Sore itu sekolah mulai sepi. Sebagian besar murid sudah pulang—langkah-langkah mereka menghilang di balik gerbang depan, menyisakan hembusan angin yang membawa sisa tawa mereka menjauh. Di koridor panjang tinggal terdengar suara sapu yang menyeret lantai dan dentingan kunci di tangan Pak Maman.
Ia berjalan pelan, memeriksa setiap kelas sebelum dikunci. Bau kapur tulis dan debu bercampur dengan aroma daun angsana dari halaman belakang. Sekolah ini sudah seperti rumah keduanya—dan juga tempat yang, entah kenapa, tidak pernah benar-benar tenang.
“Dari dulu memang begitu,” pikirnya. “Siang ramai, tapi sore… ada yang lain.”
Pak Maman mendorong troli berisi ember dan peralatan kebersihan menuju gudang belakang. Cahaya matahari menembus jendela-jendela tinggi, memantul di lantai seperti serpihan emas yang perlahan memudar. Begitu pintu gudang dibuka, aroma kayu lembap langsung menyergap hidungnya.
Di dalam, meja dan kursi rusak masih bertumpuk tak beraturan. Di sela-selanya tampak batang-batang lidi berserakan membentuk setengah lingkaran.
Pak Maman menghela napas sambil menggeleng pelan.
“Ya ampun… main jailangkung lagi.”
Ia berjongkok, memunguti satu per satu lidi itu lalu memasukkannya ke dalam ember plastik.
Bukan pertama kali ia menemukan hal seperti ini. Sudah beberapa tahun belakangan anak-anak diam-diam bermain pemanggil arwah di gudang itu. Entah siapa yang mengajari, ia sendiri tidak pernah tahu. Yang jelas, setiap kali permainan itu muncul, suasana sekolah selalu berubah menjadi aneh. Lampu sering mati sebentar tanpa sebab, suara langkah kaki terdengar di koridor malam hari padahal tak ada siapa-siapa, dan pohon angsana di belakang gudang bergoyang pelan meski udara sedang diam.
Padahal setiap sore pintu gudang selalu ia kunci rapat.
Namun entah bagaimana, anak-anak itu tetap bisa masuk. Pak Maman pernah memergoki mereka keluar melalui jendela samping yang engselnya sudah longgar. Kuncinya memang masih terpasang, tetapi daun jendela itu bisa didorong dari luar kalau tahu caranya.
Ia menatap jendela tua yang dipenuhi debu. Tirainya bergoyang perlahan tertiup angin sore.
“Dasar bocah-bocah. Pintu dikunci pun masih bisa nemu jalan.”
Pak Maman baru saja hendak menyapu lagi ketika gerakannya terhenti. Suara sapunya yang bergesekan dengan lantai tiba-tiba terdengar terlalu keras di telinganya, lalu ruangan mendadak hening. Bahkan suara angin di luar pun seperti ikut menghilang.
Di atas lemari tua di sudut kanan tergeletak sebuah jam berbingkai kayu. Jarumnya sudah berhenti di angka lima lewat dua belas, tetapi entah kenapa, di tengah kesunyian itu terdengar denting pelan, seolah jam tersebut masih berdetak dari tempat lain.
Tik… tak… tik… tak…
Pak Maman menarik napas perlahan. Ia tahu jam itu sudah mati bertahun-tahun lalu, tetapi suara detaknya sering muncul setiap menjelang senja. Kadang cepat. Kadang lambat. Seolah ada seseorang yang diam-diam masih berada di dalam gudang itu.
Ia menoleh ke sudut gudang.
Di antara tumpukan kursi rusak, seperti ada sesuatu yang bergerak. Bayangan kecil… lalu lenyap.
“Halo?” panggilnya pelan.
Tak ada jawaban.
Ia melangkah mendekat sambil menyingkirkan sebuah meja patah yang menghalangi pandangan. Sesaat kemudian, sekelebat kain putih melintas di balik tumpukan barang menuju pintu samping gudang.
Pak Maman terpaku.
Jantungnya berdegup lebih cepat.
“Anak itu lagi…” gumamnya nyaris tak terdengar.
Sudah beberapa kali ia melihat sosok yang sama. Gadis kecil berambut sebahu dengan seragam sekolah yang mulai kusam. Kadang berdiri diam di bawah pohon angsana, kadang berjalan sendirian melintasi lapangan ketika sekolah sudah kosong.
Setiap kali sosok itu muncul, ingatan Pak Maman selalu kembali ke sore bertahun-tahun yang lalu.
Sekitar setengah jam sebelum lonceng pulang berbunyi, Pak Doni datang tergopoh-gopoh ke pos jaga dengan wajah pucat.
“Pak Maman! Cepat ke gudang belakang! Ada siswa yang hilang!”
Pak Maman spontan berdiri.
“Ha? Siswa hilang?”
Tanpa banyak bertanya, ia segera berlari menuju gudang belakang.
Semakin dekat ke sana, semakin ramai suara guru-guru memanggil nama seorang siswi.
“Nining!”
“Nining!”
Kepala sekolah langsung menghampirinya.
“Pak Maman, tolong periksa sampai ke belakang!”
Seluruh guru menyisir setiap sudut sekolah hingga malam tiba.
Namun yang mereka temukan hanyalah sebuah bola kecil dan pita merah di dalam gudang.
Tak ada jejak kaki.
Tak ada tanda perlawanan.
Seolah Nining benar-benar lenyap begitu saja.
Sejak hari itu, setiap senja tiba, sekolah ini tidak pernah lagi terasa sama.
Pak Maman menarik napas panjang. Kenangan itu perlahan memudar, berganti dengan suasana gudang yang kembali sunyi.
Pandangannya jatuh ke arah jendela. Pohon angsana di kejauhan bergoyang pelan diterpa angin sore.
“Ya Allah…” bisiknya lirih. “Jangan sampai kejadian itu terulang lagi.”
Ia menutup pintu gudang perlahan lalu mendorong troli kembali ke arah pos jaga.
Baru beberapa langkah berjalan, matanya menangkap dua sosok kecil di ujung lapangan yang ternyata belum pulang. Keduanya menghampiri sambil membawa sebuah kardus.
“Pak Maman?” sapa anak yang di depan.
Pak Maman menyipitkan mata sejenak sebelum tersenyum.
“Oh… Bayu. Tumben belum pulang. Ini temanmu?”
“Iya, Pak Maman. Ini Raka.”
“Saya Raka, Pak. Kami dari kelas 3B.”
“Oh, Raka.” Pak Maman mengangguk pelan. “Ada apa datang ke sini sore-sore?”
Raka dan Bayu saling berpandangan sesaat.
“Kami disuruh Bu Rani, Pak. Sebelum pulang beliau nitip alat peraga yang rusak ini buat ditaruh di gudang. Katanya nanti mau diambil tukang sekolah buat diperbaiki.”
Ia menunjuk kardus berisi bola dunia yang kaki penyangganya patah serta beberapa kabel kecil.
Pak Maman mengangguk pelan.
“Oh, gitu. Ya sudah, taruh aja di dalam. Tapi cepat, ya. Udah mulai senja.”
Ia membuka kembali pintu gudang yang belum sempat dikunci. Pintu kayu itu berderit pelan, mengeluarkan aroma kayu lembap yang khas.
“Jangan lama-lama,” tambahnya.
“Iya, Pak. Cuma sebentar kok,” sahut Raka.
Pak Maman hendak ikut masuk, tetapi tiba-tiba ia menepuk perutnya sambil meringis kecil.
“Nak Raka, Pak Maman ke toilet dulu sebentar, ya. Namanya juga orang tua… tangkinya udah bocor.”
Raka mengangguk sopan, sementara dalam hati ia tersenyum kecil.
Kebetulan juga, pikirnya. Bisa lihat gudang tanpa banyak ditanya.
“Nanti pintunya ditutup aja, ya,” kata Pak Maman sambil melangkah pergi. Ia sempat menoleh. “Dan hati-hati di dalam.”
Bayu mengangguk sambil menelan ludah, sementara langkah Pak Maman perlahan menjauh hingga akhirnya menghilang di balik koridor. Gudang kembali sunyi. Angin sore berembus pelan lewat jendela tua, membawa aroma kayu lembap bercampur debu.
Raka menatap pintu yang masih terbuka setengah, sedangkan Bayu tanpa sadar merapat sambil memeluk kardus di tangannya.
“Rak… taruh di sini aja, yuk,” katanya pelan. “Aku merinding, nih.”
Raka baru saja hendak menjawab.
Tiba-tiba terdengar suara…
Kreeeek…
Mereka berdua membeku.
Kreator : Rukmana Gautama (RG Gotama)
Comment Closed: Bab 28 – Pak Maman dan Siswi Yang Hilang
Sorry, comment are closed for this post.