KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » BAB 2: FRIENDS OF THE DAWN

    BAB 2: FRIENDS OF THE DAWN

    BY 23 Okt 2026 Dilihat: 8 kali
    FRIENDS OF THE DAWN_alineaku

    Tiga hari setelah serangan Shadow Coven, Dawnfell Academy masih dalam status siaga merah.

     

    Lapangan Fajar sekarang dijaga dua guru senior tiap malam. Rune pelindung baru digambar ulang di setiap sudut tembok. Lonceng darurat diuji tiap jam. Dan semua murid baru wajib latihan dasar dua kali sehari — pagi dan sore.

     

    Arayan duduk di bangku kayu paling belakang kelas Teori Sihir Dasar. Ruangan itu dingin. Dindingnya penuh rak buku setinggi langit-langit dan diagram lingkaran sihir yang bercahaya redup.

     

    Di pangkuannya ada buku kulit coklat tua. Sampulnya polos tanpa judul. Tapi begitu disentuh, buku itu terasa hangat — persis seperti memegang tangan seseorang.

     

    Itulah buku mantra Earthdawn. Warisan kakaknya, Aryan.

     

    “Halaman 1: Untuk mengaktifkan Earthdawn, kau harus menanamkan sepotong hatimu ke dalam tanah. Jika hatimu tulus, tanah akan menjawab.”

     

    Arayan membaca pelan, matanya mengikuti tulisan berwarna emas yang berkilau lembut.

     

    “Tutup bukunya, Sartoran.”

     

    Suara dingin itu memotong seketika. Dari arah depan kelas.

     

    Darian Windrale. Duduk paling depan, punggung tegak sempurna. Jubah biru gelapnya disetrika rapi. Lambang Keluarga Windrale — seekor elang perak di atas mahkota — berkilau terang di dadanya.

     

    “Ini kelas Teori Dasar, bukan perpustakaan pribadi,” lanjut Darian tanpa menoleh. “Atau kau takut ketahuan kalau sang Pembawa Fajar ternyata hanya pandai menumbuhkan rumput saja?”

     

    Beberapa murid bangsawan di barisan depan tertawa kecil. Salah satunya melirik ke arah Arayan dengan senyum mengejek.

     

    Arayan mengepalkan tangan di bawah meja. Buku itu langsung bergetar pelan. Dia buru-buru menutupnya rapat dan memasukkannya ke dalam tas.

     

    Pintu kayu terbuka. Profesor Miralune masuk. Jubah biru tuanya berkibar pelan. Hari ini ada goresan tipis di pipinya — sisa luka dari serangan tiga hari lalu.

     

    “Cukup.”

     

    Satu kata saja membuat seluruh kelas langsung hening seketika.

     

    “Hari ini kita bahas satu hal paling penting dalam ilmu sihir: Kendali Emosi.”

     

    Dia berjalan ke depan meja pengajar, lalu meletakkan tongkat kristalnya di atas meja.

     

    “Sihir bukan sekadar menghafal mantra dan melambai-lambaikan tangan. Sihir adalah cerminan jiwa. Kalau jiwa kalian sedang marah, sihir kalian akan menghancurkan tanpa pandang bulu. Kalau jiwa kalian sedang takut, sihir kalian akan melemah, bahkan hilang sama sekali. Dan kalau jiwa kalian ingin melindungi… justru saat itulah sihir akan tumbuh menjadi kekuatan terbesarmu.”

     

    Mata Profesor Miralune menyapu seluruh ruangan, lalu berhenti sejenak tepat di wajah Arayan.

     

    “Sartoran, tetap tinggal setelah pelajaran selesai.”

     

    Darah Arayan langsung terasa dingin.

     

    Setelah kelas selesai, semua murid berjalan keluar. Hanya Arayan yang masih duduk diam.

     

    “Ikut saya,” kata Profesor Miralune singkat.

     

    Mereka berjalan menuju Lapangan Fajar. Halaman itu sangat luas. Di permukaan tanah masih terlihat bercak hitam bekas luka sihir bayangan. Di tengahnya berdiri satu sasaran latihan berbentuk batu padat, setinggi manusia dewasa.

     

    “Tidak ada murid lain di sini,” ujar Profesor Miralune. “Bagus sekali. Kita bisa berlatih tanpa gangguan.”

     

    Dia menunjuk batu besar di depannya.

     

    “Earthdawn merespons apa yang ada di hatimu. Kemarin saat latihan, akar-akar itu muncul karena kau marah pada Darian. Kalau hal serupa terjadi saat kau berhadapan dengan Shadow Coven, kau bisa melukai Rakan atau Serina tanpa sengaja. Kau paham betul maksudku?”

     

    Arayan menunduk dalam.

     

    “Maaf, Bu. Aku sama sekali tidak bermaksud begitu.”

     

    “Aku tahu itu,” jawab Profesor Miralune dengan nada lembut namun tegas. “Tapi kekuatanmu terlalu besar untuk dikendalikan hanya oleh emosi sesaat. Sekarang… coba tunjukkan padaku. Tanamkan niat untuk melindungi, bukan untuk menyerang. Bukan untuk pamer. Bukan untuk membuktikan apapun kepada siapapun. Hanya satu tujuan: melindungi.”

     

    Percobaan pertama gagal total. Ingatan akan ejekan Darian muncul begitu saja. Akar-akar liar melesat keluar dan menghancurkan hampir separuh sasaran batu itu.

     

    Percobaan kedua juga gagal. Keraguan dan ketakutan menguasai dirinya. Tidak ada satupun akar yang muncul dari tanah.

     

    Arayan menarik nafas panjang. Dadanya terasa sesak.

     

    Dia memejamkan mata rapat.

     

    Pertama, ia membayangkan wajah ibunya, Nyara. Tubuhnya yang kurus terbaring lemah di atas dipan kayu, suara batuknya terdengar sampai ke ruang lain.

     

    Kedua, ia teringat hamparan sawah di kampung halaman Dawnfield. Tanah retak kering, tak ada air turun selama dua musim berturut-turut.

     

    Ketiga, ia melihat Rakan yang tertawa lebar sambil melempar buah apel kepadanya. Lalu Serina yang diam-diam menaruh selimut tambahan di tempat tidurnya pada malam pertama ia tiba di asrama.

     

    “Tumbuhlah,” bisiknya pelan.

     

    Tanah di bawah kakinya bergetar — pelan dan tenang.

     

    Retakan halus terbuka. Dari dalamnya muncul akar-akar ramping berwarna coklat keemasan. Kali ini tidak liar, tidak terburu-buru. Akar itu merambat rapi, melingkar, lalu menyusun diri membentuk kubah pelindung yang sempurna di atas sasaran batu. Bentuknya persis seperti sebuah rumah kecil yang kokoh.

     

    Di puncak kubah itu, tumbuh tiga tunas gandum yang masih muda. Bergoyang lembut tersentuh angin sepoi-sepoi.

     

    Profesor Miralune menghela nafas panjang, penuh rasa lega.

     

    “Bagus sekali. Itulah namanya pengendalian diri.”

     

    “Bu…” Arayan tiba-tiba bertanya. “Kenapa harus aku? Kenapa Earthdawn memilihku? Aku cuma anak petani biasa.”

     

    Profesor Miralune berjalan mendekat, lalu meletakkan tangannya lembut di bahu Arayan.

     

    “Karena kau tidak pernah meminta kekuatan itu untuk dirimu sendiri. Kau memintanya demi orang lain. Itulah syarat utama Earthdawn. Bukan darah bangsawan. Bukan harta benda. Tapi hati yang tulus.”

     

    Belum sempat Arayan menjawab, lonceng besar di Menara Fajar berbunyi panjang dan nyaring.

     

    TONNNNG.

     

    Satu kali bunyi saja.

     

    Wajah Profesor Miralune langsung berubah tegang.

     

    “Latihan darurat! Semua murid segera berkumpul di Lapangan Tengah. Sekarang juga!”

     

    Mereka berdua berlari secepat mungkin.

     

    Di Lapangan Tengah, enam puluh murid baru sudah berbaris membentuk lingkaran besar. Di tengahnya terbentuk medan sihir berwarna biru terang selebar sepuluh meter. Di dalamnya berdiri sosok latihan raksasa setinggi tiga meter — terbuat dari batu, kayu, dan ukiran rune kuno. Matanya menyala merah menyala.

     

    Archmage Adityvar sudah berdiri di atas panggung batu tinggi.

     

    “Perhatian semuanya!” suaranya menggema memenuhi seluruh lapangan tanpa perlu dikeraskan. “Ini adalah Ujian Tim pertama kalian.”

     

    Seluruh lapangan menjadi hening seketika.

     

    “Kalian akan dibagi menjadi kelompok berisi tiga orang. Tugasnya sangat sederhana: lumpuhkan boneka sihir itu dalam waktu lima menit. Kelompok yang berhasil akan menerima Lencana Penjaga Fajar Tingkat Satu. Yang belum lolos, akan mengikuti latihan tambahan setiap malam sampai mampu melewatinya.”

     

    Bisik-bisik mulai terdengar. Murid-murid dari keluarga bangsawan langsung saling memilih teman satu tim.

     

    Archmage Adityvar membuka gulungan kertas panjang di tangannya.

     

    “Tim Satu: Lyra Vell, Thorne Blackwood, Elisa Thorn. Tim Dua: Darian Windrale, Kael Voss, Mira Hale.”

     

    Nama-nama terus disebut satu demi satu. Jantung Arayan berdegup kencang.

     

    “Tim Tujuh: Rakan Ignis, Serina Lunaris, Arayan Sartoran.”

     

    Rakan langsung melompat kegirangan dan meninju udara.

     

    “Wah, keren banget! Tim paling lengkap! Api, Air, Tanah — sempurna!”

     

    Serina hanya mengangguk tenang, tapi ujung bibirnya terangkat sedikit.

     

    “Fokus dulu saja,” katanya lembut.

     

    Di sisi lain lapangan, Darian berdiri bersama dua temannya — Kael dan Mira, keduanya berasal dari keluarga pedagang sangat kaya.

     

    Darian menatap tajam ke arah Arayan, lalu tersenyum sinis.

     

    “Semoga kau tidak jadi beban berat bagi timmu, Pembawa Fajar,” ucapnya cukup keras agar banyak orang mendengar. “Kasihan sekali kalau lencana pertamamu cuma didapat karena dibawa-bawa temanmu saja.”

     

    Alasan kebencian Darian sangat sederhana. Lima tahun lalu, kakak Arayan — Aryan — pernah mengalahkan kakak Darian di ujian akhir tingkat tertinggi. Sejak saat itu, nama besar Keluarga Windrale pernah dipermalukan di hadapan seluruh Dewan Sihir. Dan rasa malu itu diwariskan kepada Darian.

     

    Arayan tidak menjawab sepatah kata pun. Tangannya masuk ke dalam tas, lalu menggenggam erat buku tua milik kakaknya.

     

    Bel kedua berbunyi nyaring. UJIAN DIMULAI.

     

    Boneka raksasa itu bergerak. Langkah pertamanya membuat tanah disekitarnya bergetar hebat. Tangan batu sebesar meja makan diayunkan ke bawah dengan keras. Retakan tanah menjalar ke mana-mana seperti jaring laba-laba.

     

    “Rakan, maju ke depan! Alihkan perhatiannya!” seru Serina. Suaranya tenang namun tegas dan jelas. “Arayan, lindungi bagian tengah dan belakang! Aku yang akan mengatur arus!”

     

    “Siap, Kapten!” Rakan tertawa riang. Kedua tangannya langsung menyala dengan cahaya keemasan. “Api Matahari: Tinju Phoenix!”

     

    Ia melesat maju secepat kilat. Kepakan api besar berbentuk burung phoenix menghantam tepat ke dada boneka batu itu. Bunyi dentuman keras terdengar. Sosok raksasa itu mundur selangkah. Di bagian dadanya mulai terlihat retakan halus.

     

    “Kerja bagus!” Serina mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Dari udara turun butiran air halus seperti hujan ringan. Air itu berkumpul di sekitar kaki boneka lalu seketika membeku keras menjadi es tebal. “Air Bulan: Rantai Arus!”

     

    Kaki raksasa itu terkunci kuat dan tidak bisa bergerak maju lagi.

     

    Kini giliran Arayan. Enam puluh pasang mata tertuju padanya.

     

    Jantungnya berdegup keras di telinga. Ia teringat pesan Profesor Miralune: Lindungi. Jangan hancurkan.

     

    Ia menghentakkan tongkat kayu peninggalan kakaknya ke tanah.

     

    “Earthdawn: Akar Penjaga!”

     

    Tanah di bawah raksasa itu terbuka. Akar-akar keemasan setebal lengan orang dewasa menjulur keluar. Empat batang akar langsung melilit erat kedua kaki yang sudah beku. Dua batang lainnya menahan kedua lengan batu yang hendak mengayun. Dengan satu tarikan kuat, sosok setinggi tiga meter itu terjatuh dengan bunyi gemuruh.

     

    Namun Arayan belum selesai. Saat tubuh berat itu jatuh, akar-akar lain tumbuh cepat membentuk jaring tebal di bawahnya. Boneka itu tidak menabrak tanah dengan kasar — jatuhnya tertahan lembut. Tidak ada kerusakan berlebihan.

     

    Seluruh lapangan hening selama dua detik penuh.

     

    Lalu sorakan dan tepuk tangan meledak di mana-mana.

     

    “Luar biasa! Saling melengkapi sekali!”

    “Lihat cara ia mengendalikan akarnya… sangat terukur!”

    “Tim Tujuh pasti lulus dengan nilai terbaik!”

     

    Archmage Adityvar turun dari panggung batu. Ia berjalan mendekati boneka yang sudah tak berdaya, memeriksa jaring akar pelindung itu dengan saksama, lalu mengangguk pelan.

     

    “Tim Tujuh: Lulus. Sempurna. Efisien. Dan saling melengkapi dengan baik sekali.” Ia menatap langsung ke mata Arayan. “Dan pengendalian kekuatan yang sangat bagus, Sartoran.”

     

    Ia menjentikkan jari. Tiga buah lencana kecil berbentuk matahari terbit melayang perlahan dan menempel di dada Rakan, Serina, dan Arayan. Terasa hangat menyentuh kulit.

     

    Dari kejauhan, Darian mengepalkan tangan erat sampai buku jarinya memutih.

     

     

     

    Malam harinya, di atas atap gedung asrama bagian barat.

     

    Angin bertiup sejuk. Langit gelap penuh bintang berkilauan. Ketiga anak itu duduk berdampingan di pinggir atap. Di dada mereka bertiga kini tertanam lencana yang sama.

     

    “Kita harus punya nama tim,” kata Rakan sambil menunjuk lencana di dadanya sendiri. “Tim Matahari… kedengarannya keren, kan?”

     

    “Terlalu biasa,” jawab Serina pelan. “Bagaimana kalau Tim Fajar? Karena kita pertama kali bertemu saat fajar menyingsing, dan sepertinya takdir kita memang membawa cahaya baru.”

     

    Arayan tersenyum tipis. “Tim Fajar. Aku sangat suka.”

     

    Mereka terdiam sejenak, menikmati suasana tenang.

     

    “Sebentar… aku mau cerita sesuatu,” kata Rakan tiba-tiba. Ia membuka kancing bagian depan jubahnya. Di dada kirinya terlihat bekas luka lama berbentuk lidah api. “Kakekku dulu adalah Panglima tertinggi Keluarga Ignis. Dia mati saat perang seratus tahun lalu — berdiri sendirian menahan gerbang benteng supaya warga bisa lari menyelamatkan diri. Sejak itu aku berlatih sihir api setiap hari. Supaya pengorbanan orang hebat tidak pernah sia-sia lagi.”

     

    Serina menatap ke arah danau besar yang berkilau di kejauhan.

     

    “Keluargaku, Lunaris, sejak dulu menjaga danau serta sungai. Ibuku adalah seorang tabib. Dia mengajarkan bahwa air bisa menyembuhkan luka, tapi juga bisa menenggelamkan apa saja. Pilihan ada di tangan kita sendiri.” Ia memegang kalung batu bulan di lehernya. “Ini peninggalan nenekku. Katanya batu ini bisa merasakan bahaya yang akan datang.”

     

    Kini giliran Arayan. Ia mengeluarkan buku kulit tua dari dalam tas.

     

    “Aku menemukan sesuatu di sini…” ucapnya perlahan. “Di catatan kakakku. Ada satu bab tertulis tentang Segel Padi Emas.”

     

    Rakan dan Serina langsung duduk tegak, menatapnya serius.

     

    “Dikatakan segel itu tersembunyi tepat di bawah tempat kita berdiri sekarang — di bawah Menara Fajar. Di dalamnya terkurung sosok yang disebut Raja Bayangan. Dan segel itu dijaga turun-temurun oleh keturunan Pembawa Fajar.”

     

    Wajah Serina menjadi pucat.

     

    “Berarti… serangan Shadow Coven tiga hari lalu itu… mereka sedang mencari kau. Mereka merasakan keberadaanmu.”

     

    Rakan mengumpat pelan.

     

    “Sialan. Jadi mulai sekarang, kita bertiga akan terus jadi sasaran empuk mereka?”

     

    Arayan menatap ke arah puncak Menara Fajar. Cahaya jingga yang biasanya bersinar terang di sana kini tampak redup, seolah-olah nyala lentera yang hampir padam.

     

    “Aku tidak mau ada orang lain terluka atau mati hanya karena aku,” suaranya bergetar pelan.

     

    Rakan langsung meninju bahu Arayan dengan akrab namun kuat.

     

    “Hei, itu tugas sahabat, kan? Kita saling menjaga. Titik.”

     

    Ketiganya tersenyum kecil bersama di bawah cahaya bintang.

     

    Malam itu Arayan bermimpi.

     

    Ia berdiri di ruangan luas yang gelap dan dingin. Satu-satunya cahaya datang dari ukiran emas di lantai batu. Di tengah ruangan berdiri pilar besar yang dibelenggu rantai cahaya menyala. Dan di dalam pilar itu, terkurung sosok seorang pemuda berambut coklat bermata lelah — wajahnya sangat mirip dengan Arayan.

     

    “Kakak?” bisiknya.

     

    Pemuda itu membuka mata perlahan.

     

    “Arayan… akhirnya kau datang.”

     

    “Kakak Aryan?”

     

    “Aku sudah menahannya di sini selama seratus tahun,” suara Aryan terdengar lemah dan berat. “Tapi segelnya mulai retak. Dia memanggil pengikutnya. Dan sekarang… dia mulai memanggilmu.”

     

    “Siapa yang kau maksud?”

     

    “Lord Veykar. Tangan kanan Raja Bayangan.” Aryan batuk pelan, cairan bercahaya keemasan menetes dari bibirnya. “Jaga buku itu baik-baik. Jaga teman-temanmu. Dan ingat satu hal… kekuatan Earthdawn bukan hanya tentang menumbuhkan kehidupan. Tapi juga tentang siap berkorban demi kehidupan itu.”

     

    Pilar besar itu bergetar hebat. Dari celah retakan kecil, kabut hitam pekat mulai merembes keluar.

     

    Arayan terbangun mendadak, nafasnya tersengal-sengal. Dadanya terasa sakit seperti tertekan berat.

     

    Jauh di luar asrama, di dalam gua batu yang gelap dan dalam.

     

    Lord Veykar berdiri di depan peta besar yang menggambarkan seluruh wilayah Dawnfell. Ia menancapkan belati hitam tajam tepat di titik Menara Fajar.

     

    “Si Pembawa Fajar sudah berkumpul dengan teman-temannya,” bisiknya pelan. Gigi taringnya yang runcing terlihat samar dalam kegelapan. “Sangat bagus. Nanti akan jauh lebih mudah mengambil semuanya sekaligus.”

     

    Ia mengangkat tangan kanannya tinggi. Kabut hitam pekat mulai berputar naik ke langit, perlahan membentuk wajah raksasa yang mengerikan.

     

    “Selamat bertemu, Tim Fajar.”

     

     

     

    Kreator : Nadya Putri

    Bagikan ke

    Comment Closed: BAB 2: FRIENDS OF THE DAWN

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021