KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab 2 – Gemuruh Sunyi di Relung Hati

    Bab 2 – Gemuruh Sunyi di Relung Hati

    BY 20 Mei 2026 Dilihat: 16 kali
    Andai Waktu Bisa Berhenti Sejenak_alineaku

    Andai Waktu Bisa Berhenti Sejenak 

    Mahfudz Efendi,S.Pd.,Gr., M.M.

     

    Meta tidak pernah benar-benar percaya bahwa kehilangan bisa terasa seperti ini.

     

    Awalnya, ia mengira kesedihan hanyalah rasa hampa yang datang sesaat—seperti langit mendung yang cepat berlalu. Namun yang ia rasakan sekarang jauh berbeda. Ini bukan sekadar mendung, melainkan badai yang menetap, berputar di dalam dada, dan tak menunjukkan tanda-tanda akan reda.

     

    Hari itu, pagi datang seperti biasa. Matahari tetap terbit di balik jendela kamarnya, menyelinap di sela-sela tirai krem yang sudah mulai pudar warnanya. Jam weker di samping tempat tidur berbunyi seperti biasanya—pukul 05.30—dengan nada yang sama yang selalu ia gunakan sejak dua tahun terakhir.

     

    Namun, Meta tidak bangun.

     

    Ia hanya menatap langit-langit, memperhatikan retakan kecil yang dulu tak pernah ia sadari. Seolah-olah waktu berhenti, padahal dunia di luar sana terus berjalan tanpa peduli.

     

    Di meja kecil dekat jendela, secangkir teh yang ia buat semalam masih setengah penuh. Permukaannya sudah dingin, meninggalkan lapisan tipis seperti cermin buram. Biasanya, Meta tidak pernah membiarkan tehnya tersisa. Ia punya kebiasaan kecil: menghabiskan minumannya sampai tetes terakhir, sambil duduk di kursi kayu dekat jendela dan memandangi jalan kecil di depan rumah.

     

    Kebiasaan sederhana itu kini terasa mustahil dilakukan.

     

    Ia menarik napas panjang, namun dada terasa sesak. Bukan karena kekurangan udara, melainkan karena sesuatu yang tak terlihat—sesuatu yang menekan dari dalam.

     

    “Ini tidak mungkin terjadi,” gumamnya pelan.

     

    Kalimat itu sudah ia ulang berkali-kali sejak beberapa hari terakhir. Seperti mantra yang sia-sia, yang ia harapkan bisa mengubah kenyataan.

     

    Namun kenyataan tidak berubah.

    Semua tetap sama.

    Semua tetap hilang.

    Fase Pertama: Tidak Percaya

     

    Hari-hari pertama setelah itu terasa seperti mimpi yang buruk. Meta berjalan, berbicara, bahkan tersenyum pada orang lain—tetapi semua terasa seperti bukan dirinya.

     

    Ia masih menyimpan ponsel di saku, masih membuka aplikasi pesan, dan tanpa sadar mengetik nama seseorang yang sudah tidak akan pernah membalas.

     

    Jarinya berhenti di layar.

    Lama.

    Ia tahu tidak akan ada balasan. Ia tahu itu.

     

    Namun tetap saja, ada bagian kecil dalam dirinya yang berharap layar itu tiba-tiba menyala, menampilkan pesan sederhana seperti:

     

    “Kamu lagi apa?”

     

    Pesan yang dulu terasa biasa saja, bahkan kadang ia abaikan. Kini, ia rela menunggu berjam-jam hanya untuk satu pesan itu.

     

    Meta menutup aplikasi itu dengan cepat, seolah-olah ia baru saja menyentuh sesuatu yang menyakitkan.

     

    Ia berdiri dari tempat duduknya, berjalan ke dapur, dan membuka lemari. Tangannya meraih dua cangkir—kebiasaan lama yang belum sempat ia ubah.

     

    Dua cangkir.

    Ia terdiam.

    Perlahan, ia mengembalikan satu cangkir itu ke tempatnya.

    Gerakan kecil itu terasa seperti mengakui sesuatu yang selama ini ia tolak.

    Bahwa sekarang, ia sendirian.

    Fase Kedua: Penyangkalan Halus

     

    Meta mulai mengisi harinya dengan aktivitas yang tidak perlu. Ia membersihkan rumah lebih sering dari biasanya, menyusun ulang buku-buku di rak, bahkan melipat pakaian yang sebenarnya sudah rapi.

     

    Ia hanya ingin sibuk.

    Karena ketika ia berhenti, ketika ia duduk diam tanpa melakukan apa pun—pikiran itu kembali datang.

    Kenangan-kenangan kecil.

    Hal-hal yang dulu terasa sepele, kini berubah menjadi luka yang tajam.

    Seperti suara tawa di sore hari saat hujan turun.

     

    Seperti kebiasaan berjalan ke warung kecil di ujung gang hanya untuk membeli camilan, padahal mereka tahu itu alasan untuk menghabiskan waktu bersama.

     

    Seperti percakapan tentang hal-hal yang tidak penting—film yang baru ditonton, lagu yang sedang disukai, atau rencana-rencana kecil yang bahkan tidak pernah terwujud.

     

    Meta membuka lemari pakaian.

    Di sudut lemari, masih ada satu jaket yang tidak pernah ia pakai. Warna biru tua, sedikit kebesaran untuk tubuhnya.

    Ia menyentuh kainnya.

    Masih terasa sama.

    Masih menyimpan aroma samar yang sulit ia jelaskan.

    Ia menarik jaket itu, memeluknya erat, lalu menutup matanya.

    “Ini belum berakhir,” bisiknya.

    Namun dalam hatinya, ia tahu—ini sudah selesai.

    Fase Ketiga: Kemarahan

     

    Suatu sore, langit benar-benar mendung. Angin bertiup lebih kencang dari biasanya, menggoyangkan daun-daun di halaman depan.

     

    Meta berdiri di depan jendela.

    Ia memandang ke luar, tetapi pikirannya jauh di dalam.

    Ada sesuatu yang mulai berubah dalam dirinya.

     

    Kesedihan yang sebelumnya terasa berat dan diam, kini mulai bergerak—berubah menjadi sesuatu yang lebih panas.

     

    Lebih tajam.

    Lebih sulit dikendalikan.

    Ia menggenggam erat ujung tirai, hingga jari-jarinya memutih.

    “Kenapa?” katanya, kali ini lebih keras.

    Pertanyaan itu bukan lagi bisikan.

    Itu adalah tuntutan.

    Kenapa ini harus terjadi?

    Kenapa harus sekarang?

    Kenapa harus padanya?

     

    Meta meraih bantal di sofa dan melemparkannya ke lantai. Ia berjalan mondar-mandir di ruang tamu, langkahnya cepat dan tidak teratur.

     

    Ia marah.

    Marah pada keadaan.

    Marah pada dirinya sendiri.

    Marah pada waktu yang tidak bisa ia putar kembali.

     

    Di atas meja, ada sebuah buku catatan kecil—tempat ia biasa menuliskan hal-hal sederhana: daftar belanja, ide-ide acak, atau potongan kalimat yang tiba-tiba muncul di pikirannya.

     

    Ia membuka buku itu dengan kasar.

    Halaman demi halaman ia balik.

    Hingga ia menemukan satu catatan kecil:

    “Jangan lupa, hari Minggu kita mau ke pantai.”

    Tulisan itu sederhana.

     

    Namun cukup untuk membuat dunia kembali runtuh.

    Meta menutup buku itu dengan keras, lalu menjatuhkannya ke lantai.

    Air matanya akhirnya jatuh.

    Bukan lagi diam.

    Bukan lagi tertahan.

     

    Tangis itu pecah begitu saja, seperti hujan deras yang tak bisa dihentikan.

     

    Momen-Momen Kecil yang Menghantam

    Hari-hari berikutnya dipenuhi dengan kejutan-kejutan kecil yang menyakitkan.

    Seperti lagu di radio yang tiba-tiba diputar—lagu yang dulu sering mereka dengarkan bersama.

    Meta langsung mematikan radio itu, tetapi nada itu sudah terlanjur melekat di kepalanya.

     

    Seperti aroma kopi di pagi hari.

    Dulu, ia selalu membuat dua cangkir—satu untuk dirinya, satu lagi untuk seseorang yang kini hanya tinggal kenangan.

     

    Kini, setiap kali ia menyeduh kopi, ia merasa ada yang hilang.

    Bahkan suara sendok yang beradu dengan cangkir terasa berbeda.

    Lebih sepi.

    Lebih dingin.

    Seperti tidak memiliki makna.

     

    Atau saat ia melewati jalan kecil di dekat rumah—jalan yang dulu sering mereka lewati bersama.

    Ia mempercepat langkah, mencoba menghindari kenangan yang tiba-tiba muncul tanpa permisi.

    Namun kenangan itu tidak bisa dihindari.

    Mereka datang dalam bentuk yang paling sederhana.

    Dalam hal-hal kecil yang dulu tidak pernah ia perhatikan.

    Dialog dengan Diri Sendiri

    Di suatu malam, Meta duduk di lantai kamarnya.

    Lampu tidak dinyalakan.

     

    Hanya cahaya dari luar jendela yang samar-samar menerangi ruangan.

    Ia memeluk lututnya, menundukkan kepala.

    “Aku harus bagaimana?” tanyanya pada dirinya sendiri.

    Tidak ada jawaban.

    Hanya keheningan yang menjawab.

     

    Namun dalam keheningan itu, ia mulai menyadari sesuatu.

    Bahwa perasaan ini—rasa tidak percaya, penyangkalan, kemarahan—semuanya adalah bagian dari proses.

    Bukan sesuatu yang bisa ia hindari.

    Bukan sesuatu yang bisa ia lompat begitu saja.

    Ia harus melewatinya.

     

    Perlahan.

    Sakit.

    Namun nyata.

    Meta menarik napas panjang.

     

    Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, ia tidak mencoba menyangkal apa yang ia rasakan.

    Ia tidak mencoba lari.

    Ia tidak mencoba menyibukkan diri.

    Ia hanya duduk.

    Dan merasakan semuanya.

    Badai yang Belum Reda

    Badai itu masih ada.

    Masih berputar di dalam dada.

    Masih membuatnya sulit bernapas di waktu-waktu tertentu.

    Namun kini, Meta mulai memahami satu hal:

    Badai tidak selamanya harus dilawan.

    Kadang, ia hanya perlu dilewati.

    Hari demi hari.

    Langkah demi langkah.

    Dengan segala rasa yang menyertainya.

    Ia berdiri perlahan, berjalan ke arah jendela, dan membuka tirai.

    Langit malam terlihat gelap, tetapi di kejauhan, ada satu bintang yang bersinar kecil.

     

    Meta memandangnya lama.

    Lalu, untuk pertama kalinya, ia tidak bertanya “kenapa.”

    Ia hanya diam.

    Dan menerima.

     

    Bahwa badai ini masih akan berlangsung.

    Namun suatu hari nanti—

    Ia akan belajar untuk tetap berdiri, meski angin belum sepenuhnya berhenti.

     

     

    Kreator : Mahfudz Efendi

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab 2 – Gemuruh Sunyi di Relung Hati

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021