
Pagi itu, Raka terbangun dengan dada yang terasa berat.
Matanya perih karena kurang tidur. Beberapa detik ia hanya berbaring sambil menatap langit-langit kamar, lalu pelan-pelan kepalanya menoleh ke arah pojok ruangan.
Tidak ada apa-apa di sana.
Sudut kamar itu terlihat biasa saja. Gelapnya wajar. Bayangannya juga wajar.
Farah masih tidur pulas di ranjang sebelah. Selimutnya naik sampai ke dada, dan napasnya terdengar teratur, seolah malam tadi tidak meninggalkan apa pun di kamar itu.
Raka turun pelan dari ranjang. Kakinya menyentuh lantai yang dingin, membuat tubuhnya sedikit menegang. Ia berjalan menuju meja belajar, lalu berhenti tepat di depan buku gambarnya.
Tangannya sudah terulur, tetapi belum langsung menyentuhnya.
Beberapa saat ia hanya menatap buku itu, seperti benda itu bisa bergerak sendiri kalau ia terlalu cepat membukanya. Setelah menelan ludah, barulah ia menyentuh sampulnya dan membukanya pelan-pelan.
Halaman gambar gudang itu masih ada.
Gambar yang ia buat kemarin.
Tapi langitnya kembali kelabu. Biasa. Tidak merah menyala seperti yang ia lihat semalam.
Dan tulisan itu…
Tidak ada.
Tidak ada nama Aji di sana.
Raka menatap lembaran itu lama. Napasnya tertahan, sementara matanya bergerak dari sudut kertas ke gambar gudang, lalu kembali ke bagian bawah halaman tempat tulisan itu semalam muncul.
Kosong.
Jadi semalam itu apa? Mimpi?
Tapi rasanya terlalu nyata untuk disebut mimpi. Ia masih ingat merah pekat yang menyebar seperti darah di langit gambar itu. Ia masih ingat cahaya keemasan yang tipis di pojok kamar. Ia juga masih ingat bagaimana tengkuknya merinding ketika sosok itu menatapnya dari kegelapan.
Bahkan suara kertas saat ia menutup buku terlalu cepat masih terngiang jelas di telinganya.
Raka mengusap matanya pelan. Setelah itu ia menutup buku gambar tersebut, kali ini dengan gerakan yang lebih hati-hati.
Sepanjang mandi dan memakai seragam, pikiran Raka terus kembali ke kejadian semalam.
Semakin ia mencoba mengingat wajah anak itu, semakin kabur wajahnya di kepala. Yang tersisa hanya rasa aneh yang sulit ia jelaskan. Hangat, tetapi juga dingin. Tenang, tetapi membuat takut. Semuanya bercampur jadi satu.
Siapa sebenarnya anak itu?
Bagaimana dia bisa muncul di kamarnya?
Ke mana dia pergi setelah itu?
Apakah dia hantu?
Atau jin?
Yang jelas, menurut Raka, anak itu bukan manusia biasa.
Pertanyaan-pertanyaan itu masih menempel di kepala Raka bahkan setelah ia sarapan seadanya dan memakai sepatu. Tidak lama kemudian, ia sudah duduk di dalam mobil bersama Mama, Farah, dan Sekar, berangkat seperti pagi-pagi biasanya.
Dari balik kaca mobil, Raka melihat gerimis turun tipis di luar. Wiper bergerak pelan, menyapu air dari kaca depan dengan irama yang terus berulang. Jalanan pagi itu lebih padat dari biasanya, membuat mobil mereka berjalan sebentar, berhenti sebentar, lalu maju lagi perlahan.
Mama menyetir sambil sesekali melirik kaca spion. Di jok belakang, Farah duduk rapi dengan tas dan kotak bekalnya, sementara Sekar memeluk Ami di pangkuan, matanya masih setengah mengantuk.
Raka duduk diam di kursi depan.
Ia menatap keluar jendela. Kabut menggantung rendah di kejauhan. Puncak Merapi tampak samar, seperti sengaja disembunyikan awan.
Kepalanya masih penuh dengan kejadian semalam.
Lalu, di sela bunyi wiper yang bergerak pelan, sebuah suara terdengar.
“Itu bukan mimpi, Raka.”
Suara itu pelan.
Sangat dekat.
Seperti seseorang baru saja berbisik tepat di samping telinganya.
Raka tersentak. Tubuhnya langsung menegang. Ia menoleh cepat ke belakang.
Farah sedang membuka kotak bekalnya, sibuk memeriksa isinya. Sekar memeluk Ami sambil menguap kecil. Tidak ada yang melihat Raka. Tidak ada yang sedang bicara padanya.
Jantung Raka mulai berdetak lebih cepat.
“Kenapa, Raka?” suara Mama memecah keheningan.
Dari kaca spion, Mama menatapnya sebentar. Alisnya sedikit berkerut melihat wajah Raka yang mendadak pucat.
“Kok kayak lihat hantu begitu?”
Raka menelan ludah. Ia memaksa bibirnya bergerak, meskipun tenggorokannya terasa kering.
“Ah… enggak, Ma. Nggak apa-apa kok.”
Mama masih menatapnya sebentar lewat kaca spion, lalu kembali fokus ke jalan.
“Kamu kurang tidur, ya?”
Raka hanya mengangguk kecil.
Belum sempat ia mengatur napas, suara itu datang lagi. Tetap lembut, tetapi kali ini terdengar lebih jelas.
“Nggak usah khawatir. Mereka tidak bisa mendengarku. Hanya kamu.”
Raka membeku.
Napasnya tercekat. Tangannya tanpa sadar mencengkeram tali tas lebih erat. Ia tidak berani menoleh, tidak berani menjawab, bahkan tidak berani menggerakkan bibirnya. Kalau sampai Mama melihatnya bicara sendiri, pasti Mama akan bertanya macam-macam.
Perutnya mulai melilit.
Tapi di balik rasa takut itu, ada rasa lain yang perlahan muncul.
Rasa ingin tahu.
Suara itu tidak terdengar marah. Tidak juga menakut-nakuti. Aneh sekali, suara itu justru terasa hangat, meskipun tetap membuat bulu kuduk Raka berdiri.
Raka memalingkan wajah ke jendela, pura-pura memperhatikan kabut di luar. Di kejauhan, Merapi masih tertutup awan, diam dan besar, seperti menyimpan rahasia yang belum mau dibuka.
Sepanjang sisa perjalanan, Raka mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa suara itu hanya muncul karena ia kurang tidur. Mungkin karena semalam ia terlalu takut. Mungkin karena pikirannya masih belum benar-benar sadar.
Tapi semakin ia mencoba mencari alasan, semakin hatinya menolak.
Suara itu nyata.
Terlalu dekat.
Terlalu jelas.
Dan yang paling membuatnya takut bukan isi ucapannya, melainkan kenyataan bahwa suara itu benar.
Hanya dia yang bisa mendengarnya.
Tak lama kemudian, suara riuh anak-anak mulai terdengar dari kejauhan. Gerbang sekolah terlihat di depan, dan halaman sudah ramai oleh payung-payung kecil, sepatu yang berlarian menghindari genangan, serta suara orang tua yang mengingatkan anak-anaknya agar tidak lupa membawa bekal.
Mama menepikan mobil.
Raka turun lebih dulu, lalu Farah menyusul. Udara pagi terasa lembap dan dingin. Raka menarik napas dalam-dalam, tetapi rasa tegang di dadanya belum juga pergi.
Farah melambaikan tangan ke arah Mama dan Sekar.
“Dadah, Sekar… dadah, Mama. Farah sekolah dulu, ya!”
Setelah itu ia berlari kecil menuju Aisyah, temannya, yang sudah menunggu di dekat gerbang.
Raka ikut melambaikan tangan kecil ke arah Sekar yang masih duduk di dalam mobil, tepat di samping Mama, sambil memeluk Ami. Sekar membalas dengan semangat, senyumnya lebar sekali, lebih cerah daripada matahari yang pagi itu masih malas muncul.
Raka baru melangkah beberapa langkah ketika seseorang memanggil dari belakang.
“Raka!”
Raka tersentak dan langsung menoleh.
Jantungnya masih belum benar-benar tenang sejak kejadian di mobil tadi. Untuk sepersekian detik, pikirannya sempat melompat ke hal-hal yang tidak ingin ia ingat.
Bisikan itu.
Langit merah.
Nama Aji.
Tapi yang muncul bukan sosok dari semalam.
Di belakangnya, Bimo sedang melambaikan tangan sambil berlari kecil menghampiri. Tasnya bergoyang-goyang di punggung.
“Oi, Bim,” sapa Raka spontan.
Bimo berhenti tepat di depan Raka. Napasnya sedikit tersengal.
“Kaget tadi ya, Rak?”
Raka mengangguk. “Aku kira siapa… tahunya kamu.”
Bimo nyengir, lalu membetulkan tali tasnya yang terlihat kebesaran. Sepertinya tas itu bekas milik abangnya.
“Yuk masuk. Bentar lagi bel bunyi.”
“Yuk,” jawab Raka.
Mereka berjalan melewati gerbang sekolah. Tak lama kemudian, lonceng berbunyi nyaring dari dalam halaman. Dari posnya, Pak Maman sudah berdiri dan bersiap menutup pintu gerbang.
Bimo terus berjalan santai, seperti pagi itu tidak berbeda dari pagi-pagi lain.
Raka berusaha membuat langkahnya terlihat biasa. Ia berjalan di samping Bimo, mengikuti anak-anak lain yang mulai bergegas menuju kelas.
Namun di dalam kepala Raka, satu pertanyaan terus berputar pelan dan tidak mau pergi.
Kalau semalam bukan mimpi… lalu apa?
.
Tik… tik… tik…
Suara jam seperti menempel di telinganya.
Lalu matanya menangkap sesuatu di pojok kamar.
Ada bagian yang lebih gelap dari gelapnya malam.
Awalnya Raka mengira itu hanya bayangan tirai. Namun setelah ia memperhatikan lebih lama, bayangan itu tidak bergerak mengikuti kain. Bayangan itu tegak.
Seperti berdiri.
Raka merasakan darah di wajahnya seakan turun. Tengkuknya merinding, dan telapak tangannya mulai basah. Ia mengedip keras sekali, lalu sekali lagi, berharap semua itu hilang ketika matanya terbuka.
Tapi sosok itu tetap di sana.
Di bawah cahaya bulan yang masuk dari sela tirai, bentuknya perlahan terlihat lebih jelas.
Seorang anak kecil berdiri diam di pojok kamar.
Rambutnya agak panjang, menutupi sebagian wajah. Kulitnya pucat, hampir seperti lilin. Matanya kosong, menatap lurus ke arah ranjang Raka.
Raka ingin memanggil Mama.
Tapi kamar Mama ada di seberang, dan Farah tidur di dekatnya. Kalau ia berteriak, Farah pasti bangun. Jadi suara itu tertahan di tenggorokannya.
Lalu Raka melihat sesuatu.
Dari tubuh anak itu, ada cahaya samar yang menyelimutinya.
Keemasan.
Tipis seperti kabut.
Raka tercekat.
Cahaya itu sama.
Sama seperti sosok beraura emas yang pernah ia lihat dalam mimpi tiga tahun lalu, malam ketika sesuatu terjadi di kamar Mama.
Rasa takutnya tidak langsung hilang, tetapi sedikit mereda. Dadanya masih berdebar, namun ada hangat aneh yang muncul pelan-pelan. Seolah ia sedang diingatkan pada sesuatu yang pernah datang lebih dulu.
Sesuatu yang menjaga dan melindunginya.
Perlahan, Raka mengangkat tubuhnya setengah duduk.
“Kamu…” bisiknya nyaris tanpa suara. “Kamu dulu yang datang melindungiku, ya?”
Anak itu tidak menjawab.
Namun cahaya keemasan di sekeliling tubuhnya tetap menyala samar, seperti memberi tanda bahwa Raka tidak salah.
Lalu anak itu mengangkat tangan.
Jari kecilnya menunjuk ke meja belajar.
Raka mengikuti arah telunjuk itu dengan napas tertahan.
Buku gambarnya terbuka di atas meja.
Padahal sebelum tidur, ia yakin sudah menutupnya.
Dada Raka terasa seperti diremas. Ia menatap buku itu lama, lalu perlahan turun dari ranjang. Kakinya menyentuh lantai yang dingin. Ia melangkah pelan-pelan, berusaha tidak membuat papan lantai berbunyi.
Halaman yang terbuka adalah gambar gudang.
Tapi gambar itu tidak lagi sama.
Langit yang tadi ia arsir kelabu kini berubah merah pekat.
Merahnya tebal, seperti darah yang menyebar di atas kertas.
Di bagian bawah gambar, muncul tulisan samar. Huruf-hurufnya seperti ditorehkan dari dalam kertas, bukan ditulis dari luar.
Bukan tulisan Raka.
Aji.
Raka memandangi tulisan itu. Ia berharap huruf-huruf itu memudar kalau ia cukup lama menatapnya, seperti noda pensil yang bisa hilang oleh cahaya.
Tapi tulisan itu tetap ada.
Hangat dari cahaya keemasan tadi masih terasa di kamar, tetapi kini bercampur dengan rasa gelisah yang merambat pelan di dada Raka.
Ia menoleh ke pojok kamar.
Sosok itu sudah tidak ada.
Sudut kamar kembali kosong. Tidak ada rambut panjang. Tidak ada wajah pucat. Tidak ada cahaya keemasan. Hanya tirai yang bergerak pelan dan bayangan bulan yang jatuh miring di lantai.
Raka menelan ludah.
Tangannya gemetar ketika ia kembali melihat meja belajar. Ia berharap semuanya hanya salah lihat. Ia bahkan memiringkan badan sedikit, memastikan halaman buku itu benar-benar terbuka di sana.
Gambar gudang itu masih sama.
Langitnya tetap merah pekat.
Dan tulisan itu masih ada.
Aji.
Kali ini rasa takut datang terlambat, tetapi jauh lebih tajam. Seperti ada pintu kecil di dalam dirinya yang baru saja terbuka, lalu dibiarkan begitu saja.
Raka buru-buru meraih buku itu dan menutupnya cepat.
Terlalu cepat.
Kertasnya berbunyi keras di tengah sunyi kamar.
Raka langsung menahan napas dan menoleh ke ranjang Farah.
Farah tetap tidur pulas.
Raka kembali naik ke ranjang. Ia menarik selimut sampai menutupi kepalanya, lalu memejamkan mata sekuat mungkin. Seolah kalau ia tidak melihat apa-apa, maka semua yang barusan terjadi tidak akan menjadi nyata.
Namun di balik kelopak matanya, warna merah itu masih menempel.
Dan nama itu terus bergema di kepalanya.
Pelan.
Tapi jelas.
Aji.
Malam itu, Raka tidak tahu kapan akhirnya ia tertidur lagi. Ia hanya ingat tubuhnya terus gelisah di bawah selimut, sampai pada akhirnya rasa lelah membuat matanya kembali terpejam.
Kreator : Rukmana Gautama (RG Gotama)
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Bab 18 – Aji Muncul Lagi
Sorry, comment are closed for this post.