Bayu hampir selalu datang lebih pagi daripada teman-temannya. Bukan hanya karena rumahnya dekat dari sekolah, tetapi juga karena ayahnya memang selalu berangkat pagi-pagi. Hotel tempat ayahnya bekerja letaknya cukup jauh dari rumah, jadi Bayu sering ikut berangkat lebih awal daripada anak-anak lain.
Seperti pagi itu.
Pak Maman baru saja membuka pintu gerbang sekolah ketika Bayu turun dari mobil. Udara masih dingin, dan halaman sekolah belum ramai oleh suara anak-anak. Di seberang lapangan, jauh di dekat deretan ruang guru, Bu Wati, istri Pak Maman, terlihat sedang menyapu lorong. Gerak sapunya pelan dan teratur, seperti sudah menjadi bagian dari pagi sekolah itu.
Bayu melangkah mendekati gerbang, lalu mengangkat tangan.
“Selamat pagi, Pak Maman!”
Pak Maman menoleh sambil tersenyum.
“Selamat pagi. Rajin sekali, pagi-pagi buta begini sudah di sekolah.”
Bayu langsung nyengir.
“Pagi itu memang buta, Pak. Kan nggak punya mata.”
Ia menggeser tas di bahunya, lalu menunduk sopan meski gerakannya masih asal-asalan.
“Permisi ya, Pak.”
Pak Maman tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala.
“Hahaha, bisa aja kamu. Awas, lho, nanti matanya muncul di pojokan kelas.”
Senyum Bayu langsung hilang sedikit.
“Ih, Pak Maman… Bayu jadi takut, nih.”
Pak Maman tertawa lagi, lalu menyingkir untuk memberi jalan.
“Bercanda, Bayu.”
Bayu cepat-cepat menimpali sebelum benar-benar masuk.
“Kalau muncul beneran, Pak Maman yang tanggung jawab, ya!”
Pak Maman hanya mengangkat alis sambil menahan senyum.
Bayu melangkah masuk dengan perasaan yang sedikit berubah. Tadi ia datang santai, tetapi sekarang matanya sempat melirik ke arah lapangan yang masih kosong, lalu ke sudut-sudut bangunan yang belum terkena cahaya matahari. Seharusnya pagi ini terasa seperti pagi biasa, tetapi candaan Pak Maman tentang mata di pojok kelas membuat dadanya jadi agak tidak enak.
Ia berjalan menyusuri koridor yang masih lengang. Cahaya pagi masuk dari jendela-jendela, membentuk garis-garis pucat di lantai. Langkah Bayu terdengar lebih keras dari biasanya, mungkin karena sekolah memang sedang terlalu sepi.
Sesekali ia melirik ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada apa-apa yang bersembunyi di sudut. Padahal ia tahu Pak Maman hanya bercanda. Tetap saja, kata-kata tentang pojok kelas itu telanjur menempel di kepalanya.
Bayu mempercepat langkah, lalu pura-pura berdeham, seolah suara sendiri bisa mengusir rasa tidak enak.
Harus berani, katanya dalam hati.
Suara Atuk tiba-tiba muncul jelas di kepalanya, seperti baru saja diucapkan kemarin.
“Jangan gampang takut, jangan gampang lari. Kalau takut, tarik napas, lalu jalan pelan-pelan. Berani itu bukan tidak takut. Berani itu tetap maju meskipun takut.”
Bayu menarik napas panjang, lalu mengembuskannya pelan-pelan, mencoba menirukan nasihat itu. Ia menepuk-nepuk tali tas di bahunya, kemudian mengangguk kecil pada dirinya sendiri.
“Tidak ada mata di pojok kelas,” gumamnya lirih. “Yang ada paling… sarang laba-laba.”
Ucapan itu membuatnya sedikit lebih tenang.
Akhirnya Bayu sampai di depan kelasnya. Pintu masih tertutup, dan ruangan di dalam tampak gelap. Ia meraih gagang pintu, sempat ragu sebentar, lalu memutarnya pelan.
Gagang pintu terasa dingin di telapak tangannya. Bayu menahan napas, kemudian mendorong pintu itu sedikit demi sedikit.
Kriiik…
Suara engsel terdengar panjang di koridor yang sepi. Bayu langsung meringis, seperti baru saja membangunkan sesuatu yang sedang tidur.
“Maaf… maaf,” gumamnya refleks, entah kepada siapa.
Di dalam kelas, suasananya masih agak gelap. Udara bercampur bau kapur dan kayu meja yang sudah lama dipakai. Bayu melangkah masuk pelan-pelan, lalu menaruh tasnya di bangku barisan belakang, tempat yang biasa ia duduki.
Setelah itu ia cepat-cepat menoleh ke sudut-sudut kelas.
Pojok dekat papan tulis.
Pojok dekat lemari.
Pojok dekat jendela.
Tidak ada apa-apa.
Bayu mengembuskan napas lega, tetapi lega itu hanya bertahan sebentar.
Tok.
Ada suara kecil dari arah depan, seperti sesuatu jatuh pelan.
Bayu langsung membeku.
Candaan Pak Maman tadi muncul lagi di kepalanya.
Mata di pojok kelas.
Bayu menelan ludah. Kakinya terasa ingin mundur, tetapi ia memaksa dirinya tetap bergerak.
Harus berani, katanya lagi dalam hati.
Tetap maju meskipun takut.
Ia melangkah mendekat. Matanya menyapu lantai di dekat papan tulis.
Ternyata hanya sepotong kapur kecil yang menggelinding dari tepi papan. Mungkin tadi menempel di tempatnya, lalu lepas sendiri.
Bayu mendengus pelan, antara kesal dan malu pada dirinya sendiri.
“Ya ampun,” bisiknya. “Kapur. Cuma kapur.”
Ia mengambil kapur itu, meletakkannya kembali di tempatnya, lalu menepuk-nepuk tangan seperti orang yang baru selesai melakukan pekerjaan penting.
Supaya kelas terasa lebih hidup, Bayu membuka salah satu jendela. Angin pagi langsung masuk, mengibaskan tirai tipis dan membawa udara dingin yang lebih segar.
“Nah,” kata Bayu pada dirinya sendiri, mencoba terdengar tegas. “Sekarang lebih enakan.”
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengangguk seolah baru saja menyelesaikan sebuah misi besar.
Kemudian Bayu tersenyum lebar. Katanya, senyum bisa membuat orang lebih berani. Ia menatap pojok-pojok kelas satu per satu, lalu berbisik pelan.
“Aku harus berani. Aku anak pemberani.”
Beberapa menit kemudian, suara langkah kaki mulai terdengar dari koridor. Awalnya hanya satu dua langkah, lalu semakin dekat dan semakin ramai.
Pintu kelas terbuka. Dimas muncul dengan napas agak terburu-buru, rambutnya masih terlihat disisir asal.
“Bayu! Kamu piket juga pagi ini?” tanya Dimas begitu masuk kelas.
Suara Dimas membuat Bayu lega. Kelas yang tadi terasa dingin dan sepi mendadak jadi lebih hangat.
Bayu menggeleng.
“Aku piket besok. Tapi aku sudah bantu buka jendela, lho.”
Dimas menaruh tasnya di meja, lalu menatap Bayu seperti orang yang baru ingat sesuatu.
“Ngomong-ngomong soal buka jendela… aku punya tebak-tebakan buat kamu, Bay.”
Bayu langsung mendekat. Matanya berbinar. Ia memang paling suka tebak-tebakan.
“Tebakan apa?”
Dimas memasang wajah serius.
“Pintu… pintu apa yang didorong sepuluh orang tetap nggak kebuka?”
Bayu menjawab cepat, yakin sekali.
“Pintu yang terkunci!”
Dimas mengibaskan tangan.
“Salah.”
Bayu merengut.
“Hah? Terus apa?”
Ia berpikir keras sampai keningnya berkerut.
“Pintu baja!”
Dimas menggeleng.
Bayu makin bingung.
“Pintu… pintu surga!”
Dimas sudah hampir tertawa. Bayu ikut tertawa juga karena jawabannya sendiri terdengar makin aneh.
Akhirnya Dimas nyeletuk, “Pintu geser, Bay. Didorong ya nggak kebuka. Kan harus digeser!”
Bayu melongo sebentar, lalu menepuk meja.
“Hahaha… iya juga! Nggak kepikiran aku. Mau 5 puluh orang pun dorong bareng-bareng, tetap nggak kebuka!”
Bayu tertawa sampai memegang perut. Dimas tersenyum penuh kemenangan.
Tak lama kemudian, Putra dan beberapa murid lain mulai berdatangan. Suasana kelas yang tadi sepi pelan-pelan berubah ramai.
Bayu mengusap sisa tawanya, lalu menunjuk dirinya sendiri.
“Sekarang giliranku, ya.”
Dimas langsung siap.
“Ayo.”
Bayu memasang wajah serius, meski senyumnya masih hampir keluar.
“Kenapa bakteri itu nggak bisa dimakan?”
Dimas menjawab cepat, yakin sekali.
“Karena bakteri itu sumber penyakit!”
“Wah, jawabannya pintar… tapi salah!” kata Bayu cepat.
Putra yang baru menaruh tas ikut nimbrung.
“Karena bakteri itu kecil, jadi nggak kelihatan!”
Bayu menggeleng semangat.
“Bukan!”
Dimas melotot pura-pura.
“Terus apa, dong?”
Bayu menahan tawa, lalu bicara pelan-pelan seperti pembawa acara kuis.
“Karena kalau bisa dimakan… namanya bukan bakteri.”
Ia berhenti sebentar, sengaja membuat suasana tegang.
“Namanya bakwan… atau bakpao!”
Putra tertawa duluan. Dimas menyikut Bayu sambil ikut menambahkan.
“Atau bakso.”
Bayu menunjuk Dimas, pura-pura serius.
“Nah! Bakso juga!”
Belum sempat Bayu tertawa lagi, Sinta, yang kemarin terpilih sebagai ketua kelas, masuk sambil membawa sapu. Ia melirik papan daftar piket, lalu menatap Dimas.
“Dim, piket! Bunganya taruh luar, jangan lupa disiram, ya!”
Dimas langsung berdiri dan memberi hormat.
“Siap laksanakan, Kapten!”
Sinta mulai menyapu. Anggi mengelap meja, Putra merapikan kursi-kursi yang miring, dan anak-anak piket lain ikut bergerak. Kelas yang tadi ramai oleh tebak-tebakan pelan-pelan berubah menjadi sibuk.
Bayu masih nyengir, lalu kembali ke mejanya supaya tidak menghalangi.
“Semangat, Dim!” serunya, lalu tertawa kecil.
Tidak lama kemudian, kelas sudah bersih, rapi, dan mulai ramai oleh murid-murid yang berdatangan. Tepat saat bel sekolah berbunyi, Raka dan Bimo terlihat masuk ke kelas. Mereka cepat-cepat menaruh tas, lalu ikut berdiri lagi bersama murid-murid lain.
Semua murid bergegas keluar dan bersiap berbaris di depan kelas. Suasana mendadak lebih tertib. Mereka bersiap memulai kegiatan pagi sebelum pelajaran dimulai: memberi salam, membaca doa bersama, lalu satu per satu menyetor hafalan kosakata baru, bahasa Inggris atau bahasa Arab, kepada guru.
Setelah semua selesai, anak-anak kembali masuk ke kelas dan pelajaran pun dimulai. Waktu berjalan tanpa terlalu terasa, sampai akhirnya bel istirahat berbunyi.
Kreator : Rukmana Gautama (RG Gotama)
Comment Closed: Bab 19 – Bermain Tebak-tebakan
Sorry, comment are closed for this post.