Gudang itu sebenarnya bukan tempat terlarang. Sekolah masih menggunakannya untuk menyimpan kursi patah, meja yang perlu diperbaiki, atau barang-barang lama yang sudah tidak terpakai. Namun karena jarang dibuka, pintunya hampir selalu terkunci.
Hari itu pun sama.
Rantai melilit gagang pintu, dan gemboknya menggantung rapat.
Harusnya aman.
Namun saat Raka mendekat, udara di sekitarnya justru terasa semakin dingin.
Bayu menyusul beberapa langkah di belakang. “Rak, jangan lama-lama—”
Raka jongkok untuk mengambil bola. Namun tepat ketika ia menunduk, terdengar suara berderit pelan dari arah pintu gudang.
Kreeeek…
Raka membeku. Itu bukan suara gembok yang bergerak, bukan pula bunyi rantai yang bergeser. Suara itu terdengar seperti kayu tua yang perlahan terbuka.
Padahal angin hampir tidak ada.
Dan pintu itu masih tertutup.
Raka menahan napas.
Bayu juga berhenti bicara.
Raka meraih bola. Ujung jarinya menyentuh permukaan bola yang dingin dan sedikit kotor.
Lalu seketika, dunia seperti bergeser.
Suara lapangan menghilang, tertutup sesuatu yang tebal seperti kaca. Tawa anak-anak terdengar jauh. Peluit Pak Damar berubah seperti bunyi dari bawah air.
Warna di sekeliling Raka memudar.
Langit mendung yang tadi kelabu mendadak kusam seperti foto lama.
Kecuali satu hal.
Merah senja.
Di sudut pandangnya, hari itu seolah sudah berubah menjadi sore, jam-jam terakhir sebelum sekolah benar-benar sepi. Cahaya matahari rendah memanjang di tanah, membuat bayangan pagar dan pohon angsana terentang seperti garis-garis panjang yang menyeramkan.
Raka mengangkat tangannya, lalu napasnya tercekat.
Tangan itu bukan tangannya.
Lebih kecil. Lebih kurus. Kulitnya pucat. Di pergelangannya ada bekas merah samar, seperti cubitan yang belum lama terjadi.
“Nining…”
Suara itu datang lembut dan hangat.
Bukan dari telinga.
Langsung dari dalam kepala.
“Nining… sini, Nak… Ibu kangen…”
Jantung Raka menghentak.
Pintu gudang di depannya berderit pelan, lalu terbuka sedikit. Dari celah gelap itu keluar bau logam basah yang menusuk, seperti besi lama yang baru terkena hujan.
Raka ingin mundur.
Ia ingin berbalik dan berlari kembali ke lapangan.
Namun tubuh kecil itu tidak mengikuti keinginannya.
Kakinya justru melangkah perlahan memasuki gudang.
Setiap langkah membawa perasaan yang semakin asing. Bukan takut. Bukan juga penasaran.
Melainkan rindu.
Rindu yang begitu dalam sampai membuat dadanya terasa sesak, seperti seorang anak yang sudah lama menunggu pelukan ibunya.
Di pojok gelap gudang, berdiri sosok perempuan.
Gaun panjangnya lusuh. Rambut hitamnya terurai menutupi sebagian wajah. Tangannya terulur perlahan, seperti meminta anak kecil di depannya mendekat.
“Ayo… peluk Ibu…”
Matanya tiba-tiba terasa panas. Raka tidak ingin menangis, tetapi tubuh kecil itu seperti membawa kesedihan sendiri.
“Ibu…?”
Suara yang keluar bukan suara Raka.
Suara anak perempuan.
Lalu, di belakang rak besi, retakan dinding berkilau.
Biru-hitam.
Tipis seperti permukaan air yang berputar pelan.
Dari kilau itu, sesuatu menjulur cepat. Asap pekat, seperti tangan yang terbuat dari bayangan, menangkap pergelangan tangan kecil itu.
Lalu menariknya.
Dunia mendadak miring.
“Tidaakkk—!”
Teriakan itu pecah, tajam, lalu—
“RAKA!”
Suara Bayu menghantam telinga Raka seperti pintu dibanting.
Raka tersentak. Napasnya putus-putus. Dunia kembali normal: mendung kembali mendung, rumput kembali hijau kotor, dan lapangan kembali berisik.
Ia masih jongkok di dekat semak.
Bola tenis ada di tangannya.
Tangannya sendiri.
Namun telapak tangannya dingin seperti habis memegang es.
Bayu sudah berdiri di sampingnya dengan wajah panik. Satu tangannya mencengkeram bahu Raka, menahannya agar tidak jatuh.
“Kamu kenapa? Rak, serius, kamu tadi bengong lama banget!” bisik Bayu cepat. “Aku panggil-panggil nggak nyahut!”
Raka menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering.
Ia menatap pintu gudang.
Rantai masih melilit gagang. Gemboknya masih menggantung rapat. Tidak ada perempuan. Tidak ada retakan biru-hitam. Tidak ada apa-apa selain kayu tua yang lembap dan dingin yang menempel di udara.
Bayu ikut menoleh, lalu merapatkan bibir. “Ih… merinding, sumpah.”
Raka memaksa berdiri. Lututnya lemas, seperti habis lari jauh padahal tidak.
Daun angsana di atas mereka bergoyang pelan. Satu helai daun yang sudah menguning jatuh, lalu berhenti di rumput tanpa suara.
Dari lapangan, suara Pak Damar terdengar.
“Raka! Bayu! Bolanya ketemu?! Balik sini!”
Bayu menarik lengan Raka pelan, lebih hati-hati dari biasanya. “Ayo, Rak. Balik dulu.”
Raka mengangguk, tetapi dadanya masih terasa sesak.
Saat mereka berjalan menjauh, di sudut pandangnya terlihat kilau keemasan samar di bayangan batang angsana.
Aji.
Raka tidak berani menoleh jelas, tetapi bisikan itu datang lebih pelan dari angin.
Itu cuma gema.
Raka menarik napas pelan.
Aku menahan tarikannya, lanjut Aji, tenang tetapi serius. Makanya kamu cuma melihat… bukan ditarik masuk.
Bayu menyenggol bahu Raka pelan. Suaranya menurun, kali ini benar-benar serius.
“Rak… kamu pucat. Kamu beneran nggak apa-apa?”
Raka ingin bilang bahwa barusan ia seperti menjadi orang lain, tetapi kata-kata itu terlalu aneh untuk keluar.
“Aku…” Ia menunduk sebentar. “Cuma pusing.”
Bayu menatapnya beberapa detik, seperti tidak sepenuhnya percaya. Namun akhirnya ia mengangguk pelan.
“Kalau kamu takut, bilang aja,” katanya lirih. “Aku juga merinding di sana tadi.”
Raka hanya diam. Ia lalu menoleh ke arah gudang di belakangnya yang mulai menjauh. Rasa sedih dan bingung itu belum hilang, seperti ada bagian dari seseorang yang tertinggal di dalam dirinya.
Kreator : Rukmana Gautama (RG Gotama)
Comment Closed: Bab 25 – Gema Di Gudang Sekolah
Sorry, comment are closed for this post.