ANAK KECIL YANG KEHILANGAN ARAH KINI SUDAH UTUH PADA DIRINYA SENDIRI
Aku, si kecil Rin, terlahir sebagai anugerah sempurna dari Yang Maha Kuasa. Aku tumbuh di tengah limpahan kasih sayang, di mana setiap kebutuhanku selalu diusahakan terpenuhi. Hari-hariku dipenuhi kehangatan dan perhatian dari orang-orang yang begitu menyayangiku.
Aku menikmati masa kecil yang indah dalam keluarga yang masih lengkap. Kehadiran keluarga dari kedua belah pihak membuatku selalu merasa diperhatikan dan dicintai. Kebersamaan terasa begitu hangat, menghadirkan banyak kenangan sederhana yang penuh makna. Di masa itu, aku tidak pernah merasa kekurangan—baik dalam kebahagiaan, dukungan, maupun kasih sayang.
Aku menyadari bahwa kehadiran orang-orang terdekat sangat berpengaruh pada tumbuh kembangku sebagai seorang anak. Perhatian, pelukan, dan kebersamaan mereka terasa seperti vitamin kehidupan yang memberiku semangat, rasa aman, dan kebahagiaan dalam menjalani hari-hari kecilku.
Di masa yang terpikirkan olehku hanya kesenangan tanpa menghiraukan apapun. Aku merasakan betapa beruntungnya diriku di masa kecil. Aku hanya menikmati diriku semasa itu. Di ajak kemanapun, dibelikan apapun, dan dilindungi dengan penuh kasih sayang. Apapun yang disuguhkan semesta semasa itu menjadi pondasi bahwa aku pernah merasakan hal baik dalam hidupku. Ucapan terima kasih pada Bapak yang menjagaku, yang rela untuk menemaniku tumbuh di masa kanak-kanak adalah bukti bahwa kehadiran Bapak sangat berpengaruh. Aku mencintai bapakku, dan jika beliau tidak ada di waktu itu mungkin aku goyah.
Aku masih ingat bagaimana Bapak menggendongku dengan penuh kasih sayang. Sejak kecil, aku memang anak yang mudah menangis dan sangat moody. Entah mengapa, ada rasa takut dan cemas yang sering hadir diam-diam di dalam diriku. Aku takut gelap, takut bayangan-bayangan yang tercipta dari imajinasiku sendiri. Hal-hal kecil seperti suara malam atau sudut ruangan yang remang bisa membuatku gelisah hingga waktu terasa berjalan lambat.
Namun, masa kecilku tetaplah hangat. Tuhan menghadirkanku di tengah orang-orang yang membuat diriku kecil merasa aman. Aku seperti pantulan kecil semesta—jiwa mungil yang dibiarkan tumbuh, bermain, dan tertawa tanpa memikirkan beban seperti orang dewasa. Hari-hariku terasa ringan. Aku pergi ke sana kemari, dibimbing oleh orang-orang sekitar, menikmati udara dan kehidupan tanpa tekanan berarti. Saat itu aku benar-benar hidup utuh, tanpa banyak endapan emosi.
Aku dikenal sebagai anak yang malu-malu, tetapi manja. Meski punya banyak teman, aku tetap menjadi diriku sendiri. Orang tuaku mengenalkanku pada banyak hal dengan penuh perhatian. Kalau keinginanku tidak dituruti, aku akan menangis dan merengek sejadi-jadinya. Aku memang sensitif dan ingin selalu diperhatikan. Tangki cintaku terasa penuh karena kasih sayang keluarga yang begitu besar. Bahkan, terkadang teman-temanku merasa iri melihat bagaimana aku diperlakukan dengan penuh cinta.
Padahal, aku hanya menjadi anak kecil seperti biasanya. Bermain, tertawa, marah, lalu baikan lagi keesokan harinya. Masa kecil memang sesederhana itu. Hari ini bertengkar saat bermain, besok sudah bermain bersama lagi sambil tertawa seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Dan justru di situlah letak indahnya masa kecil.
Aku juga sangat dekat dengan keluarga besar dari pihak ibu. Setiap liburan sekolah tiba, aku selalu diminta menginap di rumah kakek dan nenek. Rasanya hangat sekali berada di sana. Hampir semua keinginanku dituruti. Malam-malam di rumah mereka penuh canda dan tawa, meskipun kadang ada drama kecil karena aku sulit tidur. Aku bahkan sering harus ditakut-takuti dulu supaya mau memejamkan mata.
Saat musim hujan datang, aku sering berimajinasi macam-macam. Suara katak yang bersahutan di sela rintik hujan membuat pikiranku melayang ke mana-mana. Anehnya, meski aku penakut, musim hujan tetap menjadi salah satu kenangan favoritku. Ada rasa damai dari suara alam yang begitu khas dan sulit dilupakan.
Aku juga merindukan malam-malam terang bulan purnama. Saat listrik padam dan lampu minyak dinyalakan, orang-orang justru keluar rumah, duduk di emperan, lalu mengobrol bersama di bawah cahaya bulan. Tidak ada yang sibuk sendiri. Semua terasa dekat dan hangat. Sampai sekarang, alam bawah sadarku masih merindukan suasana itu. Meski sebenarnya aku sangat takut kesendirian dan gelap, setidaknya saat itu aku masih ditemani banyak orang.
Di siang hari, aku bermain dan belajar seperti anak-anak lainnya. Kadang ada pertengkaran kecil saat bermain, merasa paling benar, atau ingin menang sendiri. Namun semuanya cepat berlalu karena kami hanyalah anak-anak yang belum mengenal dendam.
Kedua orang tuaku masih sangat muda saat membesarkanku. Meski begitu, mereka berusaha menjadi orang tua terbaik untukku. Banyak pakaian yang kupakai berasal dari pemberian orang-orang sekitar. Mereka memberikannya dengan tulus, dan sampai sekarang aku sangat bersyukur atas semua itu.
Meski tumbuh dengan kasih sayang, aku juga pernah mengalami hal-hal yang meninggalkan luka kecil di hati. Aku pernah dipanggil dengan nama yang tidak baik dan dijadikan bahan olok-olokan. Saat itu aku merasa malu, minder, dan tidak percaya diri. Rasanya membekas cukup lama dalam ingatanku. Dari situ aku belajar bahwa ucapan kecil kepada seorang anak bisa meninggalkan bekas yang besar. Karena itu, aku tidak ingin melakukan hal yang sama kepada anak-anak lain.
Aku juga sering diejek karena mataku yang besar dan sedikit berbeda. Aku pernah protes kepada orang tuaku, bertanya kenapa aku diberi mata sebesar itu. Namun mereka selalu menenangkanku dengan lembut. Mereka berkata, “Cantik itu mata besar.” Kalimat sederhana itu ternyata menetap lama di hatiku dan membuatku perlahan belajar menerima diriku sendiri.
Menurut ibuku, aku memang anak yang cengeng. Apa-apa menangis. Bahkan pernah suatu siang aku terus cemberut sampai dipanggil “ulate peteng,” istilah Jawa untuk wajah kusut atau murung. Aku memang anak yang sulit menyembunyikan perasaan. Apa yang kurasakan akan langsung terlihat dari ekspresi wajahku.
Aku juga punya rasa ingin tahu yang besar. Namun di balik rasa penasaranku, aku tetap anak yang pemalu dan gugup. Tidak seperti beberapa teman seusiaku yang percaya diri, aku cenderung menutup diri. Meski begitu, aku senang mengikuti teman-temanku belajar saat taman kanak-kanak. Aku bahkan pernah membawa berbagai macam mainan dan sendok ke dalam tas hanya karena merasa benda-benda itu penting untuk kubawa bermain.
Begitulah aku di masa kecilku—manja, penakut, sensitif, tetapi tumbuh di tengah cinta yang hangat. Dan kini, saat mengingat semuanya kembali, aku sadar bahwa setiap kenangan itu telah membentuk diriku menjadi seperti sekarang.
Kreator : Morin Lorena Wibowo (Lonamor)
Comment Closed: Masa kecil yang pernah disayang (part 3)
Sorry, comment are closed for this post.