Sebuah lagu bisa tercipta dari melodi indah. Dunia Imajinasi memiliki irama yang sangat indah yang dikenal dengan Nyonya Nada. Kisah yang penuh haru dan perih. Tanpa berlama lagi, mari kita simak kisahnya.
Nyonya Nada dikenal sebagai manusia abadi untuk menyelamatkan daerah yang terkunci atau terkena kutukan dari sebuah melodi jahat. Akan tetapi, kita akan mengetahui sejarah Nyonya Nada di saat kecil.
Bel Nada dari kota Gereja sedang menghadiri sebuah upacara sakral, untuk mengenang beberapa pahlawan dunia Imajinasi. Salah satunya pahlawan Artonus. Dikenal sebagai pahlawan yang berkorban demi keadilan di kota Tenaga Kuda. Seluruh warga bersujud menghadap beberapa patung yang melewatinya. Bel Nada hanya berharap bisa menjadi salah satu legenda suatu saat.
Keluarganya, bahkan pemerintah, melarang Bel Nada untuk membuka mulutnya karena dirinya terkena kutukan oleh penduduknya sendiri. Bel Nada rindu akan berbicara, tetapi diawasi setiap saat.
Kutukan itu sangat mematikan. Sedikit saja membuka mulut untuk berbicara, maka seisi rumah akan pingsan. Suara dari Bel Nada membuat suara yang tinggi dan membuat makhluk sekitarnya tidak tahan, lalu jatuh pingsan.
Mulutnya dipasang gembok khusus sehingga makan menggunakan selang infus khusus. Para penduduk sebenarnya tidak mau menyiksa Bel Nada. Akan tetapi hanya iitu satu-satunya cara yang bisa mereka pikirkan. Sebagai gantinya, Bel Nada bebas memberikan perintah apapun selama ia tidak membuka mulutnya. Walaupun terpasang gembok khusus, gembok itu akan mudah hancur bila Bel Nada memaksa untuk bicara.
Kutukan itu terjadi dua tahun yang lalu saat Bel Nada masih berusia sepuluh tahun. Dia adalah satu-satunya perempuan yang lahir dua puluh tahun terakhir. Sebagai rasa bahagia, Bel Nada diberikan ritual khusus untuk memasuki sebuah gereja yang megah. Bel Nada diminta untuk mengambil sepuluh barang yang disukainya.
Bel Nada masuk selama sepuluh menit berlalu. Walikota bertanya pada warganya tentang informasi yang diberikan pada anak itu. Akan tetapi, mereka saling tunjuk, mengira sudah ada yang memberitahu Bel Nada. Walikota panik tapi hanya bisa berharap anak itu tidak mengambil barang yang mencurigakan atau merusak benda disana.
Bel Nada senang melihat benda yang berkilauan. Dia mengambil tanduk tujuh warna, peta segala tempat, kotak penyimpan harta, dan lainnya. Semakin dalam dia berjalan, akan banyak barang yang langka dan unik. Tempat itu begitu luas sehingga Bel Nada beberapa kali beristirahat.
Bel Nada melihat sebuah kertas dan terus memanggil namanya. Kertas itu adalah partitur nada secara acak. Irama tanpa Melodi nama pusaka langka itu. “Ambil aku..” suara kertas itu terus merayunya, padahal sudah cukup jauh.
“Diam gak?!” Bel Nada kesal terus dibisikkan.
Satu jam Bel Nada belum keluar dari gereja itu. Sesuai peraturan ‘bila satu jam yang terpilih belum keluar maka berhak menjemput dengan tiga orang’ walikota meminta ibunya dan salah satu warga untuk ikut dengannya menjemput Bel Nada.
Mereka masuk dan terkejut Bel Nada jatuh pingsan. Dibawa keluar dan hanya didapatkan tujuh benda pusaka, tapi ada satu benda pusaka yang dipegang anak itu. Walikota terkejut dengan benda berbahaya itu.
Benda itu bernama Amukan Nada Kematian. Sebuah buku yang hidup dan suka menggigit apapun, tapi masalahnya bukan disana. Melainkan kutukan yang akan terjadi sesudahnya. Hanya ada satu benda yang bisa menetralkannya ‘Irama tanpa Melodi’
Satu menit setelah gigitan itu, langit menjadi gelap dan petir hitam menyambar Bel Nada sebanyak sepuluh kali. Bibir anak itu menjadi ungu. Walikota menyuruhnya segera ibunya menutup mulut Bel Nada sebelum bersuara. Walikota mengetahui berbagai macam kutukan kuno. Salah satunya kutukan suara. Kesalahan satu kota membuat satu anak harus dikorbankan.
Bel Nada terkejut saat bangun mulutnya sudah ditutup dengan gembok khusus. Dia memaksa untuk bersuara dan terkejutlah Bel Nada membuat satu rumah pingsan. Dia masih belum memahami dan terus minta tolong. Semakin dia bersuara maka penduduk akan pingsan.
Dua hari Bel Nada meminta tolong tapi semua yang dijumpainya pingsan. Perlahan dia memahami bahwa suaranya lah yang membuat sekitarnya pingsan. Saat keinginan tidak bicara muncul, para penduduk kembali sadar.
Bel Nada hanya pasrah menunggu waktu yang tepat untuk memasuki gereja dan mengambil pusaka Irama tanpa Melodi. Rasa sedih dan bingung terus menghantuinya, walau penduduk baik terhadapnya. “Peri Bintang.. kenapa harus aku?” Itu yang sering diucapkan dalam hatinya.
Ritual akan datang masih tiga tahun lagi, karena tiap lima tahun sekali gedung gereja itu akan muncul dari langit. Bel Nada hanya menunggu waktu untuk bebas.
Kreator : David W. Rehatta (Dsmile5)
Comment Closed: Bab 17. Kutukan Suara
Sorry, comment are closed for this post.