Hai, semua. Seperti biasa, dunia imajinasi memiliki banyak kisah yang cukup menarik, berbagai kisah dari banyak tempat serta berbagai legenda telah terangkum dalam dunia imajinasi. Ada satu kisah dari seorang yang dijuluki dengan “PENCURI BIBIR”. Aneh memang rasanya, tanpa berlama lama kita simak yuk.
Dunia Imajinasi tidak semua memiliki cahaya dari penerangan seperti matahari atau bulan. Ada sebuah kota yang tidak pernah mendapatkan sinar matahari maupun bulan, bernama Kota Senja. Kota dengan langit sore selalu. Itu adalah satu-satunya cahaya matahari yang bisa didapatkan, walau hanya sebulan sekali, tergantung dengan perputaran Dunia Imajinasi. makanya namanya kota Senja. Pencahayaan mereka hanya menggunakan cahaya dari listrik untuk penerang, karena tiap hari bagaikan malam hari.
“Aku benci kota ini….”
“Lebih baik kota ini dihancurkan…”
“Lebih baik aku pindah kota saja.”
Terlalu banyak keluh kesah di kota tersebut, hingga hampir semua warga menganggap kota itu adalah kota MENGELUH karena tiap hari penuh dengan keluhan mereka.
Mulut Panjang adalah kriminal yang cukup menghebohkan kota itu. Dia membunuh temannya sendiri. Sebenarnya dia hanya melindungi diri dari temannya yang hendak membunuhnya. Tapi penduduk kota Senja sudah termakan gosip dan selalu membuli Mulut Panjang. rasa kesal dari Mulut Panjang akan bulian kota itu membuatnya berteriak dengan berkata kata kasar, bahkan mengutuk setiap orang yang membulinya.
Kejadian itu membuat dirinya makin dibuli. Dia menyadari bahwa yang dilakukannya salah, dia takut akan kemarahan yang tidak terkontrol.
“Hei…. kalian…..!!! Kalian mau melihatku tersiksa?!!! Lihat ini…!!”
Mulut Panjang memotong bibirnya sendiri di depan semua orang. Terkejutlah mereka semua dengan kejadian itu. Tetapi mereka bukan menolongnya, malah semakin membuli dan menertawakan Mulut Panjang itu.
“Peri Bintang… Maaf aku melakukan ini… Aku tidak tahan dengan mereka semua.. Maafkan diriku yang hina ini…..”
Mulut Panjang semakin terpuruk dengan semua yang terjadi, hingga dirinya mendapatkan ide yang cukup gila.
Kota Senja dihebohkan dengan beberapa orang yang bibirnya hilang, tapi mereka tidak merasakan sakit. Kota itu menuduh Mulut Panjang yang melakukan pencurian bibir pada banyak orang. Penduduk Kota Senja menghakiminya dengan hukuman mati dengan dilempar batu menuju mulutnya hingga meninggal.
Setelah kejadian itu, datanglah Peri Bintang.
“Dimanakah Mulut Panjang?”
“Ngapain Peri mencari seorang pencuri bibir?”
“Dia pembunuh….”
“Dia aib bagi kita semua…”
Semua penduduk murka dengan Mulut Panjang.
“DIMANA MULUT PANJANG…???!!!” Peri Bintang berkata lebih lantang.
“Kami membunuhnya…”
“Iya, dia pantas mendapatkannya…”
Lalu, Peri Bintang membawa pasukan penjaga Dunia Imajinasi dan menunjukkan sesuatu yang membuat semua penduduk merasa menyesal.
“Aku mau bersaksi.. maaf baru berani Peri Bintang.”
Tetangga Mulut Panjang menceritakan, tiap hari dia sibuk menghancurkan batu di gunung, Mulut Panjang ingin menghancurkan gunung itu dengan harapan Kota Senja mendapatkan cahaya matahari. Diceritakan juga, dirinya sesekali membantunya bersama sekumpulan anak-anak Kota Senja dan daerah sekitar.
“Aku juga mau bersaksi.” Mulut Panjang sering memberikan pengajaran huruf dan matematika pada anak kota Senja dan sekitarnya dengan gratis.
Tiga hingga lima orang bersaksi tentang kebaikan yang dilakukan Mulut Panjang terhadap kotanya sendiri. Mereka yang bersaksi sudah berupaya mencegah penghakiman itu, tapi tak ada satupun yang percaya hingga Mulut Panjang meninggal karena keegoisan kota Senja.
Setumpuk kumpulan bibir orang dari berbagai daerah di dunia imajinasi yang dilakukan oleh penjahat bernama Herpes, dia adalah penjahat yang sering mengambil bibir orang untuk melakukan percobaan terhadap bibir itu. Sebuah rekaman ingatan dari temannya yang dibunuh oleh Mulut Panjang. kejadian dimana temannya itu mau membunuh anak kecil dan dihadang oleh Mulut Panjang, tidak sengaja membuat temannya terbunuh karena dorongan Mulut Panjang dan kepalanya menghantam batu, dan anak kecil itu pergi entah kemana.
“Maaf Peri Bintang… Aku baru memberanikan diri untuk cerita… begini…..” anak itu akhirnya cerita kisah yang sebenarnya.
Kabar kematian Mulut Panjang tersebar ke berbagai daerah, banyak yang menghakimi kota Senja. Para penjaga Dunia Imajinasi menahan mereka. Disaat semuanya kacau, berdirilah satu anak kecil yang ditolong Mulut Panjang di atas meja dan berteriak.
“STOP..!!! AKU BENCI JADI ORANG DEWASA KALAU GITU. KERJAANNYA MARAH MARAH.. Kak Mulut Panjang bukannya sudah menunjukkan?” Anak itu emosinya meledak dan membuat semua orang sadar, keegoisan hanya membawa musibah dan rasa bersalah. Semua orang disana terdiam sejenak. Beberapa anak yang ada di tempat itu menangis telah kehilangan pahlawan Mulut Panjang. Tangisan anak mereka diikuti tangis semua orang. Mereka menyesal dan marah pada diri sendiri.
Penduduk di sana merasa malu dan bersalah dengan tuduhan terhadap Mulut Panjang, dan penduduk Senja menjadikan hari kematian Mulut panjang menjadi upacara resmi hari PENCURI BIBIR untuk mengingat penyesalan mereka dengan berteriak hal hal positif dalam diri mereka, serta diakhiri dengan berterima kasih pada Mulut Panjang.
Tiga tahun setelahnya, Kota Senja perlahan dikenal dengan kota ramah dan penuh aura positif, terutama dalam perayaan Pencuri Bibir. Entah kenapa kota itu mulai disinari oleh matahari. Penduduk di sana berterima kasih pada Peri Bintang dan Mulut Panjang, sudah memberkati kota mereka.
Kreator : David W. Rehatta (Dsmile5)
Comment Closed: Bab 16. Pencuri Bibir
Sorry, comment are closed for this post.