KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab 3 – Legenda Inyiak Balang

    Bab 3 – Legenda Inyiak Balang

    BY 21 Jun 2026 Dilihat: 9 kali
    Legenda Inyiak Balang_alineaku

    Atuk terdiam beberapa saat, membiarkan keheningan pagi menyelimuti mereka, sebelum akhirnya menoleh ke arah Bayu.

    “Kita harus yakin Allah selalu menjaga kita,” ujarnya pelan. Suaranya berat namun menenteramkan. “Makanya jangan lupa selalu berdoa. InsyaAllah, bantuan dan perlindungan itu datang dari arah yang tak pernah kita duga.”

    Bayu membuka mulut, siap melontarkan rentetan pertanyaan baru, tetapi Atuk lebih dulu menepuk lututnya pelan.

    “Nanti ya, kalau kamu sudah cukup besar. Sekarang…” Atuk mencondongkan badan, lalu mendekatkan wajahnya ke bahu Bayu. Hidungnya mengendus dalam-dalam. “Cepat mandi dulu. Bangun tidur langsung lari ke sini… tuh kan, bau iler.”

    Bayu spontan menarik kerah bajunya, mengendus sendiri, lalu meringis drama. “Ih iyaaa… bau iler!”

    Tawa Atuk kembali pecah, membuat Bayu ikut nyengir. “Sudah sana, cepat! Nanti Mama marah kalau tahu kamu belum mandi.”

    Bukannya berdiri, Bayu malah makin merapat dan memeluk lengan kakeknya erat-erat. “Boleh nggak… kalau mandinya setelah Atuk cerita tentang Inyiak Balang? Sedikit saja, Tuk.” Bayu menengadah, memasang tampang memohon dengan kedua telapak tangan terkatup di depan dada. “Please… sebentar saja.”

    Atuk memandangi wajah memelas cucunya, lalu menghela napas panjang—pura-pura menyerah.

    “Baiklah, sebentar saja,” putus Atuk. “Habis itu langsung mandi, tidak ada tawar-menawar.”

    Bayu langsung duduk tegak. Kaki kecilnya yang menggantung kembali berayun gembira. Matanya membulat, siap menyimak.

    “Zaman dulu,” Atuk memulai dengan suara yang mendadak berubah berat dan dalam, “sebelum jalan aspal membelah bukit dan suara motor menggantikan kokok ayam, ada sebuah nagari kecil di kaki Bukit Barisan. Di sana, hidup seorang lelaki bernama Marajo Bujang. Dia terkenal sebagai pemburu paling hebat.”

    Bayu menelan ludah. Ia melipat kaki dan memeluk lututnya, mencondongkan tubuh ke depan.

    “Sejak muda, Marajo Bujang hampir tak pernah pulang dengan tangan kosong,” lanjut Atuk. “Hutan dan bukit seolah sudah hafal langkah kakinya. Dia tahu tempat rusa biasa minum, jalur perlintasan babi hutan, bahkan jalan tikus tempat kijang bersembunyi. Awalnya, dia berburu secukupnya saja. Sehari seekor dua ekor untuk makan keluarga dan sisanya dijual ke pasar. Tapi lama-lama, pujian orang-orang mulai mengubah hatinya.”

    Atuk melirik sekilas. Bocah di sebelahnya sama sekali tidak berkedip, pandangannya terkunci pada wajah sang kakek.

    “Orang-orang di kampung selalu bilang, ‘Tak ada pemburu setangguh Marajo Bujang. Kalau dia mau, harimau pun bisa ditaklukkannya.'” Atuk menirukan gaya bicara orang dewasa dengan nada sedikit nyaring.

    “Mulanya Marajo cuma tertawa,” sambung Atuk. “Tapi karena terlalu sering didengar, rasa bangganya makin membesar. Sampai suatu hari, dia jumawa dalam hati: Apa susahnya menaklukkan rimba? Aku rajanya hutan ini.

    Jemari Bayu bergerak, mencengkeram ujung kursi rotan yang didudukinya.

    “Suatu pagi, saat kabut masih tebal di lereng bukit, Marajo Bujang bersiap berangkat. Istrinya mengikatkan bekal di pinggangnya sambil bertanya, ‘Abang mau sampai ke mana hari ini?’ Marajo menjawab, ‘Lebih ke dalam. Di balik bukit sebelah sana banyak rusa besar. Abang tak mau kalah dari pemburu nagari seberang.'”

    Atuk menjeda kalimatnya sejenak, mengambil napas.

    “Istrinya terdiam. Dia ingat pesan orang-orang tua: jangan sembarangan melangkah ke rimba larangan. Di sana ada penjaga rimba yang dipanggil orang Inyiak Balang—harimau penjaga hutan. Istrinya memperingatkan dengan suara pelan, ‘Abang, jangan terlalu jauh. Ada batas hutan yang tak boleh dilewati.’ Tapi Marajo cuma terkekeh. ‘Itu cuma cerita buat menakuti anak-anak, Abang ini kan sudah hafal semua jalur.’ Katanya. Lalu dia berangkat begitu saja, tak menoleh lagi.”

    Angin pagi berembus pelan, menggoyang tirai balkon. Atuk memajukan sedikit posisi duduknya.

    “Semakin jauh melangkah, hutan di sekelilingnya semakin rapat. Pohon-pohon besar menjulang tinggi dengan akar-akar yang menggeliat di tanah. Udaranya lembap dan pengap, tapi Marajo terus berjalan penuh percaya diri. Di sepanjang jalan, dia menebas dahan dan ranting seenaknya hingga burung-burung terbang panik.”

    Bayu mengernyit, tampak tidak suka dengan kelakuan Marajo.

    “Tak lama, Marajo melihat jejak segar di tanah lembap—bekas tapak rusa. Dia mengikutinya dengan cepat sampai menemukan seekor rusa jantan besar bersanduk kokoh sedang minum di tepi sungai kecil. Marajo langsung mengangkat senapan, membidik… dor!

    Bayu tersentak, bahunya ikut naik karena kaget.

    “Rusa itu meloncat dan berlari secepat angin,” kata Atuk, menggerakkan tangannya cepat. “Marajo yakin tembakannya kena. Dia mengejar, menembus semak berduri, menyeberangi sungai, mendaki, dan menuruni lereng. Tapi rusa itu lenyap. Hanya ada beberapa bercak darah di tanah… lalu hilang sama sekali.”

    Atuk menggeleng pelan.

    “Marajo berhenti, mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sialnya, semua sudut tampak sama. Pohon tinggi, semak rapat, tanah tertutup daun gugur. Dia mencoba berbalik arah, berjalan puluhan langkah ke belakang, tapi sungai kecil yang baru saja diseberanginya tadi tidak ketemu. Jalur yang dilewatinya tadi pagi hilang.”

    Bayu diam membatu. Bibirnya terkatup rapat.

    “Siang mulai merayap,” lanjut Atuk, menurunkan volume suaranya. “Cahaya matahari terhalang daun-daun lebat, hanya menyisakan garis-garis tipis di tanah. Hutan mendadak terasa asing dan mencekam. Kicau burung dan bunyi jangkrik yang tadi pagi ramai, sekarang hilang. Yang tersisa cuma desau angin. Dan… sesuatu yang lain.”

    Bayu menggeser duduknya, makin menempel pada Atuk.

    “Ada suara geraman rendah yang panjang. Jenis suara yang langsung membuat bulu kuduk berdiri,” bisik Atuk. “Marajo mencengkeram senapannya lebih erat. Sebagian dirinya masih ingin sombong dan membuktikan kalau dia pemburu hebat. Tapi sebagian lagi mulai gemetar, teringat cerita tentang Inyiak Balang.”

    Kursi goyang berderit halus saat Atuk bersandar.

    “Kata orang-orang tua, Inyiak Balang bukan harimau biasa. Bulunya putih, lorengnya pucat, dan matanya tajam. Dia tidak memburu manusia untuk makan. Dia hanya muncul di hadapan orang-orang yang sombong, yang merusak hutan, dan yang lupa diri.”

    Bayu menahan napas, dadanya naik-turun dengan ritme cepat.

    “Geraman itu terdengar lagi, kali ini jauh lebih dekat, diikuti bunyi langkah pelan yang menginjak daun kering. Lalu, dari balik batang pohon raksasa, sosok itu muncul.”

    Atuk berhenti sejenak, membiarkan keheningan balkoni memperkuat suasana.

    “Harimau putih,” lanjut Atuk. “Besar sekali. Jauh lebih besar dari harimau mana pun yang pernah dilihat Marajo. Bulunya putih bersih seperti kabut yang tersorot cahaya pagi, dengan loreng samar. Matanya kuning keemasan, menatap lurus ke arah Marajo.”

    Bayu mencengkeram lututnya sendiri. Ada binar ngeri bercampur takjub di matanya.

    “Kedua kaki Marajo langsung lemas. Keberanian yang tadi dia banggakan menguap entah ke mana. Dia ingin mengangkat senapan, tapi lengannya terasa seberat batu, seolah senapan itu sendiri menolak untuk diarahkan.”

    “Inyiak Balang berhenti beberapa langkah di depannya. Tidak menggeram, tidak juga menerkam. Hanya menatap. Lama sekali. Dan dalam tatapan itu, Marajo merasa hatinya seperti ditelanjangi. Semua kesombongannya, ranting-ranting yang dia patahkan, hewan-hewan yang dia buru secara berlebihan… semuanya mendadak berputar ulang di kepalanya.”

    Bayu berkedip pelan, ikut hanyut dalam ketegangan.

    “Tiba-tiba, Marajo teringat pesan ibunya waktu kecil: Kalau tersesat di hutan, jangan menantang. Ingat Allah, dan minta maaf pada rimba. Pelan-pelan, Marajo menurunkan senapannya. Lututnya goyah, lalu dia jatuh berlutut di atas tanah lembap. Dengan suara bergetar dia berbisik, ‘Maafkan aku… aku sudah terlalu sombong. Aku meremehkan hutan ini. Aku mengira aku rajanya, padahal aku hanya tamu.'”

    Atuk menundukkan kepala, menirukan posisi Marajo yang sedang bersujud.

    “Dia berjanji, kalau bisa keluar hidup-hidup, dia tidak akan berburu berlebihan lagi, tidak akan merusak pohon, dan akan mengajari anak-cucunya untuk menghormati hutan. Dia benar-benar menyesal.”

    Selama beberapa detik, balkon luar itu terasa sunyi.

    “Awalnya, tidak terjadi apa-apa,” kata Atuk. “Hutan tetap sepi. Tapi kemudian, tanah di dekatnya bergetar pelan. Langkah berat mendekat. Marajo memejamkan mata, mengira ajalnya sudah tiba. Namun, yang dia rasakan justru embusan napas hangat di bahunya.”

    Bayu kembali menahan napas.

    “Saat melirik sedikit, Marajo melihat Inyiak Balang berdiri tepat di sampingnya. Mata harimau itu tidak memancarkan amarah, melainkan tatapan dalam yang seolah sedang menimbang ketulusan hatinya. Tak lama, Inyiak memalingkan muka, mendongak sebentar, lalu berbalik badan. Ia melangkah menjauh, tetapi tidak menghilang ke semak-semak. Ia berjalan di sebuah jalur yang mendadak terlihat jelas, meninggalkan jejak kaki besar di tanah.”

    Atuk menggerakkan tangannya perlahan di udara.

    “Marajo bangkit dengan tubuh gemetar, lalu mengikuti harimau itu dari belakang. Mereka berjalan dalam diam. Setiap kali Marajo tertinggal atau kehilangan arah, Inyiak akan melambat, seolah sedang menunggu.”

    Pandangan Bayu lurus ke depan, seakan jalur hutan itu benar-benar terbentang di pekarangan rumah mereka.

    “Perlahan, suara hutan kembali terdengar. Kicau burung, gemericik air, dan dahan yang bergesekan. Pepohonan mulai jarang dan cahaya matahari makin terang. Di ujung sana, Marajo melihat petak ladang—batas desanya. Dia sudah sampai di tepi hutan.”

    Atuk tersenyum tipis. “Marajo langsung berbalik, ingin mengucapkan terima kasih. Tapi Inyiak Balang sudah lenyap. Hanya ada deretan jejak kaki besar di tanah yang perlahan-lahan mengabur tertiup angin.”

    Bayu menarik napas panjang, akhirnya bisa mengembuskan napas yang sedari tadi ditahannya.

    “Sejak hari itu, Marajo Bujang berubah total,” Atuk menyudahi ceritanya. “Dia tetap berburu, tapi secukupnya saja. Setiap masuk hutan, langkahnya pelan dan selalu mengucapkan salam. Kepada anak-anak di nagari, dia tidak lagi menyombongkan diri sebagai pemburu hebat. Dia justru menceritakan hari di mana dia tersesat dan diselamatkan oleh sang penjaga rimba.”

    Atuk mengusap kepala Bayu dengan lembut. “Inyiak Balang itu pengingat, Yu. Supaya manusia tidak lupa diri dan tahu cara menghormati tempat mereka menumpang hidup.”

    Kursi goyang berhenti berayun. Bayu masih bergeming di tempatnya, matanya sedikit berkaca-kaca karena terlalu larut dalam imajinasi petualangan Marajo.

    Atuk tersenyum, lalu mencolek hidung cucunya. “Nah, dongengnya sudah selesai. Sekarang, siapa yang tadi punya janji?”

    Bayu mengerjap, tersadar penuh dari lamunannya. Ia langsung melompat turun dari kursi rotan, kakinya menapak di lantai kayu balkon.

    “Eh, iya! Bayu harus cepat mandi,” gumamnya panik. Ia langsung menubruk kakeknya, memeluk leher Atuk erat-erat. “Terima kasih ceritanya, Atuk! Bayu mandi dulu!”

    Atuk terkekeh pelan sambil menepuk-nepuk punggung cucunya. “Aduh, kuat betul pelukannya. Tenaga harimau, ya?”

    “Cakar harimau… hiaaat!” Bayu memasang kuda-kuda, mengembangkan jari-jarinya ke udara seperti cakar, lalu melesat berlari menuju kamar mandi. Langkah kakinya yang ringan berdentum ceria di sepanjang lantai kayu.

    Atuk melepas kepergian cucunya dengan senyum hangat. Namun, begitu bayangan Bayu hilang di balik pintu, senyum itu perlahan memudar, menyisakan tatapan lurus ke arah langit pagi yang mulai membiru terang.

    Ia menarik napas dalam-dalam, mengatupkan kedua tangan di pangkuannya sambil berbisik lirik, “Semoga kamu tumbuh jadi anak yang kuat… dan tetap berhati lembut.”

     

     

    Kreator : Rukmana Gautama (RG Gotama)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab 3 – Legenda Inyiak Balang

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021