KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab 31 – Pintu Memori

    Bab 31 – Pintu Memori

    BY 05 Sep 2026 Dilihat: 1 kali
    Awal Masuk Kelas_alineaku

    Dalam perjalanan ke sekolah keesokan paginya, perasaan Raka masih belum enak. Semakin dekat ke sekolah, rasa nggak enak itu malah semakin kuat.

    Begitu melewati gerbang, perasaan sedih dari mimpinya semalam datang lagi. Kali ini bercampur dengan rasa kangen yang aneh, padahal Raka sendiri nggak tahu sedang kangen siapa. Tanpa sadar, ia merapatkan tas ke dadanya. Tenggorokannya mendadak terasa kering, padahal baru saja minum sebelum turun dari mobil.

    Saat itulah ia menyadari sesuatu. Asap tipis terlihat mengambang di beberapa sudut sekolah. Tetapi ketika ia melirik ke arah belakang sekolah, asap itu tampak semakin pekat.

    Pandangan Raka tiba-tiba tertuju ke bawah pohon angsana di halaman sekolah yang jarang tersentuh matahari. Setiap kali ia mencoba melihat ke arah lain, pandangannya seperti tertarik kembali ke bawah pohon itu.

    Raka berhenti sebentar.

    “Sepertinya ada sesuatu di sana…” bisiknya.

    Ia menutup mata kanan, seperti refleks yang datang entah dari mana. Seperti tubuhnya sudah hafal cara “melihat” yang lain.

    Perlahan, kabut di depan pohon angsana berkumpul. Awalnya cuma samar. Sedikit demi sedikit, bentuk bahu mulai terlihat, disusul garis rambut dan baju seragam. Namun bagian bawah tubuhnya masih belum jelas.

    Sampai akhirnya terbentuk—sosok perempuan. Samar, tapi cukup jelas. Itu sosok yang sama seperti yang pernah ia lihat di gudang sekolah… dan yang sering muncul di mimpi-mimpinya.

    Sosok itu berdiri di dekat batang angsana lalu melambaikan tangan pelan.

    Gerakannya lembut. Bibirnya bergerak, seperti sedang mengatakan sesuatu. Namun tak ada suara yang terdengar.

    Tiba-tiba bel masuk berbunyi. Anak-anak yang masih berada di luar segera masuk ke kelas masing-masing. Murid yang baru datang pun mempercepat langkah sebelum Pak Maman menutup gerbang sekolah.

    Raka berkedip cepat.

    Sosok itu sudah menghilang.

    Yang tersisa hanya pohon angsana tua yang bergoyang pelan ditiup angin.

    ***

    Jam sepuluh pagi, bel istirahat berbunyi nyaring. Anak-anak langsung bersorak kecil. Kursi-kursi bergeser, suara obrolan bermunculan dari segala arah, sementara Bayu buru-buru menutup bukunya lalu menoleh ke arah Raka dengan wajah berbinar.

    “Rak! Ke kantin, yuk. Aku lapar banget!”

    Raka hanya menggeleng pelan.

    “Bay…”

    Bayu menoleh lagi.

    “Aku mau ke pohon angsana sebentar.”

    Senyum Bayu langsung memudar.

    “Yang di ujung halaman? Ngapain?”

    Raka mengetuk meja Bayu pelan sekali, memberi isyarat agar mendekat. Setelah memastikan tak ada teman yang memperhatikan mereka, ia berbisik, “Aku… tadi pagi aku lihat sesuatu di sana.”

    Bayu refleks ikut melirik ke arah jendela, lalu buru-buru mengalihkan pandangannya kembali ke Raka.

    “Jangan bilang…”

    Ia menelan ludah.

    “…cewek itu lagi.”

    Raka mengangguk pelan.

    “Nanti aku jelasin. Tapi… kamu temenin ya?”

    Bayu menarik napas panjang. Wajahnya masih terlihat ragu, tetapi akhirnya ia mengangguk.

    “Oke.”

    Sesaat kemudian ia mengusap perutnya sambil nyengir tipis.

    “Tapi jangan lama-lama ya. Aku lapar banget.”

    Ia menempelkan telapak tangan ke perutnya lalu mendekat sedikit.

    “Denger nggak?”

    Bayu menirukan suara perutnya sendiri.

    “Krucuk… krucuk…”

    Raka terkekeh kecil.

    “Dasar.”

    Begitu keluar dari kelas, koridor langsung dipenuhi anak-anak yang berlari ke kantin, saling memanggil, atau mengejar temannya sambil tertawa. Di tengah keramaian itu, Raka dan Bayu justru berbelok ke arah halaman belakang sekolah.

    Semakin dekat ke pohon angsana di ujung halaman, suara-suara ramai itu terasa semakin jauh. Angin yang berembus pun berbeda, lebih sejuk meski matahari sedang bersinar terik. Bayu berjalan rapat di samping Raka sambil meremas slime kecil yang selalu dibawanya. Sesekali matanya melirik ke kanan dan kiri, seolah khawatir ada sesuatu yang tiba-tiba muncul.

    “Rak…” bisiknya pelan. “Kita beneran ke sana nih?”

    Raka hanya mengangguk.

    Pohon angsana itu masih berdiri diam seperti pagi tadi. Namun entah kenapa, udara di bawahnya kini terasa jauh lebih dingin.

    Raka berhenti beberapa langkah dari batang pohon. Jantungnya mulai berdegup lebih cepat.

    Bayu ikut menghentikan langkah.

    “Kamu lihat cewek itu… di sini?”

    Raka tidak langsung menjawab. Pandangannya terpaku ke satu titik di dekat batang pohon, tempat bayangannya terlihat sedikit lebih gelap daripada bagian lain.

    “Iya,” bisiknya.

    Beberapa saat tidak terjadi apa-apa.

    Hanya suara daun yang bergesekan tertiup angin. Dari kejauhan masih terdengar samar tawa anak-anak yang sedang bermain di lapangan.

    Bayu mengembuskan napas lega.

    “Nggak ada apa-apa, kan…”

    Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, hawa dingin perlahan menjalar di ujung jari Raka. Udara di bawah pohon angsana mendadak terasa lebih dingin.

    Pelan-pelan Raka menutup mata kanannya.

    Bayu langsung menegang.

    “Rak… kamu ngapain?”

    Tanpa mengalihkan pandangan, Raka menjawab lirih,

    “Kalau aku lihat pakai mata kiri…”

    Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan.

    “…aku bisa lihat yang lain, Bay.”

    Bayu merapat selangkah sambil memeluk slime di dadanya.

    “Aduh… jangan ngomong gitu, Rak.”

    Ia menelan ludah.

    “Aku jadi makin merinding.”

    Raka tidak menjawab.

    Pandangannya tetap tertuju ke depan, tepat ke arah batang pohon angsana, tempat kabut tipis mulai berkumpul perlahan. Mula-mula hanya seperti asap yang hanyut tertiup angin, tetapi lama-kelamaan kabut itu semakin tebal hingga membentuk sesuatu. Bahu. Garis rambut. Baju seragam. Sosok itu muncul sedikit demi sedikit, seolah sedang keluar dari dalam kabut.

    Bayu membeku. Bulu kuduknya langsung berdiri, sementara pandangannya bergerak cepat ke kanan dan kiri.

    “Rak…” bisiknya lirih. “Aku ngerasa kayak ada orang di sini.”

    “Rasanya dekat banget… tapi aku nggak lihat siapa-siapa.”

    Raka bahkan tidak berkedip. Matanya terus mengikuti kabut yang belum berhenti berubah hingga akhirnya sosok perempuan itu kembali terlihat. Wajahnya pucat, tubuhnya masih samar, tetapi kali ini ia berdiri jauh lebih dekat dibanding saat Raka melihatnya pagi tadi.

    Perempuan itu menatap Raka beberapa saat, lalu perlahan menundukkan pandangannya ke tanah di dekat akar pohon angsana. Tangannya terangkat pelan, seolah sedang menunjuk sesuatu yang tersembunyi di sana.

    Raka tanpa sadar menahan napas.

    “Dia… mau nunjukin sesuatu.”

    Bayu langsung merapat hingga bahunya hampir menyentuh lengan Raka.

    “Rak… aku beneran nggak lihat apa-apa.”

    Suaranya mengecil.

    “Tapi aku merinding banget.”

    Kabut di sekitar batang pohon terus berputar perlahan. Daun-daun angsana masih bergoyang diterpa angin, tetapi udara di bawah pohon itu terasa semakin dingin. Di tengah pusaran kabut, perlahan muncul cahaya keemasan yang hangat.

    Aji.

    Sosoknya belum sepenuhnya jelas, tetapi sinar keemasan yang menyelimutinya langsung dikenali Raka.

    “Raka.”

    Suara Aji terdengar pelan, namun jelas.

    “Itu bukan penampakan.”

    Raka mengernyit.

    “Lalu apa?”

    Aji tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap tertuju pada kabut yang terus berputar.

    “Seseorang sedang mencoba menunjukkan masa lalu.”

    Raka semakin bingung.

    “Masa lalu siapa?”

    Aji mengalihkan pandangannya kepada Raka.

    “Itu yang harus kau cari tahu.”

    Raka menelan ludah.

    “Lalu… kenapa aku?”

    Kabut di depan mereka mendadak berputar lebih cepat hingga dedaunan di sekitarnya ikut bergetar pelan.Bayu refleks mundur setengah langkah sampai tumitnya menyentuh akar pohon. 

     “Rak…” suaranya mulai bergetar. 

    “Aku… aku nggak suka.” 

    Tatapan Raka tetap lurus ke depan. Seolah ada sesuatu yang memanggilnya dari balik kabut itu. 

    “Raka!” panggil Aji, kali ini lebih keras. “Janganterlalu dekat!”

    Tetapi Raka seperti tidak mendengarnya. Matanya kosong. Tubuhnya perlahan melangkah maju, hanya setengah langkah, namun cukup membuat Bayu panik.

    “Rak!”

    Bayu spontan meraih lengan sahabatnya.

    Begitu ujung jarinya menyentuh kulit Raka, hawa dingin yang menusuk langsung menjalar ke seluruh lengannya. Bukan dingin seperti memegang es, melainkan dingin yang terasa menembus hingga ke dalam tulang.

    Bayu tersentak dan refleks ingin menarik tangannya.

    Terlambat.

    Dalam sekejap, suara anak-anak yang bermain di halaman lenyap begitu saja. Angin berhenti berembus. Daun-daun pohon angsana seakan membeku, sementara udara di sekitar mereka berputar semakin cepat, tersedot menuju satu titik di tengah pusaran kabut.

    “Hah…?”

    Tubuh Bayu mendadak kehilangan keseimbangan. Perutnya terasa melayang, seolah lantai di bawah kakinya menghilang.

    “RAKAAA!”

    Teriakannya menggema.

    Kabut putih berputar semakin cepat hingga batang pohon angsana menghilang lebih dulu, disusul halaman sekolah, lalu langit di atas mereka. Dalam hitungan detik, yang tersisa hanya pusaran putih.

    Gelap.

     

     

    Kreator : Rukmana Gautama (RG Gotama)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab 31 – Pintu Memori

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021