KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab 2 : Sepercik Perjuangan

    Bab 2 : Sepercik Perjuangan

    BY 05 Okt 2026 Dilihat: 11 kali
    SEPERCIK AKAR_alineaku

    SEPERCIK PERJUANGAN

     

    Perjuangan bukan dimulai saat kita dewasa.

    Ia dimulai sejak kita belajar duduk di bangku SD, menahan sakit, menahan malu, dan tetap maju.

    Perjuangan adalah ketika kita diberhentikan jadi panitia OSPEK, tapi kemudian diangkat lagi.

    Ketika kita ditolak, tapi tetap mengetuk pintu yang lain.

    Di setiap fase hidup, ada percikan-percikan yang menguji. 

    Dan dari percikan itulah, Allah menempa saya menjadi seperti sekarang.  

    Ini Sepuluh Sepercik Perjuangan saya…

     

    —

     

    SEPERCIK PERJUANGAN #1: 

    UJIAN AKHIR SD DAN PERTAMA DATANG BULAN

     

    Saat itu usia saya 12 tahun.  

    Di hari itu ada tes penilaian akhir : menata meja makan.  

    Karena rumah saya paling dekat dengan sekolah, jadi saya kebagian tugas membawa peralatan makan.  

    Termasuk piring yang jumlahnya 11 buah, juga yang lainnya.

     

    Pagi itu udara masih segar.  

    Jiwa masih semangat, penuh tenaga.  

    Meski hari itu, saya baru pertama kali kedatangan bulan.

     

    Kegiatan ujian berjalan lancar.  

    Saat pulang pun saya masih merasa kuat.  

    Tidak ada yang mengantar atau membantu membawakan peralatan.

     

    Hingga saat sudah memasuki gang hendak menuju rumah…  

    Kepala mulai pusing.  

    Tangan mulai lemas.  

    Badan terasa pegal-pegal.

     

    Dan, seketika… 

    Sebelas piring di tangan seolah terlepas.  

    Jatuh ke jalanan. 

    Pecah berserakan.

     

    Saya kaget. Syok. Semakin lemas.

     

    Sampai akhirnya Ibu datang dan menguatkan:  

    “Sudah, tidak usah dipikirkan. Piring bisa diganti. Yang penting kamu nggak apa-apa.”

     

    Lalu Ibu membersihkan jalan, dibantu para tetangga yang melihat kejadian tersebut.

     

    Masya Allah … Laa haula wala quwwata illa billah.

     

    Alhamdulillah bersyukur sekali sudah melewati itu.  

    Dan kalimat Ibu: “Piring bisa diganti, yang penting kamu nggak apa-apa”  

    Itu adalah akar kasih sayang yang bikin saya kuat sampai sekarang.

     

    —

     

    SEPERCIK PERJUANGAN #2: 

    ULANGAN TANPA NILAI DAN KACAMATA

     

    Hari itu, di SMPN 56 Jakarta Selatan, di kelas saya ada ulangan mata pelajaran Olahraga.  

    Tahu nggak, gurunya itu galak! 

    Dan, benar saja.  

    Ulangan kali itu soalnya ditulis Pak Guru di papan tulis. Hanya lima soal, kalau tidak salah.

    Namun saya yang duduk di bangku baris ketiga pojok sebelah kiri, merasakan gelisah tiada tara.  

    Bagaimana tidak,  

    Bukan karena saya tidak belajar.  

    Bukan karena tidak tahu jawabannya.  

    Tapi justru… saya tidak tahu apa soalnya! Nah loh!

     

    Ya, saya baru menyadari ternyata mata saya ada masalah.  

    Selama ini saya tidak merasakan itu.  

    Jadi, lima soal di papan tulis itu tidak ada satu pun yang terlihat.  

     

    Dan, saya tidak berani bertanya atau bilang ke Pak Guru, karena takut.  

    Alhasil, saya diam saja.  

    Memikirkan nanti pasti nilainya nol karena tidak menjawab soal satu pun.

    Nanti saya harus bilang bagaimana ya, ke Bapak dan Ibu.

     

    Saat saya pulang ke rumah, hal pertama yang saya lakukan adalah cerita ke Ibu.  

    Saya ceritakan kejadian yang tadi saya alami.  

    Dan, Alhamdulillah… lagi-lagi Ibu tidak marah.

    Malahan, Ibu kemudian mengajak untuk periksa mata saya ke Rumah Sakit Fatmawati.  

    Yang ternyata hasilnya: mata saya sudah minus empat, kiri dan kanan.

    Dan, sejak saat itu berarti saya harus mulai pakai kacamata.  

    Suatu kondisi baru buat saya.

     

    “Percikan” ini mengajarkan: jujur selalu sama orang tua, dan keterbatasan itu bukan akhir. Justru awal dari cara baru melihat dunia. Pakai kacamata.

     

    —

     

    *SEPERCIK PERJUANGAN #3: 

    TES VOKAL DAN PENGEMBANGAN DIRI*

     

    Kisah ini juga saat saya masih di bangku SMP.  

    Sebagai siswi baru, kita diharuskan memilih ekskul yang kita minati.  

    Saya memilih Pramuka salah satunya.  

    Dan kemudian saya mendengar ada ekskul baru: Vocal Group.

     

    Secara kan saya sudah banyak dilatih ya sama guru seni suara saya.  

    Jadi saat saya dengar ada ekskul itu, saya jadi tertarik.

     

    Bersama 2 sahabat saya, Yunita dan Uri, saya coba daftar dulu saja.  

    Saya tetap berusaha keras untuk bisa masuk, meski ya tergantung hasil seleksinya nanti.

     

    Seleksi pun dilakukan.  

    Kita diharuskan berkelompok ber-3 orang.  

    Lalu kita coba berlatih sebentar sebelum akhirnya tiba giliran grup kami.

     

    Tidak deg-degan sih karena kan ber-3.  

    Kita berusaha sebaik mungkin.  

    Dan saat pengumuman, grup kita dinyatakan bagus dan lolos bisa ikut ekskul Vocal Group.

     

    Seiring waktu kami terus dibimbing oleh Kak Dedi Lespit dari sanggar Samudra pimpinan Dian Samudra.  

    Kami pun sering diajak tampil dari panggung ke panggung.  

    Untuk uji coba hasil latihan selama ini, juga menguji mental kami.

     

    Pertama kali kami tampil di GOR BULUNGAN Jakarta Selatan.  

    Ada juga artis Hary Moekti juga Defri Maulana.

     

    Hingga ke panggung yang lainnya yakni tampil di Anjungan Lampung TMII.

     

    Seiring waktu, saya mulai sedikit menjauh dari dunia vokal, entah apa alasannya, sayapun lupa.

    Seingat saya, di sekolah saat itu, teman-teman yang lain bersiap untuk tampil sekaligus syuting dari sebuah stasiun televisi. Tapi saya tidak ikut serta.

     

    Di sanggar Samudra juga begitu, saat itu sedang ada casting pemeran utama dan lainnya untuk film musikal anak.  

    Tapi saya justru sedang menjauh dari sana.

     

    Mungkin takdir Allah yang ingin menuntun saya ke arah yang lebih baik lagi.  

    Aamiin

     

    —

     

    *SEPERCIK PERJUANGAN #4: HIJRAH DAN JATI DIRI*

     

    Masuk ke SMAN 6 yang merupakan salah satu SMA favorit menjadi sebuah kebanggaan.  

    Alhamdulillah, saya daftar sendiri, urus sendiri bersama teman-teman Pramuka tanpa orang tua turun tangan.  

    Saya tinggal lapor ke orang tua terus bilang butuh dana berapa.

     

    Awal masuk saya dapat kelas di 1-9.  

    Saya masih ingat yel-yel kelas ini:  

    “Kelas satu sembilan hiya hiya yo  

    Terbaik di SMA 6 hiya hiya yo  

    Orangnya pintar-pintar hiya hiya yo  

    Satu Sembilan yes!  

    Satu Sembilan yes!”

     

    Saat awal masuk, saya mendapat pujian dari kaka kelas, karena rok yang saya pakai itu panjangnya di bawah lutut.  

    Sepertinya ini karena pembiasaan dari Bapak dulu.  

    Jadi dalam berpakaian pun saya agak malu untuk terlalu memperlihatkan aurat, meski saya belum berhijab saat itu.  

    Tapi ternyata itu memudahkan saya untuk penampilan saat takdir membawa saya untuk hijrah.  

    Rok sudah di bawah lutut, tinggal pakai kaos kaki bola yang panjangnya selutut kita, jadi aurat aman.

     

    Semua berawal saat saya mulai memilih ekskul di sekolah menengah atas ini.  

    Saya tidak lagi memilih Pramuka, juga ke Seni.  

    Saya justru lebih memilih untuk mulai fokus mendalami agama dan saya memilih Ekskul Kerohanian.

     

    Hari-hari berikutnya saya mulai dapat bimbingan, arahan dari kakak-kakak kelas di Rohis.  

    Diajak mendalami ajaran agama kita, dan berusaha perlahan mengubah pola hidup.

     

    Suatu hari saya dan teman-teman Pramuka SMP diundang untuk hadir pada kegiatan Jurit Malam.  

    Semacam tes keberanian anggota Pramuka baru.  

    Mereka ditesnya di kuburan Jeruk Purut Jakarta Selatan.  

    Dan kita sebagai alumni berjaga di pos di titik-titik makam yang sudah ditentukan.  

    Sebenarnya tidak ada kejadian apa-apa sih, justru ada kisah “kedekatan” di sana.  

    Tapi tidak terlalu saya pikirkan juga.

     

    Tiba-tiba saja, beberapa hari setelah itu, tanpa berpikir panjang…  

    Tidak mikir apa jilbabnya sudah ada? Seragamnya bagaimana?  

    Saya tidak berpikir sampai ke situ.  

    Keinginan berjilbab muncul.  

    Padahal saat itu saya tahu kalau di sekolah negeri belum diperbolehkan berjilbab.

     

    Lucunya lagi, saya ternyata hanya punya jilbab warna hitam dan pink.  

    Tidak matching dengan seragam sekolah kan? Hari pertama seragam abu-abu putih, jilbab hitam. Esoknya, seragam abu-abu putih, jilbab pink. Tapi saya cuek saja.

    Itulah hidayah.  

    Saat ia datang memenuhi ruang hati, maka tak ada satu apapun yang bisa menghalangi.

     

    Bahkan saya sampai diledekin sama teman laki-laki,  

    “Ih Dini, elu make jilbab ngga matching”  

    “Biarin aja!” begitu seloroh saya.  

    Tapi saya bersyukur, tidak terganggu dengan ocehan orang, tidak dipikirin.  

    Saya tetap bertahan, meski jilbab saya saat itu juga masih buka-tutup.  

    _Yaa Rabb ampuni hamba_.  

    Karena dari rumah saya pakai jilbab, di gerbang sekolah harus dibuka.

     

    Yang bikin saya terharu, adalah saat kakak kelas mendatangi kelas saya dan mengucapkan doa dan dukungan buat saya.  

    “Barakallah yaa Din… nanti kalau dipanggil ke ruang Kepala Sekolah panggil kakak fulan ya, yang ditugaskan mengawal, membantu saya.” Karena saat itu suka ada interogasi dan sedikit intimidasi kepada anak yang baru memakai jilbab.

     

    Dan mereka, kakak-kakak kelas itu, juga memberi hadiah seperangkat seragam kemeja tangan panjang dan rok biasa, plus jilbab putih.  

    MasyaaAllah.

     

    Saya semakin yakin dan kuat dengan pilihan di jalan hijrah ini.  

    Ini karunia terindah yang Allah berikan buat saya.  

    Alhamdulillah Yaa Rabb.

     

    —

     

    *SEPERCIK PERJUANGAN #5: LINGKUNGAN LAMA DAN BARU*

     

    Di masa SMA itulah, saya mulai merapikan langkah, mencari hakikat kehidupan sejati.  

    Untuk apa saya diciptakan ke bumi ini?

     

    Perlahan, saya mulai berganti lingkungan.  

    Dari yang arahnya ke seni, panggung ke panggung…  

    Meski belum sampai di titik mengenal glamournya kehidupan seni,  

    Tapi kini saya mulai serius untuk memahami kehidupan.

     

    Menemukan teman-teman yang mengingatkan semua itu.  

    Mulai berbenah diri, memantaskan dengan apa yang Allah mau,  

    bukan semata kesenangan duniawi yang ternyata tidak Allah sukai.

     

    Butuh kekuatan dan perjuangan juga untuk istiqomah di jalur ini.  

    Butuh teman yang saling mengingatkan.

     

    Ternyata bukan rindu yang berat, seperti kata Dilan…  

    Tapi _istiqomah besti yang berat mah_.

     

    Apalagi sudah sempat mencicipi sedikit dunia entertain,  

    penuh pujian, penuh riuh tepuk tangan, penuh kekaguman…  

    Yang ternyata semuanya adalah semu.

     

    _Ekskul Rohis itu menjadi rumah kedua bagi saya._  

    Disitulah Allah kirim “besti” sejati. Bukan yang ngajakin nongkrong, tapi yang ngajakin ke surga.

     

    Dan seorang sahabat bernama Yudith, menjemput kami satu persatu, pakai mobil Toyota Camry ayahnya, untuk kami mengadakan pertemuan.

    Itu bukan cuma jemput fisik. Itu jemput hati.  

    Dijemput dari kelalaian, dijagain biar nggak balik lagi ke lingkungan lama.

     

    Semoga Allah balas semua upaya Yudith juga ayah dengan surga setinggi-tingginya. Aamiin 🤲  

    Sahabat yang ngingetin kita ke Allah, itu adalah titipan paling mahal.

     

    Yang pastinya Ekskul Rohis itu yang menjadi wadah untuk para remaja mengenal Tuhannya, Rasulnya, Kitab petunjuk arah hidupnya, dan yang paling penting memahami tujuan hidupnya.

     

    Dan melalui kakak kelas saya yang menerangkan semua itu.  

    Juga sahabat-sahabat yang saling mengingatkan.  

     

    MasyaaAllah, Alhamdulillah.

     

    —

     

    *SEPERCIK PERJUANGAN #6: MENGEJAR KAMPUS IDAMAN*

     

    Tibalah masa penentuan, 

    akan melanjutkan ke mana di jenjang berikutnya?

     

    Impian sih ke *UI* ya…  

    Namun _ala kulli hal_.  

    Bahkan sudah _gap year_ 1 tahun.  

    Tahun berikutnya daftar bareng sama adik.  

    Qadarullah, masih tetap belum lolos juga.  

    Pindah pilihan lain pun begitu.

     

    Adik saya juga sama. Belum ada rezekinya ikut UMPTN.  

    Lalu adik bilang,  

    _”Teh anter saya ke Djuanda Bogor yuk?”_  

    Dia dapat undangan. Gratis formulir untuk daftar kuliah di sana.

     

    Akhirnya kami berdua berangkat ke *Ciawi, Bogor*.  

    Pertama kali menginjakkan kaki di Bogor itu tahun *1994*.  

    Yang sangat terasa adalah hawanya yang sejuk, saat turun dari angkot.  

    MasyaaAllah… enaknya. Seger.  

    Kita langsung jatuh hati.

     

    Adik sudah beres mendaftar.  

    Kemudian bilang ke saya,  

    _”Teteh kenapa nggak daftar aja di sini?  

    Itu ada jurusan yang sesuai dengan teteh.  

    Biaya formulirnya juga terjangkau.  

    Uang bekal dari Bapak masih cukup.”_

     

    Setelah saya pikir-pikir lagi… ada benarnya juga ya.  

    Ya sudah lah. Saya beli formulir.  

    Terus mau mendaftar jurusan *Akuntansi* aja.

     

    Qadarullah memang.  

    Akhirnya ke Poltek UI juga belum ada rezeki.  

    Berhubung saya sudah mengisi formulir ke Kampus Djuanda,  

    jadi sudah tenang dapat tempat kuliah.

     

    Tinggal proses mencari tempat kos.  

    Karena tidak mungkin kalau pulang pergi dari  Tangerang.

     

    *Ciawi, Bogor… inilah kami.*  

    4 tahun kami akan tinggal di Bogor.

     

    *SEPERCIK PERJUANGAN #7*  

    *Takdir Membawaku ke Bogor: Kuliah, Menikah, Membangun Rumah Tangga*

     

    Begitulah hidup…  

    Kita bisa punya rencana ingin begini dan begitu. Tapi pada akhirnya, Kuasa Allah jua yang berlaku.

     

    Di sana kita semakin memahami keberadaan-Nya. Campur tangan-Nya selslu ada dalam setiap proses perjalanan hidup kita.  

    Dan kadang kita hanya bisa tersenyum, “kok lucu ya jadinya”.

     

    Seperti saya.  

    Awalnya tidak ada sedikit pun niat untuk kuliah di Bogor. Bahkan saya tidak dapat undangan khusus atau formulir gratis seperti adik.  

    Tapi akhirnya saya sadar, setiap kesempatan perlu kita coba. Karena kita tidak pernah tahu akan seperti apa jadinya ke depan nanti.

     

    Qadarullah…  

    4 tahun lebih saya kuliah di Bogor. Saya berusaha ikut aktif dalam kegiatan kampus.  

    Dan saya memilih UKM Kerohanian. Di sana saya bisa terus menggali dan menjaga keimanan diri.

     

    Sambil itu, saya juga mengasah bakat di bidang tarik suara.  

    Saya ikut KKM-Nida, Kelompok Kreativitas Muslimah Universitas Djuanda, itu nama tim nasyid muslimah di Kerohanian.  

    Setiap malam kami berkumpul di kosan salah seorang yang dituakan.  

    Kami latihan bersama, menyatukan harmonisasi suara yang berbeda-beda menjadi sebuah karya seni yang indah.  

    Sederhana, namun sarat dengan makna keimanan dan kebaikan. Bukan semata-mata untuk lalai dari mengingat Allah.

     

    Jelang tugas akhir, datang masa kebimbangan.  

    Skripsi belum rampung-rampung. Mau bagaimana lagi…

     

    Namun akhirnya Allah tunjukkan jalan.  

    Selepas kejadian kerusuhan 11 Mei 1998, di bulan Juli, guru saya memproses ta’aruf saya.  

    Ternyata dengan kakak tingkat yang sudah saya kenal.  

    Beliau asdos saya. Dosen Lab Akuntansi saya. Bahkan saya pernah jadi asisten beliau di Lab saat beliau tugas ke Bandung.  

    Meski begitu, saya hanya mengenal sebatasnya saja. Tidak lebih.

     

    Dan inilah jawaban Allah…  

    *Saya mewujudkan Ijab dulu, baru Ijazah kemudian.*

     

    Perjuangan baru dimulai.  

    Sambil membangun rumah tangga.  

    Sambil membereskan skripsi.  

    Sambil mengajar di TK.  

    Sambil mengasuh bayi putri pertama kami.

     

    MasyaaAllah… dari yang “tidak ada niat ke Bogor”  

    Allah bawa saya ke Bogor untuk kuliah, menikah, dan membangun rumah tangga.

     

    —

     

    *SEPERCIK PERJUANGAN #8*  

    *Dipecat dari Kepanitiaan Ospek, Tapi Kemudian Diangkat Kembali*

     

    Ini kisahnya terjadi saat saya masih kuliah.  

    Semester 6 atau 7, saya agak lupa. 

     

    Saat itu saya sudah masuk dalam kepanitiaan Ta’aruf Mahasiswa Baru.  

    keterlibatan saya karena saya Ketua Keputrian Kerohanian.  

    Tapi saya jarang sekali hadir dalam rapat-rapat persiapan.

     

    Kenapa?  

    Karena saya justru sedang sibuk mempersiapkan undangan dari sahabat baik saya, Yudith.  

    Beliau sudah diboyong suaminya ke Kalimantan Timur kemudian berkirim surat dan mengajak saya untuk main ke rumahnya.

    Saya berpikir, “Ini kesempatan. Liburan… mana pulangnya dibayarin naik pesawat lagi. Kapan lagi coba?”

     

    Jadi dari sebelum liburan, fokus saya bukan ke urusan kepanitiaan.  

    Tapi fokus memikirkan bagaimana caranya bisa berangkat ke Kalimantan.

     

    Dan benar saja…  

    Saya menikmati perjalanan panjang: Bogor – Jakarta – Surabaya – Kalimantan.  

    Kurang lebih 26 hari saya habiskan untuk liburan itu.

     

    Akhirnya, turunlah keputusan bahwa

    saya diberhentikan dari kepanitiaan Ta’aruf Maba.  

    Surat pemberhentiannya saya terima setelah saya kembali ke kampus.

     

    “Oh ya sudah, tidak apa-apa,” kata saya.  

    Saya terima. Karena memang ini salah saya.

     

    Namun tidak berapa lama kemudian, saya dikontak lagi.  

    “Teh Dini, maaf ya… Teteh diangkat lagi jadi panitia.  

    Lagi butuh orang untuk jagain Maba yang dirawat di RS. Teteh ya, tolong jagain.”

     

    “Oh begitu? Ya sudah, boleh.”  

    Akhirnya saya laksanakan tugas menjaga Maba di RS.

     

    MasyaaAllah…  

    Yang dipecat karena “kabur liburan”  

    diangkat lagi karena Allah butuh saya di tempat lain.

     

    Ternyata tidak ada yang sia-sia.  

    Teguran itu ada. Tapi kasih sayang dan kepercayaan Allah juga ada.

     

    —

     

    *SEPERCIK PERJUANGAN #8*  

    *Ijab Dulu, Ijazah Kemudian*

     

    Siapa yang akan tahu kalau alur kisah hidup akan seperti ini.  

    Kuliah belum lulus, keburu dilamar orang.  

    Ya sudah… kita ikuti saja alur kisah dari Allah.

     

    Ceritanya sungguh unik.  

    Berawal dari keinginan saya membantu sahabat, untuk menemui seorang pemuda.  

    Yang ternyata… pemuda itu justru bakal jadi suami saya.  

    Tujuannya cuma satu: mau ditanyakan kenapa tidak datang lagi melanjutkan proses ta’arufnya.

     

    Alih-alih saya yang menyampaikan…  

    Justru malah saya yang dipanggil oleh guru saya untuk datang ke rumahnya.

     

    Hari itu saya baru selesai sholat istikharah hari ke-7.  

    Saya bilang ke Allah,  

    _”Ya Allah… jika besok ada yang mau meminang, maka InsyaaAllah jawaban saya: Siap.”_

     

    Dan itu pula jawaban yang saya sampaikan ketika guru saya bertanya:  

    _”Dini, ini ada yang mau melamar Dini, bagaimana?”_  

    Saya langsung jawab, _”InsyaaAllah siap.”_  

    Seperti janji saya kepada Allah tadi malam.

     

    Saking groginya, saya sampai lupa menanyakan siapa orangnya.  

    Guru bertanya lagi, _”Nggak mau tahu orangnya siapa?”_  

    “Oh… eh… iya siapa memang?”  

    Disebutlah sebuah nama.  

    “Ohh… iya saya tahu.”

     

    Langsung saya bawa biodatanya ke Bapak dan Ibu di rumah.  

    Dan ternyata…  

    Orang tua memang baru saja ngobrol.  

    “Gimana ya kalau Dini ada yang melamar?” kata Ibu.  

    Lalu Bapak menjawab, _”Ya sudah, silakan saja.”_

     

    MasyaaAllah…  

    Kontak batin ternyata. Nyambung rupanya ya.

     

    Ya sudah. Bapak Ibu sudah menerima.  

    Bisa dilanjutkan. Kami bertemu di rumah guru sekali.  

    Lanjut calon datang ke rumah menemui orang tua.  

    Lalu calon membawa keluarganya ke rumah untuk silaturahmi.  

    Sekaligus membawa seserahan dan membahas waktu untuk hari H.

     

    Semuanya begitu cepat.  

    *Nopember lamaran, bahas waktu hari H.*  

    Dan diputuskanlah: *Ahad, 13 Desember 1998.*

     

    Kurang lebih 1 bulan persiapan.  

    Dan Alhamdulillah Allah mudahkan semuanya.

     

    —

     

    *SEPERCIK PERJUANGAN #9*  

    *Penelpon di Malam Sebelum Pernikahan*

     

    Saat waktu hari H hampir tiba…  

    Rasa haru, takjub, bercampur dengan persiapan yang sangat singkat.

     

    Saya yang biasanya jadi ketua panitia pernikahan orang…  

    Hari itu malah bingung sendiri.  

    “Ini siapa yang mau nikah ya? Saya harus kerjain apa nih?  

    Ahh… bingung pokoknya.”

     

    Jelang sore harinya, telepon di rumah berdering.  

    Saya yang mengangkatnya.  

    Dari seberang, suara seorang laki-laki.

     

    Dan saya mengenali suaranya.  

    Seorang teman seangkatan.

     

    Dia hanya mengatakan,  

    _”Maafkan saya ya…”_

     

    Awalnya saya cukup bingung.  

    “Ada apa? Anda salah apa?”  

    Tapi karena lawan jenis, saya tidak mau berpanjang lebar ngobrol juga.  

    Akhirnya saya bisa menebak arahnya.

     

    Jadi dipercepat saja.  

    “Ya… sama-sama, mohon maaf jika selama interaksi membuat kotor hati.”  

    Langsung saya ucapkan salam dan tutup telepon.

     

    Sungguh… harusnya tidak perlu dilakukan.  

    Justru dengan begitu saya jadi tahu isi hati orang itu.

     

    Tapi Alhamdulillah…  

    Allah jaga. Allah kuatkan.  Malam itu saya tetap menguatkan hati untuk tetap melangkah ke pelaminan esok harinya, dengan tenang dan penuh kebahagiaan.

     

    —

     

    *SEPERCIK PERJUANGAN #10*  

    *Menautkan 2 Hati*

     

    Tugas saya yang utama setelah prosesi pernikahan berlangsung adalah…  

    *Menautkan hati dengan hati.*

     

    2 orang yang mengawali pernikahan tanpa ada rasa.  

    Bahkan belum mengenal karakter, sifat masing-masing.  

    Ini jadi bagian paling penting dalam proses membangun Rumah Tangga kami.

     

    2 karakter berbeda bersatu.  

    Harus ditemukan kliknya.  

    Harus saling menahan diri.  

    Menurunkan ego masing-masing.  

    Hingga akhirnya kedewasaan mental dan jiwa mulai bisa mengontrol ego, ambisi, dan hawa nafsu.

     

    *5 tahun awal* merupakan waktu yang tidak mudah.  

    Tapi Alhamdulillah akhirnya bisa terlewati juga.

     

    *10 tahun perjalanan*, mulai menemukan titik aman bagi keduanya.

     

    *26 tahun berlalu*, sudah mulai dewasa dalam bertindak.  

    Tidak lagi mengedepankan emosi, amarah saat menemukan perbedaan.

     

    Semoga Allah jaga terus kami.  

    Sampai tua bersama, hingga Jannah Nya kelak.

    Aamiin.

     

    —

     

    *PERCIKAN PERJUANGAN #11*  

    *Dari Pondok Mertua Indah ke Rumah Sendiri*

     

    Awal menikah kami tinggal di *Pondok Mertua Indah*.  

    Bersama dalam 1 atap ada 3 keluarga.  

    Banyak gesekan-gesekan terjadi…  

    Tapi Alhamdulillah semua bisa dilalui dengan baik.

     

    Saya sempat dibawa ke *Serang, Banten*.  

    Tinggal di mess kantor saat itu.  

    Tapi tidak lama. Sekitar 1 bulanan,  

    saya dibawa kembali ke Bogor.

     

    Kemudian saya ngajar TK saat usia putri pertama 6 bulanan.  

    Dengan alasan biar dekat dengan tempat ngajar,  

    saya ajak suami untuk merantau.  

    Ngontrak rumah dekat dengan sekolah.  

    Jauh dari Pondok Mertua Indah.

     

    Dan kami belajar mandiri.  

    *Hanya ada engkau, aku, dan putri kita.*

     

    3 tahun ngontrak di *Kampung Cikalang*.  

    Lalu pindah ke sebrang jalan raya, *Gg. Haur*.  

    Di sini pun hanya sekitar 3 tahunan.

     

    Kemudian kami pindah ke *Ciawi lagi*.  

    Tapi kali ini ke *rumah sendiri*.  

    Meski saat itu belum sepenuhnya rapi.  

    Tapi itu rumah pertama kami.  

    Hasil keringat kami berdua.

     

     

    Kreator : Dini Siti Multiah (Dini S Multiah)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab 2 : Sepercik Perjuangan

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021