Mata Bayu mengerjap. Sinar matahari yang lolos dari celah tirai tipis jatuh tepat di wajahnya. Sambil meringis kecil, ia menarik selimut sampai ke dada. Udara pagi yang sejuk membuatnya ingin meringkuk lebih lama.
Namun, rasa kantuk itu menguap begitu ingatan semalam mendadak berputar ulang.
Jalan setapak di tengah hutan. Berkas cahaya di sela pepohonan. Dan seekor harimau putih besar yang muncul perlahan dari balik semak-semak.
Bayu langsung terlonjak duduk.
“Ya ampuuun…” gumamnya dengan napas yang masih memburu.
Matanya terbelalak, lalu sedetik kemudian wajahnya berubah cerah. Tanpa peduli dengan rambutnya yang acak-acakan atau kakinya yang telanjang, ia melompat dari ranjang dan berlari ke luar.
“Atuuuk!” serunya, menggema di sepanjang koridor lantai dua.
“Atuk! Bayu mimpi ketemu Inyiak!”
Ia langsung menerobos masuk ke kamar kakeknya tanpa mengetuk. Kosong. Kasur sudah rapi, jendela terbuka lebar, dan gorden garis-garis bergoyang pelan ditiup angin pagi.
Bayu terpaku di tengah ruangan. “Atuk…?”
Sepi. Ia menoleh ke sekeliling, lalu menjentikkan jari begitu teringat satu tempat: balkon.
Bayu langsung berlari lagi. Kakinya menapak cepat di lantai kayu. Saat hampir sampai di pintu balkon, senyumnya sudah lebar. Kalau Atuk tidak ada di kamar, pasti beliau ada di sana.
Pintu geser menuju balkon didorongnya dengan kedua tangan hingga berderit pelan. Cahaya pagi langsung menyergap wajahnya.
Benar saja. Atuk Is sedang duduk di kursi goyang favoritnya, kain sarung terlipat rapi di pangkuan. Di meja kecil sebelah kursi, secangkir teh talua masih mengepulkan uap tipis. Tangannya memegang koran yang terbuka setengah, meski pandangannya justru tertuju pada kebun bawah yang masih basah oleh embun.
Atuk menoleh. “Eh, cucu Atuk sudah bangun,” sapanya, berat namun hangat.
Bayu berlari kecil lalu memeluk lengan kakeknya. “Atuuuk! Bayu tadi mimpi ketemu Inyiak!”
Atuk mengangkat sebelah alis. “Oalah, mimpi apa pagi-pagi begini sampai lari tidak pakai sandal?”
Bayu refleks melirik telapak kakinya yang kotor. “Lupa, Tuk. Tapi mimpinya beneran!” sahutnya cepat. “Bayu ketemu Inyiak. Harimau putih yang sering Atuk ceritakan itu!”
Atuk tertawa pelan sambil menepuk-nepuk kepala Bayu. “Duduk dulu sini. Ceritakan pelan-pelan.”
Bayu langsung memanjat kursi rotan di sebelah Atuk, membuat kakinya menggantung. “Bayu jalan di hutan, Tuk. Terus ada cahaya, terus ada suara daun kering diinjak. Terus… terus…”
“Atur napas dulu, Yu,” potong Atuk sambil tersenyum. “Kalau ceritanya balapan begitu, Atuk bisa ketinggalan.”
Bayu menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan. “Inyiak-nya putih semua, Tuk. Besar sekali. Tapi matanya baik, tidak galak sama sekali. Dia cuma melihat Bayu lamaaa banget.”
Senyum Atuk perlahan surut. Tatapannya berubah serius. “Putih semua?”
Bayu mengangguk mantap. “Iya, Tuk. Putih ada lorengnya, tapi kayak bercahaya. Dia jalan pelan ke arah Bayu. Anehnya, Bayu sama sekali tidak takut. Malah senang.”
Atuk Is terdiam. Ia memandangi halaman rumah sejenak, menyesap teh taluanya yang mulai dingin, baru kemudian kembali menatap Bayu.
“Kalau begitu,” ujar Atuk lirih, “mungkin Inyiak sedang menjaga kamu.”
“Menjaga Bayu?” Mata Bayu membulat.
Atuk mengangguk. “Inyiak tidak mendatangi sembarang orang. Hanya anak yang jujur, berani, dan tidak suka usil yang didekatinya.”
Bayu langsung menegakkan punggungnya, membusungkan dada. “Bayu bisa jadi anak baik, Tuk. Sumpah!”
Atuk terkekeh, lalu mengusap rambut cucunya yang berantakan. “Bagus. Cerita Atuk selama ini memang bukan cuma dongeng pengantar tidur. Ingat, boleh jadi anak yang kuat dan berani, tapi tetap harus rendah hati.”
Bayu mengangguk-angguk, meski keningnya sedikit berkerut mencoba mencerna kalimat kakeknya. Ia belum paham betul apa maksud kata-kata itu, tapi satu hal yang pasti: ia ingin membuat kakeknya bangga.
“Bayu janji, Tuk,” bisiknya.
Atuk Is tersenyum lebar, lalu kembali membuka korannya.
Bayu melipat kaki, ikut memandangi kebun di bawah. Di pohon mangga depan rumah, seekor burung kecil hinggap sejenak di pagar pembatas sebelum terbang tinggi ke langit yang mulai membiru.
Bayu menyentuh dadanya yang masih berdegup agak kencang, merasakan sisa kehangatan dari mimpi semalam.
Kreator : Rukmana Gautama (RG Gotama)
Comment Closed: Bab 2 – Mimpi Bayu
Sorry, comment are closed for this post.