KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Episode 4.4 Hadiah Koala vs. Badut Manis

    Episode 4.4 Hadiah Koala vs. Badut Manis

    BY 24 Sep 2026 Dilihat: 11 kali
    Hadiah Koala vs. Badut Manis_alineaku

    Yunita masih berbalut perban pada tangan dan kakinya, tersungkurnya sang ojek saat itu membuat salah satu kaki Yunita terluka serius. Sore itu, masih di rumah sakit, Ibu Agriani mendampingi anaknya menunggu hasil rontgen dengan sabar.

    “Semoga tidak terlalu parah ya,” ujar ibu Agriani.

    Tak lama kemudian, dokter masuk ke ruangan Yunita untuk menyampaikan hasil bahwa kondisi Yunita mengalami retak pada tulang kering. Jika tidak dilakukan pemasangan pen, maka akan menimbulkan kondisi kaki yang tidak stabil.

    Yunita pun meminta dokter agar waktu operasi dapat dipenuhi, agar dirinya bisa pulih.

    Setelah dokter pergi, Yunita pun meminta penjelasan ke ibunya tentang kecelakaan yang terjadi, mengingat Yunita pingsan saat kecelakaan terjadi.

    “Iya, tadinya Thomas menelepon Mamih. Dia yang bawa kamu ke rumah sakit. Sekarang dia sedang dinas lagi. Katanya, kasusnya dibantu oleh psikolog di Gubernuran. Mamih nggak hapal siapa, tapi yang jelas kamu sehat dulu,” jelas Ibu Agriani. 

    “Oh ya, setelah lulus PNS ini, tiga bulan kedepan akan ada kegiatan prajabatan, kan? Ya, minimal sembuh dulu kakimu supaya bisa ikut pra jabatan ya, nak,” sambung Ibu Agriani sambil membereskan tempat ruang duduk di kamar kelas satu Rumah Sakit Boromeus.

    Yunita pun menyadari kecelakaan ini tak menyurutkan tekadnya untuk tetap menolong sesama dari ilmunya.

    Setengah bulan Yunita menjalani pengobatan dan tindakan operasi pun telah dilakukan, tiba saatnya Yunita pulang. Bersama Bu Agriani, Yunita pun pulang dengan semangat baru untuk pulih.

    Setelah menjalani masa pemulihan selama tiga minggu di rumah sakit, Yunita masih mengambil cuti selama satu minggu. Dengan izin dari kepala bagiannya, ia mulai belajar bangkit dan kembali melangkah menggunakan kaki yang kini telah lepas dari balutan. 

    “Hai, Yun…” tiba-tiba  Tiara bergelayut di bahu Yunita yang sedang belajar berjalan.

    “Ceria sekali sepertinya,” goda Yunita.

    “Coba tebak, kenapa aku sebahagia ini?” Tiara memainkan rambut Yunita dengan manja.

    “Mas Gun kesayanganmu itu kasih kado, kan?” goda Yunita sambil menahan senyum.

    “Wow, tepat sekali!” ucap Tiara tak percaya. 

    Yunita kemudian memeluk sahabatnya itu. “Maaf ya, aku belum bisa kasih apa-apa.”

    “Apaan sih. Aku juga minta maaf, selama kamu di rumah sakit aku nggak jengukin. Banyak banget kerjaan yang nggak bisa ditinggal,”ucap Tiara menyesal sambil balas memeluk Yunita.

    “Oke, sekarang aja kita rayakan di rumah. Kamu mau makan apa? Aku pesankan bakso ya. Atau mau soto atau ayam nih? Eh, tambah jus ya,” ujar Yunita sambil membuka laman pesanan online.

    “Aduh kok repot banget sih. Apa saja aku mau kok. Apalagi lihat kamu sekarang ceria kembali, itu udah cukup,” ujar Tiara tersenyum.

    Mereka berdua kemudian larut dalam diskusi tentang kecelakaan yang terjadi.

    “Yun, aku curiga ada yang mencelakaimu kemarin. Hati- hati ya kalau mau pergi ke suatu tempat,” ujar Tiara.

    “iya sih, aku sempat berpikir demikian. Ya sambil berjalannya waktu, nanti juga terlihat siapa yang ada di balik ini semua, ” sela Yunita.

    Makanan pun datang. Dalam hangatnya suasana pagi, Yunita dan Tiara sarapan bersama di rumah sambil saling melempar senyum penuh semangat.

    “Aduh, enak banget ini. Makasih loh, ya. Oh ya, di grup sekolah SMA ada yang menarik, Yun. Status Amran yang memposting laman Pantai Batu Karas,” ujar Tiara.

    Tiara pun pamit untuk kemudian segera menuju kantornya, dan Yunita melihat ponsel dengan tersenyum. “Lha iya, Batu Karas…”

    Bip. Terdengar notifikasi, Yunita segera membuka pesan.

    “Hai, Yun semoga kamu baik -baik saja ya. Oh ya ini aku kirimin kamu boneka, semoga kamu suka.”

    Rupanya itu pesan dari Mas Wahyu berhasil membuat Yunita tersenyum, kemudian Yunita perlahan melihat foto-foto yang dikirim kepadanya.

    Yunita perlahan melihat foto berikutnya, sebuah boneka koala warna abu yang ukurannya sebesar kepalan tangannya. Cara dan petunjuk boneka ada di dalam box tersebut. Tiba-tiba Yunita teringat beberapa waktu lalu Mamih menyampaikan ada kiriman barang, Yunita pun bergegas melihat kado di atas meja kerjanya dan benar saja kiriman tersebut dari Mas Wahyu. Segera Yunita membuka kado sambil diabadikan melalui video. Bergegas foto terkirim, beberapa menit kemudian Wahyu melakukan video call.

    Yunita bergegas merapikan diri dan segera mengenakan kerudung, tampilan agak sedikit berbeda setelah mengalami kecelakaan, Yunita berniat untuk menutup aurat dan salah satunya mengenakan kerudung.

    Video call diterima dan Mas Wahyu membuka pembicaraan.

    “Alhamdulillah, wah sekarang kamu makin cantik aja Yun. Kelihatan lebih bersinar.Aku acungi jempol untuk gaya kamu sekarang,” ujar Wahyu.

    “Terima kasih, Mas. Oh ya, makasih juga untuk koala cantiknya. Padahal sudah lebih dari tiga bulan dikirimkan, dan  baru dibuka sekarang,” ujar Yunita menganggukkan kepala.

    “Itu dikirimi rekan sejawat yang lagi bisnis di Singapura, dan langsung aku kirim ke kamu,” jawab Wahyu. “Oh ya, sudah sembuhkah kakimu, Yun?”

    “Alhamdulillah sudah, Mas. Ini lagi sering sering latihan kaki biar lebih cepat jalannya,” jawab Yunita.

    “Hati-hati, ya. Jangan banyak melamun. Tugasmu itu penuh bahaya, harus waspada saja. Psikolog forensik sungguh keren, tambah sekarang udah PNS. TOP!!” Ujar Wahyu ceria sambil menyeruput kopi.

    “Wah, Mas Wahyu lagi di kafe, ya? Selamat menikmati kopinya, Mas. Pasti coffee latte,” ucap Yunita menerka.

    Teringat saat kuliah, mereka berdua sering berdiskusi Di Kafe Manis dekat kampus. Saat itu sekitar tahun 1996, saat akan prosesi kelulusan. Teringat juga permohonan Yunita agar Wahyu menjadi pendamping wisudawati, sambil tertawa terbahak-bahak. 

    Saat itu, salah satu rekan seprofesinya, Iqbal, juga menyatakan perasaan kepada Yunita. Di masa kuliah, Iqbal dikenal sebagai bintang kampus. Kecerdasan dan prestasinya mengantarkannya lulus dengan predikat cum laude. Berbeda dengan Iqbal yang selalu ramah, Wahyu justru kerap memasang wajah masam setiap kali melihatnya berada di dekat Yunita. Meski begitu, pada akhirnya Yunita menjatuhkan pilihannya kepada si muka masam itu, Mas Wahyu.

    “Nah kan, kebiasaan kalo lagi ngobrol langsung melamun,” ucap Wahyu membuyarkan lamunan Yunita.

    “Oh ya, itu ada pesan dari Doni. Dirimu ikut di grup besar SMA, kan? Aku dengar temen kalian bernama siapa tuh, Ilham Sutomo, kecelakaan juga pas kamu kecelakaan kemarin. Dia tidak tertolong Yun. Aku turut berduka cita ya,” ujar Wahyu lirih.

    “Ah iya, Mas. Makasih ya. Aku juga kaget, tapi badanku sendiri perlu pemulihan sehingga aku nggak boleh sedih.”

    Tak terasa air mata Yunita meleleh jatuh ke pipi, Wahyu melihat hal itu pun berusaha memberikan semangat.

    “Betul, kamu harus segera pulih karena minggu depan kan sudah mulai kerja. Jadi, harus semangat ya,” ujar Wahyu di ujung telepon.

    “Makasih, Mas. Oh ya, gimana kencan buta Mas Wahyu berikutnya? Atau masih sama sang dokter itu?” tanya Yunita mengalihkan suasana. 

    “Iya, dokter baru lagi,” Wahyu tersenyum tipis. “Sampai-sampai aku merasa nggak ada artinya, coba. Tapi, ya sudahlah. Lihat saja koala ini. Dia cuma diam, menggantung di pohon, tapi tetap lucu dan menggemaskan. Kalau suatu hari kamu sedih, lihat saja boneka koala ini. Anggap saja dia mengingatkan untuk tetap tegar berdiri, apapun yang terjadi,” ujar Wahyu sambil berusaha menghibur Yunita.

    “Makasih, ya. Tadi nangis, sekarang malah jadi ketawa,” ujar Yunita sambil mengusap sisa air mata di pipinya.

    Diam-diam ia meraih figura berisi foto Ilham, mantan kekasihnya yang mengenakan seragam Angkatan Udara lengkap, lalu membalikkan bingkai itu hingga menghadap ke bawah.

    “Kalau sudah bisa ketawa, berarti harapanmu masih ada, kan?” ujar Wahyu. “Ayo bangkit. Eh, jadi ingat waktu wisuda dulu. Siapa, ya, yang naksir kamu? Bang Iqbal, kan? Dia sampai duduk mepet di sampingku. Orang-orang mengira kami berebut jadi pasangan wisudamu. Padahal cintanya bertepuk sebelah tangan. Aku saja yang suka, kamunya nggak peka. Hahaha.”

    Yunita tertawa lepas hingga merebahkan tubuh di tempat tidur.

    “Iya, benar. Bang Iqbal duduk di antara kita waktu itu. Lucu banget. Teman-temanku sampai bilang, ‘Yun, pasangan wisudamu kok dua orang? Keren banget!’ Hahaha…”

    Gelak tawa mereka terdengar begitu keras hingga sampai ke luar kamar.

    Bu Agriani yang mendengarnya segera mengintip dari balik pintu.

    “Ada apa, Yun? Ketawanya keras sekali.”

    Masih menahan tawa, Yunita menjawab, “Nggak apa-apa, Mi. Ini lagi ditelepon teman yang kasih semangat. Mas Wahyu, Mami ingat, kan?”

    “Oh… iya,” jawab Bu Agriani datar sebelum kembali meninggalkan kamar.

    “Yang tadi mamamu, ya?” tanya Wahyu.

    “Iya.”

    “Hahaha… Wajahnya masih sama seperti dulu kalau dengar namaku. Mirip ekspresi kamu setiap ketemu Bang Iqbal.”

    Yunita kembali tertawa.

    “Aku ini sudah kalah sama Mas Amran, Mas Ilham, bahkan Bang Iqbal. Nanti pasti muncul lagi calon kencan buta berikutnya buat kamu.”

    “Ya biarin saja. Kita juga sudah sepakat sejak mengembalikan pager waktu itu. Kamu harus berangkat ke Jakarta, aku juga dilarang pacaran, ditambah lagi kedua orang tua kita tidak merestui hubungan kita.”

    “Iya, sudah. Sekarang kita bersahabat saja. Cukup jadi penyemangat di setiap langkahku. Yang penting kamu sembuh dulu. Oh ya, aku harus pergi dulu. Ada rekanan baru untuk bisnis rotan.”

    “Iya, semangat terus, Mas.”

    Sambungan telepon pun berakhir.

    Yunita segera membereskan barang-barang pemberian Wahyu. Boneka koala itu disimpannya di lemari khusus koleksi bonekanya. Saat membuka pintu lemari, pandangannya tertuju pada sebuah foto lama. Di dalam foto itu tampak seseorang mengenakan kostum badut.

    Kenangan pun membawa pikirannya kembali ke masa kuliah, beberapa hari menjelang wisuda. Saat itu Bang Iqbal mengajaknya menghadiri acara santunan anak yatim. Dengan polos Yunita menerima ajakan tersebut. Seusai acara, mereka berfoto bersama beberapa teman satu fakultas angkatan 1991.

    Semoga Bang Iqbal baik-baik saja di Jakarta…

    Yunita tersenyum kecil.

    Lho, kok malah kepikiran ke sana? batinnya.

    Ponselnya kembali berbunyi.

    “Bip…”

    “Yun, kamu sudah sembuh?” terdengar suara Thomas dari seberang telepon.

    “Sudah. Minggu depan aku mulai berdinas lagi.”

    “Aku sudah menyelidiki kecelakaan yang menimpamu. Sepertinya ada yang sengaja membuat skenario. Mau kita usut?”

    Yunita terdiam sejenak.

    “Nggak usah.”

    “Dari beberapa informasi yang aku dapat, ada dugaan keterlibatan istri Amran.”

    “Iya… tapi tidak usah diperpanjang. Yang penting minggu depan aku bisa kembali bertugas. Makasih ya, Om Thomas, sudah perhatian selama ini.”

    “Tenang saja. Sebagai polisi, sudah kewajiban kita membantu rekan sendiri. Apalagi kita sama-sama berdinas di Polri. Ya sudah, istirahat yang cukup. Minggu depan kita bertugas lagi.”

    “Siap. Terima kasih, Om.”

    Telepon pun terputus.

    Yunita mengembuskan napas panjang. Ternyata, meski ia selalu berusaha berprasangka baik kepada orang lain, masih ada saja yang ingin mencelakainya.

    Ingatannya melayang ke masa SMA. Saat itu Evita pernah mendorong tubuhnya hingga terjatuh keras di tengah lapangan. Peristiwa serupa beberapa kali terulang ketika pertandingan basket berlangsung. Ia juga masih mengingat tatapan sinis Evita setiap kali Amran mendekatinya, meski hanya untuk meminta bantuan merapikan pakaian atau memberikan beberapa lembar kertas warna saat praktikum biologi.

    Lalu ada foto-foto yang pernah dikirim seseorang ketika ia berada di Batu Karas.

    Bip.

    Sebuah pesan masuk lagi dari nomor yang tidak dikenalnya.

    Isinya kembali berupa foto-foto dari Batu Karas.

    Namun kali ini, Yunita sudah terlelap. Ia tidak lagi mendengar bunyi ponselnya yang terus bergetar di atas meja.

     

     

    Kreator : Yusi Hariyumanti (Uchi)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Episode 4.4 Hadiah Koala vs. Badut Manis

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021