KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab 6 – Separuh Perjalanan Menuju Hatimu

    Bab 6 – Separuh Perjalanan Menuju Hatimu

    BY 05 Jun 2026 Dilihat: 14 kali
    Separuh Perjalanan Menuju Hatimu_alineaku

    Sore itu, pukul lima sore, langit Jakarta sedang cantik-cantiknya. Semburat jingga berpadu dengan abu-abu tipis, menciptakan siluet yang tenang di sepanjang gang perumahan tempat Winar tinggal. Namun, ketenangan langit sama sekali tidak mencerminkan apa yang sedang bergolak di dalam dadanya.

     

    Sejak setengah jam yang lalu setelah pulang cepat dari tempat kerjanya di perusahaan minyak swasta, pria berusia dua enam tahun itu sibuk melakukan aktivitas yang sebenarnya tidak perlu-perlu amat: menyiram tanaman pucuk merah di halaman depan rumahnya yang sebenarnya sudah basah kuyup karena hujan siang tadi. Mata Winar memang menatap selang air, tetapi telinganya tegak berdiri, menangkap setiap derap langkah kaki atau suara motor yang lewat di depan rumah. Ia sedang menunggu. Lebih tepatnya, menanti sebuah momen harian yang belakangan ini menjadi alasan utamanya untuk pulang kerja tepat waktu.

     

    Srekk… srekk…

     

    Suara gesekan langkah kaki yang anggun di atas aspal terdengar. Jantung Winar langsung berdetak dua kali lebih cepat. Dari sudut matanya, ia melihat sosok itu, Eva.

     

    Sore itu, Eva berjalan dengan langkah santai. Tadi pukul tiga siang, ketika dia hendak pulang kerumah hujan dengan lebat. Sehingga dia harus menunggu hujan berhenti. Eva yang  mengenakan baju batik pastel yang anggun, rok panjang, berhijab yang serasi dengan warna batik yang dikenakannya, dan sebuah tas jinjing rajut menggelayut di bahunya. Aura keibuan sekaligus manis terpancar alami dari dirinya meski terlihat lelah di wajahnya.

     

    “Ayo, Win. Jangan kayak patung. Masa menyapa saja tidak berani?” bisik Winar pada dirinya sendiri. Tangannya yang memegang selang mendadak gemetar.

     

    Dulu, Winar adalah definisi nyata dari pria kaku. Jangankan menyapa, setiap kali Eva lewat, Winar langsung pura-pura sibuk masuk ke dalam rumah atau mendadak berjongkok memeriksa ban motornya seolah-olah ada paku yang menusuk. Ia selalu kehilangan kata-kata. Lidahnya mendadak kelu, dan semua kosakata yang ada di kepalanya menguap begitu saja setiap kali mata teduh Eva tidak sengaja menatapnya.

     

    Namun, Winar sadar. Jika ia terus-menerus menjadi “pria misterius yang hobi mematung”, hubungan mereka tidak akan pernah bergeser satu sentimeter pun dari status “tetangga yang saling asing”.

     

    Eva kini tinggal beberapa meter lagi di depan pagarnya. Winar mematikan keran air, menyeka tangannya yang basah ke celana jeans dengan cepat, lalu berdiri tegak. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya.

     

    Saat jarak mereka tinggal tiga langkah, Eva menoleh. Mata mereka bertemu.

     

    Winar memaksakan sebuah senyuman–yang ia harap terlihat manis dan ramah, bukan seperti orang yang sedang menahan sakit gigi.

     

    “S-sore, Mbak Eva…” sapa Winar. Suaranya agak serak di awal, membuat ia harus berdehem kecil. “Baru pulang mengajar?”

     

    Eva menghentikan langkahnya sejenak. Senyum tulus langsung merekah di wajahnya yang manis. Lesung pipit tipis di pipi kirinya terlihat, membuat jantung Winar makin tidak karuan.

     

    “Eh, Mas Winar. Iya, nih, baru pulang,” jawab Eva dengan suara lembut yang selalu menenangkan. “Wah, rajin banget sore-sore sudah siram tanaman.”

     

    “Ah, iya… ini biar segar saja tanamannya. Hehe,” sahut Winar garing. Ia merutuki dirinya sendiri dalam hati. Biar segar saja tanamannya? Jawaban macam apa itu, Winar!

     

    “Mari, Mas,” pamit Eva sopan sambil menganggukkan kepala sebelum melanjutkan langkahnya.

     

    “Iya, Mbak. Silahkan…”

     

    Winar memandangi punggung Eva yang perlahan menjauh hingga berbelok di ujung gang. Ia menghembuskan napas panjang, seolah baru saja menyelesaikan ujian skripsi untuk kedua kalinya. Satu langkah kecil telah dimulai. Meskipun masih kaku dan canggung setengah mati, setidaknya ia tidak lagi lari bersembunyi.

     

    Minggu demi minggu berlalu. Sapaan singkat di depan pagar itu perlahan mencairkan suasana di antara mereka. Kini, setiap kali Eva lewat, Winar sudah bisa melempar senyum yang lebih rileks, dan Eva pun selalu membalas dengan ramah. Namun, bagi Winar, menyapa dari balik pagar saja tidak cukup. Ia ingin melangkah lebih jauh. Ia ingin mengenal Eva lebih dekat.

     

    Winar bekerja sebagai seorang analis data di sebuah perusahaan minyak swasta di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat. Sementara itu, sekolah tempat Eva mengajar berada di arah sebaliknya, agak masuk ke daerah pinggiran Jakarta Barat yang rutenya terkenal padat dan sering macet di pagi hari. Jika ditarik garis lurus, rute kantor Winar dan sekolah Eva itu berlawanan arah 180 derajat.

     

    Namun, cinta sering kali menumpulkan logika matematika. Bagi Winar, jarak geografis bisa diakali, asalkan ada kesempatan untuk duduk berdua dalam satu ruang yang sama.

     

    Esok paginya, tepat pukul enam lewat sepuluh menit, Winar sudah menyalakan mobil sedan hitamnya di depan rumah. Matanya terus melirik ke arah jalan. Tak lama kemudian, sosok yang ditunggu muncul. Eva tampak sedikit tergesa-gesa pagi itu, sesekali melirik jam tangannya. Langkah kakinya lebih cepat dari biasanya.

     

    Winar segera menjalankan mobilnya perlahan, lalu menepi tepat di samping Eva. Ia menurunkan kaca jendela mobil sebelah kiri.

     

    “Pagi, Mbak Eva,” sapa Winar ramah.

     

    Eva agak terkejut, lalu menoleh. “Eh, pagi, Mas Winar.”

     

    “Mau berangkat ngajar, ya? Kok sepertinya buru-buru sekali. Mau bareng aja? Kebetulan saya juga mau berangkat,” tawar Winar dengan nada sesantai mungkin, seolah-olah rute perjalanan mereka adalah satu jalur yang searah dan praktis. Ia sengaja tidak menyebutkan bahwa ia harus memutar balik sangat jauh demi tawaran ini.

     

    Eva tampak bimbang. Ia melirik jam tangannya lagi. “Aduh, iya nih, Mas. Kebetulan saya agak kesiangan karena tadi malam ada koreksian tugas anak-anak yang harus diselesaikan. Tapi… apa tidak merepotkan? Kantor Mas Winar  …”

     

    “Sama sekali tidak merepotkan, Mbak. Kebetulan jalanan arah sana juga santai kok pagi ini. Ayo, silakan masuk. Daripada nanti telat, kasihan anak-anak menunggu,” potong Winar cepat, memberikan alasan yang terdengar sangat masuk akal dan penuh perhatian.

     

    Eva tersenyum lega. “Ya ampun, terima kasih banyak ya, Mas. Kalau begitu, saya ikut menumpang ya.”

     

    Eva membuka pintu mobil dan duduk di kursi penumpang depan. Aroma harum parfum vanilla yang lembut seketika memenuhi kabin mobil Winar, mengalahkan aroma pewangi kopi mobilnya yang biasa. Jantung Winar berdegup kencang, namun ia berusaha sekuat tenaga untuk tetap terlihat tenang dan profesional di balik kemudi.

     

    Perjalanan pertama itu menjadi tonggak sejarah baru bagi Winar. Sepanjang jalan, ia sengaja menyetir dengan kecepatan sedang. Selain demi keselamatan, tentu saja ia ingin memperlama durasi kebersamaan mereka. Dalam hati, Winar tersenyum menang. Rencana nekatnya berhasil sepenuhnya. Ia tidak peduli jika setelah mengantar Eva, ia harus memacu mobilnya bagai pembalap F1 demi mengejar jam absen kantornya sendiri. Yang terpenting baginya saat ini adalah tawa kecil Eva yang mulai terdengar mengisi ruang sunyi di dalam mobilnya.

     

    Waktu memiliki cara tersendiri untuk mengaburkan batasan. Tanpa terasa, rutinitas pagi itu telah berjalan selama enam bulan. “Tumpangan darurat” di hari pertama kini telah bertransformasi menjadi sebuah kebiasaan manis yang tidak tertulis. Hampir setiap pagi, Winar setia memarkirkan mobilnya di depan rumah, siap menjadi sopir pribadi paling bahagia untuk Ibu Guru Eva.

     

    Bagi Winar, enam bulan ini adalah momen-momen terbaik dalam hidupnya. Ia kini tahu persis letak sekolah tempat Eva mengajar—sebuah kompleks persekolahan yang cukup besar karena memiliki beberapa tingkatan, mulai dari TK, SD, SMP, hingga SMK yang berada dalam satu area luas.

     

    Selama perjalanan yang kerap diwarnai kemacetan khas ibu kota, kabin mobil Winar tidak pernah sepi. Kekakuan Winar di awal-awal bulan perlahan sirna, berganti menjadi kenyamanan seorang pendengar yang baik. Obrolan mereka mengalir sangat santai, mengalir begitu saja tanpa ada beban. Eva paling sering bercerita tentang dunia yang paling dicintainya: anak-anak didiknya di sekolah dasar. Disela-sela obrolan mereka, Eva meminta pada Winar untuk memanggilnya cukup Eva saja. Winar setuju dan dia pun mengatakan  karena dia orang batak jadi minta dipanggil abang seperti Dina adiknya  memanggil dirinya Abang Winar. Karena juga usia mereka yang terpaut dua tahun, Eva 23 tahun dan Winar 25 tahun.

     

    “Bang Winar, tahu tidak?” buka Eva pada suatu pagi, matanya berbinar-binar penuh semangat yang khas setiap kali ia menceritakan murid-muridnya. “Anak-anak kelas empat itu luar biasa aktifnya. Kadang membuat pusing, tapi lebih sering bikin gemas.”

     

    Winar memutar kemudi ke kiri, menyalip sebuah angkot yang berhenti sembarangan. “Oh ya? Ada cerita seru apalagi hari ini, Va?”

     

    “Kemarin itu ada kejadian lucu sekali, Bang,” ujar Eva sambil menahan senyum, membuat Winar penasaran. “Ada satu murid saya namanya Adam. Anaknya memang paling aktif, banyak tanya, dan kadang bicaranya itu suka ceplas-ceplos seperti orang dewasa.”

     

    “Lalu? Si Adam berulah apa lagi?” tanya Winar, ikut tersenyum melihat ekspresi antusias Eva.

     

    “Kemarin saat jam istirahat, dia tiba-tiba mendekati meja guru tempat saya duduk. Dia berdiri dengan gaya yang sok tenang, lalu bertanya begini: ‘Bu Eva, kalau diajak jalan-jalan ke Singapura sama aku, mau gak?'” Eva menirukan suara anak kecil dengan sangat menggemaskan, membuat Winar terkekeh.

     

    “Wah, luar biasa sekali si Adam. Kecil-kecil seleranya udah liburan keluar negeri,” komentar Winar.

     

    “Iya kan? Makanya saat itu saya sempat berpikir, wah, ini jangan-jangan orang tuanya di rumah pernah membicarakan hal ini. Mungkin orang tuanya berniat mengajak saya ikut liburan keluarga atau bagaimana, lalu si Adam mendengarnya,” lanjut Eva dengan analisis polosnya saat kejadian itu. “Jadi, karena tidak ingin mengecewakan anak kecil, saya jawab saja dengan ramah: ‘Mau dong, Dam.'”

     

    Eva menarik napas sebentar, menahan tawa yang hampir pecah sebelum melanjutkan ceritanya.

     

    “Lalu saya tanya lagi ke dia, ‘Memangnya kapan Adam mau mengajak Bu Eva ke Singapura?’ Dan, Bang Winar tahu apa jawaban bocah itu dengan sangat polosnya?”

     

    “Apa?” Winar makin penasaran.

     

    “Dia menjawab dengan santai tanpa beban: ‘Ntar ya Bu Eva, kalau aku sudah dapat undian!'”

     

    Seketika itu juga, tawa Winar pecah di dalam mobil. Suara tawa khasnya yang renyah memenuhi kabin. “Hahaha! Astaga, gokil juga tuh bocah! Pintar sekali dia melobi gurunya.”

     

    “Iya kan, Bang? Saya langsung tepok jidat di kelas. Bisa-bisanya dia menjanjikan liburan ke luar negeri pakai modal tiket undian yang belum jelas kapan didapatnya,” kata Eva, ikut tertawa lepas mengenang kepolosan muridnya.

     

    Melihat Eva tertawa lepas di sampingnya, ada rasa hangat yang menjalar di dada Winar. Obrolan-obrolan seperti inilah yang selalu ia nantikan setiap pagi. Sangat kasual, ringan, dan penuh tawa. Kehangatan obrolan  dan kebahagiaan  bersama wanita yang selama ini belum pernah dia rasakan.

     

    Namun, di balik semua kehangatan itu, ada satu hal yang tidak pernah tersentuh: mereka tidak pernah membahas hal-hal yang spesifik tentang perasaan atau kelanjutan hubungan mereka. Tidak ada pertanyaan seperti “Kamu sudah punya pacar?” atau “Bagaimana tipe idealmu?”. Semua mengalir murni sebagai obrolan bertetangga yang sangat bersahabat.

     

    Bagi Eva, kenyamanan ini sangat berharga. Winar adalah sosok pria yang sopan, tidak pernah melewati batas, selalu menghargai privasinya, dan sangat bisa diandalkan. Namun, terkadang, di malam-malam sepi sebelum tidur, Eva sering kali menatap langit-langit kamarnya dan merenung sendiri.

     

    “Dia itu sebenarnya ada rasa gak ya sama gue?” batin Eva dalam hati, menggunakan kata ganti santai yang biasa digunakan saat berbicara dengan dirinya sendiri. “Maksudnya, dia rela mengantar jemput gue hampir tiap hari selama enam bulan. Tapi kok dia santai banget ya? Gak pernah mencoba buat modus atau nanya-nanya yang mengarah ke hubungan serius. Apa jangan-jangan dia emang cuma murni kasihan dan menganggap gue sebatas tetangga dekat aja?”

     

    Eva menghembuskan napas, membalikkan badannya ke kanan. “Ah, gak tahu deh. Pusing mikirinnya. Jalani saja dulu.

     

    Kompleks persekolahan tempat Eva mengajar memang sangat luas. Karena terdiri dari beberapa unit sekolah, interaksi antar-staf pengajar dari tingkat yang berbeda juga sering terjadi, terutama di area kantin pusat saat jam istirahat atau setelah waktu salat.

     

    Siang itu, cuaca cukup terik. Setelah menyelesaikan salat Zuhur berjamaah di masjid sekolah, Eva berniat kembali ke ruang guru SD untuk bersiap mengajar kelas siang. Namun, ketika ia baru saja melangkah keluar dari koridor masjid bersama sahabat karibnya yang juga sesama guru SD, Sonia, ponsel di dalam saku gamisnya bergetar.

     

    Ada panggilan masuk dari Pak Toro, Kepala Sekolah unit SMK yang ruangannya berada di gedung sebelah timur. Pak Toro dikenal sebagai sosok senior yang sangat ramah, kebapakan, dan sering menjadi penengah jika ada diskusi antar-unit sekolah.

     

    “Halo, assalamualaikum, Pak Toro,” sapa Eva setelah menggeser tombol hijau.

     

    “Waalaikumsalam, Bu Eva. Posisi di mana sekarang? Sudah selesai salat?” tanya Pak Toro dari seberang telepon. Suaranya terdengar ramah dan bersemangat.

     

    “Sudah, Pak. Ini kebetulan saya sedang jalan kembali ke arah unit SD bersama Sonia.”

     

    “Nah, pas sekali kalau begitu. Bu Eva, bisa tolong mampir sebentar ke kantin sekolah? Saya sedang menunggu di sini bersama salah satu teman baik saya. Ada hal yang ingin saya bicarakan sebentar, tidak lama kok,” pinta Pak Toro.

     

    Eva agak heran, namun karena rasa hormatnya yang tinggi pada Pak Toro, ia langsung menyetujuinya. “Oh, baik, Pak. Kebetulan saya juga mau ke kantin beli minum. Saya langsung ke sana ya, Pak.”

     

    Setelah menutup telepon, Eva menoleh ke arah Sonia. “Son, temani aku ke kantin sebentar ya. Pak Toro memanggil, katanya ada temannya juga di sana.”

     

    Sonia mengangguk santai. “Ayo. Kebetulan aku juga mau beli es jeruk. Segar banget kayaknya siang-siang begini.”

     

    Mereka berdua berjalan menyusuri selasar sekolah menuju kantin utama yang cukup ramai oleh para guru dan staf yang sedang menikmati istirahat makan siang. Begitu mereka memasuki area kantin, mata Eva langsung mencari-cari sosok Pak Toro.

     

    Di sudut kantin yang agak tenang, dekat dengan tanaman hias gantung, Pak Toro tampak sedang duduk bersama seorang pria lain. Pria itu mengenakan kemeja batik lengan panjang berwarna biru tua yang pas di badannya, celana bahan hitam yang rapi, dan jam tangan yang tampak berkelas melingkar di pergelangan tangannya. Penampilannya sangat necis, potongan rambutnya klimis dan tertata rapi.

     

    Begitu melihat kehadiran Eva dan Sonia dari kejauhan, pria di sebelah Pak Toro itu tampak langsung menegakkan posisi duduknya. Ia tersenyum lebar dan melambaikan tangannya ke arah kedua guru muda tersebut dengan gerakan yang sangat percaya diri.

     

    “Bu Eva! Sebelah sini!” panggil Pak Toro setengah berbisik namun cukup terdengar.

     

    Eva dan Sonia melangkah mendekat. Saat jarak makin dekat, Eva bisa merasakan tatapan mata pria asing itu langsung mengunci ke arahnya. Ada binar ketertarikan yang sangat jelas terpancar dari kedua matanya, tipe tatapan seorang pria dewasa yang sedang mengagumi sesuatu yang indah di depannya.

     

    “Mari, Bu Eva, Bu Sonia, silakan duduk dulu,” sambut Pak Toro ramah seraya mempersilakan mereka berdua duduk di kursi kosong di seberang meja.

     

    Setelah mereka duduk, Pak Toro langsung memulai pembicaraan dengan gaya khasnya yang hangat namun langsung pada intinya.

     

    “Bu Eva, Bu Sonia, perkenalkan ini teman baik saya. Namanya Romi,” ujar Pak Toro memperkenalkan pria necis di sebelahnya.

     

    Pria bernama Romi itu langsung mengulurkan tangannya dengan sopan, namun matanya tetap fokus menatap Eva dengan senyuman terbaiknya. “Halo, saya Romi. Senang sekali bisa bertemu langsung dengan Bu Eva.”

     

    Eva menyambut uluran tangan itu dengan sopan dan senyum sewajarnya. “Saya Eva, Pak. Dan ini teman saya, Sonia.”

     

    “Panggil Romi saja, jangan pakai ‘Pak’, rasanya kok jadi tua sekali saya ya,” canda Romi, mencoba mencairkan suasana dengan tawa kecil yang terdengar sangat terlatih.

     

    Romi memang pria yang menarik. Dari penampilannya, siapapun bisa melihat bahwa ia adalah sosok pria mapan yang sangat memperhatikan penampilan dan citra dirinya. Tutur katanya teratur, penuh percaya diri, dan gestur tubuhnya menunjukkan bahwa ia terbiasa berada di posisi yang dihormati.

     

    Di dalam hatinya, saat pertama kali menatap wajah Eva dari dekat, Romi bergumam, “Manis sekali. Auranya sangat teduh, tipe wanita yang sangat cocok untuk dijadikan pendamping hidup.”

     

    Sebenarnya, pertemuan siang ini bukanlah sebuah ketidaksengajaan. Beberapa hari sebelumnya, Pak Toro memang sempat mengajak Eva mengobrol santai di ruang guru. Saat itu, Pak Toro bertanya dengan nada kebapakan apakah Eva saat ini sudah memiliki calon suami atau belum. Pak Toro kemudian menceritakan tentang sahabatnya, Romi, seorang pria sukses yang mapan, sudah memiliki rumah pribadi, pekerjaan dengan posisi bagus, dan kepribadian yang sangat baik yang kebetulan sedang serius mencari sosok istri.

     

    “Saya kenalkan ya ke Bu Eva. Nanti saya suruh dia datang ke sekolah biar Bu Eva bisa lihat dulu langsung orangnya. Siapa tahu ada kecocokan,” begitu ucapan Pak Toro saat itu yang diingat oleh Eva. Dan hari ini, janji Pak Toro itu benar-benar direalisasikan.

     

    Obrolan siang itu berlangsung cukup hangat. Pak Toro sesekali melontarkan guyonan ringan, sementara Romi berusaha aktif membangun percakapan dengan menanyakan beberapa hal tentang kesibukan mengajar Eva, latar belakang pendidikannya, dan bagaimana kesannya mengajar di unit SD.

     

    Eva menjawab semua pertanyaan itu dengan sangat sopan, ramah, dan bersikap sewajarnya sebagai seorang kolega yang menghargai niat baik Pak Toro. Tidak ada sikap ketus atau menjaga jarak yang berlebihan dari diri Eva. Didalam lubuk hatinya yang paling dalam, tidak ada ras yang bagaimanaa gitu. ..  Biasa saja, ..datar.

     

    Eva diam-diam menganalisis perasaannya sendiri saat mengobrol dengan Romi. Pria di depannya ini secara objektif hampir tanpa celah: tampan, mapan, percaya diri, dan sangat jelas menunjukkan ketertarikan padanya. Namun, anehnya, hati Eva sama sekali tidak bergetar. Tidak ada desiran halus yang membuat dadanya berdegup kencang, tidak ada rasa gugup yang manis, dan tidak ada letupan emosi apa pun. Segalanya terasa datar, seperti ia sedang mengobrol dengan rekan bisnis biasa.

     

    Secara tidak sadar, pikiran Eva justru melayang pada sosok Winar.

     

    Pria tetangganya itu sangat kontras dengan Romi. Winar sering kali kaku, kadang salah tingkah, dan bicaranya tidak se-lancar dan se-percaya diri Romi yang sangat mahir berkomunikasi. Namun, justru dalam kekakuan Winar itulah Eva selalu merasakan getaran yang nyata. Setiap kali mata Winar menatapnya secara sembunyi-sembunyi dari balik kemudi mobil, atau ketika Winar tertawa lepas mendengar cerita lucunya tentang murid-murid SD, ada rasa hangat yang menjalar di dada Eva. Sebuah rasa aman dan nyaman yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata, yang sama sekali tidak ia rasakan saat berada di dekat Romi saat ini.

     

    Teeng  …   teeeng ….

     

    Suara bel tanda masuk kelas siang berbunyi nyaring, memecah lamunan singkat Eva.

     

    Eva langsung melirik jam tangannya, lalu tersenyum meminta maaf pada Pak Toro dan Romi. “Aduh, Pak Toro, Pak Romi, sepertinya bel masuk sudah berbunyi. Kebetulan setelah ini saya dan Sonia ada jadwal mengajar di kelas masing-masing.”

     

    Sonia ikut mengangguk menyetujui. “Iya, Pak. Anak-anak pasti sudah menunggu di kelas.”

     

    Pak Toro tersenyum maklum. “Oh iya, silakan, Bu Eva, Bu Sonia. Tugas mengajar memang yang paling utama. Terima kasih ya sudah menyempatkan waktu untuk mampir sebentar ke kantin.”

     

    “Sama-sama, Pak Toro. Senang bisa berkenalan dengan Anda, Pak Romi,” pamit Eva dengan senyum sopan yang sangat manis, yang membuat mata Romi sempat terpaku sejenak selama beberapa detik.

     

    “Senang juga bisa berkenalan dengan Anda, Eva. Semoga nanti kita bisa mengobrol lebih banyak lagi di lain kesempatan,” sahut Romi dengan tatapan mata yang penuh harapan.

     

    Eva dan Sonia segera berdiri dari kursi mereka, memberikan anggukan hormat terakhir, lalu berjalan cepat meninggalkan area kantin menuju unit gedung sekolah dasar.

     

    Setelah punggung kedua guru muda itu tidak lagi terlihat di antara kerumunan siswa, Romi langsung menoleh ke arah Pak Toro dengan wajah yang berbinar-binar penuh antusias.

     

    “Bagaimana, Rom? Penilaianmu?” tanya Pak Toro sambil tersenyum menggoda sahabatnya itu.

     

    Romi menghembuskan napas perlahan, menggelengkan kepalanya kagum. “Luar biasa, Toro. Dia sangat manis, anggun, dan cara bicaranya sangat santun. Saya benar-benar tertarik. Tolong, Tor… bantu saya. Boleh saya minta nomor HPnya?”

     

    Pak Toro tertawa kecil melihat ekspresi sahabatnya yang biasanya selalu terlihat tenang namun kini tampak sangat bersemangat seperti remaja yang sedang jatuh cinta. “Tentu saja boleh, Rom. Memang itu tujuan utama saya mengenalkan kalian berdua hari ini. Sebentar, saya kirimkan kontaknya lewat pesan singkat ya.”

     

    Pak Toro mengeluarkan ponselnya dan dengan cepat mengirimkan nomor kontak Eva ke ponsel Romi. Bagi Pak Toro, jika kedua orang baik ini bisa bersatu dalam ikatan pernikahan, itu akan menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri baginya sebagai seorang sahabat sekaligus senior.

     

    Malam harinya, sekitar pukul delapan malam, suasana di rumah keluarga Eva sudah sangat tenang. Setelah menyelesaikan makan malam bersama ibunya dan menunaikan ibadah salat Isya, Eva kini sedang bersantai di dalam kamarnya. Ia mengenakan piyama katun longgar yang nyaman, duduk di atas tempat tidur dengan beberapa tumpukan buku latihan murid-muridnya yang siap untuk diperiksa.

     

    Ponselnya yang diletakkan di atas meja nakas di samping tempat tidur tiba-tiba bergetar, diiringi nada dering panggilan masuk yang memecah keheningan kamar.

     

    Eva meraih ponsel tersebut. Di layarnya, tertera sebuah nomor baru yang tidak dikenal. Namun, di bawah nomor tersebut, ada keterangan nama profil aplikasi pesan singkat yang langsung membuatnya teringat kejadian siang tadi di kantin: Romi.

     

    Eva menarik napas dalam-dalam sebelum menggeser tombol hijau di layarnya. “Halo, assalamualaikum,” sapa Eva dengan suara lembutnya yang khas.

     

    “Waalaikumsalam. Selamat malam, Eva. Maaf jika mengganggu waktu istirahatnya malam-malam begini,” sahut sebuah suara bariton di seberang telepon. Suara itu terdengar sangat percaya diri, jelas, dan santun. Benar saja, itu adalah suara Romi.

     

    “Eh, iya, selamat malam, Pak Romi. Tidak apa-apa, kok. Kebetulan saya juga sedang santai saja di kamar setelah makan malam,” jawab Eva sopan, mencoba menjaga nada suaranya agar tetap terdengar ramah namun tetap profesional.

     

    “Syukurlah kalau saya tidak mengganggu,” terdengar suara kekehan kecil dari Romi di seberang sana. “Oh ya, tadi saya mendapatkan nomor kontak Eva dari Pak Toro. Semoga Eva tidak keberatan ya?”

     

    “Oh, tentu saja tidak apa-apa, Pak. Pak Toro juga sudah sempat bercerita sebelumnya,” sahut Eva santun.

     

    Mereka kemudian mulai terlibat dalam sebuah obrolan ringan. Romi adalah seorang komunikator yang sangat ulung. Ia tahu betul bagaimana cara membuka percakapan agar tidak terasa kaku. Ia mulai bertanya tentang bagaimana aktivitas mengajar Eva hari ini, apakah melelahkan atau tidak, hingga membahas beberapa topik umum tentang perkembangan dunia pendidikan anak-anak saat ini.

     

    Eva menanggapi setiap pertanyaan dan cerita Romi dengan baik. Namun, sepanjang obrolan itu berlangsung, Eva merasakan ada sebuah batasan emosional yang tidak kasat mata di dalam dirinya. Pikirannya tetap jernih, detak jantungnya sangat stabil, dan ia tidak merasakan ketegangan manis yang biasanya hadir jika seseorang sedang mengobrol dengan pria yang disukainya.

     

    Setelah sekitar lima belas menit mengobrol santai tentang berbagai hal ringan, Romi mulai mengarahkan pembicaraan ke arah yang lebih personal. Tampaknya, ia tidak ingin membuang-buang waktu dan ingin segera mengambil langkah nyata untuk mendekati Eva.

     

    “Eva…” panggil Romi dengan nada suara yang sedikit lebih dalam dan hangat.

     

    “Iya, Pak Romi?”

     

    “Hari Minggu besok ada rencana kegiatan tidak? Kebetulan ada pameran seni dan festival kuliner yang cukup bagus di daerah Jakarta Selatan. Kalau Eva tidak ada agenda khusus, bagaimana kalau hari Minggu besok kita pergi ke sana bersama? Saya yang jemput ke rumah,” tawar Romi dengan sangat sopan namun penuh keyakinan. Ia menyusun kalimatnya dengan sangat rapi, memberikan kesan bahwa itu adalah sebuah ajakan rekreasi yang menyenangkan dan santai.

     

    Eva terdiam sejenak. Otaknya langsung bekerja cepat untuk memikirkan respons terbaik.

     

    Sebagai seorang wanita dewasa yang cerdas dan peka, Eva tentu tahu betul apa arti dari ajakan pergi berdua di hari Minggu dari seorang pria yang baru saja dikenalkan padanya siang tadi. Itu adalah sebuah kencan pertama yang resmi.

     

    Namun, di dalam lubuk hatinya, ada sebuah keengganan yang sangat kuat untuk melangkah lebih jauh dengan Romi. Rasa nyaman dan bayangan kebersamaannya dengan Winar selama enam bulan terakhir ini rupanya telah mengakar terlalu dalam di hatinya, meskipun hubungan mereka berdua belum memiliki status yang jelas. Kehadiran Romi justru memperjelas satu hal di dalam diri Eva: hatinya ternyata sudah memilih arah, dan arah itu bukan menuju pria mapan bernama Romi ini.

     

    Eva tidak ingin memberikan harapan palsu pada Romi, namun ia juga sangat menghargai Pak Toro yang telah berniat baik mengenalkan mereka. Karena itu, ia harus menolak ajakan tersebut dengan cara yang sangat halus, sopan, dan diplomatis, tanpa membuat Romi merasa tersinggung atau ditolak secara kasar.

     

    “Wah, pameran seni di Jakarta Selatan ya? Sepertinya menarik sekali itu, Pak Romi,” jawab Eva dengan nada suara yang terdengar sangat tulus mengapresiasi informasi tersebut.

     

    Lalu, ia melanjutkan kalimatnya dengan jeda yang natural, menyusun alasan penolakan yang sangat halus.

     

    “Tapi sayang sekali ya, Pak… Kebetulan untuk hari Minggu besok, saya sudah ada janji lama dengan ibu saya untuk menemani beliau pergi ke acara silaturahmi keluarga besar di luar kota. Kami kemungkinan besar akan pergi sejak pagi sekali dan baru pulang menjelang malam hari,” urai Eva dengan nada penyesalan yang terdengar sangat alami di telinga Romi.

     

    Sebenarnya, acara silaturahmi keluarga itu memang ada dalam rencana bulanan keluarga mereka, namun waktunya belum ditentukan secara pasti untuk minggu ini. Eva sengaja menggunakan alasan keluarga karena ia tahu bahwa alasan tersebut adalah alasan yang paling kuat, sangat dihormati oleh siapapun, dan tidak menyisakan ruang bagi lawan bicara untuk memaksa atau merasa tersinggung.

     

    Mendengar jawaban Eva, Romi di seberang telepon sempat terdiam sesaat, namun ia segera menguasai keadaan kembali dengan sikap dewasanya.

     

    “Oh, begitu ya… Wah, sayang sekali. Tapi tidak apa-apa kok, Eva. Acara keluarga bersama Ibu memang jauh lebih penting dan harus diutamakan,” respons Romi dengan nada suara yang tetap ramah dan penuh pengertian. Ia sama sekali tidak merasakan adanya penolakan yang sengaja dihindari dari nada bicara Eva yang sangat halus itu.

     

    “Iya, Pak Romi. Mohon maaf sekali ya sebelumnya,” tambah Eva lagi, memberikan sentuhan kesantunan terakhir untuk menjaga perasaan lawan bicaranya.

     

    “Sama sekali tidak perlu minta maaf, Eva. Santai saja. Mungkin di lain waktu kita bisa mencari jadwal lain yang lebih cocok untuk kita berdua ya,” ujar Romi penuh harap, masih belum menyerah untuk mencoba lagi di kesempatan berikutnya.

     

    “Iya, insyaallah ya, Pak,” jawab Eva diplomatis dengan menggunakan kata ‘insyaallah’ yang bermakna luas.

     

    Setelah beberapa menit obrolan penutup yang ringan, akhirnya panggilan telepon itu disudahi dengan saling mengucapkan salam yang hangat.

     

    Eva meletakkan kembali ponselnya di atas meja nakas. Ia mengembuskan napas panjang, ada rasa lega yang luar biasa menyelimuti dadanya setelah berhasil melewati ujian kecil malam ini. Ia kembali menatap tumpukan buku tugas murid-muridnya di atas kasur, namun fokusnya kini benar-benar telah buyar.

     

    Pikirannya kini kembali melayang bebas, melintasi jarak beberapa blok perumahan menuju sebuah rumah di ujung gang.

     

    Eva tersenyum sendiri di dalam kesunyian kamarnya. Ia teringat kembali bagaimana ekspresi wajah Winar yang sering kali memerah menahan malu saat pertama kali mengajak dirinya naik ke dalam mobil enam bulan lalu. Ia teringat bagaimana cara Winar mendengarkan setiap keluh kesah dan cerita lucunya tentang sekolah dengan penuh perhatian, tanpa pernah sekalipun memotong pembicaraannya.

     

    Di mata dunia, Romi mungkin adalah sosok pria idaman yang sempurna tanpa celah secara materi dan kepercayaan diri. Namun bagi Eva, kesempurnaan sejati justru terletak pada ketidaksempurnaan yang manis, pada kekakuan yang jujur, dan pada ketulusan yang tanpa banyak kata yang selalu ia rasakan setiap pagi di dalam mobil sedan hitam milik Winar.

     

    Eva meraba dadanya yang tiba-tiba berdetak sedikit lebih cepat hanya karena membayangkan wajah Winar.

     

    “Ternyata beneran ada getaran itu ya di sini…” gumam Eva dalam hati sambil tersenyum manis. “Besok pagi… gue bakal denger cerita seru apa lagi ya dari Bang Winar?”

     

    Dan dengan perasaan hangat yang membuncah di dalam dadanya, malam itu Eva memejamkan mata, tidak sabar menanti datangnya hari esok di mana ia akan kembali duduk manis di samping pria kaku yang perlahan tapi pasti telah berhasil mencuri seluruh perhatian hatinya.

     

     

    Kreator : Siti Muspirah ( Fira Khairil )

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab 6 – Separuh Perjalanan Menuju Hatimu

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021