Pagi itu, udara masih terasa segar saat aku dan Abah berjalan beriringan pulang dari masjid. Tangan kami bertaut, sebuah keintiman sederhana yang sering menjadi pengisi energi bagi jiwaku yang mulai rapuh oleh rutinitas.
“Bah,” panggilku pelan, mencoba membuka percakapan tentang kejadian semalam saat ia mengajar privat.
“Mas Ul tadi dengar adzan, tapi malah asyik bersepeda. Mbak Ta juga, sudah malam tapi susah sekali diajak sholat,” ceritaku dengan nada harap. Aku ingin Abah memberikan nasihat atau sekadar cerita hikmah agar mereka sadar akan tanggung jawabnya.
Namun, Abah hanya diam. Genggaman tangannya tak berubah, namun tatapannya lurus ke depan, seolah ceritaku hanyalah angin lalu yang tak perlu direspon.
Hari-hari berikutnya, rumah seolah menjadi medan perang. Sprei yang baru ku ganti tiga hari lalu kembali berantakan karena ulah si kecil yang melompat-lompat. Rumah tampak seperti tak berpenghuni, penuh benda tak pada tempatnya. Hatiku berteriak, ingin rasanya marah, namun lisan ini terkunci oleh kesadaran bahwa mereka pun lelah.
“Sabar… ini ladang pahala,” bisik hatiku menenangkan diri, meski lisan ini sudah gatal ingin memberi ‘kultum’ panjang lebar.
Puncaknya, sebuah ledakan terjadi saat Abah tiba-tiba menegurku dengan suara meninggi. “Kenapa setiap kau bicara, isinya hanya keburukan anak-anak? Kenapa tak pernah ada cerita baik tentang mereka di telingaku?”
Petir seolah menyambar jantungku. “Abah, aku bukan bermaksud mengadu,” jawabku dengan suara bergetar, menahan sesak yang hampir tumpah. “Aku hanya ingin Abah menjadi teladan, menjadi sosok yang bisa menginspirasi mereka dengan cara Abah sendiri.”
Abah terdiam sejenak, lalu suaranya melunak, meski masih tajam menghujam.
“Anak-anak butuh sentuhan doa dari wanita mulia yang mengandung mereka. Jika ingin mereka berubah, perbanyaklah mendoakan, bukan sekadar melaporkan perilaku mereka.”
Kata-kata itu menyadarkanku. Malam itu, dalam sujud panjang di sepertiga malam, air mataku tumpah tak terbendung. Aku sadar, kata-kata seorang ibu adalah doa, dan aku tak ingin lisanku menjadi peluka.
Kini, aku mengubah caraku. Aku tak lagi “berdrama” melaporkan kenakalan mereka. Di sela perjalanan menuju kerja, kusebut nama mereka satu per satu, ku bacakan surat al Fatihah, dan kutitipkan harapan pada Sang Penguasa Hati.
Sambil menengadahkan tangan seusai shalat, aku merapalkan doa yang kini menjadi nafas kami:
“Allahumaj’al auladan sholihin, walil hafidzinil qur’an wa sunnah wa fuqqoha fiddin, wa yassir umuurana fiddunya wal akhirah.”
“Ya Allah, jadikanlah anak-anak kami anak yang sholeh, penghafal Al-Qur’an dan Sunnah, ahli agama, dan mudahkanlah urusan kami di dunia dan akhirat. Alhamdulillah, empat amanah ini adalah harta paling berharga yang Engkau titipkan padaku.”
Kreator : Utami Oktaviyana, S.Pd.I ( Bunda Viana)
Comment Closed: Menjemput Restu di Ujung Sujud
Sorry, comment are closed for this post.