Aji tidak langsung menjawab. Hening menggantung di antara mereka. Hanya dengung samar dari gambar di meja yang terdengar pelan.
Lalu, dengan suara tenang, Aji berkata,
“Aku berasal dari dunia yang bernama Lingsir.”
Raka mengernyit.
“Lingsir?”
Aji mengangguk.
“Di duniamu, aku tak kasat mata. Manusia menyebut kami dengan banyak nama. Hantu, makhluk halus, roh penjaga…”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Padahal di dunia kami, kami hidup seperti kalian. Kami punya keluarga, teman, dan tempat tinggal.”
Cahaya pusaran di gambar berdenyut pelan, seolah ikut merespons kata-kata Aji.
Raka menatapnya lama. Anehnya, ia tidak sepenuhnya takut. Justru ada rasa percaya yang perlahan tumbuh di dalam dirinya.
“Kalau begitu…” Raka ragu-ragu. “Kenapa cuma aku yang bisa melihatmu?”
Aji mengangkat pandangannya.
“Karena sejak lahir kamu memiliki kemampuan yang tidak dimiliki kebanyakan manusia.”
“Kemampuan?”
“Indra keenammu sudah terbuka sejak kecil. Karena itu kamu bisa melihat dan merasakan hal-hal yang tidak bisa dilihat orang lain.”
Raka terdiam.
Selama ini ia memang sering mengalami kejadian-kejadian aneh. Hanya saja, ia tidak pernah tahu penyebabnya.
Aji melanjutkan,
“Kadang, mimpi yang kamu alami bukan sekadar mimpi.”
“Lalu apa?”
“Jendela.”
Raka mengernyit.
“Jendela ke mana?”
Aji tersenyum tipis.
“Suatu hari nanti kamu akan mengerti.”
Raka masih ingin bertanya, tetapi Aji sudah lebih dulu berbicara.
“Yang perlu kamu tahu sekarang, Nining sedang mencoba meminta pertolonganmu.”
Seketika bayangan pita merah, suara lirih, dan wajah gadis kecil itu kembali memenuhi kepala Raka.
Aji melangkah setapak mendekat. Suaranya berubah semakin pelan.
“Tidak semua orang memiliki kemampuan seperti ini, Raka.”
“Kemampuan itu membuat arwah penasaran, makhluk gelap, bahkan iblis lebih mudah menemukanmu.”
Raka langsung teringat sosok hitam yang pernah muncul di kamar ibunya.
Aji seolah mengetahui apa yang sedang dipikirkannya.
“Sama seperti yang terjadi malam itu.”
Perlahan, wujud Aji mulai memudar hingga hanya menyisakan cahaya tipis yang melayang di udara. Senyum hangatnya masih terlihat sesaat sebelum akhirnya ikut menghilang bersama cahaya itu.
“Jangan takut, Raka,” ucapnya pelan. “Banyak yang akan membantumu, baik dari dunia manusia maupun dari Lingsir. Percayalah pada cahaya di dalam hatimu.”
Suaranya semakin lirih hingga akhirnya lenyap bersama keheningan malam.
Raka masih berdiri di depan meja belajarnya, menatap buku gambar yang terbuka di hadapannya. Pusaran kecil di dalam segitiga itu kini sudah tidak lagi berputar, tetapi entah kenapa tetap terasa hidup, seolah sedang menunggu seseorang menyentuhnya sekali lagi.
Setelah beberapa saat, ia mengembuskan napas pelan, lalu menutup buku gambar itu dan menyimpannya kembali ke dalam laci. Lampu meja dipadamkan, membuat kamar kembali diterangi cahaya bulan yang masuk samar melalui sela-sela gorden.
Raka berjalan menuju tempat tidurnya dan merebahkan tubuh perlahan. Dari ranjang di sebelahnya, Farah kembali mengigau pelan seperti biasanya. Suara itu biasanya membuat Raka merasa tenang, tetapi malam ini pikirannya terlalu penuh untuk benar-benar bisa beristirahat.
Pandangannya tetap menempel pada langit-langit kamar, sementara bayangan gadis kecil di bawah pohon angsana terus berputar di kepalanya. Anehnya, ia tidak lagi merasa takut pada sosok itu. Setiap kali mengingat wajahnya, yang muncul justru rasa iba yang sulit dijelaskan, seolah gadis itu sedang berusaha menyampaikan sesuatu tetapi tak pernah berhasil mengucapkannya sampai selesai.
Yang membuat Raka benar-benar gelisah justru sosok hitam yang selalu berdiri di belakang gadis itu. Ia tidak pernah bergerak, tidak pernah berbicara, hanya berdiri dalam diam, tetapi kehadirannya saja sudah cukup membuat dada Raka terasa sesak.
Tanpa sadar pikirannya kembali melayang pada mimpi di kamar ibunya beberapa malam yang lalu. Di antara semua bayangan yang muncul saat itu, ada seorang anak kecil lain yang tubuhnya diselimuti cahaya biru lembut. Bukan Nining, dan bukan pula Aji. Cahaya Aji selalu berwarna keemasan, hangat dan menenangkan, sedangkan cahaya biru itu memancarkan rasa yang berbeda—dingin, sunyi, tetapi entah kenapa terasa begitu akrab, seolah Raka pernah mengenalnya di suatu tempat yang sudah lama ia lupakan.
Dengan pikiran yang masih dipenuhi pertanyaan, Raka perlahan memejamkan mata. Ia memang belum mengetahui siapa anak itu, tetapi ada satu keyakinan yang tumbuh pelan di dalam hatinya bahwa suatu hari nanti mereka akan bertemu, dan saat hari itu tiba, mungkin semua mimpi yang selama ini terus menghantuinya akhirnya akan mulai menemukan jawabannya.
Kreator : Rukmana Gautama (RG Gotama)
Comment Closed: Bab 27 – Dunia Bernama Lingsir
Sorry, comment are closed for this post.