KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab 3. Rasa yang tak pernah terungkap

    Bab 3. Rasa yang tak pernah terungkap

    BY 24 Sep 2026 Dilihat: 6 kali
    Bab 1. Pelarian Masa Luka_alineaku

    Deru mesin bus kota terdengar bergemuruh di tengah padatnya suasana pagi. Cepatnya putaran roda di atas aspal mengiringi lajunya bus dalam mengantar para penumpang menuju ke tempat tujuan.

     

    Hari ini Maru memutuskan untuk kembali pulang ke rumahnya. Setelah berpamitan kepada Bang Hendra dan istrinya, Maru bergegas pergi menuju terminal.

     

    Kini, ia duduk di kursi dekat jendela bus sambil memandangi pemandangan yang berlalu di luar sana. Beberapa toko, rumah, rumah makan dan pepohonan bergerak cepat terlewati, namun pikirannya masih tertahan pada pesan Ayra semalam. 

     

    Dua kata yang ditanyakan teman masa SMP-nya itu seolah enggan untuk pergi dari benaknya. Bahkan riuhnya suara didalam kabin tak membuatnya merasa terganggu.

     

    “Cinta,…? sayang…?”

     

    Untuk pertama kalinya ia mempertanyakan tentang itu semua.

     

    Saat larut dalam kemelut pikiran nya sendiri, suara getaran ponsel dari dalam ransel membuat Maru sedikit mengerjap. 

     

    Ia langsung merogoh ranselnya untuk mengambil ponsel, kemudian membukanya.

     

    Ternyata itu pesan dari Ayra. 

     

    Ayra: ”Pagi menjelang siang, Mar😁. Bagaimana hari ini?Kau baik-baik saja, kan?”

     

    Maru mengulum senyum. Belum sempat membalas, pesan lain langsung muncul lagi

     

    Ayra: ”Jangan lupa sarapan biar kuat menghadapi dunia💪💪🫵.”

     

    Senyum yang semula hanya berupa garis tipis kini merekah hingga memperlihatkan gigi rapinya.

     

    Maru kemudian mulai mengetik.

     

    Maru: ”Pagi juga, Ra. Terima kasih, aku baik-baik saja dan kamu juga jangan lupa sarapan😁”

     

    Maru membaca ulang pesan yang sudah diketiknya dengan hati-hati, sebelum menekan tombol send di layar ponsel.

     

    Saat tanda ikon lingkaran kecil disamping pesannya terus berputar, rasa khawatir mulai dirasakanya.

     

    Namun, perasaan itu perlahan memudar ketika ikon itu menghilang berganti dengan tanda ‘pesan sudah dibaca’ muncul di layar.

     

    Maru tersenyum tipis. Tapi, semenit kemudian dahinya berkerut saat pesan yang dikirimkannya tak kunjung mendapat balasan. Seiring layar ponselnya yang mulai meredup.

     

    Ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, sambil menghela nafas.

     

    Mungkin dia sedang bekerja,” bisik batinnya.

     

    Maru lalu menutup ponselnya  kemudian memasukkannya ke dalam saku ransel yang dipeluknya.

     

    Ia kembali menatap pemandangan dibalik jendela. Entah kenapa untuk pertama kalinya di pagi hari ini, hati dan pikirannya terasa sedikit lebih ringan dari sebelumnya.Tanpa sadar, ia menyunggingkan senyum tipis.

     

    Tangannya yang memeluk ransel perlahan mengendur seiring kelopak matanya yang terasa semakin berat dengan pandangan yang mulai kabur. 

     

    “Mar,… Mar,… Bangun!”

     

    Suara samar remaja laki-laki terdengar.

     

    “Mar,…!!”

     

    Dahi Maru mengerut saat merasakan seseorang mengguncang bahunya.

     

    “Mar, ada pak Gunawan. Cepat Bangun!!”

     

    Perlahan Maru mulai membuka mata.

     

    Dengan pandangan yang masih setengah kabur ia melihat sosok samar seorang remaja laki-laki.

     

    Kedua alisnya bertaut, merasa ada sesuatu yang janggal. Seolah sebuah keanehan tengah menyelinap dibenaknya.

     

    Namun, seiring rasa kantuk yang mulai memudar, wajah remaja laki-laki itu perlahan kian semakin jelas.

     

    Maru berkedip beberapa kali. Tubuhnya langsung membeku. Ia menajamkan pandangannya.

     

    “Ada apa?” bisik  remaja itu, saat melihat Maru yang menatapnya bingung.

     

    Maru tersentak. Kepalanya yang semula tertelungkup di atas meja langsung terangkat. Bahunya ikut naik tanpa sadar. Bahkan kursi yang didudukinya pun berdecit, seiring punggungnya yang menegak seketika.

     

    Tubuh remaja laki-laki itu reflek bergeser ke belakang, ia terkejut melihat reaksi Maru yang tiba-tiba.

     

    Maru mengucek kedua matanya beberapa kali seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

     

    Sementara remaja laki-laki itu tetap menatapnya, bingung.

     

    “Kau,… Josep?” tunjuk Maru tepat didepan wajah remaja laki-laki itu. 

    “Si landak, kan?” Tambahnya saat melihat ke arah rambutnya yang seperti duri landak.

    “Apa yang kau lakukan disini?” 

     

    Mata Remaja laki-laki itu menyipit, ia menepis tangan Maru. “Sst!“ bisiknya. “Kau ini kenapa? Mimpi ya?” lanjutnya sambil menggelengkan kepala.

     

    “Yang dibelakang, ada apa? Ribut sekali” Suara pria dewasa terdengar mengalihkan perhatian keduanya

     

    Maru menoleh ke arah asal suara.

     

    Dan seketika matanya terbelalak, tubuhnya tersentak. Ia berdiri terlalu cepat sampai menimbulkan suara gaduh, membuat semua mata tertuju padanya.

     

    Dihadapannya, tepat di samping papan tulis, seorang pria berdiri sambil menggenggam penggaris kayu besar.

     

    Maru menatap  pria itu. 

     

    “Pak … Pak Gunawan …?” 

     

    Nama itu lolos begitu saja dari bibir Maru.

     

    “Dia kenapa?” Tanya Pak Gunawan sambil melirik josep yang duduk disamping Maru.

     

    “Mimpi mungkin, pak,” Sahut seorang remaja laki-laki dari barisan sebelah, disambut tawa beberapa teman lainnya.

     

    Maru melihat ke arah remaja laki-laki itu. Ia menatapnya dengan serius seolah mencoba mengenalinya. 

     

    Namun, meski menatapnya cukup lama, Maru tetap tak bisa mengingat siapa remaja itu.

     

    Maru menghela nafas. Lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, memperhatikan tempat ia berada saat ini.

     

    “Ini…?”

     

    Maru mengernyit, dua alis bagaikan pedang itu bertaut dalam kebingungan.

     

    Tiba-tiba Pupil matanya melebar.

     

    Kombinasi cat dinding berwarna biru muda dan biru tua. Dua foto besar presiden dan wakil presiden tergantung di atas papan tulis. Di antara kedua Foto itu terdapat Lambang Garuda pancasila yang mencengkeram pita putih bertuliskan Bhinneka tunggal ika.

     

    Tempat ini?

     

    Ruangan ini?

     

    “Kenapa aku bisa ada disini?”

     

    “Bukankah, aku tadi didalam bis, hendak mau pulang?” 

     

    Maru terdiam. Ia berusaha mengingat apa yang terjadi sebelumnya.

     

    Tanpa sadar ia menunduk melihat ke arah celana yang dikenakannya.

     

    “Biru..?” 

     

    Matanya berkedip beberapa kali. Tangannya mulai meraba pada saku kemeja berwarna putih yang bertuliskan OSIS

     

    Ini…? Tidak mungkin…”

     

    “Apa aku kembali ke masa lalu?” 

     

    Maru menggelengkan kepalanya cepat.

     

    Semua orang yang ada disana menatapnya dengan tatapan penuh keheranan.

     

    Tanpa memperdulikan pandangan sekitar, Maru terus mencoba mencerna apa yang sedang terjadi padanya.

     

    Mimpi?” 

     

    “Apakah aku sedang bermimpi?”

     

    “Ya,… aku pasti sedang bermimpi. Mana mungkin hal seperti ini terjadi” 

     

    Ia menarik nafas panjang. Perlahan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Untuk sesaat Maru menatap lekat telapak tangannya sebelum memejamkan mata.

     

    Dan dengan hati-hati, tangannya mulai diayunkan.

     

    Plakk

     

    Suara tamparan keras menggema di dalam ruangan.

     

    Semua mata ikut terbelalak melihat tingkahnya.

     

    Akh!…

     

    Rasa kebas disertai panas langsung menjalar di pipi.

     

    “…Sakit” 

     

    Maru meringis memegangi pipinya dengan kedua tangan.

     

    Tunggu!” Maru tertegun. “Kenapa sakit? Bukankah dalam mimpi seharusnya tidak sesakit ini?” Gumamnya pelan.

     

    “Tentu saja sakit” 

     

    Suara remaja perempuan terdengar. 

     

    “Orang bodoh mana yang mau menampar wajahnya sendiri sekeras itu”

     

    Maru tertegun. Kedua tangannya masih menempel di pipi.

     

    Suara ini….”

     

    Jantung Maru berdegup kencang. Perlahan, ia menoleh kesamping.

     

    Disebelahnya, tepat di barisan bangku yang bersebelahan, seorang remaja perempuan duduk sambil menatapnya.

     

    Wajahnya datar, sebuah pena terselip di sela jarinya.

     

    Mata Maru membulat sempurna. 

     

    Dia …. Disini? 

     

    “Ayra….”

     

    Remaja perempuan itu tampak acuh. Ia kembali menatap papan tulis, seolah tidak terjadi apa-apa.

     

    Sementara Maru masih menatapnya tidak percaya.

     

    “Maru,.. !” Seru pak Gunawan dari depan kelas.

     

    Suara itu langsung memutus lamunannya. Ia tersentak,

     

     “I … iya pak, ” jawabnya tergagap

     

    “Kamu tidur di kelas lagi ya?” Tanya pak Gunawan.

     

    “Tidak Pak”  Maru menggeleng cepat

     

    “Kalau begitu, sekarang kamu kedepan dan kerjakan PR soal nomor dua”

     

    Maru tergagap, dengan panik ia melirik josep. Namun yang dilirik malah langsung menunduk sambil sibuk menulis. Seolah tidak ingin ikut terlibat.

     

    Maru mengusap tengkuknya kasar. Lalu meraih buku di atas meja. Saat ia melihat soal yang harus dikerjakannya, matanya melebar sempurna.

     

    “Sial… Aku belum mengerjakannya”

     

    Ada apa, Mar?” Tanya pak gunawan. Membuat maru terperanjat.

     

     “Cepat Maju!” lanjutnya dengan nada tegas.

     

    Maru mulai gelisah. Namun, karena didesak mau tak mau ia pun melangkah maju.

     

    Di depan kelas, dengan tubuh menghadap papan tulis dan kapur tulis tergenggam di tangannya, Maru mematung dengan tatapan kosong. Ia benar-benar tidak tahu apa yang harus ditulisnya.

     

    Melihat Maru yang diam cukup lama tanpa menulis apapun. Pak Gunawan menghela nafas panjang sambil menggeleng ringan.

     

    “Kenapa? Kamu belum mengerjakannya, ya?” tanyanya.

     

    “Itu….” Maru menggigit bibir bawahnya. Ia menunduk, tak mampu melanjutkan kata-kata.

     

    “Sudah, taruh bukumu. Dan lari sepuluh putaran di lapangan basket sana. Cepat!” Perintah pak Gunawan dengan tegas.

     

    Maru segera meletakkan bukunya di atas mejanya sendiri. Tanpa membuang waktu lagi, ia langsung berlari menuju lapangan basket untuk melaksanakan hukuman.

     

    “Dan untuk kalian juga,” ucap pak Gunawan menghadap semua murid lainnya. “Siapa yang belum mengerjakan PR, segera lari menuju lapangan basket, cepat!” Lanjutnya sambil mengetukkan ujung penggaris kayu besar yang dipegangnya ke atas meja.

     

    Dan begitu kata-kata itu selesai diucapkan. Beberapa murid langsung beranjak dan berlari menyusul Maru.

     

    Mata pak Gunawan nyaris mau keluar saat mengetahui hampir setengah isi kelas belum mengerjakan PR. Ia menghela nafas berat sambil menggelengkan kepala. Kemudian mulai membuka buku yang ada di atas mejanya.

     

    “Baiklah, sekarang serahkan PR kalian kemari…..”

     

    ###

     

    Di luar, Maru dan yang lainnya berlari mengitari lapangan basket.

     

    Beberapa kali saat melewati pintu kelas miliknya yang terbuka lebar, Maru tanpa sadar memperlambat larinya untuk melirik ke dalam kelas.

     

    Dari kejauhan ia melihat Ayra yang tampak sibuk dengan bukunya.

     

    Seperti biasa…dia memang anak yang rajin” bisik batin Maru.

     

    Tanpa sadar senyum tipis muncul di wajahnya.

     

    “Kau lihat apa?”

     

    Maru terkesiap. Wajah josep tiba-tiba muncul, menghalangi pandangannya. Senyum itu pun hilang seketika.

     

    Josep tersenyum jahil. Ia  menatap Maru curiga.

     

    Maru mendelik kesal. Lalu mulai mempercepat larinya semakin kencang meninggalkan josep dibelakang.

     

    Melihat itu, josep tidak mau kalah. Ia segera menambah kecepatan larinya, menyusul Maru.

     

    Saat berhasil menyusulnya, josep meraih pundak Maru hingga keduanya berlari berdampingan.

     

    “Hei, kalau suka katakan padanya” 

     

    Maru tersandung kaki sendiri. Ia hampir jatuh mendengar ucapan teman sebangkunya itu. Ia segera menghentikan larinya, lalu menatap josep.

     

    “Apa maksudmu dengan suka?” Tanya Maru.

     

    Dua alis josep terangkat saat mendengar pertanyaan itu.

     

    “Jangan pura-pura, aku tahu….” ucapnya sambil mengedipkan sebelah mata.

     

    Melihat itu Maru mengerutkan dahi. Ia mundur satu langkah dari josep.

     

    Josep menarik bahu Maru, kemudian merangkulnya lalu berbisik, “Satu kelas sudah tahu kalau kau suka pada Ayra”

     

    Mata Maru membulat sempurna, menatap ke arah pemuda yang memiliki rambut seperti duri landak.

     

    Suka…?”

     

    Maru terdiam.

     

    Kata itu terasa asing di telinganya. Namun entah mengapa, begitu mendengarnya, wajah Ayra muncul dibenaknya.

     

    Ayra yang sedang menulis.

     

    Ayra yang selalu serius saat belajar.

     

    Ayra yang membuatnya tanpa sadar tersenyum setiap kali melihatnya.

     

    Suka…?”

     

    “Apa ini yang disebut suka…?”

     

    “Benarkah aku suka padanya?” 

     

    “Jika kau terus memendamnya tanpa mengatakannya. Kau pasti akan menyesalinya, Mar” ucap josep sembari menepuk punggung Maru. 

     

    Maru mengerjap pelan, tepukan itu memecah lamunannya. Ia menoleh ke arah josep sambil tersenyum canggung.

     

    Keduanya, kemudian kembali melanjutkan larinya.

     

    “Apa jangan-jangan Kau takut ditolak olehnya?” Tanya Josep tiba-tiba.

     

    Kaki Maru dengan cepat langsung berhenti bergerak. Ia  menatap Josep, Wajahnya menegang dan sekelebat kekhawatiran melintas di matanya.

     

    Josep yang dapat menangkap perubahan ekspresi kecil di wajah teman sebangkunya itu, tersenyum ringan. Ia pun ikut berhenti berlari.

     

    “Takut ditolak itu wajar, Mar” ucapnya sambil melangkah pelan mendekati Maru. “Itu bukan sesuatu yang buruk. Justru yang buruk itu ketika kau tidak berani mencoba mengungkapkannya” lanjutnya.

     

    Maru tidak menjawab. Ia hanya kembali melanjutkan hukumannya, tapi laju larinya kali ini sedikit melambat. Seolah sedang mempertimbangkan saran dari josep.

     

    “Siapa tahu saja setelah kau mengatakannya, ternyata dia juga memiliki perasaan yang sama terhadapmu” ujar josep sambil mengikutinya.

     

    “Mar, kita semua tahu kau suka pada Ayra sejak kelas satu. Karena itu cobalah kau ungkapkan” Seorang remaja bertubuh tinggi semampai datang dari sisi kanan Maru.

     

    Maru menoleh kearah remaja itu. Ia mengerutkan dahi.

     

    “Firman…”

     

    Remaja itu tersenyum sambil melihat ke arah Maru.

     

    “Kalau menurutku sih sebelum kamu mengatakannya, sebaiknya cari tahu dulu, apakah dia suka sama kamu. Biar tidak terlalu memalukan kalau ditolak nanti” seorang remaja laki-laki bertubuh gempal yang tepat dibelakang Maru ikut menimpali.

     

    Maru menolehkan kepalanya ke belakang. 

     

    “Ramdan..”

     

    Remaja itu melambai sambil tersenyum.

     

    “Aku yakin dibalik wajah datar Ayra, dia itu suka padamu, Mar” timpal remaja bertubuh pendek. “Buktinya setiap kau menjahilinya dia tidak pernah membalas”

     

    Kali ini seorang remaja yang berlari di samping Firman ikut bicara.

     

    “Willi..”

     

    Maru mengedarkan pandangannya. Satu persatu wajah disekitarnya ia tatap nanar. Entah kenapa, ada perasaan hangat yang perlahan mulai mengisi relung hatinya.

     

    “Kalian….”

     

    Belasan tahun telah berlalu, wajah-wajah ini bahkan sudah mulai memudar dari ingatannya. Begitu Pula dengan perasaan yang kini memenuhi dadanya.

     

    Selama ini waktunya selalu ia habiskan untuk bekerja dan memikirkan bagaimana mempertahankan rumah tangganya.

     

    Ditengah usahanya menjaga semua orang agar tetap bahagia, tanpa sadar ia justru melupakan dirinya sendiri.

     

    Pekerjaan dan tanggung jawab membuatnya lupa bahwa ia juga hanyalah seorang manusia. Seorang manusia yang berhak tertawa tanpa memikirkan beban di pundaknya, meski itu hanya untuk sesaat.

     

    Maru tidak pernah menyangka bisa bertemu mereka kembali.

    Ia tidak peduli  apakah semua yang dialaminya saat ini nyata atau hanya mimpi. Tapi, meskipun semua ini hanya sebatas mimpi dan suatu saat nanti ia harus terbangun, ia siap menerimanya.

     

    Kenapa?

     

    Karena Setidaknya momen ini mengingatkannya bahwa dulu, ia pernah merasakan canda, tawa dan keseruan sesederhana ini, dan kini ia merasakannya kembali.

     

    Maru tersenyum. Senyum tulus yang sudah lama menghilang dari wajahnya. Senyum yang selama belasan tahun ini tak bisa ia lakukan.Tapi, Kali ini, disini ia bisa melakukannya.

     

    “Nanti coba aja ajak dia pulang bareng,” ucap Firman memberi saran.

     

    Maru menatap Firman, “Bagaimana kalau dia menolaknya?” Tanya Maru, “sama seperti tempo hari” lanjutnya dengan suara pelan.

     

    Keempat temannya seketika tertegun serempak, mereka saling pandang.

     

    Melihat keempatnya berhenti berlari, Maru pun ikut berhenti.

     

    “Kamu pernah mengajaknya?” Tanya Ramdan menatap lekat pada Maru.

     

    Maru mengangguk, “Iya, waktu itu aku gak sengaja ketemu dia di ruang piket. Disana, aku ajak dia pulang bareng, tapi dia menolaknya” jawab Maru sambil menghela nafas.

     

    “Itu karena kau terlalu sering menjahilinya sih” celetuk wili, yang sontak membuat josep memukul pelan bagian kepala belakangnya.

     

    “Jangan patah semangat dulu, Coba kamu ajak dia lagi saja,” ujar Ramdan. “Siapa tahu kali ini berhasil.” Lanjutnya menyemangati.

     

    “Iya, kau harus memiliki sikap maju tak gentar donk. Selama Ayra belum punya pacar, pepet terus sampai dapat.” ujar josep.

     

    “Ayolah Mar, Semangat ya..” bujuk Ramdan.

     

    Maru menatap wajah keempat temannya. Senyum kecil perlahan terukir di wajahnya.

     

    “Ba….”

     

    “KALIAN MALAH NGOBROL!l”

     

    Belum sempat Maru bicara. Tiba-tiba Suara pak Gunawan menggema dari kejauhan.

     

    Maru dan yang lainnya tersentak. Dalam sekejap kelompok kecil itu pun langsung membubarkan diri

     

    “Kalau sudah selesai cepat masuk!” Lanjutnya berseru sambil menggebrak pintu kelas.

     

    “Iya, pak” jawab keempatnya serempak, sambil melemparkan senyuman.

     

    Setelah beberapa Menit berlalu, Maru dan yang lainnya kembali masuk ke dalam kelas.

     

    Maru sengaja mengambil jalan menuju bangkunya melewati bangku Ayra. Dengan senyuman tipis dan tatapan lembut, ia terus menatap siswi remaja itu. Dan saat kedua pasang mata bertemu, Ayra langsung melotot seolah bertanya,

    Apa lihat-lihat?’

     

    Melihat itu, bukannya marah, Maru malah tersenyum lebar. 

     

    Maru duduk di kursinya, tapi kepalanya mengarah ke samping, pada sosok remaja perempuan yang entah sejak kapan selalu menjadi magnet pandangannya.

     

    “Ra…” 

     

    Ayra menoleh. “Apa…?”

     

    “Nanti kita pulang bareng yu?” Ucap Maru ragu sambil membolak balik lembaran buku tulisnya. 

     

    Ayra tidak menjawab. Dia hanya menatap Maru dengan tatapan curiga.

     

    “Ada yang ingin aku tanyakan” lanjut Maru cepat, khawatir ditolak lagi.

     

    “Tanyakan disini saja” balas Ayra.

     

    “Tidak bisa harus nanti. Mau ya?” 

     

    Untuk sesaat gadis itu tampak berfikir, namun beberapa detik kemudian dia pun mengangguk, “Baiklah”

     

    Maru tersenyum, dia mengedipkan mata ke arah josep. Josep yang mengerti maksudnya langsung membalas dengan acungan jempol.

     

    ###

     

    Bel sekolah berdentang nyaring. Semua siswa dan siswi berhamburan keluar kelas.

     

    Di Dalam kelas, Maru sengaja memperlambat langkahnya, menunggu Ayra yang masih mengobrol dengan teman sebangkunya.

     

    “Sepertinya kita tidak jadi pulang bareng de, Mar” ucap Ayra tiba-tiba saat melihat ke arahnya.

     

    Maru mengerutkan dahi, “Kenapa?” tanya Maru cepat. “Kau ada acara ya?” 

     

    “Bukan aku, tapi kau….” Ayra menunjuk ke arah pintu kelas dengan pandangannya.

     

    Disana, seorang remaja perempuan terlihat berdiri, seakan tengah menunggu seseorang.

     

    Maru melihat ke arah yang ditunjuk. Ia mengerutkan dahi.

     

    “Siapa?” Tanya Maru bingung.

     

    Ayra menatap Maru, alisnya berkerut lebih dalam dari sebelumnya. “Bukankah dia pacarmu?” 

     

    “Pacarku?” Maru melotot tidak percaya, “Maksudmu anak itu pacarku?” Tanya Maru sambil menunjuk dirinya sendiri. “Kapan aku punya pacar?” 

     

    Ayra mendecak, ia melangkah maju mendekat. Seolah tak memberi ruang untuk Maru menghindar. “Kau ini pura-pura lupa atau gimana, bukankah selama ini kalian selalu pulang bersama?” 

     

    Maru menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia mencoba menyusuri ulang masa SMP-nya yang ada di dalam isi kepalanya. Namun sekeras apapun ia mencari, wajah gadis itu tetap asing. Seolah tidak pernah menjadi bagian dari hidupnya.

     

    Benarkah dulu aku punya pacar?” 

     

    Ia menggeleng cepat. Bingung dengan dirinya sendiri.

     

    Melihat Maru diam, tenggelam dalam pikirannya sendiri, Ayra memutar bola matanya pelan sembari mendecak kecil. Tanpa banyak kata ia melangkah melewati Maru, berniat untuk pergi.

     

    Namun, sebelum Ayra sempat melangkah lebih jauh, Maru sudah lebih dulu mencengkram pergelangan tangannya

    “Kau tau dari mana dia pacarku?” Tanyanya cepat.

     

    Ayra tersentak, ia mengedipkan mata beberapa kali. “Karena dia selalu pulang bersama denganmu.” Jawabnya.

     

    Dahi Maru mengerut, “Hanya itu?” 

     

    Ayra mengangguk, “Teman-teman yang lain juga bilang kalau kalian pacaran” lanjutnya.

     

    Maru mengedipkan kelopak matanya beberapa kali. Saat itu lah potongan ingatan tentang penolakan di ruang piket terlintas di benaknya.

     

    “Tunggu!” Ucap Maru menatap Ayra. Ia memajukan wajahnya sedikit lebih dekat ke hadapan gadis itu. Bahkan jarak mereka kini begitu dekat, hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan. “Jadi, saat kau menolak ajakanku di ruang piket waktu itu, karena kau mengira aku sudah punya pacar?” 

     

    Ayra mengangguk cepat tanpa mengatakan sepatah kata apapun.

     

    Maru menghela nafas, wajahnya bergerak sedikit menjauh, ia tersenyum.

     “Aku tidak punya pacar, jangan khawatir” 

     

    “Tapi….”

     

    “Sudah, sekarang ayo keluar” ucap Maru memotong perkataan Ayra, tanpa melepas tangannya.

     

    Melihat sikap Maru, Ayra hanya bisa menurut tanpa memprotesnya. 

     

    Keduanya melangkah bersama keluar kelas.

     

    Diluar kelas, josep dan yang lainnya sedari tadi mengamati keduanya dari kejauhan.  Saat melihat tangan Maru masih menggenggam tangan Ayra, mereka langsung bersorak heboh, 

     

    “Cieeee Maru” josep

     

    “Pegangan tangan nih….” wili

     

    Mendengar sorakan teman-temannya, Ayra langsung menoleh tajam kearah Maru. Menangkap arti tatapan itu, Maru buru-buru melepaskan genggaman tangannya.

     

    “Bang Mar,” 

     

    Suara remaja perempuan terdengar memecah riuh sorakan teman-teman Maru.

     

    Merasa namanya dipanggil, Maru menoleh ke arah sumber suara. Dahinya sedikit berkerut saat melihat remaja perempuan itu sudah berdiri di dekatnya.

    “ Bang, Hari ini pulangnya kita naik angkot, ya. Niar kayanya pengen naik angkot de” ucap remaja perempuan itu.

     

    Ayra menatap Maru. Seolah menunggu apa yang akan dijawab Maru.

     

    “Kalau mau naik angkot, naik angkot saja sendiri. Aku pulang bareng Ayra, jalan kaki,” Maru Langsung menarik Ayra.

     

    Saat keduanya hendak melangkah, remaja perempuan itu menarik tangan Maru lebih cepat. 

     

    Maru langsung gelagapan. Tatapannya beralih pada Ayra dengan cemas. Namun gadis itu hanya membalasnya dengan wajah datar seperti biasa.

     

    “Tapi Bapak Niar udah nitipin Niar ke bang Maru,” ucap Remaja perempuan itu.

     

    Maru menghela nafas, 

     

    “Sudahlah Mar, sebaiknya kau pulang bareng dia saja” ujar Ayra sambil membalikan badan.

     

    Mata Maru melebar sempurna, menatap punggung Ayra yang mulai menjauh 

     

    “Dengar, bilang pada bapakmu,” ucap Maru melepas tangan gadis yang bernama Niar. “Hari ini aku libur jagain kamu nya, ya” lanjutnya sambil berlari mengejar Ayra. Meninggalkan gadis itu tanpa menoleh.

     

    “Ra, Tunggu….” Seru Maru.

     

    “Hei….” Maru Menarik tangan Ayra. “Jalannya bisa jangan cepat-cepat gak sih? Kaya orang lagi dikejar induk angsa aja” ucap Maru sambil melewati pintu gerbang sekolah.

     

    “Kau meninggalkan pacarmu?” Tanya Ayra sambil melirik ke belakang.

     

    “Dia bukan pacarku” jawab Maru tegas.

     

    Meskipun Maru tidak bisa mengingat gadis itu. Tapi ia yakin pada satu hal yang pasti, semasa SMP ia tidak pernah punya pacar.

     

    Ayra menyipitkan matanya, “Tapi teman-teman yang lain bilang dia pacarmu?” 

     

    “Siapa yang bilang begitu. Saat SMP aku tidak punya pacar, Ra”

     

    “Saat SMP ?” tanya Ayra bingung. Merasa ganjil dengan kata-kata yang baru saja didengarnya.

     

    Maru mengangguk.

     

    Meskipun Ayra tidak mengerti ,tapi dia hanya menanggapinya dengan kata ‘oh’.

     

    ###

     

    Maru dan Ayra berjalan berdampingan, meninggalkan gerbang sekolah yang perlahan menjauh dibelakang mereka.

     

    Matahari siang masih menggantung tinggi, memancarkan panas yang memantul di jalan sempit di tengah hamparan sawah.

     

    Angin sesekali menggoyangkan padi-padi hijau di sisi kanan dan kiri mereka, sementara beberapa siswa dan siswi lain disekitar, tampak berjalan sambil bercakap pelan.

     

    Di sisi lain, Maru dan Ayra berjalan dalam keheningan penuh rasa canggung. Tidak ada satupun yang bicara. Seolah sibuk dengan pikirannya masing-masing.

     

    Bagi keduanya, ini adalah hal pertama yang mereka lakukan.

     

    “Ra,…” panggil Maru memecah suasana.

     

    “Apa..?” jawab Ayra tanpa menoleh.

     

    “Aku….”

     

    Namun, sebelum sempat Maru melanjutkan ucapannya, sebuah bola menggelinding, menyentuh ujung sepatunya.

     

    Ia menatap bola itu untuk beberapa saat, entah kenapa ada sebuah perasaan familiar saat melihat bola itu. Dahinya perlahan berkerut.

     

    Ayra yang ada disamping, menatap Maru. “Ada apa?” Tanyanya 

     

    Maru menggeleng. Tanpa melepas pandangan dari bola itu.

     

    Seorang anak laki-laki dengan mengenakan kaos bergambar Dinosaurus datang berlari ke arah keduanya. 

     

    Merasakan sosok kecil itu datang, Maru mengangkat wajahnya. Matanya seketika melebar.

     

    Andri…

     

    “Bagaimana bisa dia ada disini?”

     

    Anak kecil itu berdiri beberapa langkah di depan mereka, menatap bola yang masih berada di kaki Maru. Ia tidak berkata apa-apa, tidak pula berani mendekat.

     

    “Itu bola mu, de?” Tanya Ayra sambil menunjuk pada bola yang masih ada di kaki Maru.

     

    Anak itu mengangguk pelan.

     

    “Hei!” Ayra menepuk bahu Maru ringan. Maru tersentak kecil, lalu menoleh.

     

    “Kenapa diam saja? Cepat balikin itu bola nya” ucap Ayra.

     

    Maru mengambil bola yang ada di kakinya, lalu mengulurkannya dengan perlahan ke arah anak kecil itu.

     

    Sepasang manik hitam kecil itu kembali menatapnya.

     

    “Andri…” ucap Maru.

     

    “Andri?” Ayra menatap Maru, heran. “Kau mengenalnya?” Lanjut tanyanya.

     

    Belum sempat menjawab, telinga Maru tiba-tiba berdengung keras,Ia menggelengkan kepalanya cepat. Berusaha mengusir dengungan tajam yang menusuk telinganya. 

     

    “Mar, kau baik-baik saja?” tanya Ayra khawatir.

     

    Tanpa permisi anak itu langsung mengambil bola yang ada di tangan maru. Lalu berlari menuju seberang jalan.

     

    Maru yang melihat itu hendak mengejar.

     

    “Tunggu….”

     

    Tapi, belum sempat ia melakukannya, Ayra langsung menahan.

     

    “Hei! Mau kemana?” Tanya Ayra sambil memegang lengan Maru cepat. “kau mengenal anak itu?” lanjutnya lagi.

     

    “Dia anakku, Ra”

     

    Mendengar itu Ayra langsung membeku. Tanpa sadar tangannya terlepas begitu saja dari lengan Maru.

     

    “Apa?”

     

    “Dia anakku….” Jawab Maru sekali lagi. Suaranya mulai bergetar. “Anakku, Ra” 

     

    Kepanikan mulai merayapi jiwa Maru, matanya perlahan memanas. Sementara embun tipis mulai menggenang di pelupuk mata.

     

    Di Seberang jalan, anak itu berlari tanpa menoleh menuju seorang perempuan tua. Untuk sesaat keduanya tampak menatap Maru.

     

    Maru yang melihat wajah dari perempuan tua itu mengerutkan dahi.

     

    “Ibu….?”

     

    Suara Maru nyaris hampir tak terdengar.

     

    Ayra mengikuti arah pandang Maru. 

     

    Di Seberang jalan, Perempuan tua dan anak kecil itu berjalan mulai menjauh, memunggungi keduanya.

     

    “Andri, ibu …tunggu …”

     

    Tanpa pikir panjang, Maru berlari hendak mengejar. 

     

    Tapi, sebuah mobil tiba-tiba melaju kencang ke arahnya.

     

    Ayra yang melihat itu segera menarik tubuh Maru.

     

    Keduanya langsung terjatuh di pinggiran aspal.

     

    Maru terduduk lemas. Melihat ibu dan anaknya seperti tak mengenalinya, Ia hanya bisa menatap punggung keduanya yang semakin menjauh. Dadanya terasa sesak, sementara air mata yang sejak tadi ditahannya, akhirnya luruh tanpa bisa ia bendung lagi. 

     

    Melihat Maru yang tampak begitu rapuh, Ayra perlahan merengkuhnya ke dalam pelukan. Ia mengusap punggung yang bergetar itu dengan lembut, memberi ruang agar semua emosi yang selama ini tertahan bisa jatuh tanpa perlawanan.

     

     “Ra, dia anakku…. Anakku Ra….” lirih Maru.

     

    “Mar,…”

     

    Panggil Ayra lembut. Ia perlahan melepas pelukannya.

     

    “Jangan menangis,” ucap Ayra sambil mengusap kedua pipi Maru. “ jika dia benar anakmu …. Bangun lah”

     

    Maru terdiam tatapannya seketika kosong. Ia tidak mengerti.

     

    “Bang….”

     

    Telinganya kembali berdengung.

     

    Suara pria asing menggema.

     

    “Bangun Maru….”

     

    “Bang….”

     

    Kali ini suara Ayra dan suara pria asing itu bertumpang tindih.

     

    Maru menggeleng keras. Ia mencengkram tangan Ayra. Saat itu entah kenapa perasaan takut tiba-tiba menjalar didalam dirinya.

     

    Takut, kalau sosok gadis di hadapannya akan menghilang. Bahkan sebelum ia sempat benar-benar memahami arti dari kehadirannya.

     

    ”Ra,… “ panggil Maru cepat. Ia menatap gadis di depannya. “Aku ….”

     

    “Bang…. Bangun….”  

     

    Suara itu kembali terdengar diselingi dengungan keras di telinga. Memotong ucapannya.

     

    Maru menggelengkan kepalanya berusaha mengusir suara asing itu.

     

    “Bang…..”

     

    “Maru……”

     

    Suara Ayra dan suara asing itu kembali bertumpang tindih. Menggema di kepalanya.

     

    Maru memegangi kepalanya dengan kedua tangannya sendiri, Pandangannya mulai kabur. 

     

    Di hadapannya sosok Ayra tersenyum, dua telapak tangannya perlahan menangkup wajah Maru.

     

    “Maru, Apa yang ingin kau katakan, katakan itu nanti. Sekarang bangun lah….tidak seharusnya kau ada disini…anak dan ibumu saat ini sedang menunggumu di rumah…”

     

    “Bang …. Bangun”

     

    Kedua suara bercampur.

     

    “Ra tidak….” Maru mulai panik. Ia terus berusaha mengusir dengungan di kepala dan telinganya. 

     

    Tanpa Maru sadari, tangan Ayra mulai terangkat tinggi.

     

    Dan

     

    “Bangun bodoh….. ”

     

    Plakk

     

    Maru tersentak matanya membelalak

     

    “Bang kamu baik-baik saja. Ini sudah sampai di terminal terakhir. Abang tidak turun?” seorang kernet bus berdiri tepat di hadapannya.

     

    Maru mengerjap beberapa kali sambil menatap ke sekeliling.

     

    “Ternyata, hanya mimpi….”

     

    Ia menghela nafas panjang lalu mengusap wajahnya kasar, seolah berusaha mengusir sisa ketakutan yang masih tertinggal dari mimpi itu. Setelahnya, ia pun segera berdiri.

     

    Makasih bang,” ucap Maru pada sang kernet.

     

    Kernet itu hanya mengangguk ringan sambil tersenyum.

     

    Maru kemudian melangkah turun dari bus. Begitu kakinya menjejak terminal, ia segera menaiki angkot menuju rumahnya.

     

    Di Dalam angkot, Maru merogoh saku ranselnya lalu mengeluarkan ponsel. Ia membuka layar dengan cepat, berharap sebuah pesan dari Ayra sudah menunggunya disana.

     

    Namun saat layar menyala, wajahnya perlahan meredup.

     

    Tidak ada pesan baru dari Ayra.

     

    Ia menghela nafas. Lalu kembali memasukan ponselnya kedalam saku ransel.

     

    Tak lama kemudian, angkot pun berhenti tepat di mulut gang menuju rumahnya.

     

    Maru turun dan berjalan menelusuri gang sempit yang di penuhi aneka tanaman.

     

    Saat tiba di depan halaman rumahnya, seorang anak kecil tiba-tiba berlari ke arahnya.

     

    “Bapak….”

     

     

     

    Kreator : Ayra (Pisces aqua )

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab 3. Rasa yang tak pernah terungkap

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021