Seusai sholat Isya, mereka berkumpul di ruang keluarga. Tawa kecil dan obrolan santai memenuhi rumah. Dari dapur terdengar bunyi air mengalir dan piring beradu pelan. Mama masih membereskan sisa makan malam.
Sekar sama sekali tidak mau lepas dari Papa. Ke mana pun Papa melangkah, ia ikut sambil terus minta digendong. Farah juga tidak kalah heboh. Dari tadi ia bercerita tanpa jeda tentang teman-teman di sekolahnya: Vina yang selalu baik, Gio yang paling usil, dan Bu Indah—guru mereka yang cantik, tapi tegas.
Papa mengangguk-angguk sambil memasang wajah serius, seolah sedang menerima laporan penting. Padahal pipinya terus dicolek Sekar sampai ia hampir menyerah menahan tawa.
“Terus… Gio ngapain lagi?” tanya Papa.
“Gio itu…” Farah melotot, lalu menurunkan suara seolah hendak membocorkan rahasia besar. “Dia suka banget nyembunyiin penghapus orang, Pa. Hari ini dia nyembunyiin penghapusnya Indah. Kasihan Indah, dia sampai nangis, loh.”
Tiba-tiba Farah teringat sesuatu.
“Ma, bintang Farah tadi Mama taruh di mana? Farah mau tunjukin ke Papa.”
Suara Mama menyahut dari dapur.
“Mama taruh di laci depan tas kamu kok, Mbak. Di kamar. Coba cek.”
Tak lama kemudian Mama keluar sambil mengeringkan tangan, lalu duduk di samping Papa.
“Wah, hebat anak Papa,” katanya bangga sambil menggenggam tangan Mama. “Tadi dapat penghargaan apa dari Bu Guru?”
“Tadi meja Farah yang paling rapi, Pa… bentar ya, Farah ambil dulu!”
Farah bergegas naik ke kamarnya di lantai dua.
Langkahnya terdengar cepat di tangga.
Dup… dup… dup…
Tak lama kemudian terdengar pintu kamarnya dibuka.
Ruang tengah kembali tenang. Tinggal napas Sekar yang mulai pelan dan dengung kipas angin yang berputar malas.
Raka duduk bersandar di sofa. Dari tempatnya, ia melihat Papa duduk di sofa panjang sambil memangku Sekar yang mulai mengantuk. Boneka kecil masih dipeluk erat di dada adiknya itu.
Raka memandang mereka bergantian.
Tawa Farah masih seperti tertinggal di telinganya. Mama sudah selesai dari dapur. Papa mengusap punggung Sekar pelan agar cepat terlelap.
Rasanya… Raka ingin malam seperti ini berlangsung lebih lama.
Tapi tetap saja, di balik hangatnya rumah malam itu, rasa sedih dan putus asa yang dibawa dari gudang masih tertinggal di dada Raka.
“Rak, kamu kok melamun?” tanya Mama lembut.
Raka cepat-cepat menggeleng sambil memaksakan senyum.
Papa menoleh, lalu menepuk sofa kosong di sebelahnya.
“Sini. Duduk deket Papa.”
Raka bergeser pelan. Saat duduk, boneka Ami hampir terlepas dari pelukan Sekar. Ia refleks menangkapnya sebelum jatuh.
“Hai, Ami,” gumamnya sambil tersenyum.
Sekar membuka mata sebentar, mengambil kembali bonekanya, lalu kembali menyandar di dada Papa.
Papa mengusap punggung Sekar perlahan. Sesekali ia mencium kening putri kecilnya yang hampir tertidur. Mama memandang mereka sambil tersenyum tipis.
“Udah ngantuk banget dia,” bisiknya.
“Iya,” jawab Papa pelan. “Nempel terus dari tadi.”
Mama terkikik kecil, lalu tanpa sadar menyandarkan bahunya ke bahu Papa. Papa hanya tersenyum dan sedikit memiringkan tubuhnya agar Mama lebih nyaman.
Raka memperhatikan semuanya dalam diam.
Tidak ada kata-kata manis. Tidak ada pelukan yang berlebihan. Tapi dari hal-hal kecil itu, ia tahu Papa dan Mama saling menyayangi.
Mama menoleh ke arahnya.
“Kamu tadi capek banget ya, Nak?”
“Iya, Ma.”
Mama bergeser sedikit, memberi ruang di antara mereka.
“Sini, duduk di tengah aja.”
Raka menurut. Mama merapikan ujung kausnya yang terlipat, sementara Papa menepuk pelan kepalanya.
“Sekolah gimana?” tanya Papa.
“Biasa.”
Papa menggenggam tangan Raka sebentar, lalu kembali menepuk-nepuk punggung Sekar yang sudah benar-benar terlelap.
Raka menarik napas pelan.
Untuk beberapa saat, bayangan gudang itu terasa menjauh. Yang tersisa hanya hangatnya rumah dan keluarganya.
***
Gelap.
Lalu perlahan muncul cahaya kuning yang lembut, seperti lampu ruang tengah yang baru dinyalakan menjelang malam.
Raka berdiri di tempat yang asing. Aroma nasi baru matang dan ikan goreng memenuhi udara.
Di ruang tengah, seorang perempuan sedang merapikan piring di meja makan. Gerakannya tenang, seolah tidak sedang mengejar waktu. Wajahnya teduh, dengan senyum yang mudah muncul setiap kali memandang ke arah seorang anak perempuan kecil yang berlari-lari di dekatnya.
Anak itu mengenakan pita merah cerah di rambutnya.
“Ibu liat!” serunya sambil melompat kecil. “Nining bisa!”
Perempuan itu tertawa.
“Iya… iya. Pintar. Tapi pelan-pelan, nanti jatuh.”
Nining.
Raka langsung mengenali pita merah itu.
Jadi… gadis kecil itu benar-benar Nining.
Entah kenapa dada Raka tiba-tiba terasa sesak.
Padahal keluarga itu sedang tertawa bersama.
Pintu depan terbuka.
Seorang laki-laki masuk sambil membawa tas kerja. Wajahnya tampak lelah, tetapi begitu melihat ruang tengah, senyumnya langsung mengembang.
“Ayah pulang!”
Nining berlari sekencang-kencangnya lalu memeluk pinggang ayahnya.
Ayahnya tertawa kecil, mengangkat tubuh Nining, lalu memutarnya perlahan. Pita merah di rambut Nining berkibar, sementara tawanya memenuhi ruang tengah.
Ibunya menghampiri sambil tersenyum.
“Kamu makan dulu,” katanya lembut. “Aku masakin yang kamu suka.”
Ayah mengangguk.
“Aku kangen masakan kamu.”
Nining langsung menyela.
“Nining juga bisa masak, Ayah!”
Ibunya terkekeh.
“Oh iya? Masaknya Nining… air putih, ya?”
Nining mengembungkan pipinya.
“Nanti kalau Nining sudah besar, Nining mau pintar masak kayak Ibu!”
Mereka bertiga tertawa bersama.
Raka hanya berdiri memandangi mereka. Tanpa sadar, sudut bibirnya ikut terangkat. Rasanya hangat sekali melihat keluarga itu.
Tak lama kemudian, ibu Nining mengambil sisir kecil.
Ia merapikan rambut putrinya pelan-pelan, lalu membetulkan pita merah yang sedikit miring.
“Nih,” katanya sambil tersenyum. “Biar cantik.”
Nining memandangi dirinya di cermin.
Matanya berbinar.
Senyumnya begitu polos.
Ayahnya kemudian mengangkat handphone.
“Sini, yuk kita wefie.”
Mereka berdiri rapat.
Nining di tengah, diapit ayah dan ibunya. Tangan kecilnya menggenggam tangan mereka berdua.
“Senyuuum!” kata ayahnya.
Klik.
“Sekali lagi!” kata ayahnya lagi sambil tertawa.
Klik.
Raka memandangi mereka tanpa berkedip.
Entah kenapa, ia ingin momen itu berlangsung sedikit lebih lama.
Tiba-tiba…
lampu ruang tengah berkedip.
Sekali.
Ayah dan ibu Nining tetap tersenyum. Nining masih tertawa kecil.
Seolah tidak ada yang terjadi.
Namun entah kenapa, dada Raka mendadak terasa sesak.
Ia menoleh ke arah jendela.
Di luar sana hanya gelap.
Sunyi.
Lalu terdengar bunyi jam.
Tik… tak…
Tik… tak…
***
Raka tersentak bangun.
Dadanya naik turun cepat.
Kamar masih gelap. Hanya suara kipas angin yang berdengung pelan di langit-langit.
Ia menoleh ke jam dinding.
Jarumnya tepat di angka tiga.
03.00.
Lagi.
Raka mengusap wajahnya perlahan.
Bayangan dalam mimpi itu masih terasa begitu jelas.
Pita merah yang dirapikan ibunya.
Tawa kecil Nining.
Tangan mungil yang menggenggam ayah dan ibunya saat mereka berfoto bersama.
“Nining…” bisiknya lirih.
“Kenapa aku bisa mimpi itu?”
Tidak ada jawaban.
Raka hanya memejamkan mata sekali lagi.
Aneh.
Yang tertinggal dari mimpi itu bukan rasa takut.
Melainkan hangatnya sebuah keluarga.
Hangat yang terasa begitu nyata.
Kreator : Rukmana Gautama (RG Gotama)
Comment Closed: Bab 30 – Foto Keluarga Terakhir
Sorry, comment are closed for this post.