
(Tempat guru bertugas)
Wahai guru…
Ada berapa macam lembaga pendidikan di Indonesia? Apa alasannya dibagi beberapa jenis? Dan kemanakah arah kiblat pendidikan negara kita?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan sekadar untuk dijawab dengan hafalan teori, tetapi untuk direnungkan dalam perjalanan panjang pengabdianmu sebagai seorang pendidik. Karena sesungguhnya, memahami lembaga pendidikan berarti memahami bagaimana manusia dibentuk bukan hanya cerdas pikirannya, tetapi juga kuat jiwanya dan luhur akhlaknya.
Hari ini kita hidup di zaman yang serba cepat. Dunia berubah dalam hitungan detik. Teknologi berkembang tanpa henti, serba modern, serba digital, dan serba canggih. Perkembangan sekolah dari masa-kemasa selalu mengikuti arus perubahan dunia terutama dalam hal modernisasi. Dahulu seseorang yang lulus Sekolah Rakyat (SD Sekarang) itu sudah cukup dianggap sebagai orang terdidik. Ia mampu membaca, menulis, dan berhitung. Itu sudah cukup untuk hidup pada zamannya.
Namun sekarang ini, standar itu telah bergeser jauh. Gelar Sarjana (S1) seakan menjadi batas minimal bagi seorang guru. Bahkan banyak yang merasa belum cukup jika belum melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Ini menunjukkan bahwa lembaga pendidikan pun ikut berkembang mengikuti kebutuhan zaman.
Jika engkau duduk di bangku perkuliahan, khususnya di jurusan pendidikan. Pasti engkau diajarkan oleh gurumu (dosen) bahwa lembaga pendidikan itu terbagi menjadi 3 jalur. Itu terdiri dari Informal, formal dan non formal. Darimana gurumu mempelajari ini?. Jawabannya pasti dari dunia pendidikan. Teori ini begitu kuat tertanam dalam dunia akademik. Bisa dilihat dari jurnal ilmiah atau buku dari ahli pendidikan dan juga dari kebijakan pemerintah terkait pendidikan di negaranya. Dan semua hal itu ada di negara-negara Barat.
Lalu engkau bertanya, dari mana asalnya?
Maka engkau bisa menebaknya dengan jelas bahwa dunia pendidikan berkiblat ke Barat.
Disini engkau harus mulai berpikir kritis. Apakah kita tidak punya konsep sendiri? Apakah bangsa yang telah ada ribuan tahun ini tidak mewarisi peninggalan berupa konsep pendidikan?
Segala jenis ilmu pengetahuan, semua yang bersifat keilmiahan harus dilegitimasi dari Barat. Benarkan?. Apa yang dibilang orang Barat bagus, maka seluruh dunia harus mengatakan itu bagus. Sebaliknya apa yang mereka katakan itu buruk, maka dunia harus mengikuti untuk mengatakan itu buruk. Inilah yang harus engkau sadari. Bahwa dalam dunia pendidikan, penjajahan itu tidak selalu berbentuk fisik. Kita bisa dijajah dalam bentuk pemikiran, konsep, bahkan cara pandang. Sekarang sudah engkau sadari kan, negara kita masih terjajah.
Padahal jauh sebelum teori itu populer di dunia Barat, bangsa kita telah memiliki seorang tokoh pendidikan besar yang mencetuskan gagasan serupa. Beliau memperkenalkannya dengan konsep Tri Pusat Pendidikan. Yaitu Alam Keluarga, Alam Perguruan dan Alam Masyarakat. Apakah engkau kenal dengan tokoh pendidikan tersebut?. Ia adalah Ki Hajar Dewantara.
Jika engkau pahami, ada sebuah persoalan yang menggelitik. Ki Hajar Dewantara kita ketahui hidup pada masa pra kemerdekaan hingga pasca kemerdekaan. Tepatnya beliau wafat pada tahun 1959. Dan beliau sudah mencetuskan Tri Pusat Pendidikan. Sedangkan orang-orang Barat itu baru mencetuskan ide yang serupa pada awal tahun 1970-an. Dari sini bisa dipahami seperti yang aku katakan sebelumnya, bahwa apa yang tidak di legitimasi oleh Barat maka itu buruk. Atau bisa jadi orang-orang Barat itu yang mencontek dari bangsa kita, terus mereka umumkan bahwa ide itu dari mereka.
Cobalah sedikit engkat memahami dengan kritis. Beliau telah mencetuskan gagasan ini jauh sebelum dunia Barat menggaungkannya pada sekitar tahun 1970-an. Maka pertanyaannya, mengapa kita lebih mengenal istilah dari luar dibandingkan pemikiran dari bangsa sendiri?
Tujuan daripada ide tersebut untuk menegaskan bahwa belajar itu sepanjang hayat. Proses pendidikan seumur hidup dengan melibatkan keluarga, lembaga pendidikan dan masyarakat. Karena manusia pasti akan menjalani kehidupannya pada tiga jalur tersebut. Ki Hajar Dewantara tidak sekadar membagi, tetapi memberikan makna bahwa pendidikan adalah proses hidup yang utuh dan menyatu dengan budaya bangsa.
Kita kembali ke pembahasan utama, yakni lembaga pendidikan. Pertama adalah Pendidikan Informal atau yang disebut sebagai Alam Keluarga.
Dari sinilah segalanya bermula. Pendidikan pertama dan paling mendasar dalam kehidupan manusia adalah dalam keluarga. Seorang anak belajar berbicara, bersikap, mengenal nilai, dan memahami arti kehidupan dari orang tuanya. Semuanya terjadi secara alami dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan dalam ajaran Islam, kedudukan ibu begitu tinggi dalam pendidikan. Nabi Muhammad saw pernah berkata “Ibu adalah sekolah yang paling utama”.
Dari sini bisa kita ketahui bahwa begitu pentingnya pendidikan dalam keluarga. Sebagai peletakan pondasi awal pada karakter anak-anaknya. Meskipun setelah anak-anak telah berada di alam perguruan (bersekolah), tetap sebagian besar waktunya ada di rumah. Jangan pernah meremehkan peran keluarga. Sekuat apapun pendidikan di sekolah, jika tidak didukung oleh pendidikan di rumah, maka hasilnya tidak akan maksimal.
Selain pendidikan di dalam keluarga, anak-anak itu juga akan mendapatkan pendidikan dari tetangga dan masyarakat. Mereka akan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, tetangga dan masyarakat. Disinilah pendidikan sosial terjadi. Nilai-nilai hasil pendidikan dari keluarganya akan diuji dalam kehidupan masyarakat.
Apakah anak mampu menerapkannya dalam kehidupan nyata? Apakah ia tetap jujur ketika tidak diawasi? Apakah ia tetap sopan ketika berhadapan dengan orang lain? Apakah ia berani bertanggung jawab atas setiap perilakunya?
Namun perlu diperhatikan tentang kondisi dan situasi masyarakatnya, apakah masih bagus atau sudah rusak. Lingkungan masyarakat memiliki pengaruh yang sangat besar. Jika lingkungannya baik, maka anak akan terbawa pada kebiasaan baik. Tapi jika lingkungannya buruk, maka disinilah peran keluarga menjadi benteng utama. Keluarga harus bisa melindungi anak-anaknya dari hal yang bersifat negatif dari masyarakat.
Ada perbedaan yang mencolok antara masyarakat yang masih menjaga nilai-nilai kebersamaan dengan masyarakat modern yang cenderung individualis. Seperti lingkungan adat yang masih kental sehingga hukum adat masih berlaku. Tapi bisa jadi berbanding terbalik dengan lingkungan di komplek perumahan. Dimana pendidikan lingkungan tidak terlihat, sebab rata-rata penghuni komplek perumahan bersifat individualis. Ini adalah tantangan zaman yang harus dihadapi.
Jalur lembaga pendidikan yang kedua adalah Pendidikan Formal atau Alam Perguruan. Ini adalah pendidikan jalur pendidikan resmi yang memiliki jenjang yang jelas. Disinilah guru menjalankan tugas profesionalnya.
Pendidikan formal dimulai dari Pendidikan Anak Usia Dini, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, hingga Perguruan Tinggi. Di tempat inilah pengetahuan dibangun secara sistematis, keterampilan diasah, dan masa depan mulai dirancang dengan lebih terarah. Kita akan bahas satu per satu sesuai dengan jenjangnya.
PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini)
Lembaga pendidikan ini khusus untuk anak Pra Sekolah. Berkisar antara usia 3 sampai 5 tahun. Layanan ini bertujuan membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani serta rohani anak sebelum masuk SD. Sedangkan contoh dari lembaga pendidikannya antara lain : Taman Kanak-kanak (TK), Raudhatul Athfal (RA), Kelompok Bermain (KB), Tempat Penitipan Anak (TPA) dan jenis lainnya.
Anehnya sekarang, ada fenomena yang patut direnungkan. Banyak orang tua yang menganggap PAUD sebagai kewajiban mutlak. Sebab ada sebagian besar Sekolah Dasar (SD) mewajibkan pendaftar siswa kelas 1 baru harus lulusan TK/RA. Sehingga TK/RA berlomba-lomba untuk bersaing menjadi yang terbaik.
Ada hal yang melampaui batas, ketika anak didik di TK/RA sudah dipaksa untuk bisa membaca, bisa menghafal pengetahuan ini dan itu. Akibatnya, lembaga PAUD berlomba-lomba menunjukkan “kehebatan” siswanya. Guru-guru TK/RA berupaya keras supaya anak didiknya diterima pada SD favorit. Konsekuensinya, bagi anak yang mampu itu akan membanggakan orang tuanya karena dianggap sebuah prestasi. Jika anak tidak mampu maka itu dia anggap sebagai kelemahan si anak.
Padahal, pada usia tersebut, yang paling penting adalah bermain, bersosialisasi, dan mengenal dunia secara alami. Apakah itu merupakan beban bagi si anak? Atau karena orang tuanya yang ambisius? Atau karena pihak TK/RA ingin menunjukkan kelebihan si anak dengan memaksa secara halus?
Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI)
Jenis lembaga pendidikan secara formal terdiri dari Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang ditempuh selama 6 tahun. Ini merupakan fondasi utama yang ditanamkan kepada anak-anak di seluruh pelosok daerah Indonesia. Di sinilah anak belajar membaca, menulis, berhitung, serta mengenal berbagai ilmu dasar. Pemerintah bahkan menetapkan pendidikan dasar sebagai bagian dari wajib belajar 9 tahun (6 tahun SD/MI + 3 tahun SMP/MTs).
Sedangkan untuk guru yang mengajar di Sekolah Dasar umumnya : Guru Kelas, Guru Pendidikan Agama, Guru Olahraga, Guru Bahasa Inggris dan Guru Seni Budaya. Adapun kegiatan ekstrakurikuler biasanya diambil pelatih dari luar guru disekolah.
Aku minta padamu sedikit perhatian. Ada sebuah praktik yang perlu dikritisi. Untuk masuk ke jenjang sekolah dasar (SD), sekolah tidak boleh mempersyaratkan pendaftar harus lulusan dari TK/RA. Sebab ada beberapa sekolah menetapkan standar masuk yang tinggi. Anak harus bisa membaca, menulis, bahkan berhitung. Padahal secara prinsip, kemampuan itu justru seharusnya diajarkan di kelas awal SD.
Fakta ini dapat engkau temui di sekolah-sekolah perkotaan. Mereka berdalih untuk prestasi, padahal cuma motif promosi dan ekonomi. Supaya sekolah dianggap bagus, dengan prestasi siswa yang baik. Serta lulusannya bisa masuk ke jenjang sekolah favorit. Sehingga tercapailah keinginan mereka. Citra sekolah semakin meningkat, siswa yang mendaftar semakin banyak. Penerimaan dana BOSP pun juga terangkat.
Bisa engkau bayangkan, siswa kelas 1 yang baru masuk sudah bisa baca dan tulis. Lantas guru kelas 1 tak perlu berkeluh keringat mengajari baca dan tulis satu persatu. Padahal anak belajar membaca dan menulis itu di usia kelas 1 SD. Hanya saja itu adalah kebijakan dari sekolah. Sedangkan guru hanya mendapat tanggung jawab untuk menjalankan program sekolah.
Ini menunjukkan adanya pergeseran fungsi pendidikan. Sekolah yang seharusnya mendidik, justru sekedar menyeleksi siswa yang pintar. Guru yang seharusnya mengajar dari dasar, justru hanya melanjutkan apa yang sudah bisa dilakukan siswa. Di sinilah para guru harus bijak. Karena mereka bukan sekadar pelaksana kebijakan, tetapi juga penjaga nilai pendidikan.
Sekolah Menengah Pertama (SMP)
Sekolah SMP (Sekolah Menengah Pertama) dan sekolah yang sederajat masa studinya 3 tahun. Bentuknya meliputi sekolah umum, Madrasah Tsanawiyah (MTs) berbasis agama. Pendidikan ini merupakan kelanjutan SD/MI (jenjang dasar) yang fokus pada pendalaman akademik dasar.
Jika engkau perhatikan, jumlah Sekolah Dasar (SD) lebih banyak dibandingkan Sekolah Menengah Pertama. Tahukah engkau apa sebabnya?. Sebab SD merupakan fondasi wajib pendidikan dasar yang bertujuan supaya bisa dijangkau seluruh anak dari tempat tinggal mereka.
Sekolah SD dan SMP dinaungi oleh pemerintah kabupaten/kota. Sedangkan untuk SMA/SMK sederajat di bawah naungan Pemerintah Provinsi. Bagi sekolah yang bersifat keagamaan dibawah naungan Kementerian Agama.
SMA/SMK (Sekolah Menengah Atas/Kejuruan)
Ada yang menarik disini, sebab sekolah SMA/SMK berada di naungan Pemerintah Provinsi. Mereka masih boleh menarik iuran SPP dari siswa. Sedangkan disekolah SD dan SMP sudah tidak diperbolehkan. Jika itu terjadi maka akan dianggap sebagai pungutan liar. Tapi mengapa di sekolah SMA/SMK masih boleh?. Kenapa Iuran yang mereka terima tidak dinilai sebagai pungutan ke siswa?
Perguruan Tinggi
Tingkatan sekolah yang paling tinggi adalah perguruan tinggi. Di sinilah seseorang mendalami ilmu secara lebih spesifik. Tapi untuk masalah penyebutan perguruan tinggi terkesan aneh. Sebab menghilangkan idiom sekolah. Malah kata sekolah itu digunakan pada sekolah tinggi, yang notabene tingkatan paling rendah pada perguruan tinggi. Tingkatan keduanya itu institut dan yang paling atas adalah universitas.
Guru yang mengajar di dalamnya juga disebut dengan dosen. Banyak orang berasumsi karena perguruan tinggi itu mencetak guru. Jadi guru/dosen yang mencetak guru itu memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari guru. Jika engkau aktifkan daya kritismu, apakah asumsi itu benar?
Adapun siswa yang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi disebut dengan mahasiswa. Sebab mereka pelajar tingkat tertinggi yang memiliki intelektualitas, pola pikir kritis dan sebagai agen perubahan. Sedangkan dosennya tidak disebut mahadosen atau juga mahaguru. Mereka menjulukinya dengan Guru Besar. Silahkan engkau cari tahu mengapa bisa begitu?
Jalur lembaga pendidikan yang ketiga adalah Pendidikan Nonformal atau disebut juga alam masyarakat. Ini adalah pendidikan yang lebih fleksibel dan menyesuaikan kebutuhan masyarakat. Melalui kursus (bahasa, desain grafis, dll), pelatihan, bimbingan belajar, hingga kegiatan masyarakat seperti majelis taklim, seseorang dapat mengembangkan keterampilan dan potensi dirinya secara lebih spesifik.
Cuma ada satu hal yang menarik untuk kita bahas. Ada sebuah lembaga pendidikan yang hampir tersebar di seluruh wilayah Republik Indonesia, tapi statusnya sebagai lembaga non formal. Lembaga pendidikan itu adalah Madrasah Diniyah. Masyarakat sering menyebutnya sekolah ngaji.
Lembaga pendidikan ini mirip dengan Sekolah Dasar. Siswanya juga dari sekolah dasar. Kalau di SD masuk sekolahnya pagi, maka di Madrasah Diniyah masuk belajarnya sore. Lama belajarnya hanya 2 jam setiap hari. Pelajaran yang di ajari murni pelajaran agama islam saja.
Keberadaan Madrasah diniyah ini sangat membantu guru agama islam di Sekolah Dasar. Karena perkembangan siswa lebih banyak peningkatannya jika anak belajar di madrasah diniyah. Ini terjadi sebab jam pelajaran agama di SD hanya 4 jam per minggu. Namun tanggung jawab masalah keagamaan siswa tetap dilimpahkan kepada guru agama. Bagi orang tua yang sadar akan hal itu, pasti mereka akan memasukkan anaknya untuk belajar ke madrasah diniyah. Sayangnya sangat sedikit orang tua yang menyadari akan hal tersebut.
Ada yang luput dari perhatian tentang madrasah diniyah, yaitu guru-gurunya. Jika engkau mau mencari tahu dan bertanya kepada mereka, berapa upah yang diterimanya dalam 1 bulan. Maka engkau akan terkejut mendengarnya, mereka hanya menerima upah Rp. 200.000,- dalam satu bulan. Nominal itu hanya hitungan kasar. Sebab ada yang lebih rendah lagi, bisa Rp. 100.000,-/bulan. Atau bahkan lebih rendah dari itu. Siapa yang bertanggung jawab akan hal ini? Pemerintah banyak yang tidak peduli sebab termasuk pada pendidikan nonformal.
Di Indonesia, ada beberapa pemerintah daerah yang peduli terhadap keberadaan guru madrasah diniyah. Salah satu diantaranya adalah Kabupaten Deli Serdang. Kepala Daerahnya memberikan bantuan berupa insentif kepada seluruh guru-guru madrasah diniyah yang jumlahnya mencapai 3.000 orang. Memang bantuan tersebut tidaklah besar, hanya Rp. 400.000/bulan. Tapi para guru-guru madrasah diniyah itu merasa diakui dan dihargai pengorbanannya oleh pemerintah.
Maka, sekarang dapat dipahami. Bahwa pendidikan itu dari tiga jalur yang saling melengkapi. Dimulai dari informal di lingkungan keluarga. Dilanjutkan dengan formal di bangku sekolah. Dan diperkaya melalui nonformal di tengah masyarakat.
Ketiganya membentuk satu kesatuan utuh dalam perjalanan belajar manusia.
Karena sejatinya, belajar bukan hanya tentang tempat.
Tetapi tentang proses yang berlangsung sepanjang kehidupan.
Kreator : Syahril Fuadi Nasution (Fuady Hoja)
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Jenis lembaga pendidikan di Indonesia
Sorry, comment are closed for this post.