
Mentari pagi di pinggiran kota itu masih terasa malu-malu, namun udara segar pukul 05.45 WIB selalu berhasil membangkitkan semangat Eva. Sebagai seorang Sarjana Pendidikan (S.Pd) yang baru saja menuntaskan studinya, hari-harinya kini diisi dengan pengabdian di sebuah sekolah dasar bernuansa Islami yang jaraknya cukup lumayan dari rumah.
Penyesuaian diri Eva di tempat kerja barunya terbilang mulus. Meski saat kuliah ia belum konsisten menutup aurat, lingkungan sekolah yang teduh dan penuh nilai-nilai kesantunan membuatnya mantap mengenakan hijab. Ia merasa lebih vibe positif dan tenang dengan penampilan barunya yang anggun namun tetap modis ala anak muda zaman sekarang.
Karena tidak memiliki kendaraan pribadi, Eva mengandalkan kendaraan umum untuk berangkat mengajar. Tepat pukul 06.00 WIB, ia sudah melangkah keluar pagar rumah dengan tas ransel berisi perangkat mengajar dan bekal makan siang.
Setiap pagi, rute jalannya menuju halte atau pangkalan angkot mengharuskannya melewati sebuah rumah minimalis dengan taman yang asri. Di sana, di balik pagar besi hitam, sering terlihat seorang pria rapi dengan kemeja kantor yang sudah siap berangkat. Pria itu adalah Winar, seorang pegawai di perusahaan minyak swasta ternama.
Winar diam-diam selalu memperhatikan gadis berhijab itu.
“Konsisten banget,” batin Winar suatu pagi sambil membetulkan jam tangannya.
“Pukul enam tepat, pasti dia jalan kaki lewat depan rumah. Langkahnya pasti, tapi tetap sopan.”
Benang Merah di Majelis Taklim
Dunia ini memang sempit, atau mungkin takdir sedang gemar merajut pola yang lucu. Mama Eva, Bu Rahma, adalah sosok yang aktif di pengajian lingkungan. Beliau dikenal sebagai “ratu dapur” karena keahliannya membuat kue-kue tradisional yang rasanya juara.
Ternyata, Bu Rahma berada di satu kelompok pengajian yang sama dengan Ibu Helmi, mamanya Winar. Setiap kali pengajian diadakan di rumah Bu Rahma, Ibu Helmi selalu dibuat jatuh hati oleh suguhan yang tersaji.
“Jeng Rahma, ini kue lumpurnya kok bisa lumer begini sih? Apa resep rahasianya ya?” tanya Ibu Helmi suatu sore.
Bu Rahma tertawa kecil. “Enggak ada rahasia, Bu. Ini juga dibantu sama Eva, anak saya yang baru lulus itu. Dia yang semangat kalau urusan bantuin di dapur.”
Ibu Helmi manggut-manggut. Di kepalanya, sebuah rencana mulai terbentuk. Bukan hanya soal kue, tapi juga soal siapa gadis di balik kelezatan kue tersebut. Apalagi, Winar sesekali bercerita bahwa dia sering melihat “guru muda” yang lewat di depan rumah dengan jalan kaki yang santun.
Suatu hari, giliran Ibu Helmi yang harus menjamu anggota arisan. Ia memutuskan untuk memesan paket kue lengkap pada Bu Rahma.
“Jeng Rahma, saya boleh minta nomor HP-nya? Mau pesan buat arisan minggu depan,” pinta Ibu Helmi.
Bu Rahma sempat bimbang. Ponselnya sedang bermasalah, dan anak bungsunya masih sekolah, tidak mungkin memberikan nomor anak laki-lakinya yang masih remaja. Sedangkan dua kakak Eva sudah berkeluarga dan tidak tinggal serumah.
“Pakai nomor Eva saja ya, Bu. Dia yang biasanya pegang catatan pesanan dan belanja bahan. Orangnya telaten,” kata Bu Rahma setelah sebelumnya meminta izin dan disetujui oleh Eva.
Malamnya, sebuah pesan masuk ke ponsel Eva. Winar yang saat itu sedang duduk di samping mamanya, diam-diam ikut melirik.
“Nah, ini lho Win, anaknya Jeng Rahma yang bantu bikin kue. Namanya Eva,” ujar Ibu Helmi.
Winar tersenyum tipis. Eva. Penasaran yang selama ini tertahan di balik pagar rumah kini menemukan jalannya. Winar pun semakin sering menikmati kue-kue kiriman dari rumah Eva, yang menurutnya punya rasa “kasih sayang” yang beda.
Selepas maghrib, suasana sekitar lapangan depan masjid terasa tenang. Rumah Eva bersebelahan dengan masjid. Winar yang baru pulang dari kantor, merasa ingin menghirup udara segar. Ia berjalan menuju lapangan yang terletak tepat di depan rumah Eva. Di sana ada sebuah bangku besi. Ia duduk diam, mengamati rumah di seberangnya dengan penuh tanya dan harap.
Tak lama kemudian, pintu rumah Eva terbuka. Keluar dua orang wanita dewasa yang merupakan kakak-kakak Eva, Yana kakaknya yang tertua, bersama suaminya. Mereka usai berkunjung silaturahmi. Eva ikut mengantarkan mereka keluar menuju kendaraan yang diparkir di depan masjid.
Eva berjalan paling belakang, mengenakan jilbab instan rumah namun tetap terlihat manis. Saat itulah, mata tajam Yana menangkap sosok pria yang duduk sendirian di bangku besi lapangan.
“Va, Va… coba lirik ke lapangan,” bisik Yana sambil menyenggol lengan adiknya.
“Apa sih, Kak? Malu ih,” sahut Eva pelan.
“Itu… anaknya Bu Helmi, kan? Si Winar itu?” goda Yana dengan nada berbisik. “Lagi ngapain coba duduk sendirian di situ jam segini? Kayaknya lagi mantau kamu nih. Dari tadi matanya nggak lepas dari kamu lho!”
Pipi Eva seketika merona merah. Dia memandang sekilas pada Winar. Ganteng juga ya. Ia hanya menunduk, dalam hati ada getaran aneh yang muncul. Sepertinya, perjalanan menuju sekolah besok pagi dengan kendaraan umum melewati rumah Winar akan ada getar-getar perasaan aneh dalam dirinya.
Rute perjalan Eva menuju tempatnya mengajar selalu sama. Ia harus melewati deretan rumah asri, termasuk sebuah rumah minimalis dengan pagar besi hitam yang selalu nampak rapi. Di teras ada tiga mobil terparkir. Rumah itu milik keluarga Bapak Helmi. Dan di rumah itulah, Winar tinggal.
Winar adalah seorang pria mapan yang bekerja di sebuah perusahaan minyak swasta. Terlahir dari keluarga berada. Papanya seorang pengusaha yang sukses dan terpandang. Sosok Winar yang pendiam namun berwibawa sering kali membuat para tetangga segan. Namun, ada satu rahasia kecil yang hanya diketahui oleh jam dinding di kamar Winar: setiap pagi, tepat pukul 06.00 WIB, ia pasti sudah berada di dekat jendela atau di teras, hanya untuk memastikan bahwa gadis berhijab itu lewat dengan selamat.
Pagi itu, suasana sedikit berbeda. Eva sedang berjalan dengan anggun, sesekali membetulkan letak tas bahunya yang berisi buku-buku materi pelajaran. Saat ia tepat berada di depan gerbang rumah Winar, tiba-tiba pintu utama rumah itu terbuka lebar.
“Bang Winar! Cepat, Bang! Buruan!”
Suara melengking itu milik Dina, adik bungsu Winar yang masih kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta ternama di Jakarta. Dina berteriak dengan nada mendesak sambil menoleh ke dalam rumah. Eva yang mendengar teriakan itu sempat tersentak kaget. Langkahnya terhenti sejenak, namun karena merasa tidak enak hati dan tidak ingin dianggap ikut campur urusan orang, ia segera mempercepat langkahnya.
“Aduh, ada apa ya?” batin Eva sambil terus melangkah menjauh. Ia tidak sempat mendengar kelanjutan kalimat Dina karena ia sudah berbelok di tikungan menuju pangkalan angkot.
Di dalam rumah, Winar sebenarnya sedang sibuk mencari kunci mobilnya yang entah terselip di mana. Ia mendengar teriakan Dina dan tahu persis kenapa adiknya berteriak “Cepat”. Dina tahu abangnya itu selalu ingin melihat Eva lewat. Namun, karena kecerobohan kuncinya sendiri, Winar kehilangan momen pagi itu. Ia hanya bisa mendesah pelan saat melihat dari kejauhan punggung Eva yang menghilang di balik tikungan.
Beberapa hari berlalu. Rasa penasaran Winar semakin memuncak. Apalagi sejak mamanya, Ibu Helmi, memberikan informasi berharga bahwa gadis itu bernama Eva, anak dari Bu Rahma teman pengajiannya. Winar bahkan sudah mencicipi kue buatan Eva dan mamanya yang dipesan untuk acara arisan. Rasanya? Manis, persis seperti bayangan Winar tentang pemilik nomor HP yang kini tersimpan di kontak mamanya. Dan tanpa sepengetahuan mamanya, Winar menyimpan nomor Eva dalam ponsel pribadinya.
Pagi itu, Winar sudah bersiap lebih awal. Ia sudah rapi dengan kemeja kantor yang disetrika licin dan aroma parfum yang maskulin namun lembut. Ia berdiri di balik pagar, berpura-pura sedang mengecek tanaman hias mamanya. Matanya terus melirik ke arah rumah Eva.
Begitu sosok yang dinanti muncul—kali ini mengenakan hijab berwarna biru langit—jantung Winar berdegup kencang. Ia segera masuk ke dalam mobil Honda Accord warna merah miliknya yang mengkilap. Ia menyalakan mesin, menunggu Eva lewat tepat di depan gerbangnya.
Begitu Eva melintas, Winar perlahan mengeluarkan mobilnya. Ia mengemudikan kendaraannya dengan sangat pelan, seolah-olah sedang mencari sesuatu di jalanan.
Eva yang sedang berjalan kaki di bahu jalan merasa ada sebuah mobil yang membuntutinya. Honda Accord merah itu bergerak sangat lambat di sampingnya. Bahkan, karena jalanan yang tidak terlalu lebar, mobil itu nampak sedikit “memepet” Eva hingga ia terpaksa berjalan lebih ke pinggir, hampir menyentuh rerumputan di tepi parit.
Eva menoleh sekilas. Ia mengenali mobil itu. Ia juga melihat sosok Winar di balik kemudi. Ia mengira Winar akan membuka kaca, menyapa, atau mungkin menawarkan tumpangan—mengingat ibu mereka adalah teman akrab di pengajian.
Eva sudah menyiapkan senyum sopannya. Ia sudah bersiap untuk mengangguk atau menjawab sapaan pria itu. Namun, apa yang terjadi?
Winar terdiam mematung. Tangannya menggenggam setir dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya mendadak menjadi dingin. Lidahnya mendadak kelu. Pria yang biasanya tegas dalam memimpin rapat di kantor perminyakan itu mendadak kehilangan kemampuan untuk sekadar berucap, “Pagi, mau bareng?” atau “Mau ke depan ya?”.
Hening. Hanya suara mesin mobil yang halus yang terdengar di antara mereka. Winar menatap lurus ke depan dengan wajah kaku, sementara Eva menatapnya dengan raut bingung. Karena merasa tidak ada interaksi yang terjadi, Eva akhirnya membuang muka, merasa sedikit jengkel karena jalannya merasa terganggu oleh mobil yang terlalu mepet tersebut.
Eva mempercepat langkahnya, setengah berlari menuju jalan raya. Tak lama kemudian, sebuah angkot berwarna biru berhenti di depannya. Tanpa menoleh lagi, Eva naik ke dalam angkot dan menghilang di tengah keramaian lalu lintas pagi.
Winar memukul setirnya pelan. “Aduh, payah banget sih kamu, Win!” rutuknya pada diri sendiri. Ia merasa menjadi pria paling bodoh pagi itu. Niat hati ingin memulai obrolan, malah berakhir seperti orang asing yang canggung.
Sore harinya, rasa bersalah dan penasaran masih menghinggapi Winar. Selepas Maghrib, ia memutuskan untuk keluar rumah. Bukannya pergi jauh, ia malah duduk di bangku besi yang ada di lapangan umum, tepat di depan rumah Eva.
Ia ingin menenangkan pikiran, sekaligus berharap bisa melihat Eva dalam suasana yang tidak terburu-buru seperti minggu lalu. Ia duduk diam, mengamati gerbang rumah berpagar putih yang nampak hangat itu.
Keberuntungan nampaknya sedang berpihak padanya. Pintu rumah Eva terbuka. Keluar dua orang wanita yang nampak mirip dengan Eva—mereka adalah Yana dan kakak tertuanya dan Ema —bersama suami mereka yang baru saja selesai berkunjung. Eva ikut keluar mengantarkan mereka sampai ke depan masjid tempat mobil mereka diparkir.
Eva saat itu mengenakan daster panjang yang sopan dengan jilbab rumah yang sederhana. Meskipun tanpa riasan, di mata Winar, ia nampak begitu bersahaja.
Saat berjalan menuju masjid, Yana, kakak Eva yang memang terkenal usil dan peka, menyadari keberadaan seorang pria di bangku lapangan. Ia menyipitkan mata, lalu menyenggol lengan Eva.
“Va, Va… coba lirik ke lapangan deh,” bisik Yana sambil menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan tawa.
“Ada apa sih, Kak?” tanya Eva bingung.
“Itu… anaknya Ibu Helmi, kan? Si Winar yang kerja di perminyakan itu?” goda Yana. “Lagi ngapain coba duduk sendirian di situ jam segini? Tadi pagi katanya mepet-mepet pas kamu jalan kaki, sekarang malah nongkrong di depan rumah. Kayaknya dia lagi mantau kamu nih, Va. Lagi nungguin bidadari lewat ya?”
Eva yang teringat kejadian “mepet mobil” tadi pagi langsung merasa pipinya panas. “Ih, Kak Yana jangan keras-keras suaranya. Mungkin dia cuma lagi cari angin.”
“Cari angin apa cari perhatian? Lihat tuh, pas kita lewat dia langsung sok-sok lihat HP, padahal tadi matanya ke pintu rumah kita terus,” timpal Yana lagi sambil tertawa kecil.
Eva terdiam. Ia sempat melirik sekilas ke arah Winar sebelum kakak-kakaknya naik ke mobil. Winar nampak menunduk, pura-pura melihat Handphonenya. Namun Eva bisa melihat gerakan tangan pria itu yang nampak gelisah.
Setelah mobil kakak-kakaknya berlalu, Eva berjalan kembali menuju rumahnya. Saat ia harus melewati area di depan bangku besi tempat Winar duduk, ia memberanikan diri untuk mengangguk sedikit sebagai bentuk kesantunan bertetangga.
“Mari, Mas,” ucap Eva singkat namun lembut.
Winar tersentak. Ia segera berdiri dari duduknya, nampak kaget. “Eh… iya, Mbak. Mari.”
Hanya itu. Namun bagi Winar, suara lembut Eva yang menyapanya adalah kemenangan besar setelah kegagalannya tadi pagi. Ia menatap punggung Eva yang masuk ke dalam rumah dan menutup pagar dengan perasaan yang membuncah.
Jembatan dari Dapur Mama
Keesokan harinya, takdir kembali bekerja lewat tangan ibu-ibu mereka. Ibu Helmi yang sangat menyukai kue buatan Bu Rahma, memutuskan untuk memesan kue lagi dalam jumlah banyak untuk acara arisan besar.
“Win, nanti sore sepulang kantor, kamu mampir ke rumah Bu Rahma ya? Ambil pesanan kue Mama. Mama sudah pesan lewat WA ke Eva,” ujar Ibu Helmi sambil memberikan alamat lengkapnya, yang sebenarnya Winar sudah hafal di luar kepala.
Winar mengangguk mantap. Kali ini ia tidak boleh gagal lagi. Ia harus bisa berbasa-basi. Ia harus bisa menunjukkan bahwa ia bukan sekadar tetangga yang “hobi memepet orang dengan mobil”, melainkan seorang pria yang memiliki niat baik.
Sore itu, dengan jantung yang masih berdebar, Winar menekan bel pintu rumah Eva. Dan saat pintu itu terbuka, menampakkan sosok Eva yang sedang memegang nampan kue. Sejenak Eva terkejut, tapi kemudian dia segera tersenyum. Melihat senyum Eva yang manis, Winar berharap dan berdoa semoga rute pukul enam pagi selanjutnya dan mungkin selamanya, tidak akan lagi dilakukan Eva dengan berjalan kaki sendirian kemudian berkendaraan angkutan umum ke tempat Eva mengajar.Tapi Winar berharap Eva mau diantar olehnya dengan Honda Accord merah yang siap menjadi saksi perjalanan baru mereka.
“Assalamualaikum, Eva… Saya mau jemput pesanan Mama,” ucap Winar dengan senyum yang akhirnya berhasil ia ukir dengan sempurna.
Eva tersenyum balik, sebuah senyuman yang menandakan bahwa pintu maaf—dan mungkin pintu hati—sudah terbuka sedikit untuk pria yang belum mahir berbasa-basi itu.
Kreator : Siti Muspirah ( Fira Khairil )
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Bab 5 – Manisnya Kue, Hangatnya Hati
Sorry, comment are closed for this post.