KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab 7 – Langkah Yang Tertahan

    Bab 7 – Langkah Yang Tertahan

    BY 05 Jun 2026 Dilihat: 10 kali
    Langkah Yang Tertahan_alineaku

    Hari Jumat selalu punya cara sendiri untuk terasa lebih lambat sekaligus mendebarkan. Bagi Winar, Jumat kali ini adalah perpaduan antara rasa lelah yang luar biasa dan debaran tanggung jawab yang kian mendekat. Sebagai seorang pria berusia dua puluh lima tahun yang dinilai kian matang, tampan dengan rahang tegas, serta karir yang sedang menanjak  di sebuah perusahaan minyak swasta terkemuka, Winar praktis menjadi magnet di lingkungannya.

     

    Namun, di balik semua pencapaian itu, ada satu nama yang selalu menjadi jangkar bagi hatinya: Eva.

     

    Hubungan mereka unik. Bersahabat lumayan lama. Hampir setahun. Tepatnya sudah sebelas bulan. Hubungan yang saling mendukung, namun selalu ada getaran tak kasat mata yang enggan didefinisikan oleh keduanya karena takut merusak kenyamanan yang sudah ada. Hubungan “persahabatan” yang teramat manis, namun sekaligus rapuh. Dan kerapuhan itu mulai diuji ketika sebuah keputusan besar turun dari jajaran direksi kantor Winar. Tiga bulan di Kalimantan. Sebuah proyek ekspansi besar telah menantinya di sana. Winar akan berangkat dua minggu lagi.

     

    Di tengah persiapan keberangkatan itu, hadirlah Sesil.

    Sesil adalah rekan satu divisi Winar. Cantik, berkulit putih mulus, karena ada campuran darah dari ibunya yang berdarah Cina,  modis, dengan pembawaan yang supel namun menyimpan obsesi halus pada sosok Winar. Di kantor, semua orang tahu ke mana arah perhatian Sesil. Gadis itu tidak pernah absen memberikan perhatian-perhatian kecil. Mulai dari menyiapkan kopi hangat di pagi hari, menaruh vitamin di meja kerja Winar, hingga selalu mengambil posisi duduk di sebelah Winar saat makan siang di kafe kantor.

     

    “Winar, kamu tuh kerja keras banget, sih. Jangan lupa makan siangnya dihabisin, ya. Aku sengaja pesenin menu favorit kamu,” ujar Sesil suatu siang dengan senyum manisnya, di hadapan rekan-rekan kerja yang langsung bersiul menggoda.

     

    Winar hanya tersenyum tipis, membalas dengan kesopanan yang berjarak. “Makasih, Sil. Tapi sebenarnya enggak usah repot-repot. Gue bisa ambil sendiri.”

     

    “Sama kamu mah mana ada kata repot,” sahut Sesil manja, mengabaikan batasan tak terlihat yang coba dipasang oleh Winar. Teman-teman sekantor mereka hanya berbisik, “Wah, Sesil pantang menyerah nih. Winar mah lempeng banget kayak jalan tol.” Winar memang tetap bersikap profesional dan biasa saja. Di kepalanya, ruang untuk wanita hanya diisi oleh satu sosok yang saat ini mungkin sedang sibuk mengajar di sebuah Sekolah Dasar swasta di tengah kota.

     

    Malam sebelum hari Jumat itu adalah malam yang brutal bagi Winar. Laporan tugas sebelum dia berangkat ke Kalimantan menumpuk setinggi gunung. Baru pada pukul tiga dini hari Winar bisa merebahkan tubuhnya. Matanya terasa berat, kepalanya berdenyut. Akibatnya, rutinitas pagi yang paling disukainya yaitu  mengantar Eva ke sekolah tempatnya mengajar—terpaksa batal. Winar bahkan tidak sanggup mengirimkan pesan singkat saking lelahnya.

     

    Dia baru terbangun saat kumandang azan Subuh sayup-sayup terdengar, namun setelah bersujud, rasa kantuk kembali menguasai tubuhnya. Winar tumbang lagi ke alam mimpi.

     

    “Winar… bangun, Nak. Sudah jam sebelas lewat. Ayo siap-siap salat Jumat. Nanti telat,” suara lembut Mama terdengar mengetuk pintu kamar, memecah keheningan siang yang mulai terik.

     

    Winar tersentak. Dia mengerjapkan mata, melihat jam dinding. Astaga, siang banget gue bangun, batinnya. Setelah mengumpulkan kesadaran, insting pertamanya adalah meraih ponsel. Ada rasa bersalah yang menyusup di dadanya karena tidak mengabari Eva sejak pagi.

     

    Dia segera bangun dan mandi. Setelah itu bersiap-siap mengenakan baju koko putih dan sarung, Winar mencoba menghubungi Eva. Dia tahu, kalua hari Jum’at jam segini Eva biasanya sudah selesai mengajar kelas terakhir dan sedang bersantai di ruang guru sebelum bel pulang berbunyi.

     

    Panggilan pertama , kedua… ketiga… baru diangkat.

     

    “Halo, Assalamualaikum, Bang Winar?” suara lembut Eva terdengar di seberang sana, sedikit berisik oleh latar belakang suara anak-anak sekolah yang lalu lalang.

     

    “Waalaikumsalam, Va. Sorry banget ya, tadi pagi Abang bener-bener tumbang. Baru tidur jam tiga subuh beresin berkas Kalimantan. Ini juga baru bangun dibangunin Mama buat salat Jumat,” ujar Winar, nada suaranya terdengar menyesal sekaligus manja khas pria yang baru bangun tidur.

     

    Eva tertawa kecil di seberang sana. “Iya, enggak apa-apa, Bang. Aku paham kok. Lagian tadi pagi aku berangkat bareng Sonia. Gimana tidurnya? Nyenyak?”

     

    “Nyenyak banget sampai jam sebelas lewat baru bangun. Itu juga karena dibangunin sama Mama,” jawab Winar.  Eva di seberang sana tertawa kecil mendengarnya. 

     

    “Eh, Va, pulang jam berapa hari ini? Abang jemput ya?”

     

    “Hari ini aku pulang jam dua siang, Bang. Tapi… ini aku rencana mau ke Citraland dulu sama Sonia. Mau nyari sepatu,” jawab Eva agak ragu.

     

    Winar langsung menyambar, “Sama Abang aja perginya. Kebetulan hari ini libur, setelah salat Jumat Abang antar kamu cari sepatu ya? Ya?”

     

    Eva menjauhkan ponselnya sedikit, melirik Sonia yang sedang merapikan buku di meja sebelah. 

     

    “Son, Bang Winar mau nganterin gue ke Citraland. Lu gimana?” bisik Eva.

     

    Sonia, yang memang sudah paham betul dinamika hubungan “sahabat tapi sayang” antara kedua orang ini, langsung mengangguk dengan senyum menggoda. 

     

    “Ya elah, Va, pergi aja gih sama pawang lu. Gue mah gampang, bisa pulang naik ojek online atau bareng guru lain. Sana, sikat!”

     

    Eva kembali menempelkan ponsel ke telinganya. “Ya udah, Bang. Sonia bilang oke. Aku tunggu di sekolah, ya.”

     

    “Siap, Bu guru. Abang salat Jumat dulu, habis itu langsung meluncur. Jangan nakal ya di sekolah,” ucap Winar hangat sebelum menutup telepon. Eva tersenyum kecil, terasa Bahagia hatinya.

     

    Selesai menunaikan salat Jumat, Winar langsung bergerak cepat. Dia sengaja tidak makan siang dirumah. Winar  mengenakan kaos polo casual yang pas di tubuh atletisnya, menyemprotkan parfum maskulin beraroma kayu yang segar, lalu mengeluarkan Honda Accord merah mengkilapnya dari garasi. Mobil itu membelah jalanan kota yang cukup padat siang itu, menuju ke sekolah tempat Eva mengajar.

     

    Tepat pukul 14.15, Accord merah itu berhenti di depan gerbang sekolah. Winar menurunkan kaca mobil, lalu mengetik pesan singkat: “Abang sudah di depan gerbang nih, Va. Pakai mobil yang biasa biar gampang dicari.”

    Karena di waktu jam pulang seperti ini, banyak mobil,orangtua murid yang ingin menjemput anaknya.

    Tak butuh waktu lama, sosok Eva muncul dari balik gerbang dengan senyum lebarnya yang khas. Dia mengenakan pakaian batik guru yang rapi, membawa tas jinjing, dan berjalan dengan sedikit canggung. Begitu masuk ke dalam mobil yang dingin oleh AC, Eva langsung menghembuskan napas lega.

     

    “Panas banget hari ini ya, Bang. Makasih ya udah dijemput,” ujar Eva sambil memasang sabuk pengaman.

     

    “Sama-sama, Va. Eh, mukanya kok ditekuk gitu? Ada masalah di kelas tadi?” tanya Winar jeli, menyadari ada semburat malu di wajah manis sahabatnya itu.

     

    Eva menutup mukanya dengan kedua telapak tangan, mengaduh pelan. “Aduh, Bang… aku malu banget deh. Tadi di kelas rasanya mau ditaruh mana mukaku ini. Sumpah, malu banget hari ini!”Sambil menggelengkan kepala dan menutup Sebagian wajahnya.

     

    Winar tertawa kecil sambil mulai melajukan mobilnya. “Emang kenapa sih? Cerita dong, jangan bikin penasaran.”

     

    “Jadi gini… tadi pas di kelas, aku lagi duduk di bangku guru sambil mengoreksi tugas anak-anak. Nah, karena kaki pegal dan agak kesemutan, aku silangkan kaki kananku ke atas kaki kiri. Aku nggak sadar posisi sepatuku menghadap ke depan kelas,” cerita Eva dengan nada menggebu-gebu, menahan malu.

     

    “Terus?” Winar melirik sekilas, tersenyum melihat ekspresi ekspresif Eva.

     

    “Tiba-tiba Si Adam sama Baim—anak-anak yang suka iseng di kelas itu—melihat ke arah sepatuku. Mereka bisik-bisik, terus sambil menahan tawa yang sampai pundaknya bergetar, si Adam bilang sambil menunjuk ke arah sepatu: ‘Bu Eva… hehehe… . Bu, itu sepatunya lapar ya?” 

     Mana Kenceng banget lagi suaranya, umpat Eva kesal.

     

    Winar langsung terbahak mendengarnya.Ha ha ha haa…  “Lapar? Maksudnya?”

     

    “Aku langsung refleks dong melihat ke bawah, ke arah sepatu pantofel hitam andalanku. Dan alamaaaak! Bagian sol depannya udah menganga lebar banget, Bang! Mangap kayak mulut orang lapar mau makan! Sumpah, depannya copot setengah! Aku langsung buru-buru turunin kaki, mukaku langsung merah padam. Ampun deh, malunya setengah mati! Satu kelas langsung ikutan ngetawain aku. ngakak!” pekik Eva frustasi, sementara Winar tertawa terpingkal-pingkal sampai bahunya terguncang.

     

    “Hahaha!Ya iyalah… Abang juga kalo ada disitu pasti ikutan ngakak.  Makanya, Va, sepatu itu dirawat. Lagian itu sepatu udah dari zaman batu kali ya?” goda Winar. Lalu melirik ke kaki Eva. Dia melihat Eva memakai sendal.

    “Trus sepatunya dikemanain? Coba tadi foto terus kirim ke Abang.” Canda Winar.

     

    “Ih, Bang Winar mah malah ngetawain! Sepatunya udah aku buang ke tong sampah. Makanya ini aku darurat banget harus beli sepatu baru. Tadi Sonia nyaranin beli sepatu sneaker atau slip-on aja. Katanya lebih nyaman, apalagi sekolahku kan tiga lantai, naik turun tangga terus tiap hari bikin betis mau copot.”

     

    “Iya, iya, maaf. Nanti kita cari yang paling bagus dan paling nyaman buat kaki berharga Bu Guru cantik ini,” kata Winar lembut, membuat detak jantung Eva mendadak melompat satu ketukan. Wow..!

     

    Sesampainya di Citraland, mereka langsung menuju ke area gerai sepatu bermerek. Eva tampak antusias sekaligus selektif. Dia mencoba beberapa model, namun matanya akhirnya tertambat pada sebuah sepatu Skechers slip-on berwarna hitam polos. Modelnya kasual namun tetap sopan untuk dipakai mengajar, dan yang terpenting, bantalannya sangat empuk.

     

    “Gimana, Va? Nyaman?” tanya Winar yang setia berdiri di sampingnya, memperhatikan setiap gerak-gerik Eva.

     

    “Nyaman banget, Bang. Ringan banget, kayak enggak pakai sepatu. Kayaknya yang ini aja deh,” ujar Eva puas. Dia kemudian memanggil pelayan toko untuk membungkus sepatu ukuran 37 tersebut.

     

    Saat pelayan membawa kotak sepatu itu menuju meja kasir, Eva membuka tasnya, berniat mengambil dompet. Namun, dengan gerakan yang sangat cepat dan tenang, Winar sudah melangkah lebih dulu ke meja kasir. Dia menyodorkan kartu debitnya kepada petugas kasir sebelum Eva sempat mengeluarkan dompetnya.

     

    “Eh! Bang Winar, jangan! Biar aku sendiri yang bayar!” seru Eva panik, menyusul Winar ke kasir.

     

    “Sudah, diam aja. Anggap ini hadiah perpisahan dini sebelum Abang berangkat ke Kalimantan,” ucap Winar tenang, memberikan senyum hangat yang tak bisa dibantah.

     

    “Tapi Bang, ini harganya lumayan mahal… aku enggak enak,” bisik Eva, merasa sungkan yang teramat sangat. Nominal yang tertera di mesin EDC memang bukan jumlah yang kecil untuk ukuran sepatu kerja sehari-hari.

     

    “Va, dengerin Abang,” Winar menatap mata Eva dalam-dalam setelah menandatangani struk pembayaran. “Uang bisa dicari. Tapi kenyamanan kaki kamu saat mendidik anak-anak itu lebih penting. Jangan dipikirin, ya? Abang ikhlas.”

     

    Eva tertegun. Ada rasa hangat yang membuncah di dadanya, namun di sisi lain, perasaan tak enak hati dan canggung menggelayuti pikirannya. Bagaimana mungkin seorang sahabat memperlakukannya seistimewa ini? Dengan wajah sedikit merona dan perasaan campur aduk, Eva menerima kantong belanjaan itu.

     

    “Makasih banyak ya, Bang Winar… benar-benar makasih. Nanti aku ganti pakai traktir makan ya,” ucap Eva tulus, suaranya melembut.

     

    “Enggak usah diganti. Tapi kalau traktir makan, sekarang juga boleh. Abang laper banget belum makan siang,” sahut Winar jenaka.

     

    Mereka berdua memutuskan untuk makan di gerai HokBen yang terletak tidak jauh dari sana. Aroma bumbu khas jepang langsung menyambut mereka. Setelah memesan paket menu favorit masing-masing, mereka duduk di salah satu sudut yang agak tenang.

     

    Suasana awalnya terasa sangat menyenangkan. Obrolan hangat dan penuh canda. Winar dengan lahap menyantap makanannya, sesekali menggoda Eva yang masih tampak malu-malu karena sepatu barunya dibayari. Eva merasa dunia saat itu begitu sempurna. Di depannya ada pria yang sangat peduli padanya, tampan, mapan, dan selalu tahu cara membuatnya tertawa.

    Namun, kesempurnaan itu hancur dalam hitungan detik.

     

    Breeet… Breeet…

     

    Ponsel Winar yang diletakkan di atas meja bergetar keras. Layarnya menyala, menampilkan sebuah panggilan masuk tanpa nama, namun dengan nomor yang tampaknya sudah sangat dikenal oleh Winar.

     

    Winar menghentikan suapannya. Dia menatap layar ponsel itu selama beberapa detik. Ada perubahan ekspresi yang sangat tipis di wajahnya—sedikit terkejut, lalu berubah menjadi agak canggung saat melirik ke arah Eva.

     

    Winar menggeser tombol hijau, mendekatkan ponsel itu ke telinganya.

     

    Karena suasana restoran yang tidak terlalu bising di sudut mereka, ditambah volume speaker ponsel Winar yang awalnya cukup keras, Eva bisa mendengar suara di ujung telepon dengan sangat jelas.

     

    “Halo… Winar? Kamu lagi di mana? Kok pesan aku dari pagi nggak dibalas sih? Aku khawatir tahu…”

     

    Suara itu. Suara seorang wanita. Terdengar begitu lembut, manja, dan memiliki nada kedekatan yang tidak biasa. Itu bukan suara seorang rekan kerja biasa yang menanyakan urusan kantor. Itu adalah suara seorang wanita yang merasa memiliki hak untuk mencari tahu keberadaan Winar.

     

    Winar dengan gerakan refleks yang sangat cepat langsung menekan tombol volume di samping ponselnya, mengecilkan suara seketika hingga tak terdengar lagi ke luar. Wajahnya menegang sesaat, sebelum dia berusaha bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.

     

    “Halo… iya. Baik,” jawab Winar dengan nada suara yang sengaja dibuat datar dan formal. Matanya melirik ke arah Eva yang tiba-tiba membeku di tempat duduknya. “Nanti ya, telepon lagi. Saya sedang di luar. Ada urusan.”

     

    “Tapi Win, nanti malam kita jadi kan—” Kalimat wanita di seberang sana terputus karena Winar langsung mematikan sambungan telepon sepihak. Dia meletakkan kembali ponselnya dengan posisi layar menghadap ke bawah di atas meja.

     

    Sunyi mendadak menjajah meja mereka.

    Makanan yang tadinya terasa sangat lezat di lidah Eva, seketika berubah hambar seperti mengunyah kertas. Hati Eva yang beberapa menit lalu dipenuhi bunga-bunga karena dibelikan sepatu baru, kini mendadak runtuh, porak-poranda.

     

    Siapa wanita itu? Kenapa suaranya semanja itu? Kenapa Bang Winar tampak begitu panik dan langsung mengecilkan volume suaranya? Apa ada wanita lain yang selama ini menyelinap di antara mereka tanpa dia ketahui? Eva tiba-tiba teringat kalimat yang diucapkan Winar Ketika membayar sepatunya. “ Anggap ini perpisahan dini…”. Kalimat itu kini terngiang-ngiang di telinganya. 

     

    Pertanyaan-pertanyaan itu berputar hebat di kepala Eva bagaikan badai. Ada rasa cemburu yang teramat sangat, bercampur dengan rasa bersalah karena merasa dirinya tidak berhak cemburu. Mengingat, status mereka “hanya” sahabat. Tidak ada komitmen apapun. Rasa malu karena baru saja dibelikan sepatu mahal, kini bercampur aduk dengan rasa tersingkirkan. Semua emosi itu bertabrakan, membuat dadanya terasa sesak dan kepalanya pening.

     

    Winar menyadari perubahan mendadak pada sikap Eva. Dia berdehem kecil, mencoba mencairkan suasana. “Va? Kok bengong. Ayo dimakan lagi? Kenapa?”

     

    Eva memaksakan sebuah senyuman. Senyuman yang tampak sangat rapuh dan dipaksakan. “Ah, enggak apa-apa, Bang. Ebi furainya enak ya.” Sambil mengacungkan jempolnya.  Eva mencoba menetralkan suasana. Juga suasana hatinya.

     

    “Iya. Kamu mau tambah lagi?” tanya Winar. Eva menggelengkan kepalanya dan menjawab, “ga. Ini udah cukup kok.” Sahut Eva. 

    Eva sebenarnya ingin mendengar Winar mengatakan sesuatu tentang Wanita yang barusan menelponnya.  Namun, Winar tidak memberikan penjelasan apa pun tentang siapa Wanita  yang meneleponnya tadi. Winar memilih bungkam, mungkin berpikir bahwa tidak menceritakannya adalah jalan terbaik untuk menjaga keadaan tetap tenang, atau mungkin ada hal lain yang memang ingin dia sembunyikan.

     

    Sikap diam Winar justru menjadi konfirmasi tersirat bagi Eva bahwa ada sesuatu yang besar yang sedang disembunyikan darinya.

     

    Sore itu, perjalanan pulang terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Accord merah yang mewah itu melaju membelah jalanan kota yang mulai merayap macet akibat jam pulang kantor. Namun, keheningan di dalam kabin mobil terasa jauh lebih menyesakkan daripada kemacetan di luar.

     

    Eva menatap keluar jendela, memperhatikan rintik gerimis yang mulai membasahi kaca mobil. Pikirannya melayang jauh. Dia teringat kembali suara manja wanita di telepon tadi. Selama ini, dia merasa bahwa dialah satu-satunya wanita yang paling dekat dengan Winar. Dialah tempat Winar berbagi cerita, berkeluh kesah, dan bermanja. Namun sekarang, keyakinan itu goyah perlahan, Seperti kaca yang jatuh dan meninggalkan retak yang kecil.

     

    Siapakah dia? Apakah teman sekantornya? Atau wanita lain yang ditemuinya di luar? Dan yang paling menakutkan… apakah wanita itu yang akan menemani Winar selama tiga bulan di Kalimantan nanti?

     

    Setiap spekulasi yang muncul di kepalanya bagaikan duri yang menusuk perlahan. Rasa gundah gulana menyelimuti hatinya. Eva ingin sekali bertanya, “Bang, tadi itu siapa?” namun harga dirinya menahan kata-kata itu di tenggorokan. Dia takut mendengar jawaban yang akan menghancurkan hatinya sepenuhnya. Dia juga takut dicap melewati batas sebagai seorang teman.

     

    Winar, di sisi lain, sesekali melirik Eva dari balik kemudinya. Dia tahu ada yang salah. Dia tahu Eva mendengar suara itu. Namun, egonya sebagai pria—atau mungkin rasa takutnya akan konflik yang belum siap dia hadapi—. Winar hanya menjawab  dengan nada datar . “Teman”.  Lalu memilih untuk terus memegang kemudi dalam diam. Winar mengalihkan obrolannya dengan meminta Eva untuk mencari lagu  dari radio mobil.

    Meskipun hatinya sedang menangis dan kacau balau, Eva tidak ingin merusak hari ini sepenuhnya. Dia tidak ingin terlihat lemah atau kekanak-kanakan di mata Winar. Eva sengaja memilih lagu dangdut koplo untuk mencairkan suasana hatinya. Winar melirik Eva , kemudian senyum dan tertawa kecil. Eva… Eva.

     

    Saat mobil akhirnya berhenti di depan rumah Eva, Eva menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan, lalu menoleh ke arah Winar dengan senyum terbaik yang bisa dia ciptakan. Senyum ceria yang menyembunyikan badai di dalamnya.

     

    “Bang Winar, makasih banyak ya buat hari ini. Makasih banget buat sepatu barunya. Ini bakal berguna banget buat aku naik turun tangga di sekolah,” ujar Eva dengan nada suara yang diusahakan seceria mungkin, lengkap dengan binar mata yang dipaksakan.

     

    Winar menatap Eva, ada rasa bersalah yang tersirat di matanya, namun dia menutupinya dengan senyuman hangat. “Sama-sama, Va. Dipakai terus ya sepatunya. Biar kaki kamu nggak sakit lagi.”

     

    “Pasti dong! Ya udah, aku masuk dulu ya. Abang hati-hati di jalan. Jangan lupa istirahat, kan semalam kurang tidur,” kata Eva, membuka pintu mobil.

     

    “Iya, Va. Makasih perhatiannya,” jawab Winar pelan.

     

    Eva melangkah keluar dari mobil, membawa kotak sepatu barunya dengan perasaan yang teramat berat. Saat dia berjalan menuju pintu rumahnya dan mendengar suara mobil Accord merah Winar perlahan menjauh, senyum di wajah Eva langsung luntur.

     

    Dia menatap sepatu baru di dekapannya. Sepatu itu sangat indah, sangat nyaman. Namun, suara asing yang melintas di ponsel Winar siang tadi telah meninggalkan goresan luka yang tak kasat mata.

     

    Tiga bulan di Kalimantan akan segera dimulai, dan Eva kini menyadari, dia mungkin tidak lagi berjalan sendirian di hati Winar. Ada debu bernama Sesil—atau siapa pun wanita itu—yang mulai masuk, mengaburkan jalan yang selama ini mereka rintis bersama.

     

     

    Kreator : Siti Muspirah ( Fira Khairil )

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab 7 – Langkah Yang Tertahan

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021