
Sore berganti malam tanpa terasa.
Lampu ruang tamu menyala temaram, membuat dinding krem di rumah itu terlihat lebih hangat. Setelah salat Isya, Raka, Farah, dan Sekar sudah berkumpul di ruang keluarga seperti biasa. Mereka duduk menunggu di dekat Mama, menatap ponsel yang diletakkan di atas meja kecil.
Raka sudah hafal kebiasaan ini.
Setiap kali Papa harus tugas ke luar kota, mereka akan berkumpul seperti itu setelah makan malam. Menunggu layar ponsel Mama menyala. Menunggu wajah Papa muncul dari sana.
Raka duduk di lantai dekat sofa, punggungnya bersandar pada kaki kursi. Di udara tercium aroma teh hangat dan minyak kayu putih yang sejak sore dioleskan Mama ke dada Sekar. Farah duduk di sebelahnya sambil memeluk lutut. Matanya sudah menatap layar, tidak sabar menunggu panggilan tersambung.
Sekar yang paling gelisah. Ia mondar-mandir kecil di depan meja sambil memeluk boneka lusuhnya.
“Ami juga mau lihat Papa,” gumamnya.
Farah menoleh sambil tersenyum.
“Ami kangen Papa juga?”
Sekar mengangguk cepat.
“Kangen banget.”
Belum sempat Farah membalas, nada panggilan terdengar dari ponsel Mama.
Raka tanpa sadar menahan napas.
Beberapa detik kemudian, layar menyala.
Wajah Papa muncul di sana.
“Papaaa!” seru mereka bertiga hampir bersamaan.
Papa tersenyum lebar dari layar.
“Assalaamu’alaikum, pasukan kecilku!”
“Wa’alaikumussalaam, Papa!” jawab mereka serempak.
Papa tertawa kecil, lalu mendekatkan wajahnya ke kamera seolah ingin melihat mereka satu per satu dengan lebih jelas.
“Lagi ngapain nih? Sudah makan semua?”
Farah langsung menjawab cepat, seperti takut kesempatan bicara diambil Raka atau Sekar.
“Sudah, Pa! Mama masak sop ayam. Tadi aku bantuin Mama cuci wortel sama kentangnya.”
Sekar ikut mengangkat tangan. Semangatnya selalu datang lebih dulu sebelum kalimatnya siap.
“Cekal maam dagingnya, Pa! Baaanyak banget!”
Papa tertawa.
“Wah, hebat Sekar. Sisain buat Papa dong.”
Sekar langsung manyun.
“Ih, Papa kan jauh.”
Raka tidak mau kalah. Ia cepat-cepat meraih buku gambarnya dari dekat meja, lalu mencondongkan tubuh ke arah kamera.
“Pa, aku tadi gambar gudang di belakang sekolah,” katanya dengan mata berbinar. “Bagus nggak? Nih, lihat.”
Ia membuka salah satu halaman, lalu mengangkatnya ke depan layar. Tangannya sedikit goyang karena terlalu semangat, jadi ia menahan buku itu dengan dua tangan supaya Papa bisa melihat lebih jelas.
Papa mengerutkan dahi sebentar. Wajahnya di layar tampak lebih serius ketika menatap gambar itu.
“Bagus, Raka,” kata Papa akhirnya. “Kayaknya bakat Akung nurun ke kamu, deh.”
Raka langsung tersenyum, tetapi ia merasa perlu meluruskan.
“Tapi Akung kan melukis pakai cat minyak, Pa.”
“Iya,” jawab Papa santai. “Tapi Raka juga bisa nanti kalau rajin latihan. Di sana kan banyak kursus melukis. Mau Papa daftarin?”
Raka mengangguk cepat, takut Papa keburu mengganti topik.
“Mau, Pa. Mau. Biar bisa kayak Akung. Lukisan Akung bagus-bagus banget.”
Sekar langsung menyela sambil mengangkat Ami.
“Cekal juga mau, Pa!”
Papa terkekeh.
“Iya, Sekar juga ikut bareng Mas Raka.”
Sekar tersenyum puas, lalu memeluk Ami lagi.
Tiba-tiba Farah bertanya dengan suara lebih pelan dari biasanya.
“Papa kapan pulang?”
Raka ikut diam. Pertanyaan itu membuat ruang keluarga mendadak sedikit lebih tenang. Ia melirik Mama, dan Mama hanya tersenyum tipis, senyum yang seperti sengaja dibuat ringan supaya anak-anak tidak ikut merasa berat.
“Anak-anak kangen banget, lho, Mas,” kata Mama.
Papa mendekatkan wajahnya ke kamera dengan gaya menggoda yang sudah sangat Raka hafal.
“Anak-anak aja nih yang kangen? Mama enggak?”
Mama tertawa kecil sambil menunduk sebentar.
“Ah, Papa ini. Mama juga kangen dong.”
Raka hanya memperhatikan mereka. Entah kenapa, melihat Mama tersipu dan Papa menggoda dari layar membuat ruang keluarga terasa lebih hangat daripada cahaya lampu temaram di atas mereka.
“Insya Allah lusa Papa pulang, ya,” kata Papa.
Farah langsung duduk lebih tegak.
“Jangan lupa oleh-olehnya, Pa. Farah mau boneka Barbie!”
Sekar cepat-cepat mengangkat Ami ke depan kamera.
“Cekal juga dong, Pa. Biar Ami ada temennya.”
Raka buru-buru ikut bicara.
“Raka mau sepatu, Pa. Yang bisa nyala di sampingnya.”
Papa langsung memasang wajah panik yang dibuat-buat. Ia mengangkat handphonenya tinggi-tinggi seolah-olah sedang mencari sinyal.
“Waduh… halo… halo… sinyalnya hilang nih. Papa nggak dengar.”
Mereka bertiga langsung tertawa.
Raka bahkan sampai menepuk lantai karena geli.
“Sudah, sudah,” sela Mama akhirnya, masih sambil tersenyum. “Nanti kita beli di sini saja. Yang penting sekarang doakan Papa kalian selamat sampai rumah lusa nanti.”
Mama lalu menatap mereka satu per satu.
“Sekarang gosok gigi, cuci kaki, lalu tidur, ya.”
“Yahh…” sahut mereka bersamaan.
Farah cemberut. Sekar ikut cemberut, meskipun mungkin belum sepenuhnya mengerti kenapa harus cemberut.
Raka menatap layar sekali lagi sebelum panggilan berakhir. Rasanya seperti baru sebentar mereka bicara, padahal sejak siang ia sudah menunggu momen itu.
Setelah video call selesai, mereka naik ke lantai atas. Sekar sudah menguap lebar, matanya tinggal setengah terbuka. Ia merapat ke Mama seperti anak kucing yang ingin digendong.
Mama mengusap rambutnya pelan.
“Sekar tidur sama Mama, ya.”
Sekar mengangguk sambil memeluk Ami erat-erat, lalu berjalan sempoyongan mengikuti Mama ke kamar utama.
Raka masuk ke kamarnya bersama Farah. Adiknya itu tidak banyak bicara lagi. Begitu kepalanya menyentuh bantal, napasnya perlahan menjadi teratur.
Raka menyalakan lampu kecil di meja belajar, lalu membuka buku gambarnya.
Pensilnya kembali bergerak di atas kertas. Ia menambah garis pada gambar gudang yang tadi sempat ia tunjukkan kepada Papa. Jendela kayu. Atap tua. Dinding belakang yang tampak agak kusam. Ia mencoba membuatnya sama seperti yang ia lihat siang tadi di sekolah.
Namun semakin lama ia menggambar, semakin jelas pula satu hal yang mengganggu kepalanya.
Bayangan di jendela gudang itu.
Ia hanya melihatnya sekilas, tetapi cukup membuat tengkuknya terasa dingin lagi. Yang paling aneh bukan cuma bayangannya, melainkan rasa panas yang datang bersamanya.
Padahal saat itu udara sekolah dingin.
Raka berhenti menggambar sebentar. Ujung pensilnya menggantung di atas kertas.
Tak lama kemudian, Mama masuk ke kamar. Langkahnya pelan, tetapi Raka sudah mengenalinya tanpa perlu menoleh.
“Masih menggambar?” tanya Mama.
Raka mengangguk sambil tetap melihat halaman bukunya.
“Iya, Ma. Aku lanjutin gambar gudang tadi.”
Mama mendekat beberapa langkah.
Raka menatap gambar itu sebentar, lalu berkata pelan, “Tapi aneh deh, Ma. Siang tadi waktu aku lihat gudangnya, kayak ada bayangan di jendelanya.”
Mama tidak langsung menjawab.
Raka menoleh sedikit. Mama berdiri di dekat saklar, tangannya sudah hampir menyentuh tombol lampu.
“Mungkin cuma pantulan cahaya, Nak,” kata Mama akhirnya.
“Mungkin, ya…” Raka menunduk lagi. Suaranya mengecil. “Tapi rasanya panas, Ma. Padahal cuacanya dingin banget.”
Ia menutup buku gambarnya pelan.
Mama masih diam.
Raka sempat melihat tatapan Mama turun ke buku itu. Hanya sebentar, tetapi cukup lama untuk membuat Raka merasa Mama juga sedang memikirkan sesuatu.
Namun ketika Raka menatapnya, Mama sudah tersenyum lagi.
“Sudah malam,” kata Mama lembut sambil menepuk bahu Raka. “Tidur, ya.”
“Iya, Ma.”
Mama mematikan lampu utama.
Kamar langsung lebih redup. Hanya lampu kecil di meja yang masih menyala sebentar, sebelum Mama ikut mematikannya. Setelah itu, pintu kamar ditutup perlahan.
Tirai bergoyang pelan di dekat jendela. Dari luar, suara serangga pegunungan terdengar sayup-sayup. Di dalam kamar, hanya ada bunyi napas Farah yang teratur dan detak jam dinding yang terdengar lebih jelas dari biasanya.
Raka menarik selimut sampai ke dada.
Ia memejamkan mata, berusaha tidur. Tapi gambar gudang itu masih tertinggal di belakang kelopak matanya.
Jendela tua.
Bayangan samar.
Dan rasa panas yang tidak masuk akal.
Entah sudah berapa lama ia tertidur, Raka tiba-tiba terbangun.
Bukan bangun pelan seperti biasanya. Kali ini rasanya seperti ada sesuatu yang menariknya keluar dari mimpi.
Jantungnya berdetak keras.
Dug.
Dug.
Dug.
Napasnya tersangkut sebentar di tenggorokan. Udara kamar terasa dingin menusuk kulit, sementara perutnya mendadak melilit seperti setiap kali ia gugup atau ketakutan.
Raka tidak langsung bergerak.
Ia melirik ke ranjang Farah. Adiknya masih tidur pulas, tubuhnya meringkuk di bawah selimut. Raka menahan napas, takut suara kecil dari gerakannya sendiri membangunkan Farah.
Tik… tik… tik…
Suara jam seperti menempel di telinganya.
Lalu matanya menangkap sesuatu di pojok kamar.
Ada bagian yang lebih gelap dari gelapnya malam.
Awalnya Raka mengira itu hanya bayangan tirai. Namun setelah ia memperhatikan lebih lama, bayangan itu tidak bergerak mengikuti kain. Bayangan itu tegak.
Seperti berdiri.
Raka merasakan darah di wajahnya seakan turun. Tengkuknya merinding, dan telapak tangannya mulai basah. Ia mengedip keras sekali, lalu sekali lagi, berharap semua itu hilang ketika matanya terbuka.
Tapi sosok itu tetap di sana.
Di bawah cahaya bulan yang masuk dari sela tirai, bentuknya perlahan terlihat lebih jelas.
Seorang anak kecil berdiri diam di pojok kamar.
Rambutnya agak panjang, menutupi sebagian wajah. Kulitnya pucat, hampir seperti lilin. Matanya kosong, menatap lurus ke arah ranjang Raka.
Raka ingin memanggil Mama.
Tapi kamar Mama ada di seberang, dan Farah tidur di dekatnya. Kalau ia berteriak, Farah pasti bangun. Jadi suara itu tertahan di tenggorokannya.
Lalu Raka melihat sesuatu.
Dari tubuh anak itu, ada cahaya samar yang menyelimutinya.
Keemasan.
Tipis seperti kabut.
Raka tercekat.
Cahaya itu sama.
Sama seperti sosok beraura emas yang pernah ia lihat dalam mimpi tiga tahun lalu, malam ketika sesuatu terjadi di kamar Mama.
Rasa takutnya tidak langsung hilang, tetapi sedikit mereda. Dadanya masih berdebar, namun ada hangat aneh yang muncul pelan-pelan. Seolah ia sedang diingatkan pada sesuatu yang pernah datang lebih dulu.
Sesuatu yang menjaga dan melindunginya.
Perlahan, Raka mengangkat tubuhnya setengah duduk.
“Kamu…” bisiknya nyaris tanpa suara. “Kamu dulu yang datang melindungiku, ya?”
Anak itu tidak menjawab.
Namun cahaya keemasan di sekeliling tubuhnya tetap menyala samar, seperti memberi tanda bahwa Raka tidak salah.
Lalu anak itu mengangkat tangan.
Jari kecilnya menunjuk ke meja belajar.
Raka mengikuti arah telunjuk itu dengan napas tertahan.
Buku gambarnya terbuka di atas meja.
Padahal sebelum tidur, ia yakin sudah menutupnya.
Dada Raka terasa seperti diremas. Ia menatap buku itu lama, lalu perlahan turun dari ranjang. Kakinya menyentuh lantai yang dingin. Ia melangkah pelan-pelan, berusaha tidak membuat papan lantai berbunyi.
Halaman yang terbuka adalah gambar gudang.
Tapi gambar itu tidak lagi sama.
Langit yang tadi ia arsir kelabu kini berubah merah pekat.
Merahnya tebal, seperti darah yang menyebar di atas kertas.
Di bagian bawah gambar, muncul tulisan samar. Huruf-hurufnya seperti ditorehkan dari dalam kertas, bukan ditulis dari luar.
Bukan tulisan Raka.
Aji.
Raka memandangi tulisan itu. Ia berharap huruf-huruf itu memudar kalau ia cukup lama menatapnya, seperti noda pensil yang bisa hilang oleh cahaya.
Tapi tulisan itu tetap ada.
Hangat dari cahaya keemasan tadi masih terasa di kamar, tetapi kini bercampur dengan rasa gelisah yang merambat pelan di dada Raka.
Ia menoleh ke pojok kamar.
Sosok itu sudah tidak ada.
Sudut kamar kembali kosong. Tidak ada rambut panjang. Tidak ada wajah pucat. Tidak ada cahaya keemasan. Hanya tirai yang bergerak pelan dan bayangan bulan yang jatuh miring di lantai.
Raka menelan ludah.
Tangannya gemetar ketika ia kembali melihat meja belajar. Ia berharap semuanya hanya salah lihat. Ia bahkan memiringkan badan sedikit, memastikan halaman buku itu benar-benar terbuka di sana.
Gambar gudang itu masih sama.
Langitnya tetap merah pekat.
Dan tulisan itu masih ada.
Aji.
Kali ini rasa takut datang terlambat, tetapi jauh lebih tajam. Seperti ada pintu kecil di dalam dirinya yang baru saja terbuka, lalu dibiarkan begitu saja.
Raka buru-buru meraih buku itu dan menutupnya cepat.
Terlalu cepat.
Kertasnya berbunyi keras di tengah sunyi kamar.
Raka langsung menahan napas dan menoleh ke ranjang Farah.
Farah tetap tidur pulas.
Raka kembali naik ke ranjang. Ia menarik selimut sampai menutupi kepalanya, lalu memejamkan mata sekuat mungkin. Seolah kalau ia tidak melihat apa-apa, maka semua yang barusan terjadi tidak akan menjadi nyata.
Namun di balik kelopak matanya, warna merah itu masih menempel.
Dan nama itu terus bergema di kepalanya.
Pelan.
Tapi jelas.
Aji.
Malam itu, Raka tidak tahu kapan akhirnya ia tertidur lagi. Ia hanya ingat tubuhnya terus gelisah di bawah selimut, sampai pada akhirnya rasa lelah membuat matanya kembali terpejam.
Kreator : Rukmana Gautama (RG Gotama)
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Bab 17 – Namanya Aji
Sorry, comment are closed for this post.