Pagi itu Kaisya melangkah memasuki ruang kelas VII F dengan penuh semangat. Senyum manis tak pernah lepas dari wajahnya setiap kali berpapasan dengan siapa pun. Keramahannya memang sudah dikenal hampir seluruh siswa maupun guru di sekolah itu.
“Assalamu’alaikum, selamat pagi semuanya.”
“Wa’alaikumsalam, pagi Bu!” jawab para siswa kompak.
Kaisya tersenyum kecil lalu meletakkan buku dan map di atas meja guru. Matanya menyapu seluruh isi kelas yang kini menjadi tanggung jawabnya sebagai wali kelas.
“Perkenalkan, nama ibu Kaisya Maharani. Kalian bisa memanggil ibu dengan Bu Kaisya. Ibu akan menjadi wali kelas kalian selama di kelas VII F,” ujarnya lembut.
Beberapa siswa tampak antusias mendengarkan. Ada yang tersenyum, ada pula yang sibuk berbisik dengan teman sebangkunya. Tak sampai disitu, ia mengajak mereka untuk saling memperkenalkan diri masing-masing.
“Sekarang gantian kalian yang memperkenalkan diri. Sebutkan nama, asal sekolah, dan tempat tinggal. Kita mulai dari sebelah kanan ya.”
Satu persatu siswa mulai memperkenalkan diri. Suasana kelas perlahan mencair dengan candaan kecil yang sesekali muncul.
Siswa yang bernama Mikayla mengacungkan tangannya kemudian memperkenalkan diri secara jelas. “Halo semuanya, nama saya Mikayla Anindita.”
Belum sempat gadis itu melanjutkan kalimatnya, seisi kelas langsung bersorak riuh. Terlihat sepertinya anak tersebut begitu terkenal terbukti saat disebutkan namanya seisi kelas ramai seakan menyambut artis papan atas.
“Wih, Mikayla!”
“Artis datang!”
Tapi raut wajahnya seperti risih atau mungkin memang pembawaannya seperti itu. Ya, memang belum terlalu mengenal karakter para siswanya karena baru bertemu.
“Lanjutkan, Mikayla,” ujar Kaisya sambil tersenyum.
“Saya lulusan SD Harapan Bangsa. Rumah saya di Jalan Anggrek nomor delapan.”
“Baik, terima kasih Mikayla.”
Setelah semua saling berkenalan hingga proses pengenalan mata pelajaran yang diampu dan tata tertib kelas. Kaisya berpamitan untuk menuju kelas yang lain.
“Baiklah, pertemuan kali ini kita cukupkan sampai disini. Kita bertemu besok hari dengan materi di pelajaran. Selamat siang.”
Seluruh siswa menjawab dengan kompak. Di saat Kaisya sudah berada di luar, tiba-tiba saja Mikayla berlari menuju dirinya.
“Bu Kay,” seru Mikayla. Sontak saja Kaisya merasa aneh darimana siswanya itu tahu panggilan namanya padahal tadi ia tidak menyebutkan harus memanggil apa padanya.
“Maaf, kenapa kamu panggil nama ibu dengan begitu?” tanya Kaisya.
“Maaf, Bu. Saya keceplosan memanggil ibu begitu. Mungkin karena ayah saya bilang kalau ibu itu temannya waktu masih sekolah. Ayah begitu antusias menyebutkan nama ibu seperti yang tadi saya panggil. Sekali lagi saya minta maaf Bu,” terang Mikayla.
Kaisya menghembuskan nafasnya berat. Benar, gadis kecil dihadapannya ini adalah anak dari Gian. Teman masa sekolahnya dulu. Pasti ia akan menceritakan tentang dirinya.
“Iya, tapi lain kali jangan memanggil seperti itu ya,” ujar Kaisya berusaha tetap tenang. “Kurang sopan kalau didengar siswa lain. Panggil ibu seperti biasa saja”.
“Baik, Bu. Saya minta maaf,” balas Mikayla.
“Iya, tidak apa-apa. Oh, iya memangnya ada apa memanggil ibu?” tanya Kaisya baru ingat jika tadi Mikayla memanggil dirinya.
“Tadi ayah titipkan ini katanya buat ibu,” ucap Mikayla. Sedang Kaisya mengerutkan alisnya melihat bingkisan yang dipegang Mikayla.
“Ini apa?” tanya Kaisya.
“Kata ayah perkenalan dengan Wali Kelas. Tidak ada yang bagus Bu jadi seadanya saja. Mohon diterima ya bu,” ucap Mikayla.
“Begitu ya. Kalau begitu terima kasih atas bingkisannya,” kata Kaisya. “Ibu duluan ya mau masuk ke kelas yang lain,” lanjutnya.
“Silahkan Bu,” balas Mikayla dengan senyum manisnya. Sungguh mirip dengan Gian.
Kaisya menghembuskan nafasnya kemudian berlalu menuju ruangan selanjutnya. Seperti tadi, ia berkenalan dengan isi kelas baru. Hingga bel istirahat berbunyi. Para siswa keluar hanya untuk sekedar jajan tapi ada pula yang memakan bekalnya di dalam kelas. Begitupun dengan semua guru kembali ke ruangannya.
“Bu Kay, ini kue dari siapa?” tanya para guru yang berada di ruangan guru.
“Tadi ada siswa yang memberikannya katanya perkenalan untuk Wali Kelas, Bu,” ucap Kaisya.
“Wah, ada ya perkenalan pada Wali Kelas,” kata Bu Disti. “Tapi bagus juga sih, jarang loh ada yang seperti ini pada Wali Kelas,” lanjutnya.
Di sela perbincangan para guru yang membicarakan mengenai bingkisan perkenalan. Kaisya kembali seperti biasa jarang berkomunikasi dengan rekan kerjanya kecuali jika ada hal mendesak atau soal pekerjaan. Dibilang tertutup tidak juga, bahkan dengan rekan sebayanya atau yang dekat sering wara wiri hanya sekedar bergosip ria tentang kondisi siswa dan kelas.
Guru muda beranak satu itu kini tengah bermain ponsel. Melihat dunia maya hanya sekedar melepas penat ketika istirahat.
“Bu Kay, itu ada siswa yang nanyain ibu,” ujar Bu Kinanti.
“Oh, iya Bu. Terima kasih,” balas Kaisya mematikan ponselnya dan menyimpan pada saku seragam. Ia melangkahkan kaki ke luar menemui siswanya.
“Ada apa?” tanya Kaisya.
“Bu, itu di kelas ada yang berantem!” seru salah satu siswa perempuan.
“Ya ampun, ayo!” Kaisya bergerak cepat menuju kelas.
Sesampainya dikelas. Kaisya menemukan Mikayla tengah menangis sesenggukan. Entah apa yang terjadi dengannya.
“Ada apa ini?” tanya Kaisya menghampiri siswanya itu.
“Bu, tadi Mikayla diejek sama Haris katanya so’ baik, tukang cari perhatian, dan disebut anak yang gak jelas karena katanya ibunya kabur,” terang siswa yang berada dekat dengan gadis itu.
Kaisya membulatkan matanya sempurna. Ibu dari anak itu kabur? Jadi artinya Gian single? Dengan cepat Kaisya menggeleng mengapa harus memikirkan hal tak berguna begitu disaat keadaan kelasnya tengah tidak baik.
“Dimana Haris?” tanya Kaisya mencari keberadaannya.
“Keluar Bu. Gak tahu kemana,” ucapnya.
“Mikayla, sudah ya jangan nangis lagi. Haris mungkin iri saja jadi bersikap seperti itu,” kata Kaisya menenangkan.
“Kayla mau pulang saja,” rengek gadis itu dengan manja.
“Kenapa? Bukankah tinggal beberapa jam lagi kita pulang. Ini baru jam sepuluh lebih lima belas menit,” ucap Kaisya melihat jam tangannya.
“Tapi Kayla mau pulang. Ibu tolong telepon ayah suruh kesini jemput,” seru Mikayla.
“Baiklah. Tapi sebelum ibu telepon ayahnya kita selesaikan dulu ya permasalahan dengan Haris,” pinta Kaisya.
“Tolong cari Haris dan bilang ke kelas disuruh sama ibu. Cepat ya,” suruh Kaisya pada siswanya yang lain.
Jelang beberapa menit kemudian. Haris datang ke kelas dengan wajah tak berdosanya.
“Ibu manggil saya?” tanya Haris.
“Iya. Haris duduk sebentar. Yang lain ibu minta keluar dulu semuanya. Ibu ingin bicara dengan Mikayla dan Haris,” pinta Kaisya.
Isi kelas sudah kosong tinggal mereka bertiga. Terlihat jelas tatapan Haris pada Mikayla seperti ada kebencian. Sedangkan gadis itu masih tak henti menangis.
“Awalnya bagaimana? Kenapa kalian bisa bertengkar seperti ini?” tanya Kaisya. Namun tak ada jawaban dari keduanya. “Haris bagaimana denganmu?” lanjutnya.
“Ibu juga pasti sudah mendengar dari yang lainnya kan. Jadi buat apa saya ceritakan,” balas Haris membuat Kaisya mengerutkan keningnya. Baru kali ini ia mendapat siswa yang berani pada guru.
“Iya. Tapi hanya ingin mengklarifikasi apa benar yang mereka katakan itu?” tanya Kaisya lagi dengan tenang.
“Benar. Memang kenyataannya dia suka mencari perhatian. Hanya seperti itu saja sudah nangis. Atau mungkin pura-pura nangis agar diperhatikan,” ejek Haris.
“Haris, kenapa kamu bilang Mikayla suka mencari perhatian?” tanya Kaisya.
“Apa yang dia berikan pada ibu itu bukankah mencari perhatian? Atau mungkin menyogok agar bisa mendapatkan nilai baik disekolah,” ucap Haris.
“Hei, aku gak menyogok. Jangan bicara sembarangan kamu,” sergah Mikayla tak terima.
“Ko’ marah? Berarti memang benar,” Haris kembali mengejek.
“Sudah cukup. Haris, tindakan kamu ini kurang baik. Tidak boleh saling merendahkan seperti ini. Apalagi membawa masalah keluarga,” ucap Kaisya.
“Emang dia anak gak jelas, Bu. Ibunya kabur saat dia masih kecil. Kami dulu tetanggaan, jadi saya tahu,” jawab Haris.
Kaisya terdiam sesaat. Pantas saja kalau begitu. Ada rasa iba yang tiba-tiba memenuhi dadanya. Ia membayangkan bagaimana Gian menjalani hidup sebagai ayah tunggal selama ini. Dan anehnya, pikiran itu justru membuat hatinya semakin kacau. Namun tetap saja tidak baik tindakan Haris mencemooh Mikayla apalagi bertetangga pula.
“Kayla mau pulang saja, Bu. Tolong telepon ayah suruh jemput,” Mikayla kembali merengek seperti anak kecil.
Akhirnya Kaisya menelepon orang tua Mikayla untuk menjemput putrinya. Sungguh suatu hal yang sulit sebenarnya kembali bertemu Gian. Tapi sepertinya takdir sedang ingin bermain dengannya.
Kreator : Fauzi Nurruhaeni Syantika (FN Syantika)
Comment Closed: Bab 3. Rengekan Mikayla
Sorry, comment are closed for this post.