
Tentunya kita sudah familiar dengan kata healing, yang popular digunakan sebagai bentuk mencintai diri sendiri. Kata healing saat ini banyak digunakan oleh brand, produk dan tempat-tempat wisata serta hiburan. Coba kita amati lagi, tanpa sadar masyarakat modern saat ini merasa tidak cukup puas dengan aktivitas dan tuntutan yang terus mereka jalani secara monoton. Sehingga sering kita jumpai konten-konten slow-living, motivation quote, wisata serta produk yang menggambarkan bentuk-bentuk menikmati kehidupan dan kebahagiaan. Seolah konten-konten yang beredar adalah wujud dari konteks kebahagiaan yang dicari di tengah kekosongan dan kekacauan isu-isu sosial.
Meningkatkan keinginan masyarakat untuk mendapatkan kebahagiaan sesuai dengan versi mereka, tak jarang kata healing hanyalah menjadi pelarian demi mendapatkan kesenangan instan, seperti nongkrong di kafe dengan dalih menikmati hidup dengan secangkir kopi, ikutan trip naik gunung tanpa persiapan matang, konsumsi informasi yang cepat dan berlebihan lewat sosial media. Sedangkan setelahnya kita tetap kembali ke aktivitas awal yang padat dan melelahkan. Tentunya tidak semua orang melakukan pelarian dengan mencari kepuasan instan.
Dalam Mutoharoh (2022) yang mengutip beberapa tulisan masyarakat yang diunggah pada sosial media mereka, seperti Breakdown yang menjadi suatu tempat melampiaskan kemarahan dengan cara menghancurkan barang di Jakarta, lalu tempat-tempat wisata yang menawarkan konsep dan suasana healing yang tenang dan damai, bahkan ada yang rela mengeluarkan biaya yang tidak murah untuk meng-healing dengan caranya yang unik, contohnya kutipan akun twitter @ditamoechtar_ yang menuliskan “Self-Healing. Dua nastar toples, sejuta. Nuhun”. Tak jarang konsep healing ini menjadi trend marketing produk dan tempat yang menjanjikan kualitas premium.
Kabar baiknya adalah masyarakat saat ini mulai terbuka untuk lebih memahami tentang kebutuhan adanya kesehatan mental dan fisik. Sehingga bukan lagi sebagai tren tetapi lebih pada arah positif pada praktik menikmati hidup yang ideal, misalnya olahraga fisik yang fun dan ada juga yang tenang, real food, healing music, spiritual healing, sampai pada penerapan stoikisme dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat dan profesional juga lebih terang-terangan membahas mengenai kesehatan mental, bahkan ada yang menunjukan prestasi dan membagi kiat untuk mampu menjalani rutinitas yang menampilkan produktivitasnya.
Sebelum saya membagikan pengalaman dalam proses dan perjalanan healing saya. Mari kita pahami terlebih dahulu apa itu healing?. Sepertinya masyarakat sudah memahami apa itu healing namun, apakah sesuai dengan pengertian dan konsep healing itu sendiri yang kerap dikaitkan dengan kesehatan mental, stress dan trauma. Kita juga tidak boleh asal sembarangan mendiagnosa diri sendiri hanya karena memperoleh informasi yang sepenggal-sepenggal dari sosial media dan buku saja.
Kesalahan pemahaman juga pernah saya alami dalam proses healing ini, untuk itu saya mulai mencari tahu lebih detail mulai dari pengertian healing yang paling mendasar sehingga perjalanan saya tidak hanya sekedar pelarian untuk memperoleh healing yang berproses dengan kesadaran untuk pemulihan dan kesembuhan. Healing merupakan kata yang asalnya dari kata Bahasa Inggris, yang memiliki arti penyembuhan atau pengobatan dalam Bahasa Indonesia. Oxford Learner’s Dictionaries juga mendefinisikan healing sebagai “the process of becoming or making someone healthy again” yakni proses menjadi atau membuat seseorang sehat kembali, baik fisik maupun emosional. Sedangkan dalam Lingoland, healing adalah the “process of making or becoming sound or healthy again”, yang berarti pemulihan. Serupa dengan penjelasan seorang ahli di bidang kesehatan dan spiritualitas, D. R. Hawkins (2022) dalam bukunya “Healing and Recovery”, bahwa healing yang dimaksud adalah mengintegrasikan aspek fisik, mental, dan spiritual untuk mencapai kesehatan keseluruhan.
Sedangkan pada generasi milenial dan generasi Z, kata healing berarti kiat untuk menghilangkan penat, seperti berwisata dan melakukan kegiatan yang bisa memberikan kepuasan, baik itu kesenangan maupun kedamaian sesuai dengan versi mereka masing-masing. Hal tersebut diperkuat dengan hasil analisis dari seorang analis industri perjalanan di Google Indonesia, yakni Vania Anindiar mengatakan, berdasarkan temuan mahadata Google, sejak tahun 2021 hingga tahun 2022 meningkat 500 persen pencarian kata healing atau proses pemulihan ke arah sehat lekat dikaitkan dengan aktivitas berwisata. (Mediana, 2022). Tak heran jika sekarang kita pun banyak menemukan konten, produk, iklan atau branding yang ditulis dengan kata healing.
Setelah memahami berbagai persepsi dan konsep healing yang sesuai dengan pemikiran para ahli dan masyarakat. Kita mulai memahami kemana arah perjalanan pemulihan kita seharusnya. Pada bab ini saya akan menceritakan kepada anda sedikit dari pengalaman saya untuk meng-healing diri saya untuk dapat menerima semua kekurangan diri dan menjalani hidup dengan penuh syukur dan kesadaran, meskipun masih terlihat jelas dalam ingatan bahkan tumbuh juga masih kerap bergetar.
Sekilas perjalan itu tidaklah rumit jika saya ceritakan sekarang. Akan tetapi, ada masa kehilangan banyak hal dalam hidup dan hampir merenggut jiwa. Kata-kata “ah lebay”, “kamu terlalu sensitif”, “kamu trust issue”, sudah sangat familiar di telinga saya. Saya menyalahkan diri sendiri, menyalahkan keadaan, menyalahkan orang lain dan lebih parah lagi marah Tuhan. Rasanya sangat tidak adil, semua terasa membingungkan, cerita diputar ulang, berbalik dari wajah-wajah yang dulu pernah saya prioritaskan dari pada diri sendiri. Dari sini pasti anda mulai paham dimana letak kesalahannya. Baik pola pikir, yang menjadi respon untuk cepat bereaksi tapi mengabaikan nilai dan hati nurani. Nyatanya saya hanya tak tahu batas yang sebenarnya mencakup kesadaran pada berbagai aspek dalam diri dan eksternal, seperti yang telah saya ceritakan pada bab sebelumnya.
Healing Journey adalah proses panjang perjalanan yang tak semua orang dapat memahaminya. Perjalanan kadang terasa sangat berat dan kadang pula terasa sangat menikmati prosesnya. Overthinking setiap hari, belajar dan bekerja tanpa memikirkan waktu dan kesehatan fisik serta mental. Sesekali sembari mengamati sekeliling, ada yang destruktif tapi hidupnya lancar-lancar saja, juga ada yang curang tapi kelimpahan selalu datang. Saya fikir itu semua bukan hanya sekedar keberuntungan, sebuah privilege yang telah terbentuk sebelumnya menjadi landasan dari setiap perilaku. Setiap pertanyaan dan usaha tak sebanding dengan jawaban yang saya dapat. Nah, dari sinilah semua luka-luka masa lalu itu mulai muncul ke permukaan dimana integritas diri mulai dipertanyakan.
Pertanyaan-pertanyaan dalam diri tidak juga harus mendapatkan jawaban dari sebuah kalimat tetapi bisa jadi akan terjawab dari peristiwa dan pemikiran serta kesadaran yang telah kita capai setelah mengalami healing journey. Healing Journey setiap orang juga tidak selalu sama, mulai dari teknik dan berapa lama prose perjalan itu berlangsung bisa saja berbeda sesuai dengan keyakinan mana bagi mereka yang paling bisa membantu untuk jalan pulih dan kesembuhan, untuk mendapatkan kesadaran yang utuh dan mental yang stabil. Berikut ini tahapan saya dalam proses meng-healing diri saya:
Banyak pertanyaan yang muncul sejak saya memahami makna, bukan cuma sekedar memaknai setiap kata dari percakapan tapi setiap makna apa yang terjadi dalam setiap peristiwa yang saya alami setiap hari. Sejak dari itu, keinginan saya untuk menulis itu muncul. Setiap pandangan, setiap kejadian, nama, tempat, sampai secuil coretan kertas pemberian pun saya simpan. Puluhan tahun silam buku warna-warni dengan sampul tebal, lengkap dengan penanda dan kunci gemboknya berjejer di antara buku-buku pelajaran dan komik. Tak jarang kotak-kotak berbalut kain dan kertas kado cantik dengan pita dan mote-mote yang menjuntai, buatan sendiri dari kaleng biskuit dan kardus bekas juga tertumpuk rapi di antaranya. Memori lama melekat dalam kenangan pertemanan dan kebahagiaan masa kecil.
Itulah sepenggal ingatan saya yang ada di masa lalu. Dari apa yang saya ceritakan, apakah anda merasakan sesuatu? Apakah pikiran anda masih ada yang mengganjal tentang memori masa kecil anda? Inilah yang terus mengikuti saya, saya menganggap pertemanan dewasa itu tulus seperti masa kecil dulu. Menganggap janji tak akan pernah diingkari, dari jemari polos yang menari dengan tintanya dibalik potret hitam putih yang ceria.
Saya sadari anak kecil di masa lalu itu masih ikut pada setiap aktivitas dewasa. Dulu dinasehati jangan cengeng agar orang sekitar bisa menyayangi. Contoh ungkapannya “kamu kalo cengeng, gak disayang lagi”. Tanpa saya sadari sejak saat itu, saya berusaha keras untuk tidak menangis, baik itu menangis karena sedih, kesal bahkan haru. Kebiasaan menekan-nekan perasaan sampai dewasa membuat saya sulit menjadi pribadi yang emosinya terkontol, tidak bisa tenang dan cenderung reaktif. Padahal orang dewasa seharusnya memiliki kematangan emosional yang bisa tampak tenang untuk mendapatkan solusi dalam masalah yang sedang dihadapi.
Menurut Carl Jung dalam Agha (2025), bahwa ada keterhubungan antara anak internal dengan pengalaman masa lalu dan kenangan akan kepolosan, kecemasan, dan kreativitas serta harapan untuk masa depan. Anak batin yang sehat bisa memberikan sumber kekuatan pada perkembangan orang dewasa. Tetapi, anak batin ini bisa saja memberikan dampak negatif kepada kehidupan dewasa, luka-luka masa kecil bisa terus terbawa sebelum kita mengatasi sumbernya.
Kim del Valle Walker dalam Agha (2025) disebutkan “Honor your inner child by losing yourself in simple pleasure”, bahwa kita seharusnya menghargai luka batin kita dengan menikmati kesenangan sederhana. Jadi, apa yang saya lakukan untuk mengatasi luka inner child ini? Saya belajar memahaminya tanpa mengintimidasi sedikitpun. Saya ingat kembali apa yang dulu saya suka, kegiatan masa kecil seperti melakukan hobi, mengunjungi tempat favorit saat liburan, bermain hujan. Dan hal yang terpenting adalah mengajak bicara inner child dengan memberikannya rasa aman dan kasih sayang. Tak perlu keras pada diri sendiri, tak perlu selalu tampak kuat, tak perlu cemas, akui dulu rasa sakit yang pernah dialami, dan meminta maaf dan memaafkan diri sendiri. Yakinkan bahwa sekarang pada tubuh yang dewasa ini, saya dan inner child telah menerima dan melepaskan apa yang selama ini menjadi belenggu dan berani menghadapi masa sekarang, dengan penuh kesadaran bersama inner child yang telah merasa aman dan merasa cukup karena rasa sayang yang ada dalam diri sendiri. Jadi tidak ada lagi yang perlu takutkan dan dikhawatirkan.
Kita tentunya sangat familiar dengan kalimat “bisa karena biasa”, seperti yang selalu orang tua kita ajarkan setiap hari untuk membentuk diri kita agar melakukan kemajuan seiring tumbuh kembang kita. Kemampuan yang kita miliki saat ini bukanlah sesuatu yang instan, sebab proses latihan sampai pada pembiasaan yang dilakukan berulang hingga tanpa kita sadari kita menjadi bisa karena biasa. Coba amati setiap berapa jumlah kosa kata yang dapat kita ucapkan dalam percakapan sehari-hari. Pernahkah terpikir kemampuan berbicara kita adalah proses belajar yang panjang yang diawali dengan pembiasaan pengenalan suara dan pengucapan sampai akhirnya mampu berkata dengan makna sampai kalimat percakapan yang lebih panjang dan mampu menangkap informasi, serta menginformasikannya kembali melalui rangkaian kata yang dulunya kita pun mempelajarinya dari pembiasaan yang tanpa disadari melalui langkah demi langkah hingga melekat menjadi kemampuan yang sekarang kita miliki sekarang.
Lalu, bagaimana jika kita menjadi “hebat karena biasa”?. Saya juga melihat orang yang dianggap hebat adalah orang yang memiliki keahlian, keahlian itu didapat karena kemahiran. Nah, bagaimana orang itu bisa menjadi mahir?. Kita menjadi paham bahwa kebiasaan adalah sebuah rutinitas yang selalu kita lakukan tanpa disadari dapat memberikan pengaruh besar terhadap kemampuan kita untuk mengadaptasi apa yang sering kita temui dan lakukan. Seperti terstimulus, rutin, bertahap tapi dampaknya signifikan karena sifat adaptif yang secara natural kita miliki sejak lahir dan bertumbuh.
Seperti yang diungkapkan oleh Aristoteles dalam Harry W. (2025), “we are what we repeatedly do…”, bahwa kita adalah kebiasaan yang kita lakukan. Bagaimana hubungan konteks kebiasaan ini terhadap healing journey saya?. Yakni, saya mulai merasakan over stimulasi, saya sering melakukan lebih dari satu kegiatan dalam satu waktu atau waktu yang berdekatan yaitu multi-tasking. Saya terus memaksakan diri untuk bisa menyelesaikan seluruh To-Do List dengan target yang saya buat sendiri. Sehingga saya pun menjadi overwhelmed, merasa sangat kewalahan untuk menyelesaikannya sesuai dengan target yang sudah ditetapkan sendiri. Tak jarang saya pun sering menunda-nunda kegiatan dan merasa kewalahan saat kegiatan tersebut menjadi menumpuk tetapi tetap harus diselesaikan apalagi dengan sisa waktu yang sudah sangat mepet.
Jika anda merasakan hal yang serupa, amatilah bahwa anda pun mulai menyadari bahwa ada kebiasaan yang perlu dibenahi untuk mendapatkan rutinitas yang lebih berkualitas. Mulai menggarisbawahi apa saja yang selama ini menjadi kebiasaan kita dan perlu diperbaiki. Seperti kebiasaan yang saya lakukan, kebiasaan yang saya konsumsi; dengar, ucapan, bacaan dan pikiran. Rasanya seperti tidak mungkin mengubah kebiasaan apalagi yang sudah menahun saya lakukan. Tetapi, bagaimana kebiasaan itu bisa terjadi melalui proses yang hingga melekat melekat, begitu pula saya percaya kebiasaan itu bisa diubah dengan proses secara bertahap dan konsisten. Saya catat apa saja yang membuat saya overwhelmed, sehingga saya dapat mengoreksi lagi hal yang sudah tidak relevan dalam kebiasaan sehari-hari saya.
Bagi saya self-healing adalah keputusan paling besar yang pernah saya ambil dalam kehidupan saya. Sebab, self-healing ini secara mandiri saya mencoba untuk mengamati kondisi kesehatan saya, akan tetapi bertahun-tahun saya juga denial pada kondisi kesehatan baik fisik maupun mental yang saya alami. Saya terus meyakinkan diri saya bahwa saya akan baik-baik saja, tanpa disadari saya terus menekan dan menyangkal kondisi bahwa saya sedang tidak baik-baik saja, baik itu fisik maupun mental. Akibatnya, saya menjadi overthinking dan meragukan diri sendiri. Pada fase kondisi ini saya terus mencari dan mencatat hal kecil yang tak bisa saya utarakan kepada orang lain, hal-hal yang membuat saya tidak nyaman, hal yang menimbulkan banyak pertanyaan, sampai orang-orang asing yang tiba-tiba seolah sudah kenal sejak lama. Ternyata kebiasaan mencatat saya inilah yang mengantarkan saya pada kesadaran pada diri untuk memulai langkah self-healing. Dari catatan kecil itulah saya mulai reflektif, membaca perlahan, mengulang dan memahaminya.
Dulu, saya berfikir untuk apa sih kita perlu mencatat, bercerita pada selembar kertas yang lama-lama juga akan terlupakan dan tidak berguna. Sedangkan dari kebiasaan saya yang selalu menulis melalui sketsa, warna, dan tulisan. Bukan sekedar kata-kata, tetapi banyak hal dari berbagai media fisik dan digital menjadi catatan harian, lalu melupakannya. Padahal point terpenting dalam self-healing adalah kesadaran, jadi kenapa saya berusaha melupakan catatan saya itu?. Dari sinilah saya mulai mengaitkan antara catatan dengan apa yang selalu ingin dilupakan, bukankah catatan itu hanya akan menjadi hal yang sia-sia saja.
Dan suatu hari, saya menemukan catatan lama, menatanya dan menggabungkan beberapa catatan itu secara urut berdasarkan waktu yang tertulis. Seperti tindakan konyol bukan yang saya lakukan? Tapi, sekali saya menemukan sebuah catatan yang ternyata berkaitan dengan peristiwa pada catatan lain yang sudah saya tulis dalam sebulan lalu, setahun dan beberapa tahun lalu. Rasanya memang seperti tidak masuk akal, seperti membuang-buang waktu mengurai setiap kejadian dengan menghubungkannya. Mulailah pertanyaan-pertanyaan “mengapa” muncul ke permukaan. Keraguan demi keraguan terasa seperti hal yang sangat menakutkan. Saya mulai meragukan ingatan saya sendiri, memungkiri bahwa rekam jejak yang tercatat adalah rekaman yang paling jujur dari pada perkataan manusia yang sering kali dibolak-balik agar ungkapannya terasa benar. Sesekali saya menangis sampai terisak, membaca dari setiap penggalan peristiwa yang terekam dan menyayangkan atas apa yang telah berlalu. Saya paham seketika itu juga saya marah, kecewa bahkan muak. Tapi apa yang saya lakukan untuk bisa menjalani hidup seperti biasa, yakin dengan berusaha memaklumi bukan dengan kesadaran tapi menekan perasaan saya sendiri agar tetap terlihat baik-baik saja. Saya bisa tersenyum dan tertawa dibalik gemuruh perasaan, saya juga bisa tidak reaktif menyaksikan tawa hinaan namun ada rasa yang ingin meledak keluar dari dalam dada yang terus detak semakin kencang. Pertanyaan mengapa dan mengapa terus bermunculan silih berganti, seakan ingin menanyai satu per satu kejadian yang tak akan pernah saya temui jawabannya.
Begitu juga kesenangan instan yang saya pilih sebagai pelarian takkan pernah membantu, seperti makan tanpa kesadaran hanya memilih enak tanpa mempertimbangkan nutrisi dan kesehatan, screen time dan scrolling sosial media sampai lupa waktu, juga seperti bermain game untuk meluapkan perasaan dan mendapatkan ilusi kesenangan. Alih-alih mendapatkan solusi dan jawaban dari pertanyaan, semakin hari pertanyaan-pertanyaan itu semakin mengganggu aktivitas sehari-hari, kesulitan tidur dan enggan menjalani rutinitas yang hanya itu-itu saja. Rasanya lelah sekali, ramai dalam fikiran dikejar-kejar pertanyaan yang saya sendiri lari darinya.
Setiap tengah malam saya terjaga, menangis sampai terisak, mengulas kembali setiap pertanyaan yang muncul dan saya tak memaksa untuk mendapatkan jawaban. Sampai pada suatu malam, suasana menjadi sangat dingin, saya nikmati setiap tetesan air mata yang ingin mengalir tanpa menekan lagi. Saya biarkan lantunan doa menggema dalam heningnya malam, rasanya semakin hari semakin hangat meski saya masih terus terisak. Satu hal yang saya temukan dari semua pertanyaan itu adalah “penerimaan”. Bagaimana saya bisa menerima tanpa denial, yaitu dengan menyadarinya. Kesadaran yang saya dapat dengan berhenti menghakimi diri sendiri dan faktor eksternal yang dianggap menjadi penyebab kekecewaan. Saya berhenti mengkhawatirkan hari esok dan tidak lagi mempertanyakan mengapa pada masa lalu. Saya hanya berusaha untuk menerima yang lalu dan menjalaninya saat ini agar hari esok bisa lebih baik lagi dari masa lalu yang tidak mungkin diulang kembali (looping).
Pada fase ini kesadaran saya mulai muncul dan mulai meninggalkan kesenangan instan yang saya cari selama ini sebagai pelarian. Rutinitas mulai dibuatkan agenda. Belajar lebih tenang dan mempertimbangkan respon pikiran dan tubuh. Saya memberikan jeda dan ruang untuk diri sendiri, mungkin terlihat malas tapi ternyata produktivitas saya lebih berkualitas dibandingkan dulu yang serba terburu-buru. Seperti yang diungkapkan oleh R. Hawkins (2022) dalam bukunya “Healing and Recovery”, bahwa penyembuhan mandiri (self-healing) yang terpenting adalah kesadaran (consciousness) akan keterhubungan antara tubuh, pikiran dan spirit, dimana tubuh kita dapat mengekspresikan apa yang tertahan di dalam pikiran. Kesadaran terjadi karena adanya medan energi sehingga terjadi penyembuhan dari keyakinan dalam pikiran kita. Sehingga menurut Hawkins, kesehatan adalah ekspresi dari level kesadaran yang kita miliki.
Dalam proses self-healing, kesadaran adalah hal yang utama. Sebab, proses penyembuhan itu tidak akan pernah terjadi jika kita terus menyangkal apa yang ada dalam pikiran kita dan tubuh terus menekan-nekan perasaan yang sebenarnya dirasakan dan akibatnya produktivitas kita menjadi terganggu. Kesadaran merupakan tahap paling awal agar kita dapat melanjutkan proses healing yang sesuai dengan apa yang pernah kita alami dan langkah apa yang cocok untuk diri kita tanpa harus menekan dan mencari kesenangan instan agar terlihat baik-baik saja. Disini saya mulai memahami bahwa self-healing adalah hal yang berkaitan dengan internal diri sendiri. Fokus saya mulai melakukan hal-hal kecil dalam rutinitas sehari-hari lebih baik lagi dari yang lalu, sampai akhirnya saya menemukan teknik-teknik self-healing lainnya yang menunjang proses penyembuhan kesehatan saya dan beberapa pendampingan professional.
Perlu digaris bawahi saat kesadaran anda mulai muncul bahwa ada hal yang sedang tidak baik-baik saja, yang ditandai tidak ada keterhubungan antara tubuh, pikiran dan spirit anda dalam menjalani rutinitas sehari-hari segeralah untuk meminta pertolongan profesional. Pihak yang berkompeten dengan bidang kesehatan akan lebih cepat memberikan solusi dari pada kita terlarut dengan masalah dan tidak mendapatkan penyelesaian. Kita bisa saja datang hanya untuk berkonsultasi atau meminta pendapat dari pada kita terus mengulang-ngulang problem dalam diri dan mencari kesenangan instan sebagai pelarian. Tidak ada kata terlambat untuk kita memulai, memperbaiki hidup yang ideal yang lebih sehat dan kita tidak overwhelmed menjalaninya. Beberapa teknik-teknik healing lainnya akan dibahas pada bab berikutnya.
Kreator : Ike Ferawati (Ike Fe)
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Bab 2- Healing Journey
Sorry, comment are closed for this post.