
Masa remajaku terhabiskan di sekolah, hanya sebagian kecil waktu untuk di luar sekolah atau pun di rumah.
Cita-cita jadi guru Didi kini perlahan mulai dijalani. Mulai belajar di sekolah guru bernama SPG Negeri Ciamis di jalan KH.Ahmad Dahlan tepatnya bersebelahan dengan Lapangan Lokasana Gelanggang Lahraga dan tempat upacara kenegaraan Tingkat kabupaten pada masanya.
Banyak kenangan yang mewarnai masa remaja di sekolah guru ini, Bersama ibu bapak guru karena memang inilah kawah candradimukanya penggodogan pembentukan karakter kami jadi guru di sini.
“Di coba peragakan seorang guru masuk kelas dan langsung menyapa murid!” Perintah guru penguji praktek dan wawancara masuk SPG waktu itu.
Saya membayangkan ketika ibu Esih guru TK masuk kelas, kemudian membayangkan pula Pa Suherli guru kelas 1 waktu pertama kali masuk kelas dengan ceria sambil bersiul, Pak Narkosih, Pa Maman semua terlintas gerak geriknya. Bayanganku lewat kepada guru SMP Pa Surjo guru matematika yang datang dengan buku di tangan kiri dan tangan kananya penuh memegang pengaris lurus, siku-siku, busur derajat dan jangka. Bagaimana beliau datang dengan wajah tampan walau sudah tua tapi dengan penuh kharisma. Bayangan yang akan diterapkan dalam praktek terhenti.
“Bagaimana siap Di?”
“Siap Bu” aku mennjawab dan langsung ke depan kelas. Waktu itu yang menguji Ibu Nana JeEsKa.
Aku tampil ke depan kelas menirukan gaya santun Bu Esih dengan membungkukan badan dipadukan dengan gaya siulan Pak Suherli dengan kharisma Pak Surjo.
Aku bayangkan dengan sekuat-kuatnya bahwa aku adalah guru. gerak, mimik dan tingkah layaknya sudah jadi guru betulan.
“Prok…prok…prok…” tiga kali tepukan ibu penguji memberikan support dan dilanjut dengan ucapan. “Bagus ini calon guru masa depan, kecil-kecil cabe rawit biar kecil tapi menarik…pedas”. Membuat hatiku puas dan bersemangat.
Tes wawancara dan praktek selesai kesan itulah yang pertama mewarnai saya sebagai calon guru. Akan kah terwujud cita-citaku? Semua harus aku jalani selama 3 tahun ke depan. Apakah semua jalan itu akan indah, apakah semua guru di SPG ini tahu isi hatiku.
Waktuku padat dengan kegiatan sekolah, kegiatan OSIS dan kegiatan ekstrakurikuler Pramuka. Pagi sampai jam 13.00 dari senin samapi Sabtu. Hari minggu kegiatan Pramuka.
Pramuka Bantara dari mulai awal masuk sebagai anggota baru, dilantaik jadi anggota ambalam Ki Hajar Dewantara, berlatih, mengikuti kakak-kakak senior dan sacara estafet dari junior akhirnya senior dari dilatih akhirnya melatih itulah barangkali suatu pengalam yang begitu berharga dalam estafet menumbuhkan karakter patriotisme dalam jiwa Pramuka.
Mingguku adalah Pramuka, bersama Pradana Apad Iskandar, Dadan Suwardana besty seksi peralatan, Asep Saepudin si ganteng kalem seksi humas dan teman lainnya. Ardilaya, Cirahong, Boma, Benteng, Bong China adalah tempat-tempat uji nyali pasukan ambalam Ki Hajar Dewantara dan Ambalan RA. Kartini untuk siswa Perempuan. Tak ada histori atau gambar di simpan di galeri karena belum zamannya.
Banyak suka dan duka dalam kegiatan Pramuka, tapi masih teringat lagu apa guna keluh kesah waktu belajar Pramuka Penggalang sama Kak Darli dulu.
“Di, Pramuka tidak boleh cengeng, jangan mengeluh, oke!” itu kalimat waktu kakiku terjepit tongkat karena kurang gesit bermain tongkat sambil bernyanyi. Penanaman benih karakter berani dari Kak Darli Pembina Pramuka Penggalang dulu.
“Aku harus jadi guru siap pakai, bisa mengajar di kelas dan melatih pramuka di luar kelas.” Hatiku berbicara. Bayangan jadi guru serba bisa mulai melekat.
Selama 5 semester kegitan kepramukaan dari mulai PLPK, Pelantikan Bantara, Latihan pengembaraan, pionering, bakti sosial, sampai pada akhirnya menyaksikan pelantikan dan estafet kepengurusan ambalan, sebagian siswa SPG mengikutinya. Semester ke 6 sudah fokus pada ujian akhir kegiatan Ekstrakurukuler sudah tidak mengikuti lagi.
Ada rasa bangga, waktu remaja habis di organisasi Pramuka. Tertanam semboyan Dasa Darma dan Trisatya Pramuka di dadaku, Aku jadi Pandumu Aku siap jadi guru dan Pembina Pramuka.
Organisasi Siswa Intra Sekolah melengkapi kegiatan latihan berorganisasi bagi siswa SPG yang kelak akan berguna tatkala sudah berbaur menjadi guru atau warga masyrakat yang nempel dengan predikat guru digugu dan ditiru jadi contoh suri tauladan di masyarakat dan berorganisasi dengan teman satu profesi kelak di kemudian hari.
Tatang Sutarjo adalah ketua OSIS kami bersama-sama yang lainnya yang sebagian besar aktif pula di Ambalan Ki Hajar Dewantara dan Ambalan RA Kartini menjadi pengurus OSIS duble organisasi tapi tak apa memang diantara kami suka bukan terpaksa.
Yang melekat cerita waktu itu upin-ipin adalah dua sekawan Didi dan Dadan bagaikan sendok dan garfu. Aku dan Dadan jadi seksi peralatan pulalah di OSIS SPG Negeri Ciamis seperti di Ambalan Pramuka.
Sekilas cerita lucu ketika kami berdua makan duku sekenyangnya hampir satu kantong keresek unyil.
Waktu itu aku dan Dadan kelas 2 sementara Elin kelas 1 dia memberi dukuh sehabis latihan pramuka entahlah waktu itu kenapa sih memberi duku sebanyak itu dan kenapa di makan sepuasnya.
Hari minggu waktu itu sepulang latihan pramuka yang tempatanya di Desa Benteng kami berdua mampir ke rumah Elin dan diberi duku. Jam sudah agak sore sekitar pukul 16.00 saya dan Dadan mampir dulu ke sekolah kebetulan kosan Dadan dekat dengan sekolah, maksudnya mau mencari kantong keresek wadah duku untuk dibagi dua. Tapi kantong keresek yang dicari di ruang kelas tidak ditemukan.
“Di, jangan bingung-bingung cari wadah supaya mudah makan saja dukunya semua bagian kita masing-masing!” Kata Dadan temanku.
Aku berpikir mana mungkin duku yang segitu banyaknya sekitar 5 kg habis dimakan berdua.
“Cepet jangan banyak mikir mau tidak” Dadan mengajak makan duku sambil dia mendahului makan duku beberapa biji.
“Siap…!” kataku spontan sambil langsung merogoh duku sekepal di kantong keresek. Walau sebenarnya tidak setuju untuk makanduku sebanyak itu.
Sambil bicara ngaler ngidul kami berdua makan duku, tak terasa duku satu kantong keresek hampir habis. Tersadar ketika kami berdua saling lihat dan tertawa.
“Ha ha ha ha …”
“Hi hi hi hi …”
Kami saling bersahutan tertawa terpingkal-pingkal sambil menunjuk kearah celana yang berlawanan. Celana kami ternyata basah, semakin tertawa semakin meluas basahnya. Karena terlalu banyak makan duku akhirnya kami tidak bisa menahan buang air kecil ditambah kami saling mentertawakan kelucuan tak henti-hentinya.
“Hai siapa kalian!” tiba-tiba ada yang membentak, mengagetkan sekaligus menghentikan tertawa kami. Ternyata Penjaga Sekolah yang mendengar cekikan kami datang menghampiri.
“Saya Pak Didi.” “Saya Pak Dadan.” Kami menjawab hampir bersamaan.
Setelah diberi pengarahan dan peringatan oleh Penjaga Sekolah akhirnya kami pulang ke rumah masing-masing.
Didi yang sejak kecil bercita-cita jadi guru dengan figur-figur yang dia idolakan kini harus lebih serius fokus belajar ilmu keguruan dan ilmu pengetahuan lannya.
Entah berapa puluh guru yang mendidik, melatih, membimbing, menanamkan karakter guru selama 3 tahun belajar di SPG. Sekolah setingkat SLTA merupakan sekolah pencetak guru SD pada waktu itu.
Pendidikan keguruan mulai dari didaktik, metodik, psikologi umum, psikologi perkembangan, psikologi anak, psikologi sosial, metodologi, dasar-dasar pendidikan dan banyak ilmu keguruan lainnya dipelajari di sekolah ini. Selain Pendidikan keguruan dipelajari pula mata pelajaran umum lainnya untuk lebih memahami wawasan sebagai siswa tungkat SLTA.
Ketika belajar di TK, SD dan SMP ada guru yang diidolakan. Di SPG sesuai pemahaman pengetahuan yang dipelajari tidak lagi ada guru yang special diidolakan. Berdasarkan ilmu keguruan manusia memiliki ciri khas keunikan individu, memiliki karakter pembawaan yang berbeda yang tidak bisa ditiru, begitu juga guru yang akan membedakan gaya mengajar yang berbeda pula.
Di SPG ada guru yang mengajar sama sekali tidak membawa buku, catatan atau alat bantu lainnya beliau mengajar dengan lancar dan tidak sedikitpun salah tentang UUD, GBHN, Ketetapan MPR dan rumusan-rumusan perundan-undangan lainnya secara detail dari narasi sampai bab, sub bab, rinciannya betul-betul di luar kepala. Ada pula guru yang mengajar kumplit alat peraga catatan, diktat dan buku sumber beliau mengajar dengan gaya khas detail materi pelajaran. Ada guru yang mengajar dengan diselingi humor, diselingi cerita, di perjelas dengan logat daerah dan bahasa dialek.
Sekolah guru memang mencetak guru, begitu professional guru-gurunya, masing-masing guru sekaligus jadi model gaya mengajar guru yang bervariasi hingga menjadi kekayaan kami siswa SPG sebagai calon guru.
Tiga tahun telah terlewati, rasa bangga bercampur haru bergelora di dada. Kebahagiannku, kebahagian keluarga akhirnya meluas kepada kebahagian tetangga.
Wujud rasa syukur Ibu membuatkan nasi tumpeng dan mengundang tetangga dekat Ngariung (Bahasa Sunda) untuk melaksanakan syukuran.
Selepas isya kami sekeluarga, uwa, paman dan beberapa orang tetangga dekat berkumpul di ruang tengah. Lampu patromak menerangi ruangan tengah yang berdinding dan beratap anyaman bambu berwarna putih bersih tampak jelas karena baru dikapur.
Sekitar sepuluh laki-laki duduk melingkar di atas tikar mengelilingi tumpeng berbentuk kerucut lancip. Di hadapan masing-masing ada segelas air teh dan piring berisi kupat, tangtang angin, cara merah, cara putih, papais manis dan papais asin makanan khas syukuran.
Ibu-ibu dan beberapa anak perempuan ada pula, mereka ada di dapur mengurus dan mempersiapkan jamuan untuk tetamu yang hadir.
Didahului dengan permintaan maaf dan maksud tujuan dikumpulkan selanjutnya memimpin do’a yang diwakili oleh Mang Holil tetangga dekat acara dilaksanakan sangat sederhana namun penuh makna.
Dalam do’a dipanjatkan dan diamini semoga kelak aku menjadi guru yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama serta dapat membawa nama baik keluarga.
“Di kamu sekolah telah tamat, semoga ilmunya bermanfaat kata Pa Ustad ilmu yang bermanfaatlah yang akan mengalir pahalanya, kemudian jadilah anak soleh karena Ema dan Bapak berharap kamu mendo’akannnya ketika kami telah tiada.” Kata Ema memberikan nasehat setelah tamu pulang.
“Di ayah menyekolahkan adalah memberikan warisan karena ayah tidak punya sawah dan kebun hanya punya tenaga dan do’a. Maka ayah sekolahkan kamu semoga hasil sekolahmu dapat menjadi sumber kehidupan dan penghidupan jadilah orang yang terkemuka dan disegani jadilah panutan istrimu kelak dan jadilah ayah yang baik.” Nasehat ayah.
“Ema, bapak semoga pengorbanan Ema dan bapak dapat diwujudkan …dan ….” aku tidak bisa meneruskan kata-kata karena rasa haru bahagia dan sedih bercampur.
Patromak yang terang benderang kini sudah padam suasana mulai sepi. Angin lirih bertiup mengeluarkan suara gemerisik harmonis mengayunkan alunan musik pelepah pisang yang mengering beradu satu sama lainnya “ser… srek …ser… srek…ser…srek…” melodinya seakan beraturan.
Semua sudah pergi ke negeri mimpi dengan masing cerita yang tak sama. Irama daun pisang kini tak terdengar karena anginnya sudah berhenti. Serangga malam mulai bersahutan menghiasi suasana malam alam pedesaan.
Aku baringkan badan seraya berdo’a, “Allahummaghfir lii waliwaalidayya, warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa”
Kreator : Sahdi
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Bab 3 Masa Remaja
Sorry, comment are closed for this post.