KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab 29 – Anak Yang Tak Bisa Pulang

    Bab 29 – Anak Yang Tak Bisa Pulang

    BY 05 Sep 2026 Dilihat: 2 kali
    Awal Masuk Kelas_alineaku

    Raka dan Bayu saling berpandangan.

    “Tuh, Rak… udah yuk, taruh di sini aja,” bisik Bayu.

    “Gpp, Bay… itu cuma angin kok.”

    Raka membuka pintu gudang perlahan.

    Pintu kayu tua itu berderit panjang.

    Kreeeek…

    Cahaya senja menembus dari sela-sela papan kayu, menyoroti debu yang berputar pelan di udara. Udara di dalam ruangan terasa dingin dan lembap, menyisakan aroma pengap dan kayu lapuk.

    Raka memandangi sekeliling gudang.

    Bayu menggenggam kardusnya lebih erat sambil melirik ke sekeliling.

    “Rak… kok aku tambah merinding, ya?”

    “Sama, Bay… aku juga.” Raka berusaha terdengar tenang. “Taruh aja kardusnya di situ.”

    Ia menunjuk deretan meja rusak di dekat tumpukan kursi di sebelah kanannya.

    Bayu menurunkan kardus itu dengan hati-hati.

    “Udah, Rak. Kita keluar yuk…”

    Tapi Raka tidak menjawab. Matanya terpaku ke sisi kiri gudang, di antara tumpukan kursi terbalik dan meja patah yang membentuk lorong sempit. Di sela-sela meja yang patah itu ada sesuatu yang menarik perhatiannya.

    Ia berjalan mendekat, lalu berjongkok dan menyelipkan jari di sela-sela itu. Tangannya menyentuh kain, lalu menariknya perlahan.

    Sebuah pita berwarna merah.

    Bayu menahan napas.

    “Pita siapa itu, Rak…?”

    Raka menggeleng.

    “Nggak tahu, Bay.”

    Dan ketika pita itu menyentuh telapak tangan Raka…

    “Hati-hati, Raka…”

    Suara Aji terdengar pelan, membuat Raka refleks menoleh. Namun ia tidak melihat siapa pun. Yang ia rasakan hanya hawa dingin yang tiba-tiba menjalar dari telapak tangannya hingga ke lengan.

    Ia meneguk ludah.

    “Ayo, Rak. Cepetan, dong…” Bayu bergeser mendekat. Suaranya mulai bergetar. “Merinding nih…”

    “Berhenti, Raka… jangan mendekat lagi.” Kali ini suara Aji terdengar lebih tegas.

    Raka memejamkan mata. Dalam sekejap semua suara di sekelilingnya seperti menjauh. Yang tersisa hanya detak jantungnya sendiri yang berdetak tidak beraturan.

    Dalam kegelapan di dekat pojok gudang, Raka melihat seorang anak perempuan berjongkok di balik kursi-kursi yang terbalik. Rambutnya berantakan, pipinya basah, dan bahunya terus bergetar.

    “Aku takut…”

    Suaranya lirih.

    “Aku capek…”

    Anak itu terisak pelan.

    “Aku mau pulang…”

    “Ibu… di mana…”

    Anak itu kembali terisak.

    “Aku kedinginan…”

    Raka membeku. Suara itu begitu nyata hingga ia hampir berteriak kaget. Namun sebelum sempat membuka mulut, cahaya senja di dalam gudang perlahan memudar.

    Raka berkedip beberapa kali. Gudang itu masih ada di hadapannya, tetapi tidak lagi terlihat seperti tadi.

    Kursi-kursi dan meja-meja tua yang tadi bertumpuk kini melayang beberapa sentimeter dari lantai. Debu yang beterbangan tidak lagi jatuh, melainkan menggantung di udara. Bahkan langit-langit gudang terasa semakin tinggi, seolah ruangan itu tiba-tiba menjadi jauh lebih luas.

    “Nining…” bisiknya, melangkah selangkah mendekat.

    Tapi begitu ia mendekat, bayangan hitam di belakang Nining perlahan merayap di lantai. Bayangan itu terus memanjang, lalu menjulang tinggi hingga membentuk sosok gelap tanpa wajah.

    “Raka! Mundur!” suara Aji menggema di kepalanya. Untuk pertama kalinya suara itu terdengar benar-benar panik.

    Namun kaki Raka seperti menempel, tidak bisa digerakkan.

    Nining mengangkat wajah sedikit. Mata kecilnya menatap lurus ke arah Raka dengan tatapan kosong. Dalam hitungan detik wajahnya semakin pucat. Tubuhnya perlahan tertarik ke belakang, menuju pusaran kabut kelabu yang berputar di belakangnya. Tangannya tetap terulur, seolah masih berusaha meraih sesuatu yang tidak terlihat.

    “Aku mau pulang…” isaknya.

    Raka tersentak dan berlari, mencoba meraih tangannya.

    Tapi begitu jarinya hampir menyentuh, ada tarikan lain—keras, dingin—menyentak Raka mundur, menjauh dari Nining. Seolah ada tangan yang merangkul pinggangnya lalu menariknya.

    Nining menatapnya, napasnya tersengal. Lalu, dengan gerakan kecil yang gemetar, ia mengangkat telunjuknya… menunjuk ke bawah meja di dekatnya.

    Raka tidak mengerti apa maksud anak perempuan itu.

    Tiba-tiba dunia di sekelilingnya bergetar hebat.

    Langit-langit gudang seperti berguncang. Suara-suara di sekelilingnya bercampur menjadi satu hingga membuat kepalanya terasa pening.

    “Raka! Lepaskan pitanya! Sekarang!” teriak Aji.

    Suara itu terdengar semakin jauh, tetapi Raka masih menatap Nining yang terus menunjuk ke bawah meja.

    Cahaya keemasan menyelimuti tubuh Raka. Aji kembali menariknya dengan paksa, memutus benang tipis yang menghubungkannya dengan dunia itu.

    Teriakan Nining memudar, bergema seperti suara dari dalam air.

    “Jangan tinggalin aku…”
    “Aku mau pulang…”

    Bayu mengguncang bahu Raka. “Rak! Bangun, Rak! Astaga, kamu kenapa?!”

    Bayu memandang sahabatnya dengan campuran ngeri dan panik. Raka berdiri kaku—kepalanya mendongak, matanya kosong menatap langit-langit seperti sedang mendengarkan sesuatu yang hanya bisa ia dengar sendiri.

    Lalu ia tersentak. Matanya terbuka lebar, napasnya putus-putus dan tubuhnya gemetaran. Keringat dingin menetes dari pelipisnya. Setelah beberapa menit, ia menatap sekelilingnya, linglung.

    Gudang itu kembali utuh di depan matanya—lantai berdebu, cahaya senja yang redup dan bau kayu tua yang lembab.

    Entah sejak kapan pita merah itu tergeletak di dekat kakinya.

    “Rak… ayo keluar aja. Tadi kamu bikin aku takut banget.”

    Bayu menarik lengan kiri Raka.

    Wajahnya pucat.

    Raka belum sempat menjawab.

    Tiba-tiba…

    BRAKK!!

    Pintu gudang terbanting keras.

    Bayu menjerit kecil dan refleks memeluk Raka.

    Beberapa detik sunyi.

    Debu beterbangan, menari pelan di sisa cahaya senja.

    Terdengar langkah kaki tergesa dari luar.

    Pintu gudang didorong terbuka.

    Pak Maman muncul dengan napas terengah-engah.

    “Ada apa ini?! Kalian nggak apa-apa?”

    Raka tidak langsung menjawab. Matanya tetap tertuju pada pojok ruangan yang kini tampak kosong—pojok tempat pusaran itu barusan berputar.

    Napasnya pelan. Suaranya nyaris bisikan.

    “Dia… nggak bisa pulang.”

    Pak Maman mengunci gudang rapat-rapat hingga terdengar bunyi klik dari gemboknya. 

    Raka dan Bayu berdiri di dekatnya, masih pucat.

    “Ayo, kita keluar. Udara di sini berat banget,” kata Pak Maman sambil menepuk bahu Bayu pelan.

    Mereka berjalan menyusuri koridor belakang yang panjang. Langit di luar berwarna keemasan, bayangan pepohonan merambat di dinding seperti tirai bergerak.

    Beberapa saat tak seorang pun berbicara. Yang terdengar hanya langkah kaki mereka, beradu pelan di lantai semen yang dingin.

    Pak Maman akhirnya bicara, suaranya tenang tapi dalam.

    “Kalian tahu, sekolah ini udah berdiri lebih dari tiga puluh tahun,” katanya. “Bapak udah jaga di sini hampir dua puluh. Banyak kejadian aneh yang Bapak lihat, tapi nggak semua bisa dijelasin.”

    Raka menatapnya dari samping. Di dalam saku celananya, pita merah itu terasa semakin berat.

    “Maksudnya, Pak?” tanya Raka pelan.

    Pak Maman tersenyum tipis sambil terus menatap lurus ke depan.

    “Dulu, waktu Bapak baru kerja di sini, pernah ada siswi kelas lima yang hilang. Namanya Nining. Anak baik, rajin, tapi pendiam. Kejadiannya pas akhir tahun ajaran. Dia terakhir terlihat di sekitar gudang belakang…” Pak Maman berhenti sejenak. Tatapannya beralih kepada Raka dan Bayu. “Tempat kalian tadi.”

    Bayu menelan ludah sambil menggenggam tali tasnya erat-erat.

    “Terus… ketemu, Pak?”

    Pak Maman menggeleng pelan.

    “Nggak pernah. Polisi nyari berhari-hari. Semua sudut sekolah dibuka. Tapi hasilnya kosong.” Matanya menerawang. “Seolah-olah dia lenyap begitu aja, tanpa jejak. Yang tersisa cuma satu bola kecil… dan pita merah.”

    Raka meremas saku.

    Satu pita merah…

    Berarti yang ia pegang sekarang—

    Mereka kembali melangkah. Lorong menuju gerbang belakang terasa lengang. Suara burung mulai terdengar dari pohon angsana di ujung lapangan. Raka menoleh ke arahnya. Entah kenapa, ia merasa seperti sedang diawasi.

    Pak Maman kembali angkat bicara.

    “Sejak hari itu, sekolah ini nggak pernah benar-benar sepi. Kadang ada suara langkah di koridor. Kadang kursi di kelas geser sendiri. Pernah juga warga sekitar yang lewat tengah malam dengar anak kecil nyanyi dari arah lapangan.”

    Bayu menggigil kecil.

    “Ih… serem, Pak. Aku nggak mau lewat sini kalau malem.”

    Pak Maman menghela napas.

    “Entahlah. Tapi kalau kalian dengar suara manggil nama kalian di sekolah, apalagi sore-sore begini… jangan dijawab. Diam aja.”

    Raka dan Bayu saling pandang.

    Tak terasa mereka sudah sampai di gerbang belakang sekolah. Jalan kecil menuju rumah Bayu tampak lengang.

    “Udah, sana pulang. Hari udah sore,” kata Pak Maman. “Kalian tinggal di mana? Udah dijemput?”

    “Saya tinggal dekat sini kok, Pak,” jawab Bayu cepat.

    “Saya ikut ke rumah Bayu, Pak. Tadi pagi bilang sama Mama mau main ke rumah Bayu sore ini. Maghrib nanti baru dijemput,” sambung Raka.

    Mereka pun berpamitan. Pak Maman berdiri di depan gerbang sambil melambaikan tangan ketika kedua anak itu berjalan menjauh menyusuri jalan setapak. Bayangan pepohonan memanjang di atas tanah, perlahan menelan langkah kecil mereka hingga menghilang di tikungan.

    Beberapa meter kemudian, Raka melirik Bayu lalu mencoba tersenyum. Ia tahu sahabatnya gampang panik kalau melihatnya ikut tegang.

    “Seru, Bay?” katanya, pura-pura santai.

    “Seru sih… tapi takut juga iya,” jawab Bayu sambil melirik ke arah sekolah yang perlahan tertelan cahaya senja. “Kamu kok berani ke pojok itu tadi? Badanku merinding semua loh.”

    Bayu kembali menatap Raka.

    “Eh, tapi kamu juga tadi kenapa? Pandanganmu kosong, badanmu kaku. Aku pikir kamu mau pingsan.”

    Raka menunduk sebentar.

    “Aku tadi lihat Nining, Bay.”

    Bayu langsung berhenti melangkah.

    “Yang bener, Rak?” Suaranya nyaris berbisik. “Emang kamu bisa lihat… hantu?”

    Raka menatap lurus ke depan.

    “Aku… kadang bisa lihat yang orang lain nggak lihat.” Ia menelan ludah. “Tapi jangan bilang siapa-siapa ya. Aku nggak mau dibilang aneh sama teman-teman.”

    Bayu menatapnya lekat-lekat, lalu mengangguk pelan.

    “Oke, Rak. Aku nggak akan cerita ke siapa-siapa. Aku kan sahabatmu.”

    Raka mengeluarkan pita merah dari sakunya. Ia memperlihatkannya sebentar saja, cukup untuk membuat Bayu yakin ini bukan karangan.

    Bayu menatap pita itu lama. Wajahnya pucat.

    “Berarti… ini pitanya Nining?” bisiknya.

    Raka mengangguk.

    “Kayaknya… iya.”

    Bayu menarik napas panjang. Ketakutannya belum hilang, tetapi di matanya perlahan tumbuh tekad kecil.

    “Kalau gitu… kita cari tahu, Rak,” katanya lirih. “Biar… Nining bisa pulang.”

    Raka merangkul bahu sahabatnya. Mereka kembali melangkah tanpa banyak bicara.

    Di belakang mereka, sekolah kembali sunyi. Siluet pohon angsana berdiri tegak di bawah cahaya senja yang mulai memudar.

    Dan di bawahnya…

    Nining masih berdiri.

    Diam.

    Sedih.

    Menunggu seseorang datang… untuk membawanya pulang.

     

     

    Kreator : Rukmana Gautama (RG Gotama)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab 29 – Anak Yang Tak Bisa Pulang

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021