Sejak kejadian di lapangan olahraga beberapa hari yang lalu, Raka terus mengalami mimpi yang sama.
Bukan mimpi yang utuh, melainkan potongan-potongan yang datang silih berganti. Kadang hanya terdengar suara kecil memanggil dari kejauhan. Kadang bayangan seragam putih yang sudah kusam. Kadang pohon angsana bergoyang pelan, padahal tak ada embusan angin.
Dan hampir selalu… pita merah itu ada.
Terkadang pita itu melambai di ujung bayangan pohon. Terkadang tergeletak di tanah, kotor, seolah baru terlepas dari rambut seseorang. Ada kalanya pita itu hanya tampak sekejap, lalu lenyap tepat saat Raka mencoba mendekatinya.
Selain itu, ada satu bayangan lain yang terus muncul. Sebuah benda kecil berbentuk persegi, menyerupai foto. Namun setiap kali Raka berusaha melihatnya lebih jelas, gambarnya langsung buram, seakan ada sesuatu yang menutupinya.
Setiap kali ia merasa hampir menemukan jawabannya, mimpi itu selalu terhenti sebelum gadis itu sempat mengatakan apa pun.
Akibatnya, siang hari pun Raka jadi sering mengantuk. Matanya terasa berat, dan tanpa sadar ia bisa tertidur beberapa saat. Begitu terbangun, dadanya langsung berdebar seperti habis mengalami mimpi buruk.
Siang itu pun terjadi lagi.
Di antara sadar dan tidur, samar-samar ia mendengar seseorang memanggil namanya.
“Ra…”
Hening sesaat.
Lalu suara itu kembali terdengar, kali ini lebih jauh dan lebih lemah.
“Ra…”
Setelah itu terdengar potongan kata lain yang putus-putus juga.
“…to…”
“…long…”
Sebelum kaimat itu selesai, Raka tersentak membuka mata.
Beberapa detik ia hanya duduk terpaku. Napasnya belum teratur, sementara dadanya masih berdegup kencang seperti habis berlari.
Perlahan, suara-suara di kelas kembali memenuhi telinganya. Bunyi kursi bergeser, tawa kecil dari sudut ruangan, dan gesekan penghapus di papan tulis membuatnya sadar kalau ia sudah benar-benar terbangun. Rupanya lonceng istirahat sudah berbunyi beberapa menit yang lalu.
Bayu berdiri di depan kelas sambil menghapus papan tulis. Sesekali ia melirik ke arah Raka dengan tatapan heran bercampur khawatir.
Di sudut ruangan, Wulan, Retno, dan Meri asyik berbisik sambil cekikikan. Sementara Galih dan Suryo sibuk saling melempar penghapus kecil, disoraki beberapa teman yang memilih tetap berada di dalam kelas.
Raka menelan ludah pelan, lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
Daun-daun pohon angsana di halaman berdesir pelan seperti bisikan yang tak jelas asalnya. Bayangan batangnya memanjang hingga hampir menyentuh jendela kelas.
Dan di ujung bayangan itu, Raka merasa melihat seseorang berdiri.
Samar.
Kelabu.
Nyaris menyatu dengan cahaya sore.
Perutnya langsung terasa melilit.
Potongan-potongan mimpi tadi kembali memenuhi kepalanya. Seragam putih yang kusam. Tatapan sedih. Pita merah. Dan suara yang tak pernah berhasil menyebut namanya sampai selesai.
“Apa itu… dia?” gumam Raka lirih. “Apa dia sedang berusaha bicara denganku?”
Raka menatap lagi ke arah pohon angsana, tetapi sosok kelabu itu sudah menghilang. Yang tersisa hanya daun-daun yang berguguran pelan, seolah tak pernah ada siapa pun di sana.
Namun perasaan aneh itu belum juga hilang.
Di tengah riuh suara teman-temannya, tiba-tiba Raka mendengar sebuah bisikan. Suaranya begitu pelan, seperti langsung terdengar di dalam kepalanya.
“Ya, Raka.”
Raka membeku.
Ia mengenal suara itu.
“Dia memang sedang mencoba bicara denganmu.”
“Aji?” bisik Raka pelan sambil menoleh ke kanan dan kiri.
Tidak ada siapa-siapa.
Suara itu terdengar lagi, kali ini lebih jelas.
“Namanya… Nining.”
Raka terdiam.
Nama itu terdengar asing, tetapi entah kenapa membuat dadanya terasa sesak. Seolah nama itu menyimpan kesedihan yang belum selesai.
Ia kembali menatap ke arah pohon angsana. Sosok itu benar-benar sudah menghilang. Hanya daun-daun yang terus berguguran, sementara pertanyaan-pertanyaan di kepalanya justru semakin banyak.
Malam harinya…
Raka kembali gelisah. Setiap kali memejamkan mata, bayangan yang sama selalu muncul. Suara yang sama. Rasa takut yang sama.
Ia mencoba memaksa tidur, tetapi tidak bisa.
Suara jangkrik di luar jendela dan detak jam dinding justru terdengar semakin jelas, membuat pikirannya sulit tenang.
Akhirnya ia menyerah.
Raka bangkit dari tempat tidur, lalu menyalakan lampu meja. Cahaya kuningnya menerangi sudut kamar yang sejak tadi gelap.
Ia menarik buku gambar dari dalam laci. Sampulnya mulai kusam karena sering dipakai. Setelah itu ia mengambil pensil 2B.
Awalnya Raka hanya ingin mencoret-coret agar pikirannya lebih tenang.
Namun baru beberapa goresan, tangannya bergerak sendiri.
Ia bahkan tidak sempat berpikir apa yang sedang digambarnya.
Garis demi garis muncul begitu saja.
Sebuah pintu gudang yang terbuka sedikit.
Retakan bercahaya di dinding.
Dan…
pita merah itu.
Kali ini pita itu tidak lagi melambai seperti di dalam mimpinya. Pita itu tergambar terselip di bawah tumpukan meja dan kursi rusak di sudut gudang. Sebagian tertutup debu, sementara ujungnya masih terlihat jelas, seolah menunggu seseorang menemukannya.
Tangan Raka berhenti.
Ia menatap gambar itu lama.
“Kenapa aku… tahu pitanya ada di sana?” gumamnya.
Dadanya mendadak terasa tidak enak. Ia bahkan belum pernah masuk ke gudang itu, tetapi gambar yang ada di depannya terasa begitu nyata.
Saat itulah pandangannya menangkap satu detail lain.
Di bagian kiri bawah dinding gudang terdapat sebuah segitiga kecil. Di dalamnya tampak pusaran kabut yang berputar perlahan, sementara retakan cahaya tipis mengelilinginya.
Raka mengernyit.
“Terus… ini apa?”
Tok… tok…
“Rak?”
Suara ibunya terdengar dari balik pintu.
Laras membuka pintu perlahan. Wajahnya tampak lelah, tetapi senyumnya tetap hangat.
“Kok belum tidur? Sudah hampir jam sepuluh, lho. Besok sekolah.”
Raka buru-buru menutup buku gambarnya.
“Iya, Ma. Sebentar lagi.”
Laras menghela napas pelan. Saat melangkah mendekat, pandangannya sempat menangkap sekilas gambar di halaman yang belum tertutup sempurna. Garis-garis gelap itu membuatnya mengernyit.
Ada sesuatu yang sedang dipikirkan anaknya.
Ia memang tidak tahu apa, tetapi nalurinya mengatakan Raka sedang menyembunyikan sesuatu.
Laras menepuk lembut bahu Raka.
“Kalau ada apa-apa, cerita saja sama Ibu, ya.”
Raka menoleh.
Ada banyak pertanyaan yang ingin ia keluarkan, tetapi semuanya seperti tertahan di tenggorokan.
Akhirnya ia hanya mengangguk.
“Iya, Ma.”
Laras tersenyum tipis.
“Ya sudah, tidur.”
Ia melangkah keluar dan membiarkan pintu kamar terbuka sedikit, seperti biasanya.
Setelah suara langkah ibunya menghilang, Raka mengembuskan napas pelan.
Ia membuka kembali buku gambarnya.
Pandangannya langsung tertuju pada pusaran kecil di dalam segitiga itu.
Entah kenapa, benda itu terasa berbeda.
Seolah bukan sekadar gambar.
Tanpa sadar Raka mengulurkan tangan. Ujung jarinya menyentuh pusaran itu perlahan.
Seketika udara di sekitarnya terasa berubah.
Bulu kuduknya berdiri.
Dari kejauhan terdengar dengung halus, seperti suara yang datang dari tempat yang sangat jauh.
Lalu sebuah suara terdengar jelas.
“Jangan, Raka.”
Raka langsung menarik tangannya.
Ia menoleh cepat.
Aji sudah berdiri di samping meja belajarnya.
Seperti biasa, kehadiran Aji membuat rasa gelisah di dada Raka perlahan mereda. Udara yang tadi terasa berat kembali terasa ringan. Entah kenapa, setiap kali Aji muncul, Raka selalu merasa aman.
Berbeda dengan sosok gadis di bawah pohon angsana.
Setiap mengingatnya, dada Raka justru terasa sesak. Bukan karena takut, melainkan karena kesedihan yang aneh, seolah ia ikut merasakan apa yang dirasakan gadis itu.
Raka menatap Aji beberapa saat sebelum akhirnya bertanya.
“Ji… sebenarnya kamu ini siapa?”
Pertanyaan itu akhirnya keluar juga.
Selama ini setiap Raka ingin bertanya, Aji selalu menghilang lebih dulu.
Kali ini tidak.
Aji membalas tatapannya dengan senyum tipis.
“Aku yang akan selalu melindungimu, Raka.”
“Melindungiku?” Raka mengernyit. “Dari apa?”
Aji menundukkan kepala sebentar. Cahaya dari gambar di meja memantul samar di wajahnya.
“Dari hal-hal yang tidak bisa dilihat semua orang,” jawabnya pelan.
“Dari suara-suara yang seharusnya tidak didengar… dan dari bayangan yang menunggu saat manusia tersesat.”
Raka masih menatapnya.
“Berarti… cuma aku yang bisa melihatmu?”
Aji mengangguk pelan.
“Kenapa?”
“Apa kamu… hantu?”
Kreator : Rukmana Gautama (RG Gotama)
Comment Closed: Bab 26 – Yang Melindungi
Sorry, comment are closed for this post.