KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » BAB I : Di Mana Buku Menjadi Duku

    BAB I : Di Mana Buku Menjadi Duku

    BY 21 Jun 2026 Dilihat: 7 kali
    Di Mana Buku Menjadi Duku_alineaku

    Kamar yang Hidup 

    Di sebuah rumah kecil yang dipenuhi suara tawa, ada sebuah kamar anak yang sangat istimewa. Kamar itu milik Beni, seorang anak kelas satu yang selalu penuh rasa ingin tahu. Kamar Beni tidak pernah benar-benar sepi. Bahkan saat malam tiba dan lampu dimatikan, kamar itu terasa seperti masih terjaga.

    Beni sangat menyukai kamarnya. Dindingnya dicat kuning cerah seperti matahari pagi. Di sudut ruangan berdiri rak penuh buku cerita, robot mainan, mobil-mobilan, dan boneka dinosaurus. Karpet biru lembut membentang di lantai seperti lautan kecil tempat Beni sering duduk sambil membaca.

    Namun, ada satu benda yang paling menarik perhatian di kamar itu: sebuah poster alfabet raksasa yang menempel di dinding dekat tempat tidur. Huruf-huruf berwarna-warni memenuhi poster itu dari atas sampai bawah. Setiap huruf memiliki bentuk lucu dan wajah kecil yang tampak tersenyum.

    Suatu sore, Beni duduk di karpet birunya sambil membaca buku cerita tentang petualangan di hutan. Ia membaca perlahan sambil mengikuti huruf dengan jarinya.

    “Ada seekor beruang besar di dalam gua…” bacanya pelan.

    Tiba-tiba, ia merasa ada sesuatu yang aneh.

    Huruf-huruf di poster alfabet bergerak sedikit.

    Beni mengerjapkan mata.

    Huruf “b” kecil tampak bergoyang ke kanan dan ke kiri seperti sedang menari. Huruf “d” kecil ikut berputar kecil di sebelahnya. Sesaat kemudian, keduanya bertukar tempat.

    Beni memiringkan kepala.

    “Eh?” gumamnya.

    Ia menatap lebih lama.

    Sekarang huruf “p” melompat kecil dan mencoba berdiri seperti huruf “q”. Huruf “S” meliuk seperti ular kecil. Huruf “J” berayun-ayun seperti sedang bermain di taman.

    Beni tertawa kecil.

    “Wah… kalian bisa menari?” katanya pelan.

    Awalnya, ia mengira itu hanya imajinasinya. Mungkin karena ia terlalu lama membaca. Namun semakin lama ia melihat, huruf-huruf itu semakin aktif bergerak.

    Kamar Beni terasa hidup.

    Hari berikutnya di sekolah, Beni mencoba melupakan huruf-huruf menari itu. Ia duduk rapi di bangkunya sambil mendengarkan Bu Rani mengajar membaca.

    “Anak-anak, sekarang kita baca bersama-sama,” kata Bu Rani sambil menulis kata di papan tulis.

    Beni biasanya sangat semangat membaca. Ia suka cerita, suka buku, dan selalu ingin tahu hal baru. Namun kali ini, saat melihat tulisan di papan, dadanya mulai terasa tidak nyaman.

    Huruf-huruf itu bergerak lagi.

    Huruf “b” dalam kata “bola” tiba-tiba terlihat seperti “d”. Kata “padi” berubah seperti “qadi”. Huruf-huruf kecil itu seperti sedang bermain petak umpet di depan matanya.

    Beni mengucek matanya pelan.

    “Beni, coba baca kalimat ini,” kata Bu Rani dengan lembut.

    Beni berdiri perlahan.

    Ia mencoba fokus.

    “Di… di… rumah ada… d… bola…”

    Beberapa anak tertawa kecil.

    Beni langsung duduk kembali sambil menunduk. Pipinya terasa panas.

    Saat jam istirahat, sahabatnya, Raka, duduk di sampingnya.

    “Kamu kenapa?” tanya Raka.

    Beni ragu menjawab.

    “Aku takut kamu nggak percaya,” katanya lirih.

    “Aku percaya kok.”

    Beni menarik napas.

    “Huruf-huruf suka bergerak sendiri.”

    Raka berkedip bingung.

    “Bergerak gimana?”

    “Mereka menari… terus bertukar tempat.”

    Raka tertawa kecil, tapi bukan untuk mengejek.

    “Wah, kalau aku sih malah takut.”

    Beni tidak ikut tertawa.

    Baginya, itu benar-benar terjadi.

    Malamnya di kamar, ia kembali membuka buku bacaannya. Baru beberapa menit membaca, huruf-huruf mulai berputar lagi. Kali ini lebih cepat.

    Huruf “b” dan “d” berputar seperti penari balet yang pusing. Huruf “p” dan “q” melompat saling bertukar posisi.

    Kepala Beni ikut terasa pening.

    “Mengapa kalian tidak bisa diam saja?” bisiknya sedih.

    Ia mulai takut membuka buku.

    Beberapa minggu berlalu.

    Beni mulai lebih sering diam di kelas. Ia tidak lagi cepat mengangkat tangan seperti dulu. Setiap kali diminta membaca, perutnya terasa mulas.

    Bu Rani memperhatikan perubahan itu.

    Suatu siang setelah pelajaran selesai, Bu Rani mendekati meja Beni.

    “Beni, boleh Ibu bicara sebentar?” tanyanya lembut.

    Beni mengangguk pelan.

    “Kamu kelihatan sedih akhir-akhir ini. Apa ada yang membuatmu kesulitan?”

    Beni menatap meja.

    Awalnya ia takut bercerita. Ia khawatir Bu Rani akan menganggapnya aneh. Namun wajah Bu Rani terlihat sabar dan hangat.

    “Aku… aku lihat huruf-huruf bergerak,” katanya hampir berbisik.

    Bu Rani tidak tertawa.

    Ia justru duduk di samping Beni.

    “Bergerak seperti apa?”

    “Mereka suka menari dan bertukar tempat. Terutama huruf b, d, p, sama q.”

    Bu Rani mengangguk pelan.

    “Terima kasih sudah cerita.”

    Beni terkejut.

    “Ibu nggak marah?”

    “Tentu tidak. Kamu sudah sangat berani.”

    Sore itu, Bu Rani berbicara dengan orang tua Beni. Mereka lalu membawa Beni bertemu seorang ahli yang membantu anak-anak belajar membaca.

    Di ruangan yang penuh gambar dan buku warna-warni, seorang ibu berkacamata ramah menyambut Beni.

    “Halo, Beni. Namaku Bu Maya,” katanya sambil tersenyum.

    Bu Maya mengajak Beni bermain kartu huruf, menyusun kata, dan membaca cerita pendek.

    Setelah beberapa waktu, Bu Maya berkata dengan lembut, “Beni, otakmu sebenarnya sangat hebat. Hanya saja, otakmu bekerja dengan cara yang sedikit berbeda.”

    Beni mendengarkan serius.

    “Kamu mengalami disleksia.”

    “Dis… leksia?”

    “Itu sebabnya huruf-huruf terasa bergerak atau tertukar. Banyak anak pintar mengalaminya.”

    “Jadi aku bukan anak aneh?” tanya Beni pelan.

    Bu Maya tersenyum hangat.

    “Tentu bukan. Kamu hanya belajar dengan cara yang berbeda.”

    Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dada Beni terasa lebih ringan.

    Sejak hari itu, Beni mulai belajar dengan cara baru.

    Bu Maya mengajarinya menggunakan huruf berwarna-warni. Huruf “b” diberi warna biru, sementara “d” diberi warna hijau. Ia juga menggunakan balok huruf dan permainan bunyi.

    Bu Rani membantu Beni membaca perlahan di kelas. Ia tidak lagi memaksa Beni membaca cepat.

    “Tidak apa-apa pelan-pelan,” kata Bu Rani setiap kali Beni mulai gugup.

    Ayah dan Ibu juga mendukungnya di rumah.

    Setiap malam, mereka membaca cerita bersama. Kadang Ayah menunjuk kata dengan jari. Kadang Ibu membantu Beni memecah kata menjadi bunyi kecil.

    Perlahan-lahan, Beni mulai merasa lebih percaya diri.

    Huruf-huruf memang masih kadang bergerak. Kadang “b” dan “d” masih suka membuatnya bingung. Namun sekarang ia tahu bahwa itu bukan salahnya.

    Suatu malam, Beni kembali duduk di karpet birunya.

    Kamar kuning cerahnya terasa hangat dan nyaman.

    Ia membuka buku cerita favoritnya.

    Huruf-huruf di poster alfabet masih tampak hidup. Huruf “S” masih meliuk lucu. Huruf “J” masih berayun pelan. Huruf “p” masih sesekali mencoba menjadi “q”.

    Namun kali ini, Beni tidak takut lagi.

    Ia tersenyum kecil.

    “Aku tahu kalian suka menari,” katanya.

    Ia lalu membaca perlahan.

    Setiap kata yang berhasil dibacanya terasa seperti kemenangan kecil.

    Hari demi hari, kemampuan membaca Beni semakin baik. Ia mulai berani membaca di depan kelas lagi.

    Saat berhasil menyelesaikan satu halaman buku tanpa berhenti, ia melompat kegirangan.

    “Aku bisa!” serunya.

    Ibu memeluknya bangga.

    “Tentu saja kamu bisa.”

    Beberapa bulan kemudian, sekolah mengadakan hari membaca cerita.

    Setiap murid diminta maju ke depan kelas dan membacakan cerita pendek.

    Beni sempat gugup.

    Ia memandang buku di tangannya dan mengingat hari-hari saat huruf-huruf terasa seperti badai yang membingungkan.

    Namun sekarang, ia tidak sendirian lagi.

    Bu Rani tersenyum memberi semangat dari depan kelas. Raka mengangkat jempol dari bangkunya.

    Beni menarik napas panjang lalu mulai membaca.

    Awalnya pelan.

    Namun semakin lama, suaranya semakin jelas dan percaya diri.

    Ia memang masih berhenti sesekali untuk memastikan hurufnya tidak tertukar. Tetapi ia terus melanjutkan.

    Ketika selesai membaca, seluruh kelas bertepuk tangan.

    Beni tersenyum lebar.

    Untuk pertama kalinya, ia merasa sangat bangga pada dirinya sendiri.

    Malam itu, di kamar kuningnya yang hidup, Beni menatap poster alfabet di dinding.

    Huruf-huruf itu tampak tenang.

    Atau mungkin… mereka masih menari kecil seperti biasa.

    Namun kini Beni tidak lagi melihat mereka sebagai musuh.

    Huruf-huruf itu hanyalah bagian dari perjalanan belajarnya.

    Ia merebahkan tubuh di karpet biru sambil memeluk buku ceritanya.

    “Aku tetap suka membaca,” bisiknya.

    Di bawah cahaya lampu kamar yang hangat, poster alfabet seakan tersenyum diam-diam.

    Dan kamar yang hidup itu akhirnya menjadi tempat di mana Beni belajar bahwa setiap anak memiliki cara unik untuk memahami dunia.

    Tamat.

     

    Tragedi Papan Tulis

    Panggilan ke Depan Kelas

    Pagi itu, sinar matahari masuk melalui jendela kelas tiga SD Harapan Bangsa. Anak-anak duduk rapi sambil membuka buku pelajaran Bahasa Indonesia. Suara kipas angin berputar pelan di langit-langit kelas, bercampur dengan bisik-bisik kecil para murid.

    “Anak-anak, sekarang kita belajar menulis kalimat sederhana,” kata Bu Guru sambil tersenyum hangat. Dengan kapur putih di tangan, beliau menulis contoh di papan tulis: Ibu Membeli Buku.

    “Siapa yang mau mencoba menulis di depan?” tanyanya.

    Beberapa murid langsung menunduk malu. Namun Beni mengangkat tangan pelan. Ia sebenarnya gugup, tetapi ingin mencoba. Bu Guru tersenyum bangga.

    “Bagus, Beni. Silakan maju.”

    Beni berjalan ke depan kelas dengan langkah hati-hati. Di tangannya, kapur terasa dingin dan sedikit licin. Teman-temannya memperhatikannya dengan penasaran. Dalam hati, Beni berkata pada dirinya sendiri bahwa kali ini ia pasti bisa menulis dengan benar.

     

    Huruf yang Menari

    Beni menatap papan tulis lama sekali. Ia tahu kalimat itu. Ia hafal bunyinya. Ia bahkan sudah mengulanginya berkali-kali di dalam kepala.

    “Ibu… Membeli… Buku…”

    Tangannya mulai bergerak menulis perlahan. Huruf demi huruf muncul di papan tulis putih kehijauan itu. Tetapi semakin lama, kepalanya terasa penuh. Huruf-huruf seperti bergerak dan berputar.

    Huruf b tampak seperti d.

    Huruf d tampak seperti b.

    Beni mengerutkan dahi. Ia mencoba fokus, tetapi huruf-huruf itu seperti menari dan saling bertukar tempat.

     

    Ibu Membeli Duku

    Kelas mendadak hening sesaat, lalu terdengar tawa kecil di beberapa sudut ruangan. Beberapa anak terkekeh kecil.

    “Hehehe… beli buah duku!”

    “Bukunya jadi buah!”

    Mereka sebenarnya tidak bermaksud jahat. Mereka hanya merasa lucu.

    Namun wajah Beni langsung memerah.

    Ia menunduk malu sambil menggenggam kapur erat-erat.

    Bu Guru segera mendekat dengan lembut.

    “Tidak apa-apa, Beni,” katanya sambil menepuk bahu Beni pelan. “Kita coba lagi, ya.”

    Bu Guru lalu menuliskan huruf “b” dan “d” besar-besar di papan tulis.

    “Lihat baik-baik,” katanya lembut.

    Beni mengangguk pelan.

    Tetapi di matanya, kedua huruf itu tetap tampak menari.

    Dan untuk pertama kalinya, Beni merasa sedih pada dirinya sendiri.

    Rasa Malu di Hati Beni

    “Ha ha ha… beli duku!” celetuk seorang murid sambil tertawa kecil.

    Teman-teman lain ikut terkekeh. Mereka sebenarnya tidak berniat jahat. Mereka hanya merasa kalimat itu lucu. Namun bagi Beni, suara tawa itu terdengar sangat keras.

    Tangannya masih memegang kapur putih. Jemarinya mulai gemetar. Wajahnya memerah karena malu. Ia menatap tulisan di papan tulis dengan bingung.

    “Tapi… aku tadi menulis buku…” gumamnya pelan dalam hati.

    Bu Guru segera mendekat. Dengan suara lembut beliau berkata, “Tidak apa-apa, Beni. Kamu sudah berusaha dengan baik.”

    Beliau lalu menunjuk huruf B dan D di papan tulis.

    “Lihat, huruf ini perutnya di depan, sedangkan yang ini perutnya di belakang.”

    Beni mengangguk pelan, tetapi dadanya terasa sesak. Ia merasa kecewa pada dirinya sendiri. Mengapa huruf-huruf itu selalu tertukar? Mengapa matanya seperti tidak mau bekerja sama?

    Hari itu, untuk pertama kalinya, Beni merasa seolah-olah matanya sendiri telah mengkhianatinya.

     

    Percakapan Setelah Sekolah

    Saat bel pulang berbunyi, murid-murid segera berlarian keluar kelas. Namun Beni duduk diam sambil menatap buku tulisnya.

    Bu Guru menghampirinya lagi.

    “Beni, boleh Ibu duduk di sini?” tanyanya lembut.

    Beni mengangguk pelan.

    “Kamu sedih karena tadi?” tanya Bu Guru.

    Beni menunduk. “Saya sudah berusaha, Bu. Tapi hurufnya selalu tertukar.”

    Bu Guru tersenyum hangat. “Beni, setiap anak belajar dengan cara berbeda. Ada anak yang cepat berhitung, ada yang pandai menggambar, dan ada juga yang membutuhkan waktu lebih lama membaca atau menulis.”

    Beliau mengambil selembar kertas lalu menulis huruf b dan d dengan ukuran besar.

    “Kita akan belajar pelan-pelan bersama. Tidak apa-apa salah. Salah itu bagian dari belajar.”

    Beni memandang tulisan itu lama sekali. Untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa sedikit lega.

     

    Harapan Baru

    Keesokan harinya, Beni datang lebih pagi ke sekolah. Di tangannya ada kartu kecil buatan Bu Guru berisi huruf-huruf yang sering tertukar.

    Di kelas, ia berlatih diam-diam sebelum pelajaran dimulai.

    “b… d… b… d…” bisiknya pelan.

    Bu Guru memperhatikannya dari meja guru dan tersenyum bangga.

    Hari demi hari, Beni terus berlatih. Kadang ia masih salah. Kadang huruf-huruf itu masih tampak menari di kepalanya. Tetapi sekarang ia tidak menyerah lagi.

    Ia mulai memahami bahwa kesulitan bukan berarti kebodohan.

    Dan perlahan, Beni belajar sesuatu yang lebih penting daripada sekadar menulis dengan benar: ia belajar untuk percaya pada dirinya sendiri.

     

    Malam yang Aneh

    Malam itu, kamar Beni sangat tenang. Hanya suara jangkrik dari luar jendela yang terdengar pelan. Lampu belajar berwarna kuning hangat menerangi meja kayu kecil di sudut kamar. Di atas meja itu, terbuka sebuah buku cerita tentang petualangan fantasi yang sedang dibaca Beni.

    Beni duduk diam sambil menopang dagunya. Matanya mulai sayu karena lelah. Ia hampir menutup bukunya ketika tiba-tiba sesuatu yang aneh terjadi.

    Dari halaman buku yang terbuka, muncul cahaya biru redup yang berdenyut perlahan.

    Beni terkejut.

    “Eh… apa itu?” bisiknya pelan.

    Cahaya itu semakin terang. Halaman buku bergerak sendiri tertiup angin yang entah datang dari mana. Beni menatap tanpa berkedip. Jantungnya berdebar cepat karena penasaran sekaligus takut.

    Lalu, sesuatu kecil mulai muncul dari dalam buku.

     

    Huruf Kecil yang Menangis

    Perlahan-lahan, seekor huruf “b” kecil merangkak keluar dari halaman buku. Tubuhnya mungil dan berwarna biru cerah. Namun wajahnya tampak sedih. Bahkan, air mata kecil jatuh dari matanya.

    Huruf “b” kecil itu duduk di atas meja sambil terisak.

    Beni semakin bingung.

    “K-kamu siapa?” tanya Beni hati-hati.

    Huruf kecil itu menatap Beni dengan mata memohon.

    “Aku huruf ‘b’ dari Desa Alfabet,” jawabnya lirih. “Desa kami sedang dalam bahaya!”

    “Bahaya apa?” tanya Beni cepat.

     

    Desa Alfabet Dalam Bahaya

    Huruf “b” kecil menarik napas panjang sebelum mulai bercerita.

    “Aku berasal dari Desa Alfabet,” katanya.

    “Desa Alfabet?” ulang Beni penasaran.

    Huruf kecil itu mengangguk.

    “Di sana semua huruf hidup bersama dengan damai. Tetapi sekarang desa kami sedang dalam bahaya.” 

    “Semua huruf di desa kami kebingungan. Jalan menuju rumah kami tertukar. Huruf-huruf tidak tahu harus pergi ke mana. Mereka tersesat dan saling bertabrakan.”

    Beni mendengarkan dengan serius. “Kalau tidak segera dibantu,” lanjut huruf “b”, “Desa Alfabet akan kacau selamanya.”

     

    “Jalan menuju rumah-rumah kami tertukar,” lanjut huruf “b”. “Huruf A tidak bisa menemukan rumahnya. Huruf M tersesat. Huruf S malah masuk ke jalan angka.”

    “Wah…” gumam Beni.

    “Semua huruf kebingungan,” kata huruf “b” sedih. “Kami tidak tahu harus pergi ke mana

     

    Permohonan Bantuan

    Huruf “b” kecil menundukkan kepala sedih.

    “Tolong kami, Beni…” katanya pelan. “Kami tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa lagi.”

    Beni melihat huruf kecil itu dengan iba. Ia tidak tega melihatnya menangis.

    “Tapi… bagaimana aku bisa membantu?” tanya Beni.

    Huruf “b” menunjuk ke arah buku yang masih bersinar biru.

    “Kau harus masuk ke dalam buku dan membantu kami menemukan jalan yang benar.”

    Beni terdiam sesaat. Ia belum pernah melihat hal seperti ini sebelumnya. Masuk ke dalam buku terdengar sangat mustahil.

    Namun di dalam hatinya, Beni merasa penasaran. Ia juga ingin membantu sahabat-sahabat huruf yang sedang kesulitan.

    Beni membayangkan sebuah desa penuh huruf yang berlarian kebingungan.

    “Apa tidak ada yang bisa membantu?” tanya Beni.

    Huruf “b” menggeleng pelan.

    “Kami sudah mencoba memperbaikinya sendiri, tetapi gagal.”

    “Kenapa bisa terjadi?” tanya Beni lagi.

    Huruf kecil itu tampak takut.

    “Ada angin hitam misterius yang datang beberapa malam lalu. Setelah itu, semua papan jalan berubah arah.”

    Beni mulai penasaran dengan misteri tersebut.

    “Apa di sana berbahaya?” tanya Beni pelan.

    Huruf “b” menggeleng.

    “Kami hanya membutuhkan teman yang berani dan baik hati.”

    Beni tersenyum kecil.

     

    Gerbang Menuju Desa Alfabet

    Huruf “b” menatap Beni penuh harapan.

    “Tolong bantu kami, Beni,” katanya pelan.

    Beni terdiam sesaat.

    Beni berdiri dari kursinya.

    “Baiklah,” katanya mantap. “Aku akan membantu kalian!”

    Mata huruf “b” langsung berbinar gembira.

    “Terima kasih, Beni!”

    Tiba-tiba cahaya biru dari buku berubah semakin terang. Angin lembut berputar di sekitar kamar. Halaman-halaman buku bergerak cepat seperti ditiup badai kecil.

    Beni memegang meja karena terkejut.

    Dari tengah buku, muncul pusaran cahaya berbentuk lingkaran besar. Cahaya itu tampak seperti gerbang ajaib.

    Huruf “b” kecil melompat ke tepi buku lalu berkata, “Ayo, cepat masuk sebelum gerbangnya tertutup!”

    Beni menarik napas panjang. Dengan langkah perlahan namun berani, ia mendekati cahaya biru itu.

    Saat tangannya menyentuh cahaya, tubuhnya terasa ringan seperti kapas.

     

    Petualangan Dimulai

    WHOOSH!

    Cahaya biru menyelimuti seluruh kamar.

    Dan dalam sekejap, Beni tersedot masuk ke dalam buku. Cahaya biru mengelilingi tubuhnya seperti bintang-bintang berputar di langit malam.

    Ketika membuka mata, Beni sudah berdiri di tempat yang sangat aneh dan menakjubkan.

    Di depannya terbentang Desa Alfabet.

    Rumah-rumah berbentuk huruf berjajar di sepanjang jalan. Ada rumah huruf A yang tinggi seperti gunung, rumah huruf O yang bulat besar, dan rumah huruf M yang runcing seperti mahkota.

    Namun desa itu tampak kacau.

    Huruf-huruf berlarian ke sana kemari sambil kebingungan.

    “Aku harus ke mana?”

    “Ini bukan rumahku!”

    “Jalannya tertukar!”

    Huruf “b” kecil berdiri di samping Beni.

    “Selamat datang di Desa Alfabet,” katanya pelan. “Tolong bantu kami memperbaiki semuanya.”

    Beni mengepalkan tangannya dengan semangat.

    “Tenang saja,” katanya yakin. “Kita akan menyelesaikan masalah ini bersama!”

     

     

    Kreator : MAY SARAH (Mey_Z@)

    Bagikan ke

    Comment Closed: BAB I : Di Mana Buku Menjadi Duku

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021