“You’ll always be my sunshine; cause tonight we’ll be fine-” – The Panturas~
————
Keesokan harinya:
09:00 PM
Hari sudah malam.
Seluruh ruangan dipenuhi oleh lirihan sedih dari orang-orang yang menghadiri pemakaman.
Johanna sedang duduk di lantai ruang pemakaman itu. Matanya merah dan sembab karena habis menangis.
Cewek berambut pendek itu sedari tadi memandang bingkai foto sahabatnya yang sudah meninggal, dia tidak berpikir kalau hari seperti ini akan datang, “Kenapa mereka melakukan itu?” Gumam Johanna sambil menahan tangisnya.
Jam menunjukkan pukul sembilan malam, seharusnya Johanna sudah berada di dalam rumah, memasak dan mengerjakan pekerjaan kantor nya yang harus dikumpulkan besok. Tetapi, dia malah masih di sini. Saat sedang melamun tiba-tiba ponselnya bergetar di dalam kantong celana. Johanna pun menjawab panggilan tersebut.
……..
—————————————————————
Panggilan dari Sayang ♥~ telah kamu angkat-
—————————————————————
“Halo?”
“Oh, Hanna. Kamu lagi dimana?”
“Ah, aku sedang di perayaan kematian temanku, kenapa?”
“Oh tidak aku hanya ingin bertanya soal makan malamku.”
“Ah, maaf aku lupa untuk memasak saat aku keluar dari rumah-“
“Wah, perempuan sialan. Aku kan udah pesen sama kamu, sebelum aku pulang, makan malam harus ada di atas meja makan!”
“I-iya sayang, aku minta maaf-“
“Sudah, aku tak butuh permintaan maaf, sekarang aku meminta kamu untuk pulang dan masakan aku makanan!”
“Sebentar dulu, sayang. Aku lagi ada di pemakaman temanku-“
“Aku pokoknya nggak mau tau, aku minta kau pulang sekarang!”
“Loh tapi-“
Pip… Pip… Pip…
—
Sebelum Johanna bisa menyelesaikan kalimatnya panggilan itu langsung dimatikan oleh suaminya, tangan ia mengepal tetapi dia hanya bisa menghela nafasnya. Dua jam yang lalu ia telah mengetahui bahwa suaminya sedang selingkuh dengan salah satu sekretaris dari perusahaan milik dirinya, tapi ia memutuskan untuk menutup mulut agar pernikahannya tidak berantakan.
Untuk menambah semua itu, ibu tiri berkata kalau ia tidak mau lagi menganggap Johanna sebagai anaknya karena ia telah berani membantah perkataannya tentang pilihannya untuk menjadi dokter, bukan atlet. Beliau berkata kalau ia akan mencoret namanya dari Kartu Keluarga jika pikiran Johanna belum berubah. Ayah kandungnya sudah mencoba segala caranya untuk membela keinginan anak kandungnya, tetapi selalu dibantah oleh si penyihir berhati buruk itu.
Dengan latihan pernafasan yang telah ia pelajari di internet, emosinya akhirnya kembali stabil. Hatinya terasa begitu berat saat ia berdiri dari posisi duduknya untuk berpamitan kepada neneknya Noel, setiap kali ia mengangkat kakinya, rasanya berat seolah-olah kakinya lengket ke lantai, tapi apa lagi yang bisa ia buat. Sesampainya dia di depan neneknya Noel dia pun beralih untuk duduk di depan wanita lansia itu, senyuman khasnya ia kasih tunjuk agar sang nenek tidak merasa semakin sedih.
“Nek…” nada suaranya lembut ia mencoba untuk tidak terdengar seperti orang yang habis menangis. Nenek Noel pun mendongakkan kepala untuk melihat wajah gadis tersebut, namun beliau hanya menatapnya. Gadis itu kembali tersenyum, dan dengan badan yang sedikit lemas Johanna pun menggenggam tangan wanita lansia itu.
“Maafkan saya karena sudah gagal untuk merawat Noel seperti apa yang saya janjikan. Saya sangat merasa bersalah…” Gadis itu berkata sambil memegang tangan wanita itu. Ia pun kemudian memeluk beliau dan mengelus punggungnya.
“Saya izin untuk pulang dulu ya, nek. Suami saya barusan minta saya pulang. Jadi … sampai jumpa besok.”
Dengan mata yang berkaca-kaca, Johanna mulai berjalan meninggalkan wanita itu yang sedang bersedih, tetapi sebelum gadis itu pergi lebih jauh neneknya Noel akhirnya membuka mulutnya untuk berbicara.
“Hanna.. Terima kasih sudah menjadi teman baiknya Noel… Nenek sangat berterima kasih atas kebaikanmu…”
Wanita lansia itu berkata yang membuat Johanna berhenti berjalan dan menoleh ke arahnya.
“… Oh, iya nek… Sama-sama…” Johanna berkata dan terus tersenyum ke arah wanita tua itu, setetes air mata mengalir dari matanya terus ke pipinya, dia pun memutarkan kepalanya ke depan dan lanjut untuk berjalan keluar.
—
Saat sampai di luar Johanna kembali diam di depan gedung pemakaman itu, ternyata di luar sedang hujan.
“Ah sialan, seharusnya aku membawa payung!” gumamnya sambil mengecapkan kedua bibirnya. Dengan terpaksa ia harus pulang dalam keadaan basah. Gadis berambut hitam itu pun mulai berjalan pulang, langkah demi langkah ia buat, sebuah lembar foto yang berisi muka dia dan sahabatnya berada di genggaman tangan kanannya, foto itu adalah foto lama mereka berdua saat masih SMA. Kenangan itu masih ia ingat dengan jelas.
Hari itu sudah kunjung sore, dia dan Noel sedang duduk di taman kecil yang berada di belakang rumah neneknya, saat itu Noel sedang duduk di sebelah Johanna sambil minum susu coklat andalannya. Di hari itu juga mereka memutuskan untuk belajar bersama untuk ujian akhir semester mereka.~
~~~
“Hey, Hanna. Kamu rencana mau ke universitas mana?” Noel bertanya sambil menatap wajah sahabatnya.
“Hmm… aku masih belum tahu. Kalo kamu?” si gadis berambut kepang itu balik bertanya.
“Aku sih maunya pergi kuliah di luar negeri, tapi… aku belum tau kalo bisa masuk.” cowok berambut hitam itu berkata sambil menyedot susu coklatnya.
“Kenapa?” gadis itu kembali bertanya.
“Yaa, begitulah. Aku hanya ragu kalau nenek akan kenapa-napa jika aku pergi kuliah di luar sana, aku takut kalau nenek pergi bertani dan jatuh sakit karena kecapean…” Noel pun berkata dan menyedot habis susu coklatnya, saat Johanna mendengar perkataannya Noel ia pun mengangkat tangannya untuk menepuk pundak sahabatnya.
“Hmmm, iya juga sih. Ladang padi kalian juga butuh di urus…”
“Tapi sih, kalo bisa… aku mau pergi kuliah di Harvard. Kalo nggak, di Korea National University, katanya pak William universitasnya bagus!” Noel melanjutkan sambil tertawa kecil dari sahabatnya.
“Oh, nanti kalo kamu memang masuk ke salah satu dari universitas itu, aku titip oleh-oleh ya.”
“Idih, ada-ada aja kamu, Han.”
Kedua remaja muda itu pun kembali untuk belajar sambil ketawa-ketawa mendengarkan lelucon-lelucon yang mereka masing-masing sampaikan.
~~~
Johanna yang sudah dewasa pun terkekeh saat mengenang kenangan-kenangan waktu ia masih kecil, pandangannya sekarang ke lembaran kertas tebal itu. Dia sampai tidak melihat jalan dan hanya foto itu, dan tanpa ia sadari gadis itu pun sedang melintasi jalan yang lampunya lalu lintasnya sudah berwarna hijau. Kakinya terus bergerak dan tidak kunjung berhenti, fotonya ia genggam dan pikirannya hanya tentang kenangan bersama Noel. Malam itu hujan deras dan jendela-jendela mobil terkena dengan asap, tak tau dari mana truk itu berada tetapi terlihatnya sedang melaju menghampiri Johanna. Paman-paman yang sedang menaiki truk itu sedang membersihkan kacanya karena kena embun hujan, saat tangannya sedang di depan tanpa ia sadari tangannya telah menutupi sosok Johanna yang sedang melintasi jalan, dan seketika Johanna pun…
TIIIIIIIIIIIIIIN!!!!
Mata Johanna hanya bisa menatap truk putih itu dengan senyuman bahagianya. Kejadian tersebut terjadi dengan begitu saja. Sang gadis malang itu hanya bisa menutup matanya saat truk putih itu menabraknya.
DUBRAAKK…
u menabrak Johanna dengan amat kencang, sampai badan gadis itu terpentalkan sampai sekitar 7 meter dari truk tersebut. Kebetulan area dimana ia telah di tabrak berada sangat dekat dengan toko roti langganan Johanna dan Noel sejak mereka SMA. Matanya kini sedang menatap toko itu, lampu kuning yang masih bersinar dengan terang meskipun toko itu sudah berdiri sejak Johanna belum di lahirkan, dan bau roti kopi favoritnya yang sangat amat kuat, saat itu pun ia bisa merasakan cairan hangat mengalir dari jidatnya dan kemudian ke aspal yang telah di basahi oleh air hujan. Sekujur badanya terasa sakit, rasanya seperti semua tulang yang berada di badanya retak. Tas berwarna hitam miliknya jatuh dan tergeletak di depan matanya. Barang-barang berharga miliknya kini berhamburan kemana-mana, kecuali foto dia dan sahabatnya yang masih ia genggam di tangannya.
“Noel… Maafkan aku… Aku bener-bener minta maaf…”
Saat mengatakan itu Johanna mulai batuk-batuk dan dari mulutnya keluar darah, kepalanya terasa pusing dan semakin lama kedua matanya terasa berat sekali. Ia pun mulai membayangkan semua kenangan yag telah ia buat di sepanjang ia hidup, terutama kenangan yang ia buat bersama sahabatnya, Noel.
Seketika nafas Johanna mulai melamban dan akhirnya gadis malang itu pingsan karena rasa sakit yang ada di sekujur tubuhnya.
Kreator : Jemima (JemaLima)
Comment Closed: BAB I – Fatal Incident
Sorry, comment are closed for this post.