KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab3.episode 4.5 Elegi asa : Sebuah Foto

    Bab3.episode 4.5 Elegi asa : Sebuah Foto

    BY 05 Jul 2026 Dilihat: 3 kali
    Sebuah Foto_alineaku

    Kehilangan sahabat sekaligus kekasih karena kecelakaan membuat Yunita belum bisa melepas foto kenangan Sang Letnan bergaris tiga itu. Dengan foto seragam yang tampak gagah di dalam figura, terbayang kenangan saat pertemuannya dengan Letnan infantri Ilham Sutomo di tahun 1995 sedang duduk di kursi perpustakaan kampus UI. Yunita saat itu sedang duduk sambil membaca buku dengan setelan kacamata baca di wajahnya. Sambil mengetuk meja,Ilham menghentikan Yunita membaca.

    “Yun, masa Mas-nya dicuekin sih,” rengek Ilham. “Ayo, kita makan sate seberang kampus ya. Meski di pinggir jalan, tapi enak tenan.”

    “Sebentar, dikit lagi. Masih ada beberapa halaman yang harus ku kerjakan. Tunggu ya, Mas. Kira-kira dua jam,” jawab Yunita sambil membereskan satu halaman penuh untuk dibaca dan ditulis. Maklum, zaman dulu belum ada alat scan melalui ponsel. Baru ada alat foto copy.

    “Kenapa nggak di foto copy aja, Yun. Mas udah lapar nih…” ujar Ilham kembali merajuk.

    “Huh, Mas. Oke deh,” ujar Yunita akhirnya sambil memasang wajah masam.”Kebiasaan kamu, Mas. Huh!”

    “Hehe, iya dong. Kita kan ketemunya cuma di Jakarta. Soalnya kantor Mas di Cipatat, Pusdikif, jadi jarang ketemu. Sekali ketemu, eh, malah di perpustakaan begini. Mana bisa ngobrol lama.”

    “Iya, iya. Ya sudah, ayo segera.” 

    Yunita pun berjalan beberapa langkah meninggalkan Ilham, melesat secepat motor GP 350. Tak lama kemudian, mereka kembali menikmati sate khas di sekitar kampus UI, berkeliling kampus sejenak, lalu berhenti di penjual limun.

    “Mas, nggak setiap waktu aku ketemu kamu. Kamu jaga kesehatan, rajin berdoa dan aku doakan semoga Mas selalu lancar menjalankan tugas berat di sana ya.”

    Itulah percakapan dan pertemuan terakhir Yunita dengan Ilham. Setelah itu, komunikasi mereka lebih sering dilakukan melalui SMS dan surat. Seiring waktu, hubungan Yunita dan Ilham semakin jarang terjalin, hingga akhirnya hanya bisa saling berkirim kabar melalui grup SMA. Musibah kecelakaan yang dialami Ilham saat bertugas di Papua dalam operasi menghadapi gerombolan bersenjata, hingga kabar meninggalnya, meninggalkan luka yang begitu dalam bagi Yunita.

    Meski Ilham bukan tipe laki-laki yang pandai menggoda, dengan seragam tentaranya ia lebih banyak duduk diam memperhatikan Yunita setiap kali mereka berkencan. Baginya, kebersamaan sederhana seperti itu sudah lebih dari cukup. Sikapnya pun terasa seimbang dengan kebiasaan Yunita yang gemar membaca buku.

    Bahkan, kenangan mereka semasa SMA pun masih begitu jelas. Saat itu, Yunita menjabat sebagai sekretaris, sedangkan Ilham menjadi ketua murid. Perbedaan pendapat di antara mereka kerap muncul, mulai dari urusan tugas mata pelajaran yang harus dikumpulkan hingga apakah cukup menuliskan isi pokoknya saja. Namun, semua perdebatan itu selalu berakhir ketika Ilham berkata, “Yang penting diatur saja, oke?” Kalimat sederhana itu seolah menjadi penutup setiap perdebatan mereka.

    Di mata Yunita, Ilham adalah sosok kutu buku yang rendah hati. Ia senang bercerita tentang suasana hangat di rumahnya, kedekatannya dengan ayah dan ibu, serta kebaikannya kepada adik semata wayangnya, Nindia. Kini, semua kenangan itu terasa seperti gulungan film yang telah selesai diputar, menyisakan kisah yang hanya bisa dikenang.

    “Heii!! Kebiasaan deh, setiap sedang menulis kamu selalu melamun. Hayo, lagi mikirin apa?” ujar Tiara mengagetkan.

    Ah, eh … Nggak ada kok,” jawab Yunita gelagapan. 

    “Oh ya, Tiara. Tugas kita di biro, beres kan? Aku mau mengerjakan tugas baru lagi nih, sambil menjadi saksi ahli berikutnya minggu depan,” ujar Yunita mengalihkan pembicaraan.

    “Dengar kabar, dirimu tugas juga ke Subang untuk seleksi pemegang senjata api di resort Subang dan petugas tahanan kan?” Ujar Tiara.

    “Ya sama itu juga, makanya aku tanya. Tugas kita di biro sudah beres ya. Tinggal tugas yang ku persiapkan di minggu depan,” jelas Yunita.

    “Oke, aman kok.” Tiara menimpali. Mereka pun larut dalam rentetan tugas sore itu di biro “Kesuma Elok” milik Mas Gunadi.

    “Hai, aku bawa kalian makan sore Roti Panjo dan Martabak Bangka, nih.”

     Tiba-tiba Mas Gun datang membawa beberapa kresek dengan tulisan sama seperti promosinya sore itu.

    “Wow! Terima kasih Mas. Keren nih. Kok bisa pas ya,” ujar Tiara sambil membantu membawa makanan ke atas meja.

    “Yunita, ayo dicicipi. Keburu dingin nggak enak tuh,” ajak Gunadi sambil melepaskan atribut kartu nama di lehernya sebagai dosen.

    “Iya, thank you, Mas.” 

    Yunita kemudian bergegas membawa beberapa makanan tadi ke dalam piring kecil yang tersedia di biro itu, lalu meletakkannya di atas meja makan, yang sekaligus meja rapat.

    “Oh ya, untuk kasusmu kemarin, Thomas bilang ada yang berani mencelakaimu Yun,” ucap Gunadi penuh selidik.

    “Menurutku sih, sebaiknya diusut, Yun. Biar tuntas dan jera tuh orang. Gosipnya, itu orang suruhan Vivi ya. Hadeuh, tega banget sih. Yunita kan nggak salah,” sambungnya.

    “Iya, memang Vivi sejak SMA bikin ulah aja. Sangka kita, dia udah berubah lah. Ternyata, masih sama aja  sifatnya. Beuh!” sela Tiara sambil mengunyah martabak kesukaannya. “Dan, itu hampir kejadian juga di Pangandaran ya.”

    “Memang ada peristiwa apa?” tanya Gunadi.

    “Lha, aku gini gini suka observasi ya. Pas Yunita ketemu Thomas, trus ada sosok yang mengintainya. Di balik itu, pasti nggak jauh dari rentetan temennya Vivi. Tapi, kok pas nya itu malah sampe ke Pangandaran ya, sampe nggak habis pikir,” ujar Tiara menerangkan.

    “Wow, naluri polisi wanita muncul juga di kamu, Tiara. Hebat kamu,” ujar Gunadi memuji.

    “Tiara, gitu. Tapi, ya ini baru praduga aja. Siapa tahu ada pengagum rahasianya Yunita,” ujar Tiara tertawa menepuk bahu Yunita yang masih asyik membuat analisa Psikologi kasus pembunuhan. 

    “Iya, berprasangka boleh saja, asal jangan sampai jadi delik aduan, ya. Wkwkwk,” ujar Yunita. “Nanti ceritanya jadi panjang.” Yunita pun mengambil Roti Panjo rasa keju.

    “Waduh, jadi serius atuh,” seloroh Tiara.

    Yo wis, makan ya. Ini ada telepon masuk, aku terima dulu.” Gunadi pun berlalu dari kedua sahabat itu.

    ” Tapi, menarik juga tuh Yunita buat dianalisa semoga saja terang benderang ya kasusnya” Ujar Tiara

    Yunita pun mengangguk dan masih banyak hal yang dipikirkannya di ujung waktu sore itu. Yunita hanya menghela nafas, sambil membuka dompet, dan melihat foto Mas Ilham masih ada di sana.

    “Semoga Mas tenang di sana.” 

    Yunita pun kembali mengetik beberapa kasus di dalam laptopnya, sementara Tiara menulis hasil laporan untuk dikirim kepada klien. 

    Udara sore itu sangat panas, namun tak menyurutkan semangat keduanya mengerjakan kasus dan pekerjaan sore itu. Sementara di luar biro, sosok lelaki dengan jaket kulit lusuh masih menatap tajam ke arah biro tersebut sambil membawa beberapa lembar kertas. Dengan hanya menatap dan menghela nafas panjang ia pun kembali mengendarai kendaraan dan tepat di depan pagar selembar foto terjatuh. Gunadi yang sedang menerima telepon segera mengambil foto itu dan menatap isi foto.

    “Foto reuni SMA tahun 2000.” 

    Gunadi masih menatap orang yang mengendarai motor yang berlalu dan hanya menggeleng kepala.

     

     

    Kreator : Yusi Hariyumanti (Uchi)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab3.episode 4.5 Elegi asa : Sebuah Foto

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021