Sinar matahari pagi di Desa Pesisir baru saja menyentuh pucuk-pucuk daun jambu mede di belakang rumah. Sari, bocah sepuluh tahun dengan rambut yang selalu dikuncir kuda, sudah duduk bersila di depan sebuah baskom plastik besar. Tangannya yang mungil tampak cekatan mengaduk adonan tepung, gula, dan parutan kelapa. Di sampingnya, Ibu sedang menyalakan kompor minyak yang sesekali batuk mengeluarkan asap hitam.
“Bu, adonannya sudah kalis,” ucap Sari pelan agar tidak membangunkan dua adik kecilnya, Bimo dan Rian, yang masih mendengkur di balik tirai lusuh.
Ibu mengangguk. Wajahnya tampak lelah, namun senyumnya tetap terbit. “Pindahkan ke loyang, Sar. Setelah matang, kamu bisa titipkan ke warung Bi Ati sebelum berangkat sekolah.”
Kehidupan di rumah Sari memiliki iramanya sendiri—sebuah irama yang tidak melibatkan boneka atau permainan petak umpet yang panjang. Ayah adalah sosok dalam foto di dinding ruang tamu yang warnanya mulai memudar. Ia merantau jauh ke seberang lautan, namun kiriman uangnya seringkali seperti gerimis di musim kemarau: sangat jarang dan cepat menguap.
Pintu dapur berderit. Dua sosok remaja laki-laki masuk dengan langkah gontai. Bayu yang berusia 15 tahun dan Doni yang berusia 13 tahun baru saja kembali dari dermaga. Kulit mereka legam terpanggang matahari dan garam laut. Aroma amis yang pekat menguar dari baju mereka yang basah kuyup.
“Dapat apa hari ini, Kak?” tanya Sari.
Bayu meletakkan ember kecil berisi beberapa ekor ikan kembung dan cumi-cumi. “Hanya ini, Sar. Gelombang lagi tinggi. Kapal Pak Darmo tidak berani terlalu ke tengah.”
Doni langsung duduk di lantai dapur, menyandarkan kepala ke dinding kayu. Matanya terpejam. “Aku mau tidur lima menit saja, Bu. Tolong bangunkan kalau sudah jam tujuh. Ada ulangan Matematika hari ini.”
Sari memandangi kedua kakaknya dengan rasa haru yang tidak bisa ia jelaskan. Mereka adalah nelayan saat malam, dan siswa saat siang. Dari mereka, Sari belajar bahwa kantuk hanyalah tamu yang harus diusir jika perut ingin terisi.
Antara Tepung dan Seragam
Jam menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas. Sari sudah rapi dengan seragam putih-merah yang sudah agak sempit di bagian bahu. Di tangannya terdapat wadah plastik besar berisi kue pancong hangat yang harum.
“Bimo dan Rian sudah bangun, Bu?” tanya Sari sambil memakai tas sekolahnya.
“Sudah. Mereka sedang makan nasi sisa semalam dengan garam di teras. Kamu berangkatlah, biar Ibu yang menjaga mereka,” jawab Ibu sambil membolak-balik jemuran kacang mede hasil simpanan tahun lalu.
Pohon-pohon jambu mede di belakang rumah mereka adalah harapan terbesar. Namun, mereka adalah pemberi yang pelit; hanya berbuah setahun sekali. Saat musim panen tiba, seluruh keluarga akan sibuk memetik, mengupas, dan menjemur bijinya. Tapi sekarang, musim panen masih tiga bulan lagi. Selama masa tunggu itu, aroma kue pancong dan bau amis laut adalah napas kehidupan mereka.
Di perjalanan menuju sekolah, Sari melewati lapangan desa. Teman-teman sebayanya, Ranti dan Maya, sedang asyik bermain lompat tali.
“Sari! Sini main sebentar!” panggil Ranti.
Sari berhenti sejenak, melirik wadah kuenya, lalu melirik jam tangan plastiknya yang sudah mati. Ia tersenyum tipis. “Maaf, aku harus ke warung Bi Ati dulu, lalu langsung ke sekolah. Nanti sore saja ya!”
Sari tahu ‘nanti sore’ itu tidak akan pernah ada. Sore harinya adalah waktu untuk menjaga Bimo yang berusia empat tahun dan Rian yang baru dua tahun. Sambil menggendong Rian, ia akan menyapu halaman atau membantu Ibu memilah biji mede yang bagus. Bermain adalah kemewahan yang tidak tertulis dalam jadwal hariannya.
Pelajaran dari Pohon Jambu
Suatu sore, saat langit berubah warna menjadi jingga kemerahan, Sari duduk di bawah pohon jambu mede yang paling besar. Bimo dan Rian sedang asyik bermain tanah di dekat kakinya. Sari sedang mencoba mengerjakan tugas sekolahnya di atas pangkuan.
“Mbak Sari, kenapa Ayah tidak pulang membawa mainan seperti ayahnya Ranti?” tanya Bimo tiba-tiba dengan wajah cemong.
Sari terdiam. Ia meletakkan pensilnya. “Ayah sedang berjuang di sana, Bim. Ayah kerja supaya kita bisa makan.”
“Tapi Ibu bilang kita harus buat kue supaya bisa makan. Kak Bayu juga harus cari ikan,” sahut Bimo lagi, polos.
Sari menarik napas panjang. Ia teringat ucapan Ibu tempo hari saat mereka kehabisan beras. “Sari, hidup kita ini seperti pohon mede ini. Dia berdiri sendiri di tanah kering, tidak ada yang menyiram setiap hari. Tapi dia kuat, akarnya mencari air sendiri. Jangan pernah menggantungkan nasibmu pada orang lain, bahkan pada janji-janji yang belum tentu ditepati.”
“Bimo,” ucap Sari sambil mengelus kepala adiknya. “Kita harus jadi anak yang kuat. Seperti pohon ini. Kita tidak boleh menunggu orang lain memberi kita makan. Kita harus berusaha sendiri. Mengerti?”
Bimo hanya mengangguk meskipun mungkin ia belum sepenuhnya paham. Namun, bagi Sari, itu adalah janji pada dirinya sendiri.
Badai dan Ujian
Tantangan terberat datang saat musim hujan tiba lebih awal. Angin kencang membuat kapal-kapal nelayan—termasuk yang ditumpangi Bayu dan Doni—tidak bisa melaut selama satu minggu penuh. Di saat yang sama, kompor minyak di dapur rusak dan harga tepung naik di pasar.
Ibu duduk di meja makan dengan wajah mendung. Di depannya hanya ada sepiring kecil sambal dan sedikit nasi.
“Ibu, uang kiriman Ayah belum datang?” tanya Bayu yang tampak gelisah. Ia merasa gagal karena tidak bisa membawa pulang ikan atau upah melaut.
Ibu menggeleng pelan. “Tidak apa-apa. Besok Ibu akan coba pinjam ke Koperasi.”
“Jangan, Bu,” sergah Sari tiba-tiba. Semua mata menoleh padanya. “Ibu bilang kita tidak boleh mengandalkan orang lain. Sari masih punya tabungan sedikit dari sisa uang jajan dan upah bantu-bantu di warung Bi Ati.”
Sari berlari ke kamarnya dan mengambil sebuah kaleng biskuit bekas. Di dalamnya ada beberapa lembar uang ribuan yang lusuh. Ia meletakkannya di atas meja.
“Ini cukup untuk beli tepung dan minyak, Bu. Kita buat kue lebih banyak besok. Sari akan titipkan ke sekolah juga, bukan cuma di warung,” lanjut Sari dengan nada tegas yang melampaui usianya.
Bayu dan Doni saling berpandangan. Rasa malu menyelinap di hati mereka, namun berganti menjadi semangat baru.
“Aku akan bantu Sari keliling menjajakan kue sebelum sekolah,” kata Doni. “Dan sorenya, aku dan Kak Bayu akan bantu Ibu di kebun. Mungkin ada kayu bakar yang bisa kita kumpulkan untuk dijual.”
Malam itu, meski perut mereka hanya terisi separuh, ada kehangatan yang lebih besar dari biasanya.
Wangi Kemenangan
Waktu berlalu, dan musim panen jambu mede akhirnya tiba. Pohon-pohon di belakang rumah mulai menunjukkan bebannya yang berat. Buah-buah kuning dan merah bergelantungan, dengan biji mede hitam yang khas di ujungnya.
Seluruh anggota keluarga berkumpul di kebun. Ibu, Bayu, Doni, Sari, bahkan Bimo dan Rian ikut membantu memunguti buah yang jatuh. Ini adalah momen yang paling ditunggu. Hasil panen kali ini sangat melimpah.
“Tahun ini kita bisa beli seragam baru untuk kalian semua,” ucap Ibu dengan mata berkaca-kaca saat melihat tumpukan biji mede yang sudah dibersihkan.
Sari tersenyum manis. Ia melihat kedua kakaknya yang meski lelah tetap bersemangat. Ia melihat kedua adiknya yang belajar mengenal kerja keras sejak dini. Dan ia melihat dirinya sendiri di cermin air di dalam ember; bukan lagi sebagai anak perempuan yang merasa kehilangan masa bermain, melainkan sebagai seorang pejuang kecil.
Ayah memang jarang pulang. Uang memang jarang datang. Namun, di rumah kecil itu, mereka telah membangun kerajaan mereka sendiri. Sebuah kerajaan yang pondasinya bukan dari emas kiriman orang lain, melainkan dari keringat, tepung kue, dan aroma laut yang mereka kumpulkan setiap fajar.
Sari tahu, sepuluh tahun adalah usia yang sangat muda untuk memahami pahitnya dunia. Namun, baginya, kemandirian adalah aroma yang lebih wangi daripada parfum manapun. Sewangi bunga-bunga jambu mede yang mekar di bawah sinar matahari pagi.
Kreator : Roseyani
Comment Closed: Menenun Wangi Jambu Di Balik Awan
Sorry, comment are closed for this post.