KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab 25 – Gema Di Gudang Sekolah

    Bab 25 – Gema Di Gudang Sekolah

    BY 05 Sep 2026 Dilihat: 2 kali
    Awal Masuk Kelas_alineaku

    Gudang itu sebenarnya bukan tempat terlarang. Sekolah masih menggunakannya untuk menyimpan kursi patah, meja yang perlu diperbaiki, atau barang-barang lama yang sudah tidak terpakai. Namun karena jarang dibuka, pintunya hampir selalu terkunci. 

    Hari itu pun sama.

    Rantai melilit gagang pintu, dan gemboknya menggantung rapat.

    Harusnya aman.

    Namun saat Raka mendekat, udara di sekitarnya justru terasa semakin dingin.

    Bayu menyusul beberapa langkah di belakang. “Rak, jangan lama-lama—”

    Raka jongkok untuk mengambil bola. Namun tepat ketika ia menunduk, terdengar suara berderit pelan dari arah pintu gudang.

    Kreeeek…

    Raka membeku. Itu bukan suara gembok yang bergerak, bukan pula bunyi rantai yang bergeser. Suara itu terdengar seperti kayu tua yang perlahan terbuka.

    Padahal angin hampir tidak ada.

    Dan pintu itu masih tertutup.

    Raka menahan napas.

    Bayu juga berhenti bicara.

    Raka meraih bola. Ujung jarinya menyentuh permukaan bola yang dingin dan sedikit kotor.

    Lalu seketika, dunia seperti bergeser.

    Suara lapangan menghilang, tertutup sesuatu yang tebal seperti kaca. Tawa anak-anak terdengar jauh. Peluit Pak Damar berubah seperti bunyi dari bawah air.

    Warna di sekeliling Raka memudar.

    Langit mendung yang tadi kelabu mendadak kusam seperti foto lama.

    Kecuali satu hal.

    Merah senja.

    Di sudut pandangnya, hari itu seolah sudah berubah menjadi sore, jam-jam terakhir sebelum sekolah benar-benar sepi. Cahaya matahari rendah memanjang di tanah, membuat bayangan pagar dan pohon angsana terentang seperti garis-garis panjang yang menyeramkan.

    Raka mengangkat tangannya, lalu napasnya tercekat.

    Tangan itu bukan tangannya.

    Lebih kecil. Lebih kurus. Kulitnya pucat. Di pergelangannya ada bekas merah samar, seperti cubitan yang belum lama terjadi.

    “Nining…”

    Suara itu datang lembut dan hangat.

    Bukan dari telinga.

    Langsung dari dalam kepala.

    “Nining… sini, Nak… Ibu kangen…”

    Jantung Raka menghentak.

    Pintu gudang di depannya berderit pelan, lalu terbuka sedikit. Dari celah gelap itu keluar bau logam basah yang menusuk, seperti besi lama yang baru terkena hujan.

    Raka ingin mundur.

    Ia ingin berbalik dan berlari kembali ke lapangan.

    Namun tubuh kecil itu tidak mengikuti keinginannya.

    Kakinya justru melangkah perlahan memasuki gudang.

    Setiap langkah membawa perasaan yang semakin asing. Bukan takut. Bukan juga penasaran.

    Melainkan rindu.

    Rindu yang begitu dalam sampai membuat dadanya terasa sesak, seperti seorang anak yang sudah lama menunggu pelukan ibunya.

    Di pojok gelap gudang, berdiri sosok perempuan.

    Gaun panjangnya lusuh. Rambut hitamnya terurai menutupi sebagian wajah. Tangannya terulur perlahan, seperti meminta anak kecil di depannya mendekat.

    “Ayo… peluk Ibu…”

    Matanya tiba-tiba terasa panas. Raka tidak ingin menangis, tetapi tubuh kecil itu seperti membawa kesedihan sendiri.

    “Ibu…?”

    Suara yang keluar bukan suara Raka.

    Suara anak perempuan.

    Lalu, di belakang rak besi, retakan dinding berkilau.

    Biru-hitam.

    Tipis seperti permukaan air yang berputar pelan.

    Dari kilau itu, sesuatu menjulur cepat. Asap pekat, seperti tangan yang terbuat dari bayangan, menangkap pergelangan tangan kecil itu.

    Lalu menariknya.

    Dunia mendadak miring.

    “Tidaakkk—!”

    Teriakan itu pecah, tajam, lalu—

    “RAKA!”

    Suara Bayu menghantam telinga Raka seperti pintu dibanting.

    Raka tersentak. Napasnya putus-putus. Dunia kembali normal: mendung kembali mendung, rumput kembali hijau kotor, dan lapangan kembali berisik.

    Ia masih jongkok di dekat semak.

    Bola tenis ada di tangannya.

    Tangannya sendiri.

    Namun telapak tangannya dingin seperti habis memegang es.

    Bayu sudah berdiri di sampingnya dengan wajah panik. Satu tangannya mencengkeram bahu Raka, menahannya agar tidak jatuh.

    “Kamu kenapa? Rak, serius, kamu tadi bengong lama banget!” bisik Bayu cepat. “Aku panggil-panggil nggak nyahut!”

    Raka menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering.

    Ia menatap pintu gudang.

    Rantai masih melilit gagang. Gemboknya masih menggantung rapat. Tidak ada perempuan. Tidak ada retakan biru-hitam. Tidak ada apa-apa selain kayu tua yang lembap dan dingin yang menempel di udara.

    Bayu ikut menoleh, lalu merapatkan bibir. “Ih… merinding, sumpah.”

    Raka memaksa berdiri. Lututnya lemas, seperti habis lari jauh padahal tidak.

    Daun angsana di atas mereka bergoyang pelan. Satu helai daun yang sudah menguning jatuh, lalu berhenti di rumput tanpa suara.

    Dari lapangan, suara Pak Damar terdengar.

    “Raka! Bayu! Bolanya ketemu?! Balik sini!”

    Bayu menarik lengan Raka pelan, lebih hati-hati dari biasanya. “Ayo, Rak. Balik dulu.”

    Raka mengangguk, tetapi dadanya masih terasa sesak.

    Saat mereka berjalan menjauh, di sudut pandangnya terlihat kilau keemasan samar di bayangan batang angsana.

    Aji.

    Raka tidak berani menoleh jelas, tetapi bisikan itu datang lebih pelan dari angin.

    Itu cuma gema.

    Raka menarik napas pelan.

    Aku menahan tarikannya, lanjut Aji, tenang tetapi serius. Makanya kamu cuma melihat… bukan ditarik masuk.

    Bayu menyenggol bahu Raka pelan. Suaranya menurun, kali ini benar-benar serius.

    “Rak… kamu pucat. Kamu beneran nggak apa-apa?”

    Raka ingin bilang bahwa barusan ia seperti menjadi orang lain, tetapi kata-kata itu terlalu aneh untuk keluar.

    “Aku…” Ia menunduk sebentar. “Cuma pusing.”

    Bayu menatapnya beberapa detik, seperti tidak sepenuhnya percaya. Namun akhirnya ia mengangguk pelan.

    “Kalau kamu takut, bilang aja,” katanya lirih. “Aku juga merinding di sana tadi.”

    Raka hanya diam. Ia lalu menoleh ke arah gudang di belakangnya yang mulai menjauh. Rasa sedih dan bingung itu belum hilang, seperti ada bagian dari seseorang yang tertinggal di dalam dirinya.

     

     

    Kreator : Rukmana Gautama (RG Gotama)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab 25 – Gema Di Gudang Sekolah

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021