Rumah itu terasa kosong, di sudut kiri dan kanan lorong tampak gelap. Yunita meraba sisi dinding rumah itu. Tiba-tiba Yunita merasa sesak dan terengah-engah. Tampak sesosok bayangan pemuda tanggung yang melewati lorong sedang mendekat ke arah Yunita.
“Tolong saya, Bu. Bantu saya…”
Namun, sebelum Yunita sempat bereaksi, sosok itu perlahan menghilang, ditelan pekatnya kegelapan rumah itu. Yunita melangkah dengan cepat ketika pintu rumah itupun tertutup rapat.
“Mana bayangan tadi?” tanya Yunita dalam hati.
Tiba-tiba Yunita terbangun dari mimpi yang sama, yang kesekian kalinya muncul dalam setiap tidurnya. Masih dengan setengah mengantuk, Yunita melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 00.00 dini hari.
“Seperti biasa,” ucapnya lirih.
Yunita menghela napas panjang. Sejak saat itu, Yunita tidak dapat tidur kembali. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengerjakan kasus yang ia tangani hingga pukul 03.30 dini hari.
Terdengar bunyi notifikasi pesan dari Thomas. Yunita segera meraih ponselnya dan membuka pesan yang baru saja masuk.
“Besok ada kasus baru, ya. Segera buat analisanya. Ini kasus mutilasi sesama jenis, Yun. Kamu yang tangani. Thanks.”
Yunita membaca pesan itu berulang kali. Rasa kantuk yang tersisa seketika lenyap. Mungkinkah pesan itu ada kaitan dengan mimpi yang kerap hadir dalam setiap tidurnya?
Yunita mulai mendata seluruh informasi kasus yang dikirim Thomas secara beruntun. Ia menelaah laporan mengenai lokasi tempat kejadian perkara (TKP), profil orang yang diduga sebagai tersangka, serta kondisi kehidupan dan latar belakang individu tersebut.
Yunita masih menduga-duga kasus yang baru saja dikirimkan oleh Thomas. Dengan penuh konsentrasi, ia mulai menyusun analisisnya. Yunita mengandalkan teori psikologi forensik terlebih dahulu ketimbang analisis umum. Menurutnya, pendekatan tersebut dapat memberikan gambaran yang lebih mendalam mengenai pola pikir, motif, serta perilaku pelaku yang diduga terlibat dalam kasus tersebut.
Pagi pun mulai bergelayut. Pukul 06.30 Yunita dibangunkan oleh alarm pagi hari, yang memaksa Yunita bergegas dalam tugas rutinnya pagi itu di Polres Soreang. Di sela-sela analisis kasus yang ditangani Bersama Thomas, terdengar bunyi notifikasi pesan dari ponselnya.
“Apa kabar, Yun? Sehat selalu, ya.”
Pesan pendek itu berasal dari Amran. Dan, hal itu menimbulkan tanda tanya besar bagi Yunita. Sudah lebih dari sepuluh tahun Amran tidak memberi kabar sejak SMA, ibunya pun mengatakan bahwa Amran tinggal di Jakarta.
“Hayo, melamun lagi. Waspada kalau berjalan sambil melamun,” ucap Thomas sambil membantu Yunita mengemasi barang-barang. Yunita menggeleng kepala, kemudian muncul taksi blue bird mengakhiri pertemuan dengan Thomas saat itu.
Jam menunjukkan pukul 18.30 ketika Yunita turun dari taksi. Ia mengenakan setelan jas forensik berwarna hitam yang membuat penampilannya tampak tegas dan berwibawa. Di ujung pintu, Bu Agriani membawakan payung karena hujan mulai turun.
“Kamu pasti lelah. Ayo, masuk. Mami buatkan wedang jahe ya,” ujar Bu Agriani.
Yunita mengangguk patuh. Tiba-tiba terdengar bunyi notifikasi dari ponsel yang sedang ia genggam. Yunita melihat sebuah foto yang baru saja dikirim ke grup WhatsApp alumni SMA. Foto itu menampilkan dirinya bersama Tiara yang sedang tertawa lepas di tepi pantai. Yunita tertegun sejenak. Ia tidak ingat ada orang yang memotret mereka saat itu.
“Siapa yang memfoto kami, ya?” gumamnya pelan.
Matanya kemudian tertuju pada nomor pengirim yang tidak dikenalnya.
“Nomor baru siapa ya?”
Yunita masih terus berpikir sambil berjalan menuju kamarnya. “
“Yun, jangan lupa makan dulu. Wedang jahenya juga diminum ya,” ujar Bu Agriani.
“Iya Mi,” jawab Yunita singkat.
Ia masih memikirkan siapa orang yang mengirim fotonya bersama Tiara di pantai beberapa minggu ke belakang. Terdengar kembali notifikasi pesan yang ternyata dari beberapa sahabat SMA Yunita.
“Yun, kamu lagi liburan di sana?”
“Ada paparazzi tuh di grup kita.”
“Coba tebak.”
“Kita udah pada tahu, kok.”
“Wkwkwk.”
“Iya,” jawab Tiara singkat.
Tiara kemudian mengirimkan pesan pribadi kepada Yunita.
“Itu ulah anak kelas fisika, Si Amran. Kamu tahu kan, Yun?” tanya Tiara.
“Sekarang aku lagi cek ke Evita juga, eh malah disemprot. Dia bilang aku dan kamu mengganggu kehidupan Amran. Lah? Bukannya kebalik, ya? Hmmm … Aku jadi malas bertanya langsung. Akhirnya, aku jawab singkat aja di grup,” lanjut Tiara panjang lebar.
“Okay Yun, selamat istirahat ya…” ujar Tiara menyelesaikan pesannya.
Tak lama kemudian, notifikasi dari nomor tak dikenal itu kembali muncul. Pengirim tersebut masih mengirimkan beberapa foto Yunita sedang beraktivitas, mengobrol dan pergi dengan Tiara, bertemu Asep dan Thomas, naik taksi dan membuka jendela di pagi hari. Bukannya takut, Yunita justru tersenyum tipis.
“Dasar kelakuan bocah,” gumamnya sambil menggeleng pelan.
Segera Yunita menarik selimut setelah menyeruput wedang Jahe dari ibunya.
“Makasih, Mami.”
Dari balik pintu kamar yang setengah terbuka ibunya membalas dengan senyum tulus.
“Sama-sama, Nak. Selamat istirahat, ya.”
“Oh ya, Mami juga simpan kotak dus, katanya dari seorang teman. Mami taruh di meja depan, ya.”
“Oke, Mami.”
Yunita heran.
Siapa lagi yang mengirim berbagai macam barang? Semoga saja sesuatu yang baik. Bismillah, gumamnya dalam hati.
Rasa lelah yang menumpuk sepanjang hari mengalahkan rasa penasarannya. Tak lama kemudian, Yunita memejamkan mata dan terlelap dalam tidurnya.
Kreator : Yusi Hariyumanti HS ( Uchi)
Comment Closed: EPISODE 4.1 Tanda Ilapat Hati
Sorry, comment are closed for this post.