KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab.3. Luka Yang Tak Terungkap

    Bab.3. Luka Yang Tak Terungkap

    BY 11 Jul 2026 Dilihat: 25 kali
    Luka Yang Tak Terungkap_alineaku

    Epilog Coffee Yogyakarta, La Marzocco Strada

     

    Terlihat santai dan jarang bicara, tak menjamin hidup seseorang tak punya cerita. Hati orang, siapa yang tahu… 

    Malam minggu yang sudah biasa dilalui dengan santai, tak mesti menggantungkan harapan pada sesuatu yang tak pernah benar – benar hadir, Niken datang ke rumahku dan mengajak nongkrong di Café yang sama.

    Aku dan Niken tak pernah bosan ke sini. Mungkin karena suasananya yang nyaman, atau bisa jadi karena ada banyak kisah yang pernah terukir dalam perjalanannya… entahlah.

    Tapi yang pasti, Pencahayaan di Epilog Coffee terbuka lebar dan ruangnya di sini… terasa begitu lega dengan pemandangan hijau ke luar ruang yang begitu ramah. 

    “Ada banyak kata yang berhenti di tenggorokanku. Bukan karena aku lupa cara berbicara, tapi karena aku terlalu sering belajar, bahwa suaraku tidak selalu diinginkan”, katanya kemudian, usai memesan menu yang sama. Senyum miring yang menjadi ciri khasnya, tak lupa disematkan.

    “Aku mengumpulkan satu per-satu kalimat yang tertahan, jawaban yang kubatalkan, dan teriakan yang kupaksa menjadi diam”, lanjutnya pelan dengan wajah suram.

    “ Mereka tidak hilang. Mereka hanya berpindah tempat… dari lidah, ke dada. Dan di sana, mereka tidak lagi sekadar kata. Mereka menjadi berat”, sahutku santai.

    Malam itu, Niken menyadari sesuatu: ia tidak sedang diam. Ia sedang menahan ledakan.

    Orang – orang melihatnya seperti permukaan telaga yang tenang, tanpa tahu bahwa di dasarnya, ada sesuatu yang perlahan membusuk.

    Pesanan kami datang, diantarkan pelayan, seorang pria  muda yang ramah dan cukup menarik dipandang mata. Ia melirik sebentar ke arahku, melemparkan senyum hangat. La Marzocco Strada adalah rahasia nikmat sajian kopi di café ini. Bisa pilih sendiri biji kopi untuk resep kopi yang kami pesan.

    “ Setiap pagi, aku mengenakan wajahku dengan rapi.
    Licin, tanpa kusut, tanpa cela. Di meja makan, denting sendok terdengar biasa saja, tapi di dalam tubuhku, ada suara yang terus mengetuk, meminta keluar,” kata – kata Niken keluar begitu saja.

    Kuseruput kopi perlahan. Demikian juga Niken. Matanya sendu. Wajahnya menyiratkan kelelahan. Cukup lama aku  terdiam, sibuk mengukir barisan kata di dalam benak, agar tak terasa menyakitkan saat harus diucapkan.

    Dia sahabatku. Kami berbagi rahasia. Saling percaya dan saling menjaga. Aku tahu banyak… apa yang jadi beban pikirannya. Meskipun begitu, aku tak berani melanggar batasnya.

    Matanya menerawang jauh. Sebelah tangannya memainkan sendok kecil pengaduk kopi. Senyum pahit mengukir di sudut bibirnya. Ia menghembuskan nafas berat.

    “Aku menelannya lagi, Lingga.  Seperti biasa. Sakit ini tidak lagi berbentuk air mata. Ia berubah menjadi sesuatu yang lebih padat… sesak di dada, beban di pundak, dan kelelahan yang tak bisa dijelaskan”, keluhnya lemah.

    “ Kadang aku berdiri di depan cermin, menatap seseorang yang tampak baik – baik saja, tapi terasa asing”, lirih suaranya berlanjut.

    Pandanganku fokus mengarah lurus dan lembut padanya. Bibirnya masih bisa tersenyum. Matanya masih bisa berpura – pura tenang. Dan entah kenapa, itu terasa lebih menakutkan dari tangisan, bagiku.

    Niken berada di titik ini. Ia seperti berjalan di bawah laut. Cahaya masih terlihat dari atas, suara dunia masih terdengar samar, tapi tekanan di dada tidak pernah benar – benar hilang.

    Pelan kuusap punggungnya. Aku dapat merasakan, getaran yang ia tahan di dalam sana. Sendok kecil yang dipegangnya terlepas, menimbulkan bunyi,”cling”, efek ngilu yang terasa bukan hanya di gigi, tapi juga di tulang.

    Kugenggam jemarinya yang gemetar. Ia sahabatku, dan aku tahu… dirinya butuh itu. Fungsi dari kehadiranku sebagai seorang sahabat yang memberinya ruang dan menjamin rasa amannya, agar ia tak enggan bersandar.

    “ Jangan sungkan, aku selalu ada untukmu, Ken”, kataku pelan. Dan iya nyaris kehilangan keseimbangan, saat mencoba menyampaikan tekanan di dalam dadanya.

    “ Aku tidak bisa berteriak. Aku tidak bisa keluar dari perangkap yang seperti lorong panjang dengan banyak pintu tanpa Batasan akhir. Jadi aku belajar bertahan di dalam diam yang menyakitkan. 

    Tubuhku mulai berbicara dengan cara yang tidak bisa aku kendalikan”. Aku diam mendengarkan.

    “ Lambungku menegang setiap kali aku harus menelan sesuatu yang seharusnya aku katakan. Nafas terasa berat,
    seolah udara berubah menjadi sesuatu yang lebih kental”. Aku fokus menyimak tiap kata yang tersampaikan di sela – sela isakan kecil.

    “ Dan jantungku… tidak lagi berdetak dengan tenang,
    tapi seperti mengetuk dari dalam, meminta keluar dari ruang yang terlalu sempit”, isaknya pelan.

    Niken adalah tubuh yang terlihat utuh, dengan ribuan retakan yang tak terlihat. Di bawah lampu kafe yang terlalu terang, ia kembali menjadi seseorang yang “baik – baik saja”.

    “ Aku duduk di antara tawa, mengangguk pada percakapan, dan tersenyum pada hal – hal yang tidak benar – benar kurasakan”, keluhnya.

    “ Aku tahu peranku. Aku hafal skripnya. “aku baik-baik saja,” lirih… nyaris tak terdengar dari suara Niken yang mulai serak.

    Kalimat itu akhirnya keluar dengan sempurna dari bibirnya, seolah tidak ada yang salah. Kuusap punggung tangannya. Aku tak ingin bersuara. Aku hanya ingin mendengarnya.

    Malam merangkak perlahan. Tak terdengar lagi suaranya mengatakan apapun. Kuseruput kopiku yang mulai dingin dan dengan pelan… lalu kupilih kata yang sejuk untuk diungkapkan.

    “Ken, aku pernah ada… di tempat kau ada saat ini. Di cermin toilet, aku pernah berhenti sebentar. Menatap diriku sendiri. Diam lebih lama dari biasanya. Dan untuk sesaat, aku hampir jujur. Tapi pintu terbuka, dan aku Kembali”, kataku hati – hati.

    “ Topeng itu melekat lagi… rapi, utuh, meyakinkan. Di tengah keramaian, aku adalah rahasia yang berjalan. Aku ada, tapi tidak benar – benar hadir. Aku tidak hilang.
    Aku hanya… tertahan”, kataku pelan.

    Niken menatapku lembut. Lalu tersenyum samar. Malam ini berakhir lega. Setidaknya kami mulai berani melangkah pelan – pelan, keluar dari zona yang menyesakkan, dari Lorong sunyi dan gelap. Kami hanya perlu menemukan gagang pintu menuju halaman kebebasan. 

    Satu demi satu inci, langkah pelan yang tak terlihat mematahkan belenggu keterpurukan, menahan retak agar tak menjadi hancur. Baik aku mapun Niken, bertahan bukan karena kuat, tapi karena kami menolak untuk mati sebelum waktunya.

     

     

    Kreator : Missel Sahambe [Holiness Divine Joyful]

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab.3. Luka Yang Tak Terungkap

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021