BAB 2: PERTEMUAN DI BAWAH SALJU YANG HANGAT
Benang di tangan Ardin putus.
Desa Salju Retak terasa hening. Hanya ada suara angin.
Eira berdiri paling depan. Liontin di lehernya panas sampai menimbulkan uap tipis.
“Ayah,” bisiknya pelan.
Ardin mengangkat wajahnya. Matanya yang buta bergerak menuju ke arah suara yang memanggilnya. Alisnya bergetar.
“Bunga salju,” gumamnya. “Bau bunga salju… sama seperti dulu.”
Leon melangkah maju, berusaha melindungi Eira.
“Tuan. Kami dari Akademi Tanah Fajar.”
Ardin mengerut.
“Akademi?”
Tangannya meraba udara.
“Suara anak perempuan. Umur berapa?”
“Sebelas tahun,” jawab Lyra pelan.
Ardin terdiam lama.
Lalu air mata jatuh dari mata kosongnya.
“Selene…”
PERTEMUAN
Pintu rumah kayu terbuka.
Selene berdiri di ambang pintu. Nafasnya tercekat.
Sembilan tahun. Sembilan tahun dia menyiapkan kata-kata untuk momen ini.
Tapi saat melihat Ardin duduk di sana, menenun selendang yang sama seperti dulu, semua kata itu seketika sirna.
“Ardin.”
Ardin menoleh. “Itu kamu?”
Selene berlari dan memeluknya.
“Maaf. Maaf aku meninggalkanmu. Aku kira kamu sudah mati.”
Ardin mengangkat tangan yang gemetar. Meraba wajah Selene.
Pipinya.
Air matanya.
“Hangat,” bisiknya. “Kamu masih hangat, Selene.”
Mereka berdua menangis. Luka sembilan tahun akhirnya pecah di sana.
Eira hanya bisa melihat dari jauh. Tangannya digenggam Leon.
Ardin tiba-tiba berhenti menangis. Dia mengendus udara.
“Ada satu lagi. Baunya sama.”
Dia mengulurkan tangan ke depan.
“Eira?”
Eira gemetar. Lyra mendorongnya pelan dari belakang.
Eira berjalan. Tiga langkah. Dua langkah. Satu langkah.
Tangannya diletakkan di tangan Ardin.
Ardin menyentuh wajah Eira. Alisnya. Hidungnya. Pipinya.
Berhenti di matanya. Walau buta, dia tersenyum.
“Mata biru… mata ibumu.”
Eira langsung menangis dan memeluk. “Ayah.”
RAHASIA DESA
Malamnya di rumah kayu, api kecil menyala di tengah ruangan.
Kepala Desa datang membawa tiga anak kecil. Di tangan mereka ada bercak es yang tidak hilang.
“Ini anak-anak yang bermimpi,” kata Kepala Desa. “Setiap malam mimpinya sama.”
Anak pertama berkata, “Wanita es. Rambutnya putih. Dia berteriak…”
Anak kedua melanjutkan, “Kalau aku tidak bisa dicintai…”
Anak ketiga menutup, “Maka dunia juga tidak boleh.”
Lyra langsung membuka Buku Sihir Tanah Fajar. Halamannya terbuka dengan sendirinya.
BENIH PATAH HATI
Ditanam di tempat pengkhianatan cinta pertama.
Akan memanggil bayangan si penanam dalam mimpi anak-anak.
Untuk mencabutnya dibutuhkan tiga hal:
Darah yang memaafkan,
Air mata yang jujur,
Dan, Sihir yang hangat.
Selene menutup mulutnya.
“Veyrin… dia menanam benih di sini. Di tempat dia mengira aku mati.”
Ardin mengepalkan tangan. “Jadi mimpi-mimpi itu… teriakan dia?”
Eira menatap api. Liontinnya berdenyut.
“Berarti… kalau kita memaafkannya, benihnya bisa mati?”
Semua terdiam.
SERANGAN PERTAMA
Atap rumah jebol.
Lima pasukan bertopeng es melompat masuk. Senjata mereka terbuat dari es hitam. Di dada mereka ada ukiran rune.
“Kami dapat perintah. Bawa anak yang memiliki liontin pecah.”
Leon langsung berdiri. Pedangnya terhunus.
“Mundur dari adikku!”
Pertarungan pecah dalam sekejap.
Kael dan Toran menahan di depan. Vanya membuat perisai es.
Riko dan Mira melindungi anak-anak desa.
Bayangan Veyrin muncul di jendela. Suaranya menggema di seluruh ruangan.
“Selene. Serahkan benihku.”
Ardin berdiri di depan Selene dan Eira. Walau buta, dia tidak takut.
“Kalau mau mengambil anakku… lewati aku dulu.”
Eira maju selangkah. Matanya biru menyala.
Liontin di lehernya retak, lalu berubah menjadi debu cahaya.
Salju di luar rumah berhenti jatuh.
Bunga es kecil tumbuh dari lantai, menjalar ke kaki para pasukan.
Pasukan itu berteriak. Es di tubuh mereka mulai retak.
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 2 dari novel Sihir Tanah Fajar Perjalanan 9 bintang
Sorry, comment are closed for this post.