KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » GADIS KECIL ITU BERNAMA SOSO

    GADIS KECIL ITU BERNAMA SOSO

    BY 06 Apr 2026 Dilihat: 13 kali
    GADIS KECIL ITU BERNAMA SOSO_alineaku

    “Permisi Bu, selamat pagi. Maaf tirainya kami buka dulu ya, biar udara segar masuk” Sapa seorang perawat muda dengan senyum ramah. Aku membalas senyum itu sambil mengangguk.  Sinar matahari menembus jendela kaca gedung di lantai lima, memberi sensasi hangat di wajah dan menyilaukan. Mataku terasa pegal setelah berhari-hari tertidur panjang. 

    Ruangan terasa lebih luas, udara AC lebih sejuk dari biasanya, dan suara-suara terdengar lebih jelas. Aku menundukkan kepala dalam gejolak rasa syukur. Seorang Ibu di sebelah ranjangku yang dirawat pasca bedah tulang punggung tersenyum, begitu pun dua pasien di depan kami yang saling menyapa dengan anggukan kepala.

    Ada empat pasien dalam satu ruangan itu yang sama-sama sedang menjalani perawatan pasca operasi. Sebuah lukisan bunga anggrek mekar kira-kira berukuran 40cm x 60cm tergantung di dinding tepat di atas setiap ranjang tempat tidur kami. Sebuah ruangan bercat putih abu-abu terang. 

    Pagi itu, aku belajar kembali menata hari dan mengasihi diri. Ambisi-ambisi yang dulu begitu menggebu kini seolah terpangkas di atas meja bedah; yang tersisa hanyalah keinginan sederhana untuk tenang dan berdamai. Tuhan telah memilihkan jalan ini, Alhamdulillah. Syukurku dalam hati. Ada mimpi yang harus diikhlaskan, dan aku akan memulai kembali dari hal yang kubisa. 

    Tubuhku terasa kaku mungkin karena terlalu banyak tidur. Dada dan lengan kanan terasa kebas dan berat untuk digerakkan. Aku menoleh pada selang berisi darah segar merah kecoklatan yang mengalir ke dalam tabung drain bedah berbentuk bulat putih. Benda itu tergantung pada metal pembatas tempat tidur sebelah kanan dan selang infus yang masih menempel di tangan kiri. Untuk pertama kalinya terasa lucu saja, setiap kali ingin bangun dari tempat tidur, dua atribut itu harus selalu ikut denganku dan menjaganya dengan baik. Tangan kiri mendorong tiang infus, sementara tangan kanan harus menjinjing drain bedah dengan sangat hati-hati.

    *****

    Dua hari telah berlalu sejak operasi itu, namun efek anestesi belum sepenuhnya hilang. Kepalaku masih terasa berat, kelopak mata pun sulit terbuka lama. Setiap tarikan napas seakan mengingatkan pada rasa kebas yang tertinggal di dada hingga ke bawah ketiak.

    Pukul enam pagi, cahaya matahari semakin terasa hangat di ketinggian gedung itu. Suara langkah para perawat terdengar di lorong. Aku tersadar bahwa sejak dua hari yang lalu ponselku belum kusentuh. Aku meminta adikku yang duduk di kursi samping ranjang untuk mengambilkan ponsel dari tas, dan juga menaikkan sandaran ranjang agar aku bisa bersandar.

    Benar saja ada banyak pesan dan email masuk, sebagian besar dari kawan-kawanku yang masih bekerja di Timur Tengah, yang bertanya tentang keadaanku. Adapun pemberitahuan SMS dari grup kemoterapi. Tetapi ada satu nomor baru dengan kode Saudi Arabia (+966) yang menarik perhatianku, dengan foto profil sebuah lukisan sosok gadis kecil mengenakan blouse panjang berwarna pink, ada corak hitam persegi di bagian dadanya. Ia sedang duduk di atas kursi meja makan, kedua tangannya terulur sambil memegang buah di atas meja.  Tampak di belakangnya sebuah jendela kaca dengan garis-garis sinar yang terang. 

    Gadis itu berwajah bulat berhidung mancung, rambut ikalnya sebahu tak tersisir rapi dan bola matanya berbentuk bulat lebar. Ia menatap sayu dan kosong.
    Saya sedikit penasaran dengan pesan itu dan membukanya terlebih dahulu.

    ‘Shanti yang baik, apa kabar? Ini Soso dari rumah Mama (rumah kucing). Semoga kamu masih ingat dengan kami. Aku mendapatkan nomor kamu dari teman yang menggantikanmu.
    Apa kabar?
    Mama ingin berbicara denganmu. Apakah kamu punya aplikasi yang ada fitur panggilan lewat Wi-Fi?
    Semoga harimu menyenangkan. Aku menggunakan internet untuk menerjemahkannya, maaf kalau kurang jelas.’

    Di bawahnya terdapat sebuah stiker boneka beruang memeluk erat tanda hati berwarna merah dan beberapa stiker buket bunga. Kemudian pesan lain yang cukup panjang, pesan itu membuat bulu mataku sedikit berembun.

    Kami sangat senang karena mendapatkan nomor kamu. Kami sudah mencoba menghubungi nomor Saudi-mu, tetapi sepertinya sudah digunakan oleh orang lain.
    Kamu adalah salah satu orang terbaik yang pernah kami temui, dan kami bahagia karena Allah mempertemukan kita. Kami masih berharap kamu bisa kembali, insyaAllah, dalam waktu dekat. 

    Kami tahu perbedaan waktu antara kita cukup besar.

    Kita akan coba berkomunikasi di waktu yang sesuai untuk kita semua.
    Mama dan seluruh keluarga dalam keadaan baik dan mereka semua menyampaikan salam untukmu.

    Shanti, kami tahu bahwa kondisi kesehatanmu saat ini tidak dalam keadaan terbaik. Apakah ada cara kami bisa membantumu? Berapa yang masih tersisa dari jumlah penuh? Atau sebuah rumah sakit yang bisa kami hubungi untukmu.
    Maaf jika pertanyaan ini membuatmu merasa kurang nyaman, tetapi kamu adalah saudara, bagian dari keluarga kami, dan keluarga selalu berdiri bersama serta saling membantu ketika ada kebutuhan.

    Shanti, tolong jika ada cara untuk kami membantu. Seperti yang saya katakan sebelumnya, kita adalah satu keluarga. Penting bagi kami agar kamu dalam keadaan terbaik. Mohon beritahu kami apa yang kamu butuhkan, ini adalah permintaan dari kami, bukan sekedar pertanyaan. Jika kamu butuh waktu untuk berpikir tidak apa-apa, tapi mohon beri kami kabar secepatnya’. 

    Kami sangat merindukanmu. Soso, Mama dan keluarga.

    Pesan itu masuk enam jam yang lalu, tepatnya pukul 00.08. Atau pukul 08.08 malam waktu di Arab Saudi. Aku mengucek-ngucek kedua belah mata yang mulai berair, seolah meyakinkan itu bukan mimpi. 

    Mengingat pertemuan terakhir kami sudah cukup lama. Dan sejak dulu aku memahami, datang ke rumah itu bukan sebagai tamu, bukan sebagai keluarga, melainkan sebagai bagian dari karyawan perusahaan klining servis, yang bekerja untuk mereka tiga kali seminggu; setiap hari Selasa, Kamis dan hari Sabtu. 

    Hanya empat jam pertemuan setiap kunjungannya. Datang, bekerja, lalu pulang. Ada garis dan jarak yang wajar. Dan aku selalu menjaga itu dengan hati-hati. Status yang seperti tembok penghalang, batas tak kasat mata antara “karyawan biasa” dan “boss”.

    Pagi itu, di ranjang rumah sakit, aku tidak hanya sedang memulihkan luka, juga sedang menghadapi sesuatu gejolak emosional. Ketika pesan itu masuk dan berkata;

    “Kamu adalah saudara. Keluarga selalu berdiri bersama. Beritahu kami apa yang kamu butuhkan.”

    Kata-kata itu membuatku terdiam dengan jemari menggantung di atas layar. Ingin menulis sesuatu, namun semua kata seakan menghilang. Terlalu banyak yang berputar di kepalaku antara haru, tak percaya, dan bingung yang bercampur jadi satu. Takut salah menulis kata, takut berlebihan, takut justru merusak makna yang begitu tulus.

    Teringat setiap sudut rumah itu. Tawa Mama. Kucing-kucing yang berlarian. Soso yang berjalan cepat saat menaiki anak tangga sambil membawa karung makanan kucing dengan pakaian kerjanya. Untuk pertama kalinya aku merasa benar-benar diterima, bukan sebagai pekerja, melainkan sebagai manusia.

    Berkali-kali tanganku mencoba mengetik huruf-huruf di atas layar. Wajahku sudah terasa begitu berat dan panas karena terbawa perasaan. Tanganku gemetar, saat mencoba mengetik dan menyusun beberapa kata lalu, berkali-kali kembali menghapusnya, semua kata seolah menghilang.

    Sultan, nama gadis kecil itu. Soso (‘Susuh’ terdengar di telinga orang Indonesia) merupakan nama panggilan kesayangan keluarga untuknya. Anak bungsu dari salah satu keluarga klien Perusahaan atau Sarikah (dalam bahasa Arab) klining servis tempat dulu saat aku masih bekerja di negeri yang dermawan itu. 

    Ia seorang gadis berpenampilan tomboy, postur tubuh dan caranya berjalan terlihat lebih maskulin. Dari pakaian kerja yang selalu ia kenakan menegaskan bahwa dia adalah seorang dokter muda. 

    Kalau dihitung mundur sudah hampir dua tahun kami tidak bertemu setelah aku dipindahkan ke bagian lain. 

    ****
    Bandung, 06 September 2025

    Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh

    My Dearest Soso yang baik. Tidak ada kata yang cukup untuk menggambarkan betapa bahagianya saya saat membaca pesan-pesan dari Soso. Melalui kata-kata sederhana ini izinkan saya mencoba menuliskannya dengan hati yang paling jujur.

    Ada persaudaraan yang terasa seperti takdir, dan ada kebaikan yang begitu tulus hingga jejaknya menetap selamanya di hati. Surat ini lahir dari rasa syukur yang tak pernah selesai saya ucapkan kepada Allah SWT karena telah menghadirkan kembali rasa kekeluargaan di antara saya dan keluarga Soso. 

    Beribu terima kasih saya ucapkan atas semua kebaikan dan kedermawanan Soso juga Mama selama ini. Dan bagaimana mungkin saya lupa. Rasanya seperti mimpi, saat saya terbangun di pagi hari, ada notifikasi pesan masuk dari Soso. Saya membacanya berulang kali seolah meyakinkan bahwa itu bukan mimpi ataupun efek di bawah pengaruh anestesi.

    Jari-jari tangan saya sedikit gemetar saat mengetik huruf-huruf abjad di layar, ada rasa tak percaya, rasa bahagia yang tidak dapat terwakili hanya dengan kata-kata. Semua bercampur dalam satu kombinasi rasa haru. Di sisi lain saya sangat berharap semoga Soso dapat memahami setiap kata sederhana yang saya tulis ini.

    Detik-detik berikutnya ada banyak kenangan memburu, bermunculan di benak saya, isi kepala saya begitu sibuk memutar kembali setiap detail momen kebersamaan kita. Senyuman dan bayang-bayang Mama saat membuka pintu menyambut saya. Kucing-kucing manis dan pintar berlarian di sekitar Mama dan anak tangga. Lalu mama berkata “Shanti, Sufi!! Hada kulu beby Soso.”1  (Shanti lihatlah itu anak-anak Susuh) sambil tertawa lepas yang kemudian menularkan tawa bahagianya kepada saya. 

    Mama juga selalu membantu saya dalam menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya itu menjadi tugas saya.

    Saat Baba berjalan, Mama selalu mengawasinya sesekali berkata;
    “Intebih! La’ teh!”2 (hati-hati! jangan sampai jatuh) dengan nada cemas memperingatkan, lalu Mama menghampiri Baba dan menggandeng tangannya, meskipun tubuh Baba lebih tinggi dan lebih besar darinya. Mama selalu ingin melindungi semua orang disekitarnya tanpa membedakan. 

    Saya juga ingat ketika Mama selalu menggandeng tangan Baba untuk duduk di ruang keluarga. Menikmati teh hangat di sore hari sambil menonton televisi. Semuanya tampak begitu sederhana namun meninggalkan banyak jejak berharga di hati saya. Sebagian dari diri saya masih tertinggal di sana, di rumah Mama.

    Di hati saya, Mama dan Soso adalah sosok malaikat, kepanjangan dari tangan Allah yang di hadirkan dalam hidup saya. Yang selalu memperlakukan saya sebagaimana keluarga. Saya merasa seperti menemukan rumah setiap kali datang untuk bekerja di sana. Bahkan Mama sering menitipkan hadiah dan makanan setelah saya dipindahkan ke bagian lain.

    Saya tidak pernah lupa, saat itu tepatnya pertama kali saya mengenal Soso, Tubuh Soso begitu kecil dan kurus. Dengan mengenakan t-shirt warna hitam yang longgar, celana joger warna hitam dan sebuah ikat kepala warna hitam juga. Wajah Soso tampak sangat putih dan pucat di antara panduan warna hitam. Hari itu adalah hari dimana saat kita sama-sama mengangkat dan menurunkan kursi kayu dari lantai dua. Ukurannya lumayan panjang dan berat untuk ukuran perempuan. 

    Di saat saya merasa tidak yakin saya bisa, Soso mengambil bagian di posisi tersulit di bagian bawah, dimana berat beban bisa berkali lipat di posisi itu. Soso tidak suka melihat orang lain kesusahan. Sambil menahan beban dan menuruni satu persatu anak tangga dengan berjalan mundur. Lalu memberikan arahan di bagian belokan tangga, dan saat melewati belokan pintu ke luar dengan lorong yang sempit. Hari itu saya merasa sangat malu dengan diri saya.

    Hari itu, Soso juga mengajarkan saya cara bagaimana seharusnya posisi tubuh kita, ketika mengangkat benda atau barang berat apa pun, agar tulang punggung kita tidak cedera. Hingga saat ini setiap kali saya ingin mengangkat sesuatu benda berat pasti yang pertama kali saya ingat semua yang Soso katakan. 

    Setelah pulang bekerja di perjalanan. Saya selalu bercerita kepada teman-teman satu tim di mobil, maupun teman satu ruangan di apartemen tempat tinggal kami. Tentang ice cream yang selalu bisa kami nikmati bersama sama, karen Soso selalu memberikan dalam jumlah cukup banyak. Coklat, buah-buahan dan makanan-makanan lainnya saat saya selesai bekerja. 

    Tentang bagaimana Dokter Soso, sepulang kerja selalu segera membawa kantong makanan yang terkadang disampirkan di pundaknya, untuk memberi makan puluhan kucing yang tinggal di halaman rumah dan membersihkan tempat mereka sendirian. 

    Begitupun dengan kucing-kucing di jalanan dan juga burung-burung liar yang tak pernah luput dari perhatian Soso. 

    Atau ketika Dokter Soso membersihkan wadah-wadah plastik, tempat air minum dan makanan untuk puluhan kucing dan burung-burung liar, kemudian mengganti air setiap hari, agar mereka selalu minum air bersih, terutama di musim panas.

    Tentang hadiah di atas meja yang selalu disediakan untuk saya bawa pulang.
    Saat seringkali saya melihat Dokter Soso mencukur kumis dan jenggot Baba dengan penuh kasih sayang, lalu mengajak Baba jalan-jalan di halaman ketika hari mulai sore. Tentang Dokter Soso yang selalu melarang saya membantu untuk membersihkan peralatan, halaman rumah, ataupun ruangan-ruangan lainnya yang harusnya juga menjadi tugas saya. Soso selalu lebih memilih mengerjakan semuanya sendiri

    Saya selalu bertanya dalam hati, tentang bagaimana Allah menciptakan hati gadis kecil yang tulus ini. Soso memiliki hati yang begitu ringan. Sejak lama saya ingin mengatakan bahwa ada begitu banyak rasa kagum pada sosok gadis kecil yang selalu di panggil Soso.

    Untuk kesekian kalinya saya ucapkan terimakasih kepada Mama, Soso dan semua keluarga di sana.   Saya juga sangat bersyukur kepada Allah yang telah mempertemukan saya dengan keluarga Mama.

    Saya selalu berdoa semoga ada kesempatan lain dimana saya dapat berjumpa kembali dengan Mama dan Soso.

    Dear Soso yang baik, saya minta maaf apabila ada kata-kata yang tidak berkenan di hati Soso. Ini semua karena keterbatasan pengetahuan saya, baik dalam ilmu maupun dalam memahami Bahasa.

    Saya juga minta maaf karena sudah membuat Soso khawatir. Percayalah saya di sini dalam keadaan yang sangat baik dan sehat. Terima kasih karena telah menjadi rumah di saat saya jauh. Jika jarak memisahkan kita, semoga doa menjadi jembatan yang selalu menghubungkan hati saya dengan Mama dan Soso.

    Jika suatu hari langkah saya kembali membawa saya ke depan pintu rumah Mama, saya ingin mengetuknya dengan hati yang sama, hati yang penuh syukur karena pernah menjadi bagian di rumah itu.

    Note: Saya sangat rindu Jojo si hitam putih yang memahami bahasa manusia dengan baik, yang suka mencuri makanan dari dalam karung. Mushi-mushi si kucing hitam pekat yang narsis dan agak pendiam. Nino si manja berbulu coklat lebat dan panjang. Soso terkadang mengeluh tentangnya yang terkadang sampai pingsan karena kekenyangan, dan karena kerjaannya hanya makan dan tidur. (beberapa emoji wajah yang menggambarkan tertawa sambil menutup mulut)

    Saat Soso mempunyai waktu senggang saya ingin sekali mendengar cerita dan kabar tentang mereka.

    Semoga hari hari Soso selalu bahagia dan menyenangkan.

    Yang selalu anda sebut saudari tersayang, Shanti. 

    Di akhir pesan aku selipkan beberapa emoji sebuah wajah tersenyum sambil menutup mulut dan beberapa stiker gambar hati berwarna pink. Lalu mengirimkannya. 

    *****

    Kali ini aku tersenyum dengan perasaan lega seraya mengucap syukur ‘Alhamdulillah‘. Terkadang kehadiran seseorang dengan membawa empati dan peduli di dalam suatu situasi membuat kita merasa ingin menjadi lebih baik. 

    Saat kita merasa rapuh, Allah menggerakkan hati seseorang untuk menguatkan. Seakan alam pun ikut bersekutu: jarak dilipat, waktu diselaraskan, dan rindu dijadikan jembatan. Ada momen ketika kita sadar bahwa empati seseorang bukan sekadar kebaikan manusia, melainkan rahmat Tuhan yang dititipkan melalui hati yang peka.

    Di Antara Kabar Sembuh dan Berpulang

    Pesan kedua yang kubaca datang dari grup WhatsApp kemoterapi. Sebuah ruang virtual sederhana. Di dalamnya adalah kumpulan para pasien yang sedang menjalani pengobatan kemoterapi dan para perawat yang bertugas di ruang kemo. Grup itu bukan sekadar media bertukar pesan. Ia menjadi tempat berbagi keluh, saling menyemangati, bertukar tentang efek samping dan saling mendukung satu sama lain. 

    Grup itu juga menjadi tempat melaporkan hasil pemeriksaan laboratorium bagi pasien yang tinggal di luar kota. Sehari sebelum jadwal kemo atau dua hari sebelumnya jika terapi dijadwalkan hari Senin, tanpa perlu datang langsung ke rumah sakit. 

    Grup dibuka untuk umum setiap hari Senin sampai Sabtu, pukul tujuh pagi hingga dua belas siang. Pada jam-jam itulah percakapan ramai berlangsung. Pesan masuk silih berganti. Saling bertukar pengalaman, saling mengomentari tentang naik turunnya Hb (hemoglobin). Berbagai pertanyaan tentang bagaimana agar Hbnya selalu stabil.

    Adapun kabar tentang kemo yang ditunda karena harus transfusi terlebih dahulu karena kadar Hb-nya sangat rendah. 

    Peranku hanya sebagai penyimak yang baik dalam grup itu, sesekali menggunakan grup itu saat melaporkan hasil pemeriksaan laboratorium. Seperti biasa, aku hanya melewatinya dengan cepat sampai satu kalimat membuat jariku berhenti menggulir layar. 

    ‘Assalamualaikum, mohon Izin keluar grup. Pasien atas nama Tuti Rohayati, telah berpulang pada hari Jumat, 05 September 2025. Kami sebagai pihak keluarga mengucapkan terima kasih sebanyak-banyak kepada seluruh kru bagian dari rumah sakit, dokter dan para perawat yang telah merawat Almarhumah dengan sangat baik dan ramah. Dan mohon maaf apabila terdapat kesalahan dari beliau. Untuk seluruh pasien yang masih berjuang menjalani pengobatan kemoterapi tetap semangat dan semoga segera dikaruniai kesehatan. Aamin.’

    Terdapat banyak pesan lain di bawahnya sebagai ucapan bela sungkawa untuk beliau.

    Jantungku berdegup sedikit lebih keras ketika membaca pesan itu. Ada rasa panas di wajah yang menjalar ke kepala. Sejenak, ruang di sekitarku terasa hening. Antara percaya dan tidak, antara duka dan ketakutan yang samar-samar bangkit kembali.

    Nama itu tidak asing. Aku pernah mendengar suaranya dengan jelas di ruang pra-operasi, ketika perawat meminta kami menyebutkan identitas masing-masing sebelum tindakan dilakukan.

    Aku pun sempat mendengar percakapan dia dengan dokter onkologi yang menanganinya. Ia menjalani operasi kedua setelah sebelumnya melakukan bedah mastektomi. Operasi kali itu adalah pengangkatan tumor di bawah ketiaknya yang kembali muncul. Dokter sempat menyayangkan keputusannya, yang tidak melanjutkan sesi kemoterapi setelah operasi pertama.

    Ia menjawab bahwa setelah semuanya diangkat, ia merasa penyakit itu telah benar-benar hilang. Alasan lainnya, ia mengaku takut pada efek yang dirasakan setelah kemoterapi. 

    Mungkin itu manusiawi. Ketakutan yang diam-diam juga pernah menjadi bagian dalam diriku.

    Dokter itu mengakhiri percakapan dengan nada tegas namun lembut, menyemangatinya agar kelak melanjutkan pengobatan dan mengikuti prosesnya sampai tuntas. Ia hanya mengangguk, dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

    Di ruang pemulihan pasca operasi, aku kembali mendengar namanya disebut. Ia akan dipindahkan ke ruang ICU untuk menjalani perawatan intensif. Saat itu aku tidak tahu bahwa itu akan menjadi kabar terakhir yang kudengar tentangnya secara langsung. Dan kini, namanya muncul lagi sebagai seseorang yang pamit untuk selamanya.

    Meski kabar kepergian bukan lagi hal yang asing, setiap pesan berpamit tetap saja membuat hati berdebar. Hampir di setiap minggunya selalu ada kabar bahwa sebuah ikhtiar telah sampai di ujungnya entah berakhir pada pelukan hangat kesembuhan, atau pada perpisahan yang tiba-tiba. 

    Ada pula pesan bahagia tentang pengobatan yang selesai dengan baik, tentang tubuh yang kembali pulih, dan harapan yang tumbuh lagi; kabar seperti itu selalu membuat hati kami hangat ikut merasa lega. Namun dalam perjalanan ini, kami belajar menerima bahwa dua kemungkinan itu berjalan berdampingan, sembuh atau berpulang, keduanya sama-sama bagian dari takdir.

    Namun bohong jika aku mengatakan bahwa debar jantungku tetap normal setiap kali membaca berita seperti itu. Bedanya, kali ini hatiku sedikit lebih lapang. Mungkin karena sejak awal aku telah menyadari bahwa ruang ini adalah ruang perjuangan, dan tidak semua orang memiliki garis akhir yang sama. Ada yang dipanggil lebih dulu. Ada yang diberi waktu lebih panjang.

    Aku menuliskan pesan khusus kepada keluarganya, menyampaikan belasungkawa dengan kata-kata yang sederhana. Tidak ada kalimat yang benar-benar cukup untuk menggantikan kehilangan, tetapi setidaknya aku ingin mereka tahu bahwa ia tidak berjuang sendirian. Bahwa ada orang-orang yang pernah mendengar suaranya, menyaksikan keberaniannya, dan mendoakannya dari kejauhan.

    ***** 

    Hidup kadang hanya perjalanan dari satu ruang ke ruang lain, hingga akhirnya menuju ruang yang tak lagi bisa kita saksikan. Tetapi perjuangan, keberanian, dan pelajaran yang ditinggalkan, tetap tinggal bersama kami yang masih melanjutkan perjalanan. Sebuah kesadaran yang sunyi: bahwa kami semua di ruang itu berjalan di jalur yang sama, hanya saja dengan panjang waktu yang berbeda-beda.

    Aku bertanya dalam hati apakah ia sempat merasa menyesal? Apakah ketakutannya pada efek kemoterapi pernah berubah menjadi keberanian? Atau justru tubuhnya yang lebih dulu menyerah sebelum sempat ia menebus keputusan itu?

    Pertanyaan-pertanyaan yang tidak benar-benar membutuhkan jawaban.
    Ia lebih seperti cermin yang tiba-tiba dihadapkan ke wajahku sendiri. Rasa takut itu juga pernah menjadi milikku. Takut pada bayangan di cermin yang merefleksikan orang  terasa asing. Takut pada tubuh yang terasa bukan lagi milik sendiri. Takut pada kemungkinan terburuk yang selalu mengintai di sudut ingatan.

    Kini, kabar kepergiannya menempatkanku pada satu titik yang lebih hening, bahwa hidup tidak bisa dinegosiasikan dengan ketakutan. Bahwa pengobatan bukan hanya tentang bertahan dari efek samping, tetapi tentang memberi tubuh kesempatan untuk terus melawan. Kini, aku tidak lagi melihat kemoterapi sebagai hukuman bagi tubuh. Aku mencoba melihatnya sebagai kerja sama antara ilmu pengetahuan dan jawaban atas doa-doa yang kupanjatkan.

    Di antara kabar sembuh dan berpulang, aku memilih untuk tetap melangkah. Suatu hari di ruang kemoterapi berikutnya, ketika namaku dipanggil, aku akan mengingatnya sejenak dengan doa. Sebab perjuangan siapa pun yang telah selesai akan menjadi penguat bagi kami yang masih diberi waktu.

    **** 

    Catatan:

    Soso/susuh; Singkatan nama panggilan yang sering dipakai untuk anak perempuan yang namanya berinisial huruf ‘S’

    Intebih! La teh: Bahasa Arab.

    Sufi! Hada kulu beby Soso: Bahasa Arab

     

     

    Kreator : Ai Shanti (Shanti)

    Bagikan ke

    Comment Closed: GADIS KECIL ITU BERNAMA SOSO

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021