Rumah mungil di bilangan Jakarta Pusat. Luasnya sekitar seratus tujuh puluh lima meter persegi. Ada tiga kamar tidur disana dengan dapur dan satu kamar mandi. Kamar mandi dengan gaya lama, yang sering ditemui di rumah kolonial Belanda, terpisah kamar mandi dan toilet. Di depan rumah tersebut, ada sedikit ruang terbuka. Ayah menanam pohon jambu air disana. Pohonnya cukup besar, pas setinggi dengan atap rumah sehingga memberikan suasana teduh, asri dan memberikan banyak manfaat bagi penghuni karena buahnya yang lebat.
Rumah itu, dikenal dengan rumah Pak Hasan. Lingkungan rumah mengenalnya sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil yang tegas. Pak Hasan memiliki istri yang jago masak. Keahliannya tersebut membuat kantor tempat Pak Hasan bekerja mempercayakan makan siang kepada Ibu Hasan.
Mereka memiliki empat orang anak terdiri dari tiga anak perempuan dan satu anak laki-laki, yang dikenal dengan nama Rindu, Ranti, Ruth dan Rendi.
Rindu berdiri menghadap jendela kamarnya yang menghadap ke kebun depan keluarga. Terlihat bunga-bunga mawar bermekaran. Mulai dari yang berwarna merah, merah muda, putih, orange, kuning sampai ungu. Bunga-bunga itu seperti saling berbicara sehingga mereka mekar di saat yang hampir bersamaan.
“Seperti keluarga yang harmonis,” bisik Rindu lirih dengan tetap memandang lekat pada mawar-mawar tersebut.
Saat paling sibuk Rindu adalah setelah sholat ashar. Ibu mengajarkan untuk mandi sore sebelum sholat ashar. Sehingga, kegiatan empat bersaudara itu adalah berkumpul bersama dengan teman sebaya di lingkungan rumah. Mereka bermain sampai adzan magrib berkumandang.
“Ranti, Ruth dan Rendi, nanti kita kembali ke rumah pukul 17.30 ya,” ucap Rindu sembari menggerakkan telunjuk ke arah adik-adiknya, menandakan perkataannya merupakan pesan penting yang tidak boleh dilanggar.
“Ibu akan marah ke Kakak apabila kita berkumpul telat seperti yang sudah-sudah,” sambung Rindu.
“Ya Kak,” jawab Ranti, Ruth dan Rendi serempak sambil tersenyum.
Mereka sudah hafal perilaku Rindu setiap akan berpisah. Ia selalu menentukan lokasi dan jam untuk mereka berkumpul. Sudah seperti standar protokol, begitulah Ranti menyebutnya.
“Oke, kalian hati-hati ya. Jangan menjawab pertanyaan apapun dari orang yang tidak dikenal. Selamat bermain adik-adik…” kata Rindu sambil bersiap melambaikan tangan untuk melihat ke arah mana adik-adiknya akan menuju.
“Siap, Kak. Kakak juga hati-hati,” seru Ruth sambil berlari dan melambaikan tangan ke arah Rindu.
Rindu tersenyum.
Ruth memang adik yang lincah dan pandai bercerita. Keberadaannya membawa suasana menjadi riang.
“Iya, Kak,” seru Rendi sambil berlari ke arah teman-temannya yang sudah menunggu di lapangan.
Sebagai anak laki-laki satu-satunya di keluarga, Rendi tumbuh menjadi anak yang banyak bergerak. Berbicara menimpali cerita kakak-kakaknya, karena memang habis waktu cerita oleh kakak-kakaknya.
“Sampai ketemu Kak,” kata Ranti. Dia menuju rumah Heni, sahabat sejak jaman sekolah dasar.
Alih-alih bermain, Rindu hanya berjalan pelan menyusuri taman ditemani angin sepoi pelan. Sendiri. Rindu menikmati suasana ini. Matahari sore menambah cantik langit sore. Sinarnya hangat menyapa hati Rindu.
Waktu menunjukkan pukul 17.00.
Saatnya pulang, pikir Rindu.
Rindu membalikkan badan untuk memulai berjalan ke arah rumahnya. Perjalanan dari taman ke rumahnya tidak perlu lama. Hanya butuh lima menit, Rindu sudah sampai di teras rumah. Rindu duduk di bangku besi yang disediakan Ayah dan Ibu. Diam menunggu adik-adiknya pulang. Tak lama berselang, ketiga adik-adiknya muncul satu-persatu.
Keempat saudara kandung tersebut tengah bercengkrama riang, menceritakan apa yang mereka lakukan bersama teman-temannya kepada Rindu. Kejadian tersebut terus berulang setiap hari dengan segala dinamikanya. Sampai akhirnya, Ibu menyapa mereka.
“Anak-anak Ibu sudah mainnya? Yuk kita masuk rumah. Bersihkan diri kalian. Sini, duduk dekat Ibu,” kata Ibu.
Keempat saudara melangkah masuk rumah. Menuruti perintah dengan duduk melingkari Ibu. Rindu merasakan suasana yang indah. Kebersamaan untuk bertukar cerita sesama saudara. Terkadang ketika bercerita, terdengar celetukan yang sesekali membuat suasana memanas. Ujung-ujungnya mereka bertengkar. Apabila situasi tidak terkendali, adalah Rindu yang mengingatkan adik-adiknya. Ibu tersenyum memperhatikan cerita anak-anaknya. Setelah semua pembicaraan selesai, giliran Ibu memberikan nasehat dan penekanan-penekanan terhadap cerita yang disampaikan dirangkai sesuai Al Qur’an dan Hadist yang selanjutnya menjadi nilai-nilai keluarga.
Mereka hari ini berdiskusi tentang pentingnya berbuat baik kepada sesama. Termasuk gambaran dan balasan dari Allaah SWT terhadap hamba-hambanya yang berbuat kebaikan. Ibu menyinggung tentang kondisi hamba ketika menyebrangi jembatan Siratal mustaqim.
“Sehelai rambut dibelah tujuh, Bu?” sambut Ranti.
“Emang bisa, Bu?” sambung Ruth.
Ibu tersenyum sebelum akhirnya menjawab, “Allah SWT Maha Berkehendak, nak. Gampang membuat jembatan yang tipis seperti itu. Allah punya cara terbaik untuk membuatnya mungkin,” jawab Ibu.
“Kita bisa lewat jembatan itu nggak ya, Bu?” tanya Rindu dengan tatapan menerawang. Terlihat jelas cerita ibu membekas di benaknya.
“Anak-anak Ibu harus jadi anak yang sholeh dan sholehah. Sholat yang rajin. Banyak berdoa. Berbuat baik kepada Ayah dan Ibu. Sayang kepada saudara dan sesama. Insya Allah, Allah akan menjaga,” jawab Ibu.
Rindu sangat menikmati nasehat yang disampaikan oleh Ibu. Wajahnya sesekali terlihat tersenyum tipis lalu mengangguk.
“Ibu selalu punya jawaban dari segala pertanyaan. Aku ingin seperti Ibu, menjadi tempat bertanya anak-anaknya. Menjadi sekolah yang nyaman,” pikir Rindu.
Sore itu, Rindu berniat kuat menjadi seorang Ibu yang baik, pendidik anak-anaknya.
“Ibu adalah sekolah pertama anak-anaknya. Pendidik generasi utama. Menanamkan nilai-nilai kebaikan bagi keluarga, sebagai unit terkecil masyarakat.”
Kreator : Indri Koesnadi (Indrikoe)
Comment Closed: Cita-Cita Sang Penjaga
Sorry, comment are closed for this post.