BAB 5: BENIH KETIGA DAN DUA BUNGA ES
MASUK ISTANA DAN HADAPI BENIH KETIGA
Pintu istana terbuka. Udara di dalamnya panas. Seperti darah.
Tim Sembilan masuk beriringan. Leon di depan. Lyra membawa buku.
Di tengah ruangan besar, ada kolam es hitam. Di dalamnya berdenyut cahaya merah.
Itu Benih Ketiga.
Benih itu sebesar jantung manusia. Di sekelilingnya ada rantai es yang menancap ke dinding. Setiap denyutnya membuat lantai bergetar. Veyrin berdiri di atas jembatan es.
“Selamat datang. Keluarga yang bahagia.”
Eira menarik tangan Aira. “Jangan takut.”
Aira mengangguk. Dari telapak tangannya keluar bunga es kecil. Sama seperti Eira.
Veyrin menyipit. “Dua. Kalian punya dua.”
LATIHAN GABUNGAN EIRA DAN AIRA
Sebelum Veyrin bergerak, Selene maju.
“Cukup. Akhiri ini.”
Veyrin tertawa pelan. “Mengakhiri? Setelah kau meninggalkanku?”
Ardin berdiri di samping Selene. “Kami di sini bukan untuk bertarung. Kami di sini untuk memaafkan.”
Veyrin menatap Ardin. “Memaafkan? Dengan apa?”
Lyra membuka Buku Sihir Tanah Fajar. Halaman terakhir menyala.
Untuk mencabut Benih Ketiga dibutuhkan dua sihir hangat yang lahir dari luka yang sama.
Lyra menatap Eira dan Aira. “Ra, Aira. Genggam tangan.”
Eira dan Aira saling menatap. Ragu. Lalu saling menggenggam.
Ingat hangat, bisik Lyra. Ingat pelukan. Ingat rumah.
Eira menutup mata. Mengingat pelukan Ayah pertama kali.
Aira menutup mata. Mengingat genggaman Eira barusan. Pertama kalinya dia merasa punya kakak.
Dari tangan mereka keluar cahaya keemasan. Bukan dingin. Hangat.
Cahaya itu menjalar ke lantai, mencairkan es hitam.
Benih Ketiga bergetar. Retak.
POV VEYRIN
MENGINGAT MASA LALU DENGAN SELENE
Veyrin jatuh berlutut.
Di kepalanya muncul ingatan.
Selene muda tertawa sambil mengajarinya menenun.
“Hangat itu pilihan, Veyrin. Bukan kutukan.”
Selene memegang perutnya. “Anak kita akan mengajari dunia itu.”
Lalu malam dia menusukkan rune ke tanah.
“Kalau aku tidak bisa memilikimu… maka aku akan menciptakan kamu lagi.”
Tapi yang dia ciptakan bukan Selene. Yang dia ciptakan adalah kesepian.
Veyrin menatap Eira dan Aira yang bergandengan. Dua anak dengan mata biru Selene.
Dua anak yang dibuang.
Air mata es jatuh dari matanya. Pertama kalinya dalam 20 tahun.
“Aku…” suaranya pecah. “Aku hanya tidak mau sendirian lagi.”
Benih Ketiga berteriak. Retakannya melebar. Cahaya merah padam.
Benih itu hancur menjadi debu, lalu berubah menjadi bunga es putih.
Gunung bergetar. Salju hitam di luar mulai memutih.
Veyrin menatap Selene. “Apakah… masih ada tempat untukku?”
Selene berjalan mendekat. Tidak memeluk. Hanya berdiri di depannya.
“Ada. Tapi bukan sebagai raja. Sebagai manusia.”
Veyrin menunduk. Untuk pertama kalinya, dia tidak memerintah.
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 5 dari novel Sihir Tanah Fajar Perjalanan 9 bintang
Sorry, comment are closed for this post.