KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Episode 3 : Asa Tetap Harus Dicari

    Episode 3 : Asa Tetap Harus Dicari

    BY 05 Jul 2026 Dilihat: 6 kali
    Asa Tetap Harus Dicari_alineaku

    Yunita masih mengetik tugas tadi siang di laman laptopnya ketika itu terdengar bunyi notifikasi ponselnya beberapa kali. Yunita berusaha tak menggubris. Setelah pukul 23.30 WIB, Yunita rasa cukup terdengar bunyi mobil Thomas baru saja pergi. Yunita pun melihat ke luar jendela dan sosok pemuda pendek gemuk melambai ke arah mobil Thomas, lalu naik mobil Avanza warna perak dan berlalu. Thomas tahu Yunita berada di balik jendela dan Thomas pun membunyikan klakson. Yunita membalas lambaian tangan Thomas.

    “Hmmm, siapa ya pemuda tadi. Seperti Amran,” ujar Yunita dalam hati. 

    “Tapi, kalo Amran agak tinggi dibanding dia. Atau Doni? Mana mungkin sih. Doni kan di Jakarta,” gumam Yunita.

    “Ada perlu apa Doni ke sini? Apakah soal tunangannya?” Semua berputar dalam benaknya Yunita. 

    Ia pun melihat ponselnya dan tampak pesan panjang curhatan Doni singgah di WhatsApp Yunita. Sementara laman berikutnya adalah telepon dari Thomas yang tak terjawab. Yunita hanya tersenyum tipis dan kembali menghela napas panjang ketika ada pula beberapa pesan dari rekannya untuk mencari rekan psikolog yang dibutuhkan masyarakat di group Alumni Psikologi.

    Pagi itu Yunita menyeduh teh dicampur madu kesukaannya. Sesekali dicampur dengan jeruk nipis sembari membaca kasus pembunuhan yang baru saja diperiksanya. Yunita melihat adanya kejanggalan dari catatan terduga kemarin. Sambil terus menganalisa, Ibu Yunita, Bu Agriani mendekat.

    “Belum kelar tugasnya? Sepertinya kamu begadang ya semalam,” ujar Bu Agriani.

    “Iya, Mih. Sedikit lagi. Maaf makannya sambil ngetik,” ujar Yunita menimpali.

    “Semalam Mamih lihat ada Thomas dan Doni di depan dekat warung Bu Adang. Meni berdua kitu nya. Ada apa, ya?” ucap Bu Agriani keheranan dengan logat Sunda yang kental. 

    “Tapi, mereka nggak masuk karena sudah malam kali ya,” lanjut Bu Agriani menegaskan. 

    “Ah, tapi sepertinya ada maksud kata Mamih mah da…” sambungnya.

    Yunita hanya tersenyum sambil melanjutkan menganalisis kasus.

    Ketikan terhenti ketika Sang Mamih menyebut, “Apa kabar juga Amran? Kok seperti menghilang setelah bertemu Evita.” Wajah Ibu Agriani tersorot tajam ke mata Yunita.

    “Hmmm, aku kurang paham sama maksud Mamih,” ucap Yunita bingung. 

    “Sepertinya sibuk, Mih. Kan dia punya usaha bersama Evita di Jakarta,” lanjutnya sambil kembali mengetik.

    “Oh, ya sudah. Mamih hanya ingin tahu aja. Dari dulu kan dia getol pisan dengan kamu, Yun,” ungkap Bu Agriani. “Eh, tapi setelah kuliah mulai jarang ya.”

    “Kemarin tantenya Amran ketemu Mamih di pengajian bulanan kelurahan. Katanya, Amran sekarang memang di Jakarta. Soal usaha atau apalah itu malah nggak cerita. Hanya cerita kalo sudah menikah dengan Evita,” lanjut Mamih.

    Yunita hanya tersenyum. Ia pun melanjutkan ketikan yang di konsepnya dari kasus pembunuhan kemarin.

    Bip. Terdengar dari balik tumpukan kertas, Yunita segera mengangkat dari kasat Reskrim Polres Soreang atasannya Thomas.

    Tidak terlalu jauh dari itu, Yunita bergegas membereskan berkas dan pergi berpamitan pada ibunya untuk kembali ke kantor freelance-nya sebagai staf ahli di Gede Bage sambil sesekali panggilan kasus di beberapa Polres yang dijalaninya. 

    “Hati -hati ya, Nak. Semoga dilancarkan, sukses kasusnya.” Ibu Agriani mengelus kepala Yunita dengan sungkemnya yang tak luput saat pergi.

     

    Di sepanjang perjalanan, Yunita menaiki taksi sambil melamun tentang masa saat ia SMA,. Ketika itu, saat penerimaan siswa baru, Yunita berkuncir banyak dan mengenakan pita warna-warni dengan setelan baju putih-putih berdiri di lapangan. Di seberang barisan, tampak Amran, pemuda klimis dengan wajah campuran Arab, berdiri tegak menghadap kakak asuh satu tingkat di atasnya. Segera ia menoleh dan menyapa Yunita.

    “Yunita, tempelkan ini dulu ke lenganku ya,” pinta Amran sambil menyodorkan tali merah sebagai tanda diterimanya masuk SMA Negeri.

    Saat itu masuk SMA Negeri merupakan kebanggaan, karena memerlukan nilai prestasi yang baik. Amran adalah teman SMP Yunita. Teman sebangku dan cukup akrab sejak kelas 1 SMP.

    Yunita tersadar dari lamunan saat juru mudi taksi menegurnya.

    “Ibu, sudah sampai Soreang ya, Bu,” ucang sang juru mudi.

    “Oh, ya. Terima kasih, Pak.” 

    Yunita turun dan berjalan di lorong Polres menuju ruang Kasat Reskrim. Pertemuan bersama untuk membahas kasus pembunuhan pun dilaksanakan, saat analisa kasus mulai menjadi bahan anev, karena terduga bisa berdalih sehingga perlu diperdalam dari analisis psikologisnya. Thomas pun sering melontarkan pertanyaan seputar kasus untuk memperdalam analisis Yunita, dan pembicaraan pun berakhir setelah kesepakatan kedua pihak untuk meneruskan kasus hingga meja hijau. Dan Yunita pun berpamitan untuk pulang, Thomas mengantarkannya dengan mengendarai Pajero hitam milik kantor. 

    “Ayo, aku antar…” ajak Thomas.

    Yunita pun mengangguk dan melihat ponselnya, waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB.

    “Seperti biasa, kita makan Sunda dan meredakan otak dulu yuk,” ajak Thomas sambil mampir di warung Seuhah Dalada pinggir jalan Katapang Bandung.

    “Oh ya, aku masih penasaran soal kesukaanmu menangani kasus – kasus. Bukan karena paksaan kan? Atau, memang bakat?” tanya Thomas penasaran.

    “Ya dibilang suka tentu saja, dibilang bakat bisa jadi, dan satu lagi … aku senang saja menggali persoalan orang untuk penanganan kasus. Itu sesuatu tantangan tersendiri bagiku. Entah dibilang sok atau apa, bagiku menjiwai itu utama, dan menyenangkan…” ujar Yunita mengatakan dengan mata berbinar.

    “Syukurlah kalau kamu menyukainya. Berarti sudah lebih dari 50 kasus kamu tangani persoalan di wilayah hukum Jawa Barat ini, ya. Hebat,” puji Thomas.

    “Pasti ada kejenuhan ya? Adakah cara mengatasinya?” tanya Thomas seperti wawancara Najwa Shihab di televisi.

    “Ada deh, rahasia. Yang jelas, aku berupaya agar setiap kasus dapat tertangani dengan baik di tiap Polres. Jujur, kelelahan memang ada. Kadang bisa membuatku tak bisa fokus. Tapi, upaya kembali konsentrasi tetap harus ada,” ujar Yunita menjelaskan kembali. Keduanya pun asyik membahas kasus per kasus sambil diselingi canda tawa.

    “Eh, kemarin ada yang menunggu kamu di teras, temen kita Doni. Kamu tahu, kan?” ucap Thomas.

    “Emang perlu banget sama aku, ya?” tanya Yunita.

    “Ya iya lah. Sepertinya ada hal rahasia yang hanya dengan kamu bicaranya. Sepertinya soal kekasih,” ucap Thomas menjelaskan. 

    Sebelum berlanjut, bunyi notifikasi ponsel Thomas menyala dengan lampu kelap-kelip seperti diskotik muncul. Bagi Yunita, hal itu sudah tak asing lagi. 

    Pesan yang sama juga muncul di WhatsApp Yunita. Undangan pertemuan dengan para ilmuwan psikologi kembali muncul, disusul notifikasi dari Doni dan Amran.

    “Tumben,” batin Yunita.

    Namun, Yunita lebih memilih menghabiskan makanannya terlebih dahulu daripada menjawab isi ponsel dan pesan dari teman-temannya.

    Mereka pun mengakhiri makan siang saat itu dengan minuman jus alpukat, kesukaan Yunita.

    Taksi Bandung mengantarkan Yunita bergegas menuju gedung pertemuan sebagai jawaban dari WhatsApp siang itu bersama rekan alumni Psikologi lainnya.

    “Hai, Yun. Kita akan mengadakan beberapa seminar, nanti salah satunya kamu yang isi ya. Mengingat acara ini sangat penting, aku harap kamu bisa bantu,” ucap Ari, teman kampus Yunita.

    “Oh okay, boleh. dengan senang hati. Aku pasti bantu,” ujar Yunita.

    Komunitas alumni ini memang selalu banyak kegiatan dari mulai bedah kasus, forum diskusi dan bakti sosial, penggagasnya Ari adik tingkat yang cukup banyak dukung pada komunitas tersebut, prestasi Ari terbilang bukan receh, karena selama ini dia pun menjadi duta perguruan tinggi untuk penanganan korban bencana di wilayah Jawa Barat bahkan Indonesia, usia terbilang muda dan meraih gelar Doktor Psikologi di usia muda.

    Pertemanan dengan Ari cukup berkesan, dan banyak membantu mahasiswa yang menyukai forensik terbantu oleh tangan ajaib Ari ini, sehingga wadah komunitas Psikologi ini cukup terkenal dan sangat manfaat.

    Mereka pun akrab berdiskusi bersama kelompok komunitas lain yang tergabung sore itu, suasana pun hangat ditambah lokasinya di sebuah cafe kopi di belakang Gedung Sate, menambah semangat diskusi bersama rekan sejawat lainnya. Sementara Tiara enggan bergabung di komunitas tersebut karena pernah dekat dengan Ari. 

    Bip. Bunyi notifikasi ponsel Yunita sore itu yang berasal dari Tiara.

    “Yun, masih sama Ari ya? Aku tunggu kamu di rumah ya. Ada hal penting yang mau aku sampaikan,” ucap Tiara.

    Yunita pun menutup diskusi bersama teman komunitasnya 15 menit setelah bunyi pesan dari Tiara. Ari pun paham dan hanya tersenyum penuh arti. Yunita pun menaiki taksi kembali menuju rumahnya.

    Sesampainya di rumah, Tiara segera menghampirinya.

    “Yun,” ujar Tiara yang sudah menunggu di teras rumah. 

    “Lho, kamu nggak masuk?” tanya Yunita. “Ayo, masuk. Di sini dingin.” Yunita menggandeng tangan Tiara, mengajaknya masuk ke dalam rumah.

    “Ada apa? Sepertinya penting,” tanya Yunita.

    “Tadi Thomas telepon aku. Katanya, malam ini juga kamu harus ketemu dengannya di Pojok Dago. Ada kasus baru lagi. Aku ikut ya, karena khawatir kamu kenapa-napa!” desak Tiara. 

    “Tumben. Biasanya aku sendiri, Tiara. Biar aku aja yang kesana,” ujar Yunita.

    “Nggak. Aku ikut!” ucap Tiara merajuk.

    “Okay, bentar. Aku kemasi barang kebutuhan kasus dan mandi sejenak ya,” ujar Yunita kemudian bergegas menuju kamar mandi.

    Tiara melihat kasus yang ditangani Thomas ini memang ada kaitan dengan keluarga Tiara, namun ia enggan berkata banyak sebelum kasusnya dapat terkuak jelas, apalagi ini menyangkut masalah kekerasan dalam rumah tangga oleh suami yang menyiksa istrinya hingga mengalami lumpuh total dan tentang hak asuh anak yang masih belum terselesaikan. Korbannya adalah kakak Tiara sendiri.

    “Semoga bisa terselesaikan dengan baik,” gumam Tiara dalam hati sambil membaca majalah Tempo kesukaan Yunita.

     

     

    Kreator : Yusi Hariyumanti HS ( Uchi)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Episode 3 : Asa Tetap Harus Dicari

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021