Ada pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya sederhana, tetapi entah mengapa terasa berat ketika ditujukan kepada kita.
“Sudah menikah?”
“Belum punya anak?”
“Kapan menyusul?”
Awalnya aku hanya tersenyum.
Lama-lama aku belajar tertawa kecil.
Kemudian belajar mengalihkan pembicaraan.
Tetapi ada masa ketika pertanyaan-pertanyaan itu terbawa pulang. Duduk bersamaku di kamar. Menemaniku sebelum tidur. Bahkan terkadang ikut masuk ke dalam doa.
Aku tidak pernah menyangka bahwa sebuah pertanyaan sederhana bisa membuat seseorang mempertanyakan hidupnya sendiri.
Bukankah aku juga ingin menikah?
Bukankah aku juga ingin memiliki keluarga?
Bukankah aku juga ingin suatu hari mendengar suara anak memanggilku?
Tentu saja aku ingin.
Hanya saja, mungkin keinginan dan waktu tidak selalu berjalan beriringan.
Ketika teman-temanku satu per satu menikah, aku ikut bahagia.
Aku datang ke undangan mereka.
Mengenakan pakaian terbaik yang kupunya.
Memberikan ucapan selamat.
Berfoto bersama.
Tersenyum di depan kamera.
Di hadapan mereka, aku benar-benar bahagia.
Tetapi dalam perjalanan pulang, ada perasaan yang sulit kujelaskan.
Bukan iri.
Setidaknya aku tidak ingin menyebutnya iri.
Mungkin lebih tepat disebut bertanya.
“Kapan aku?”
Aku pernah menghitung usia.
Membandingkan diri dengan teman-teman.
Melihat siapa yang sudah menikah, siapa yang sudah memiliki anak pertama, siapa yang bahkan sudah memiliki rumah dan kehidupan yang tampak begitu lengkap.
Sementara aku masih berjalan di jalan yang berbeda.
Ada saat ketika aku merasa mungkin ada sesuatu yang salah denganku.
Mengapa belum?
Mengapa harus menunggu?
Mengapa orang lain sepertinya begitu mudah menemukan pasangan, sementara aku harus melewati waktu yang panjang?
Aku tahu pertanyaan itu tidak akan mengubah apa pun.
Tetapi manusia memang sering begitu.
Ketika sesuatu yang diinginkan belum datang, kita lebih mudah melihat apa yang belum dimiliki daripada mensyukuri apa yang sudah ada.
Kemudian seseorang datang.
Tidak dengan cara yang istimewa.
Tidak ada cerita seperti dalam film.
Tidak ada pertemuan dramatis.
Hanya dua orang yang kemudian saling mengenal, saling memahami, dan akhirnya memutuskan untuk berjalan bersama.
Aku menikah.
Hari itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa mungkin semua penantian itu memang ada akhirnya.
Aku melihat wajah orang-orang yang hadir.
Keluarga.
Teman.
Orang-orang yang selama ini mungkin juga pernah bertanya kapan aku menikah.
Hari itu aku tidak perlu menjawab pertanyaan apa pun.
Aku hanya tersenyum.
Dalam hati aku berkata,
“Akhirnya.”
Aku pikir setelah itu hidup akan berjalan seperti yang kubayangkan.
Rumah kecil.
Kehidupan sederhana.
Pekerjaan.
Suami.
Anak-anak.
Mungkin tidak sempurna, tetapi cukup.
Bukankah semua orang hanya ingin kehidupan yang cukup untuk merasa bahagia?
Namun ternyata, menikah bukan akhir dari penantian.
Ada penantian lain yang datang setelahnya.
Tahun pertama berlalu.
Kemudian tahun kedua.
Kemudian tahun-tahun berikutnya.
Pertanyaan yang dulu berbunyi, “Sudah menikah?”
berubah menjadi, “Sudah punya anak?”
Aku kembali tersenyum.
Kembali menjawab seadanya.
“Belum.”
“Masih menunggu.”
“Doakan saja.”
Kalimat-kalimat itu semakin sering kuucapkan sampai hampir terdengar biasa.
Padahal tidak selalu demikian rasanya di dalam hati.
Ada hari ketika aku baik-baik saja.
Ada hari ketika aku bisa menerima semuanya dengan tenang.
Tetapi ada juga malam ketika aku menangis tanpa suara.
Bukan karena aku tidak bersyukur memiliki suami.
Bukan karena aku tidak menghargai hidup yang sudah diberikan.
Aku hanya manusia yang memiliki keinginan.
Dan keinginan itu belum terwujud.
Aku berdoa.
Memohon.
Berharap.
Kadang dengan penuh keyakinan.
Kadang dengan air mata.
Kadang hanya dengan kalimat yang sangat sederhana.
“Ya Tuhan, kalau memang waktunya sudah tiba, izinkan aku merasakan menjadi seorang ibu.”
Setelah berdoa, biasanya aku merasa lebih tenang.
Tetapi keesokan harinya kehidupan kembali berjalan seperti biasa.
Hari demi hari.
Bulan demi bulan.
Tahun demi tahun.
Dan aku kembali belajar menunggu.
Pernah suatu hari aku melihat seorang ibu muda menggendong anaknya di sebuah tempat.
Anak itu tertawa.
Tangannya memeluk leher ibunya.
Sang ibu mencium pipinya.
Pemandangan itu sederhana.
Tetapi entah mengapa membuat dadaku sesak.
Aku menatap cukup lama.
Kemudian aku tersenyum sendiri.
Aku tidak tahu mengapa air mataku justru jatuh.
Aku segera mengusapnya.
Dalam hati aku berkata,
“Aku juga ingin seperti itu.”
Malamnya, aku kembali berdoa.
Kali ini aku tidak meminta banyak.
Aku hanya berkata,
“Kalau belum waktunya, kuatkan aku untuk menunggu.”
Mungkin saat itulah sesuatu dalam diriku mulai berubah.
Sebelumnya aku selalu meminta agar keinginanku segera dikabulkan.
Kini aku mulai meminta kekuatan untuk menerima waktu yang ditentukan.
Aku mulai belajar bahwa doa bukan hanya tentang meminta sesuatu.
Doa juga tentang belajar mempercayakan sesuatu.
Suamiku adalah salah satu alasan mengapa masa penantian itu tidak terasa sepenuhnya sepi.
Kami belajar menikmati kehidupan yang ada.
Makan bersama.
Bercerita.
Tertawa karena hal-hal kecil.
Sesekali pergi tanpa tujuan yang penting.
Kami belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dalam bentuk yang besar.
Kadang hanya berupa seseorang yang bertanya,
“Sudah makan?”
Atau secangkir teh yang dibuatkan ketika kita sedang lelah.
Atau percakapan sederhana sebelum tidur.
Aku mulai memahami bahwa mungkin selama ini aku terlalu fokus pada apa yang belum diberikan sampai lupa melihat apa yang sudah ada di hadapanku.
Aku memiliki seseorang yang bersedia berjalan bersamaku.
Aku memiliki keluarga yang menyayangiku.
Aku masih diberi kesehatan untuk menjalani hari.
Masih ada pagi.
Masih ada kesempatan.
Masih ada begitu banyak hal kecil yang sebenarnya layak disyukuri.
Namun manusia memang perlu belajar berkali-kali untuk memahami hal-hal sederhana.
Sampai kemudian kehidupan kembali berubah.
Suamiku pergi.
Bukan pergi untuk bekerja.
Bukan pergi sebentar.
Ia pergi untuk selamanya.
Dan pada saat itu, aku merasa seluruh penantianku berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah kubayangkan.
Aku pernah menunggu seorang anak.
Tetapi ternyata sebelum penantian itu selesai, aku harus kehilangan seseorang yang selama ini menjadi teman perjalanan.
Ada hari ketika aku bertanya kepada Tuhan,
“Kenapa harus begini?”
Aku marah.
Aku sedih.
Aku bingung.
Bahkan sempat merasa semua yang kulalui tidak adil.
Bukankah aku sudah cukup lama menunggu?
Bukankah aku hanya ingin keluarga kecil yang sederhana?
Mengapa ketika akhirnya aku memilikinya, aku justru harus kehilangannya?
Tidak ada jawaban yang datang saat itu.
Hanya kesunyian.
Dan, air mata.
Bertahun-tahun kemudian, aku mulai mengerti bahwa tidak semua pertanyaan harus segera mendapatkan jawaban.
Ada jawaban yang baru bisa dipahami setelah kita melewati waktu.
Ada hal-hal yang ketika terjadi terasa seperti kehilangan, tetapi kemudian mengajarkan sesuatu yang tidak mungkin kita pelajari dengan cara lain.
Aku tidak akan mengatakan bahwa semua kehilangan menjadi mudah.
Tidak.
Ada luka yang tetap meninggalkan bekas.
Ada kenangan yang masih membuat dada terasa penuh.
Tetapi aku mulai bisa hidup bersamanya.
Aku mulai memahami bahwa menerima bukan berarti berhenti mencintai.
Ikhlas bukan berarti tidak sedih.
Sabar bukan berarti tidak pernah menangis.
Mungkin ikhlas adalah ketika kita tetap menangis, tetapi tidak lagi menyalahkan Tuhan.
Mungkin sabar adalah ketika hati masih sakit, tetapi kaki tetap mau melangkah.
Dan mungkin percaya adalah ketika kita tidak mengerti jalan yang sedang ditempuh, tetapi tetap yakin bahwa Tuhan tidak pernah salah menentukan arah.
Kini ketika melihat orang lain mendapatkan apa yang mereka inginkan lebih dahulu, aku tidak lagi merasa tertinggal.
Aku hanya tersenyum.
Mereka memiliki waktu mereka.
Aku memiliki waktuku.
Dulu aku mengira kehidupan yang baik adalah kehidupan yang berjalan sesuai rencana.
Sekarang aku tahu, kehidupan yang baik tidak selalu berarti kehidupan yang sesuai dengan keinginan.
Terkadang hidup membawa kita ke tempat yang tidak pernah kita rencanakan.
Terkadang seseorang datang hanya untuk menemani sebagian perjalanan.
Terkadang sesuatu yang sangat kita inginkan tidak pernah menjadi milik kita.
Dan terkadang kita baru memahami alasan di balik semuanya setelah waktu yang panjang.
Aku tidak lagi ingin memaksa hidup mengikuti keinginanku.
Aku hanya ingin menjalani bagian yang menjadi tugasku.
Berusaha ketika harus berusaha.
Berdoa ketika harus berdoa.
Menunggu ketika memang harus menunggu.
Dan menerima ketika waktunya menerima.
Sebab mungkin benar, ada hal-hal yang memang belum datang bukan karena Tuhan lupa.
Mungkin hanya karena waktunya belum tepat.
Dan ada pula hal-hal yang tidak pernah datang bukan karena kita tidak layak mendapatkannya.
Mungkin karena Tuhan sedang mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu berbentuk seperti yang kita bayangkan.
Aku tidak tahu bagaimana sisa perjalanan hidupku nanti.
Masih ada banyak hal yang tidak bisa kurencanakan.
Tetapi kali ini aku tidak terlalu takut.
Aku sudah belajar bahwa manusia hanya bisa merencanakan.
Selebihnya adalah wilayah Tuhan.
Jika sesuatu datang kepadaku, aku akan menyambutnya dengan syukur.
Jika sesuatu pergi, aku akan mencoba melepaskannya dengan ikhlas.
Jika sebuah doa belum terjawab, aku akan tetap menyimpannya.
Dan, jika jawaban yang datang ternyata berbeda dari yang kuharapkan, aku ingin belajar mempercayainya.
Karena mungkin suatu hari nanti, ketika aku menoleh ke belakang, aku akan menyadari bahwa tidak ada satu pun waktu yang benar-benar sia-sia.
Ada waktu untuk berjuang.
Ada waktu untuk menunggu.
Ada waktu untuk memiliki.
Ada waktu untuk kehilangan.
Ada waktu untuk menangis.
Dan ada waktu untuk mengerti.
Aku hanya perlu percaya bahwa semuanya memiliki tempat dalam perjalanan hidupku.
Aku tidak lagi ingin berkata,
“Kenapa bukan sekarang?”
Aku memilih berkata,
“Jika belum sekarang, mungkin memang belum waktunya.”
Dan jika suatu hari sesuatu yang kuharapkan benar-benar datang, aku tidak ingin lagi menganggapnya sebagai kebetulan.
Aku akan menerimanya sebagai hadiah.
Hadiah yang datang setelah penantian panjang.
Hadiah yang mungkin tidak datang ketika aku menginginkannya.
Tetapi datang— di waktu yang tepat.
Kreator : Hadijah (sahajah)
Comment Closed: Bab IV : Di Waktu Yang Tepat
Sorry, comment are closed for this post.