dari seharusnya.

    Bukan gelap karena kurang cahaya, tetapi seperti ada bagian kecil dari kelas itu yang menyimpan dinginnya sendiri.

    Raka merinding. Ia cepat-cepat memalingkan wajah.

    Kenapa akhir-akhir ini begini terus?

    Langkah kaki guru terdengar dari ambang pintu.

    “Selamat pagi, anak-anak!”

    “Pagi, Bu!” jawab seluruh kelas serempak.

    Raka ikut menjawab, tetapi pikirannya masih tertinggal pada anak laki-laki di belakang dan rasa asin yang tadi tiba-tiba muncul entah dari mana.

    Guru berjalan ke depan kelas, meletakkan buku di meja, lalu mulai menulis namanya di papan tulis. Suara kapur yang bergesek terdengar pelan di antara sisa bisik-bisik anak-anak yang belum sepenuhnya berhenti.

    Raka sempat melirik ke belakang sekali lagi. Pada saat yang sama, anak itu juga mengangkat kepala.

    Tatapan mereka bertemu sebentar saja.

    Tidak ada senyum atau sapaan. Hanya dua anak yang sama-sama terdiam, seperti diam-diam merasakan sesuatu yang sama.

    Aku pernah melihatmu.

    Guru mengetuk papan tulis pelan dengan penghapus, membuat beberapa anak yang masih berbisik langsung duduk lebih tegak.

    “Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.”

    “Wa’alaikumussalaam warahmatullahi wabarakaatuh,” jawab anak-anak serempak.

    Guru tersenyum, lalu meletakkan penghapus di meja.

    “Hari ini kita perkenalan dulu, ya.”

    Raka menelan ludah dan kembali menatap ke depan. Di papan tulis, garis putih kapur bergerak mengikuti tangan gurunya, tetapi mata kirinya kembali berdenyut pelan.

    Seolah hari pertama di kelas tiga ini tidak akan sesederhana yang ia harapkan.

     

     

    Kreator : Rukmana Gautama (RG Gotama)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab 16 – Awal Masuk Kelas Tiga

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021