Niken memang ajaib, selalu penuh kejutan. Harus sejauh itu membawaku menemaninya ikut berlari. Entah gundah apalagi dia. Mendadak muncul di depan pintu kamarku dengan wajah yang sulit kutebak.
“Lingga, ayo kita ke dieng”, bujuknya.
“Hah? Dieng? Ngapain ke sana?. Males, ah”, kataku sambil Kembali ke tempat tidur dan menarik selimut menutupi kepala.
“Ayolah…”, rengeknya.
Ia tak berhenti menarik – narik selimutku, berganti kakiku, terus saja merengek.
Aku sangat Lelah dan hanya ingin di tempat tidur. Tapi… raut wajahnya yang memelas seperti kelinci, membuatku tak tega.
Dan seperti sebelum – sebelumnya, aku tak berdaya untuk menolak. Padahal mataku terasa berat dan masih ingin tidur. Tetapi Niken merusaknya dengan cara yang tak bisa di tolak.
“Ken, kamu ini kayak anak kecil saja. Nggak malu apa, kalau ada siswamu yang ngliat kolokanmu kayak gini?”, aku mendesah sambil geleng – geleng kepala.
“Biarin, Weekk”,candanya.
Kujitak jidatnya.
“Awh, sakit, Lingga!”, protesnya.
“Bodo amat!”, kataku sembari melangkah menuju kamar mandi.
Titik Nol, Dieng – Wonosobo
Dieng cukup dekat dan mudah dijangkau dari Yogyakarta, dengan jarak sekitar 100 – 130 kilometer dan waktu tempuh normal 3,5 hingga 4,5 jam perjalanan darat.
Ketika tiba, kami disambut dengan udara sangat dingin dan sejuk, dengan pemandangan pegunungan yang khas. Aku merindukannya cukup lama.
Setidaknya, aku berterimakasih diajak Niken Kembali ke sini. Titik nol bukan sekedar tempat wisata. Disini, titik nyaman buatku.
Suasana yang tenang. Halimun turun, kesejukan, ah… ini titik aman yang tak mesti dikomentari Panjang lebar. Aku dan Niken tak banyak bicara. Mungkin karena Lelah, tapi bisa juga karena pikiran kami yang sama – sama letih.
Kami memutuskan untuk ke warung kopi. Warung sederhana, tanpa kursi. Hanya meja dan duduk di lantai beralaskan tikar. Tapi aroma kopinya, seolah merayu dan menarik untuk tinggal lebih lama.
Kopi baru saja tersaji. Tapi kopi tak bisa bertahan lebih lama, karena dinginnya suhu di titik nol, akan mengubahnya dari kopi panas menjadi es kopi dalam hitungan detik.
Di titik Nol, Niken mencatat…
Lidahku telah menjadi sepotong kayu mati. Tidak ada lagi kata yang cukup tajam untuk mengiris kenyataan, jadi aku memilih menelannya bulat – bulat.
Orang – orang melihatku sebagai permukaan telaga yang tenang, tanpa tahu bahwa di dasarnya, bangkai – bangkai harapan sedang membusuk dengan rapi.
Aku tidak sedang diam. Aku sedang merawat sesuatu yang tidak boleh meledak.
Aku belajar menerima rasa logam di pangkal tenggorokan… tanda bahwa ada teriakan yang berhasil kupatahkan sebelum sempat lahir.
Sakit ini tidak lagi berbentuk air mata. Ia telah berubah menjadi sesuatu yang lebih sunyi dan padat… sekat di antara paru – paru, beban di pundak yang membuat langkah sedikit melambat, atau kekosongan luas saat aku menatap diriku sendiri di cermin.
Di titik Nol, Aku mencatat
Niken itu… sahabatku. Tapi, aku melihatnya seperti seseorang yang asing. Matanya redup, namun bibirnya tetap mampu membentuk kalimat yang sama…
“Aku baik-baik saja.”
Dengan presisi yang terlalu sempurna untuk menjadi jujur.
Dalam keadaan ini, aku melihatnya seperti sedang berjalan di bawah laut. Cahaya masih terlihat di atas sana, kebisingan dunia masih terdengar samar, tetapi di kedalamannya, hanya ada tekanan yang menghimpit dada.
Dalam diamnya, aku seolah mendengar suaranya pelan mendesah menembus ruang batinku,” Lingga, Aku tidak bisa berteriak, seolah air akan masuk. Jadi aku belajar bernapas dalam tekanan. Aku belajar bertahan dengan cara yang tidak pernah terlihat”, refleks kugenggam tangannya sembari tersenyum.
Namun perlahan, aku mulai menyadari sesuatu. Pengalaman mengajariku, bahwa sakit yang diam tidak pernah benar – benar hilang. Ia hanya berpindah tempat. Ketika mulut terkunci rapat, ia mencari jalan pulang ke bagian tubuh yang tidak bisa dibohongi.
Ia menetap di tengkuk, menjadi beban yang membuat pundak sedikit menunduk. Seolah ia sedang memikul langit yang mendung sendirian.
Secara perlahan, aku memahami tubuhku sendiri seperti sesuatu yang sedang bekerja melawan dirinya. Lambungku terasa seperti digenggam tangan besi setiap kali kenyataan harus kutelan tanpa jeda.
Tidak ada suara teriakan… hanya rasa asam yang diam – diam mengikis dari dalam.
Di balik tulang rusuk, jantungku berdetak dengan ritme yang tidak sabar. Bukan semangat, tapi ketukan yang ingin keluar dari ruang yang terlalu sempit.
“Ada apa denganmu, Ken. Koq mendadak banget ingin ke sini?. Bukannya kamu paling benci melakukan sesuatu yang tak direncanakan?. Lah ini apa, coba?”, tanyaku pelan.
“Nggak ada apa – apa. Aku hanya ingin ganti suasana saja. Bosan dengan suasana kota yang berisik,”sahutnya simple, tapi matanya sembunyi dari tatapanku.
Pandanganku tak beralih dari manik matanya yang terlihat gelisah. Ia menyesap kopinya, lalu duduk memeluk kakinya.
Saraf – sarafku seperti kabel tua yang sesekali korsleting dalam diam. Bahkan jemariku kadang gemetar hanya untuk memegang cangkir kopi.
Tak lama kemudian… Niken menghembuskan nafasnya. Terdengar seperti sebuah beban yang ingin dilepaskan. Dan di setiap tarikan nafas, aku sadar… bertahan pun bisa terasa seperti pekerjaan penuh waktu.
“Lingga, kita ini sebuah anatomi yang sedang menjaga agar tidak runtuh di tempat umum. Setiap sel bekerja lembur agar tubuh ini tetap tampak utuh, agar tidak ada retakan yang membocorkan semua yang kusimpan di dalam”,curahnya kemudian.
Aku duduk di antara gelak tawa, menyesap kopi yang terasa tidak lagi seperti kopi, namun tetap mengangguk pada setiap percakapan.
Niken menundukkan wajahnya. Ia sedang berjuang, untuk keluar dari zona yang membuatnya sesak nafas. Melepaskan bukanlah perkara mudah.
“Lingga, aku menjadi kurator bagi wajahku sendiri, memastikan setiap senyum berada di sudut yang tepat. Agar tidak ada yang curiga bahwa di balik binar mataku, ada sesuatu yang perlahan runtuh tanpa suara”.
“Dunia sosial hanyalah panggung yang tidak pernah benar – benar meminta kejujuran. Maka aku menjawab “aku baik” seperti kebiasaan yang sudah lama dipelajari”, Niken menghempaskan nafasnya yang terasa berat.
“Ken, dulu… tiap sebelum keluar ruangan, aku pernah berhenti di depan cermin toilet. Menatap seseorang yang berdiri di dalamnya”.
Aku bertanya dalam diam… “sampai kapan kita bisa menahan semuanya seperti ini?”
“Tapi tak ada jawaban. Hanya refleksi yang kembali tersenyum lebih dulu. Dan ketika pintu itu terbuka, topeng itu kembali terpasang”, kataku pelan.
“Bukan karena aku tidak ingin melepaskannya.
Tapi karena aku belum tahu bagaimana hidup tanpa itu”, kuakhiri dengan senyum.
Niken mengangkat wajahnya. Cahaya lampu memijar menyoroti titik air mata yang bertengger di sana.
“Aku Lelah, Arlingga. Tapi aku juga tak ingin menyerah. Jika kau bisa menemukan terang, maka seharusnya aku juga bisa”, desahnya.
Kupandang dua cangkir yang tinggal separuh isi. Uapnya masih menari, sebentar lalu lenyap. Di dasar cangkir Niken, ada noda tipis berbentuk hati yang hampir tak terlihat. Aku biarkan saja. Tak semua yang indah harus dibersihkan.
Kopi mulai mendingin. Malam mulai menua. Tapi untuk pertama kalinya setelah bertahun – tahun, aku tak merasa sendiri.
Karena aku tahu, di setiap seruput pahit, ada manis yang dulu pernah datang, dan di setiap cangkir yang kosong, selalu ada jejak yang tertinggal.
Kreator : Missel Sahambe [Holiness Divine Joyful]
Comment Closed: Bab.4. Biologi Duka
Sorry, comment are closed for this post.